• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penyaringan KPS Potensial

Dalam dokumen ppp reference guide bahasa indonesia version 0 (Halaman 130-133)

Panduan Umum pelaksanaan proyek KPS

3.1 Identiikasi Proyek KPS

3.1.2 Penyaringan KPS Potensial

Pada suatu titik dalam proses pengidentiikasian investasi publik yang merupakan prioritas, atau opsi-

opsi reformasi sektor, proyek-proyek tersebut dapat disaring berdasarkan potensi proyek-proyek

tersebut sebagai suatu KPS. Tujuang dari penyaringan ini adalah untuk mengidentiikasi – berdasarkan

informasi yang tersedia – apakah proyek tersebut dapat menghasilkan nilai yang lebih tinggi apabila dilaksanakan dalam bentuk KPS.

Pada praktiknya, masing-masing pemerintah melaksanakan penyaringan KPS ini dalam tahap yang

berbeda-beda, sebagaimana dijelaskan dalam Kotak 3.1: Seleksi KPS dalam Proses Perencanaan

Investasi Publik di bawah ini. Beberapa pemerintah mungkin meyaring seluruh proyek sebagai bagian

dari ‘analisa opsi pengadaan’ yang komprehensif, sebagaimana dijelaskan dalam [#39, halamn 47-50].

Pemerintah lainnya mungkin mempertimbangkan penggunaan KPS hanya untuk jenis-jenis proyek

tertentu – sebagaimana ditetapkan dalam Kebijakan KPS [lihat Bab 2.1.2: Ruang Lingkup Program KPS]. Di berbagai negara, pemrakarsa awal pengembangan suatu proyek dalam bentuk KPS diserahkan pada kebijaksanaan badan pelaksana.

Kotak 3.1: Seleksi KPS dalam Proses Perencanaan Investasi Publik

Proses KPS dapat dipandang sebagai suatu ‘cabang’ dari proses pengelolaan investasi publik yang lebih luas, dalam arti, pada suatu titik suatu proyek dipilih sebagai KPS potensial, dan dengan demikian mengikuti proses khusus untuk KPS. Akan tetapi, ‘titik cabang’ ini dapat terjadi dalam tahap yang berbeda-beda dalam proses investasi publik. Sebagai contoh, titik cabang tersebut dapat terjadi:

Setelah penyusunan anggaran sebagai proyek investasi publik, seperti yang terjadi di Australia dan Belanda, yang menilai opsi-opsi pengadaan (termasuk KPS) hanya apabila suatu proyek telah disetujui dan dianggarkan sebagai proyek investasi publik. Apabila proyek tersebut kemudian dilaksanakan dalam bentuk KPS, maka alokasi anggaran disesuaikan sebagaiman mestinya. Setelah penilaian proyek dan persetujuan sebagai investasi publik. Contohnya, di Chile, seluruh proyek investasi publik menjalani analisa manfaat vs. biaya yang dilaksanakan oleh Komisi Perencanaan Nasional, dan wajib melewati batasan imbal hasil sosial sebelum ditambahkan ke dalam daftar investasi publik. Proyek-proyek KPS juga diambil dari daftar ini.

Setelah analisa ‘pra-kelayakan’ atau analisa opsi strategis. Sebagai contoh, di Republik Korea,

suatu proyek KPS potensial diidentiikasi setelah analisa pra-kelayakan tersebut, dan setelah

penilaian proyek yang terperinci (seperti studi kelayakan teknis, atau analisa manfaat vs. biaya) dilaksanakan sebagai bagian dari proses penilaian KPS. Pendekatan serupa juga diterapkan di Afrika Selatan, yang memandang pelaksanaan KPS sebagai bagian dari ‘analisa kebutuhan dan penilaian opsi’ awal dari suatu proyek investasi publik potensial.

Dalam kasus manapun, proses KPS yang disusun dengan paik pada umumnya mencerminkan proses pengelolaan investasi pubik – contohnya, membutuhkan persetujuan dari badan yang sama, sebagaimana dijelaskan lebih lanjut dalam Bab 2.3.3: Tanggung Jawab Kelembagaan: Pemeriksaan dan Persetujuan.

Sumber : Irwin & Moktad paper on managing Contingent Liabilities (for Chile and Australia) [#162]; Public–Private Partnership Infrastructure Projects: Case Studies from the Republic of Korea [#171, page 63]; South Africa PPP manual [#219, Modul 4, halaman 1-13]

Guna mendukung proses penyaringan ini, banyak pemerintah menetapkan criteria atau daftar

pengecekan potensi KPS yang dapat dibandingkan dengan proyek dalam proses penyaringan. Kotak 3.2: Faktor Penyaringan Potensi KPS di Afrika Selatan memberikan contoh daftar pengecekan semacam

ini, diambil dari Manual KPS Afrika Selatan [#219]. Kriteria serupa juga dapat digunakan untuk penilaian

yang lebih terperinci, sebagaimana dijelaskan dalam Bab 3.2.3: Penilaian Kesepadanan Nilai dengan Biaya di bawah ini – pada tahap penyaringan, tujuannya adalah menilai apakah proyek tersebut cukup memenuhi kriteria untuk dilanjutkan ke tahap pengembangan selanjutnya.

Kotak 3.2: Faktor Penyaringan Potensi KPS di Afrika Selatan

Manual KPS Afrika Selatan menyatakan hal-hal berikut sebagai faktor-faktor yang perlu

dipertimbangkan pada saat memutuskan apakah suatu proyek mampu menghasilkan nilai yang sepadan dengan biaya dalam bentuk KPS:

• Skala proyek terkait – apakah biaya transaksi kemungkinan dapat dipertanggungjawabkan? Dalam Modul 2 Panduan Referensi ini, Bab 1: Kebijakan KPS menguraikan bagaimana beberapa pemerintah menetapkan ukuran tertentu untuk proyek-proyek KPS.

• Spesiikasi hasil proyek dapat ditentukan dengan jalan – apakah terdapat keyakinan

bahwa pemerintah dapat menyusun kontrak yang dapat menjadi dasar untuk menuntut pertanggungjawaban penyedia.

• Kesempatan mengalihkan risiko (dan faktor penggerak nilai KPS lainnya) – apakah terdapat

cukup keyakinan bahwa suatu KPS akan menyediakan nilai yang sepadan dengan biaya

dibandingkan alternatifnya, yaitu pengadaan publik tradisional? Dalam arti: mencapai alokasi

risiko yang tepat – sehingga sebagian besar risiko dialokasikan kepada pihak yang paling mampun mengendalikan atau menanggung risiko-risiko tersebut – dan memanfaatkan faktor-

faktor penggerak nilai KPS yang dijelaskan dalam Modul 1: Kotak 1.1: Faktor-Faktor Penggerak

Nilai KPS.

• Kapabilitas dan minat pasar – apakah terdapat proyek yang secara potensial layak secara komersial dan minat pasar dalam proyek tersebut? Menilai minat pasar mungkin memerlukan

pengenalan kepada pasar melalui investor potensial.

Sumber: South Africa PPP Manual [#219, Modul 4, halaman 13].

Sumber-sumber berikut ini menyajikan saran dan panduan lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam penyaringan proyek KPS potensial:

• Prosedur KPS daring India [#143] meliputi ‘ilter kecocokan’ yang memberikan panduan kepada

pengguna dalam mempertimbangkan faktor-faktor yang dijelaskan dalam Kotak 3.2: Faktor-Faktor Penyaringan Potensi KPS di Afrika Selatan, serta tingkat dukungan lingkungan sektor publik (termasuk penilaian atas kemampuan sektor publik untuk melaksanakan proyek tersebut dalam bentuk KPS); adanya halangan potensial terhadap pelaksanaan proyek (berdasarkan informasi yang diperoleh dari studi pra-kelayakan), dan faktor-faktor lain seperti perkiraan upaya dan sumber daya yang dibutuhkan untuk mengembangkan KPS (contohnya, apakah kontrak standar telah siap tersedia).

• Di Kolombia, badan pelaksana wajib menyampaikan Laporan Eksekutif kepada Unit KPS untuk

meminta otorisasi untuk melaksanakan proyek tersebut dalam bentuk KPS. Analisa dalam laporan ini

seperti analisa pra-kelayakan – dijelaskan dalam Manual KPS [#55, halaman 34-38]. Unit KPS kemudian

menilai laporan tersebut dengan menerapkan Indeks Kelayakan Proyek, sebagaimana dijelaskan

dalam instruksi teknis Kementerian Keuangan mengenai analisa kelayakan [#54]. Indeks tersebut

mengukur ‘persyaratan yang diperlukan’ untuk melaksanakan suatu proyek dalam bentuk KPS, yang meliputi: kapasitas organisasi dan fungsional badan pelaksana untuk menyusun struktur suatu

proyek KPS, kemungkinan menarik mitra yang kompeten, risiko, skala dan jangka waktu proyek, dan pandangan pemangku kepentingan. Dokumen ini juga menyajikan pertanyaan yang wajib dijawab badan pelaksana untuk menghasilkan informasi yang diperlukan Unit KPS untuk menerapkan indeks kelayakan tersebut.

• Panduan Pemerintah Hong Kong mengenai KPS [#131, halaman 31-32] menguraikan daftar kriteria

yang harus dipenuhi suatu KPS dalam tahap penyaringan awal (atau ‘kasus bisnis tahap satu’) untuk dipertimbangkan sebagai proyek yang memiliki alasan yang meyakinkan pada penilaian awal untuk dilaksanakan dalam bentuk KPS.

Walaupun pengidentiikasian KPS di antara proyek investasi yang merupakan prioritas dalam suatu sektor

pada umumnya merupakan tanggung jawab kementerian, departemen, atau badan yang bersangkutan, dalam hal program KPS baru, badan sektor pada umumnya membutuhkan dukungan untuk mengatasi rasa asing atau keengganan awal untuk mengadopsi KPS. Dukungan ini dapat menjadi bagian dari

peran unit KPS Pusat sebagaimana dijelaskan dalam Bab 2.3.4: Unit KPS Khusus. Mengembangkan

KPS dan menjalankan transaksi KPS pada umumnya lebih mahal dibandingkan proses serupa untuk proyek investasi publik tradisional, hal ini juga dapat menimbulkan keengganan bagi badan pemerintah

untuk melakukan identiikasi KPS. Pendanaan tambahan untuk pengembangan KPS dapat membantu

mengatasi permasalahan ini. Sebagai contoh, Dana Pengembangan Proyek Infrastruktur India atau India

Infrastructure Project Development Fund [#139] dibentuk sebagai dana bergulir, dan dapat mendanai sampai 75% dari biaya pengembangan proyek KPS.

Hasil dari proses penyaringan ini adalah daftar tunggu proyek KPS, yang disusun dalam konteks rencana

strategis infrastruktur dan sektor secara keseluruhan. Mengumumkan daftar tunggu proyek KPS ini

kepada publik dapat menjadi cara yang tepat untuk membangun minat sektor swasta dalam menanamkan investasi dalam KPS suatu negara. Situs web unit KPS Chile, Coordinación de Concesiones de Obra Pública, menyajikan informasi yang relevan sehubungan dengan daftar tunggu proyek pemerintah Chile. Farquharson et al menguraikan keunggulan mendeinisikan ‘kerangka kerja investasi’ program KPS – termasuk daftar tunggu KPS, serta rencana investasi infrastruktur pelengkap lainnya [#95, halaman

21-22].

Dalam dokumen ppp reference guide bahasa indonesia version 0 (Halaman 130-133)