Pembentukan Kerangka Kerja KPS
2.1.2 Ruang Lingkup Program KPS
Banyak pemerintah menghubungkan ruang lingkup program KPS dengan jenis proyek atau kontrak tertentu. Salah satu tujuan yang mungkin ingin dicapai adalah fokus terhadap proyek-proyek KPS yang kemungkinan besar akan berhasil mencapai tujuan pemerintah dan memberikan nilai yang setara dengan biaya yang dikeluarkan. Dalam hal kerangka kerja KPS mencakup proses dan tanggungjawab kelembagaan tertentu, pemerintah perlu mendeinisikan dalam situasi bagaimana proses dan tanggungjawab kelembagaan tersebut berlaku. Pemerintah mungkin mendeinisikan ruang lingkup program KPS melalui kombinasi hal-hal berikut ini:
• Jenis kontrak KPS – tidak terdapat deinisi internasional 'KPS' yang konsisten, yang dapat digunakan untuk menjabarkan berbagai jenis kontrak KPS. Bab 1.1: Memahami KPS: Deinisi Kemitraan Pemerintah Swasta menguraikan jenis-jenis kontrak tersebut, yang dapat bervariasi mulai dari perjanjian sewa guna usaha untuk aset dan layanan yang telah tersedia hingga kontrak Design- Build- Operate-Finance-Maintain untuk aset-aset baru. Beberapa negara menentukan jenis-jenis kontrak yang termasuk dalam kebijakan KPS. Salah satu tujuan yang mungkin ingin dicapai adalah memprioritaskan jenis kontrak yang paling sesuai dengan tujuan pemerintah. Tidak kalah pentingnya adalah menentukan dalam kondisi bagaimana persyaratan dan proses kerangka kerja KPS tersebut berlaku. Sebagai contoh, rancangan Kebijakan KPS Nasional India (2011) menyatakan jenis kontrak yang dipandang sebagai KPS, jenis kontrak yang tidak akan digunakan (yaitu kontrak yang melibatkan kepemilikan aset oleh pihak swasta), dan jenis kontrak yang tidak termasuk dalam cakupan kebijakan KPS (kontrak Rekayasa–Pengadaan-Konstruksi atau Engineering-Procurement- Construction (EPC) dan pelepasan aset). Baik Undang-Undang 11079 Brasil, Undang-Undang KPS Federal, Brasil [#34] maupun Chile, Ministerio de Obras Públicas (2010) Ley y Reglamento de Concesiones de Obras Públicas, Santiago [#46] menentukan batas jangka waktu kontrak: minimum lima tahun untuk Brasil, dan maksimum 50 tahun untuk Chile.
• Sektor – program KPS mungkin terbatas pada sektor-sektor yang paling membutuhkan investasi atau perbaikan kinerja layanan, atau sektor-sektor dengan kemungkinan keberhasilan KPS yang paling tinggi. Sebagai contoh, kebijakan KPS Singapura (2004) terbatas pada sektor-sektor 'dengan pelaksanaan KPS yang telah terbukti berhasil di negara-negara serupa lainnya', termasuk fasilitas olahraga, rencana insinerator, pekerjaan pengolahan air dan limbah, infrastruktur TI utama, fasilitas pendidikan, kesehatan, dan poliklinik, jalur cepat, dan gedung kantor pemerintah. Beberapa negara mengecualikan sektor-sektor yang dipandang terlalu sensitif – Uruguay dan El Salvador mengecualikan sektor air, Guatemala mengecualikan sektor pendidikan dan kesehatan.
• Ukuran proyek – banyak pemerintah menentukan ukuran minimum proyek KPS yang dilaksanakan berdasarkan kerangka kerja KPS. Proyek-proyek berskala lebih kecil mungkin tidak sesuai karena biaya transaksi pelaksanaan KPS yang relatif tinggi. Dalam beberapa kasus, proyek-proyek berskala kecil dapat dilaksanakan tanpa perlu memenuhi persyaratan penilaian dan persetujuan yang ditetapkan dalam kerangka kerja KPS. Dalam kasus lain, batasan ukuran proyek dapat mengakibatkan kontrak jenis KPS tidak dapat digunakan untuk proyek-proyek berskala lebih kecil. Sebagai contoh, kebijakan KPS Singapura (2004) menyatakan bahwa pada awalnya, KPS akan ditempuh hanya untuk proyek- proyek dengan estimasi nilai modal melihibi US$50 juta. Undang- Undang KPS Brasil (Undang- Undang 11079, 2004) menentukan nilai minimum sebesar 20 juta reais (US$11,7 juta) untuk proyek individual yang dilaksanakan berdasarkan 'Undang-Undang KPS'.
Tabel 2.2 memberikan perincian lebih lanjut mengenai deinisi ruang lingkup program KPS berbagai negara.
Tabel 2.2: Contoh Deinisi Ruang Lingkup Kebijakan KPS
Negara Referensi Ruang Lingkup KPS
Australia Panduan KPS Nasional - Kerangka Kerja Kebijakan KPS (2008) [#13, Bab 3.1.3 halaman 6]
Ukuran proyek – pertimbangan kesepadanan nilai dengan biaya KPS kemungkinan hanya akan berlaku bagi proyek di atas US$50 juta.
Brasil Undang-Undang KPS Nasional (Undang-Undang 11079, 2004) [#34, Pasal 2, ayat 4]
Jenis Kontrak – Brasil hanya mengakui dua jenis kontrak sebagai KPS: (i) konsesi bersubsidi–imbal hasil bagi pihak swasta berasal dari tarif pengguna dan subsidi pemerintah, dan (ii) konsesi administratif – seluruh imbal hasil bagi pihak swasta berasal dari subsidi pemerintah. Konsesi yang tidak membutuhkan subsidi pemerintah tidak dipandang sebagai KPS di Brasil. Undang-Undang ini juga menyatakan bahwa konsesi harus memiliki jangka waktu sekurang-kurangnya lima tahun untuk memenuhi syarat sebagai KPS.
Ukuran Proyek – KPS hanya akan dilaksanakan untuk proyek dengan nilai lebih dari 20 juta reais (US$11,7 juta).
Chile Undang-Undang Konsesi (Undang-Undang 20.410, 2010) [#46]
Jenis kontrak – Undang-Undang ini menyatakan jangka waktu maksimum kontrak konsesi adalah 50 tahun.
Sektor – Undang-Undang tidak menentukan sektor tertentu. Akan tetapi, undang- undang tersebut menyatakan bahwa KPS digunakan untuk mengeksploitasi pekerjaan dan layanan publik, penggunaan "barang publik" untuk mengembangkan layanan yang diperlukan.
Kolombia Undang-Undang KPS Nasional (Undang-Undang 1508, 2012) [#52, Pasal 3 dan 6]
Jenis kontrak – kontrak KPS harus selalu mewajibkan investor swasta bertanggung jawab atas pengoperasian dan pemeliharaan, dengan jangka waktu tidak melebihi 30 tahun. (Apabila jangka waktu proyek melebihi 30 tahun, proyek tersebut memerlukan persetujuan Dewan Kebijakan Ekonomi dan Sosial Nasional).
Ukuran proyek – total investasi dalam proyek harus melebihi 6.000 smmlv (yaitu Upah Bulanan Minimum Wajib).
Mauritius Pernyataan Kebijakan Kemitraaan Pemerintah Swasta (2003) [#181, Bab 5, halaman 4]
Sektor – pada tahap awal program KPS, pemerintah berencana untuk memfokuskan diri pada area utama tertentu – transportasi, fasilitas umum, manajemen limbah padat dan cair, kesehatan, pendidikan dan pelatihan keterampilan, dan teknologi komunikasi informasi.
Meksiko Undang-Undang KPS (Ley de Asociaciones Publico Privadas, 2012) [#185]
Jenis kontrak – mendeinisikan KPS sebagai hubungan kontraktual jangka panjang antara pemerintah dan badan swasta, dalam penyediaan layanan kepada sektor pemerintah atau masyarakat umum, dalam hal infrastruktur disediakan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial dan tingkat investasi di Meksiko. Jangka waktu kontrak tidak boleh melebihi 40 tahun (termasuk perpanjangan) – kontrak dengan jangka waktu melebihi 40 tahun harus disahkan oleh undang-undang.
Puerto Rico Undang-Undang KPS
(2009) [#210, Bab 3] Sektor waduk dan bendungan, pembangkit listrik, sistem transportasi, fasilitas pendidikan, – menentukan 10 sektor yang memenuhi syarat: penimbunan sampah, kesehatan, keamanan, lembaga pemasyarakatan dan rehabilitasi, perumahan yang terjangkau, tempat olahraga, rekreasi, wisata dan budaya, jaringan komunikasi, teknologi tinggi, sistem informasi dan otomatisasi, dan sektor lainnya yang telah ditentukan sebagai prioritas melalui undang-undang.
Singapura Buku Panduan Kemitraan Pemerintah Swasta [#216, Bab 1.4.2, halaman 8]
Sektor – terbatas pada sektor-sektor yang telah memiliki contoh KPS yang berhasil di negara-negara lain – termasuk fasilitas olahraga, rencana insinerator, pekerjaan pengolahan air dan limbah, infrastruktur TI utama, fasilitas pendidikan, kesehatan, dan poliklinik, jalur cepat, dan gedung kantor pemerintah.
Kebijakan KPS pada umumnya menetapkan prinsip-prinsip pelaksanan – yaitu peraturan panduan, atau kode etik yang menjadi dasar pelaksanaan proyek KPS. Prinsip-prinsip ini menetapkan standar yang menjadi dasar pertanggungjawaban pihak-pihak yang bertanggungjawab melaksanakan KPS. Prinsip- prinsip tersebut pada umumnya didukung oleh peraturan dan prosedur, yang menjelaskan penerapan prinsip-prinsip tersebut dalam praktik di lapangan. Sebagai contoh, Kotak 2.4: Prinsip- Prinsip Pelaksanaan KPS di Peru menyajikan daftar prinsip pelaksanaan yang ditetapkan oleh Undang- Undang KPS nasional Peru.
Kotak 2.4: Prinsip-Prinsip Pelaksanaan KPS di Peru
Kebijakan KPS Peru ditetapkan melalui dekrit legislatif 1012. Pasal 5 dektrit ini menetapkan prinsip- prinsip panduan kebijakan KPS berikut ini:
• Kesepadanan Nilai dengan Biaya: suatu layanan publik harus disediakan oleh pelaku swasta yang mampu menawarkan kualitas yang lebih baik untuk jumlah biaya tertentu atau biaya yang lebih rendah untuk hasil dengan kualitas tertentu. Dengan demikian kebijakan ini berupaya untuk memaksimalkan kepuasan pengguna dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya pemerintah.
• Transparansi: seluruh informasi kuantitatif maupun kualitatif yang digunakan dalam pengambilan keputusan selama tahap evaluasi, pengembangan, pelaksanaan dan pengawasan, harus diungkapkan kepada publik sesuai dengan Pasal 3 Undang-Undang Transparansi dan Akses Informasi Publik.
• Kompetisi: kompetisi harus diupayakan dalam rangka mencapai eisiensi dan biaya yang lebih rendah dalam penyediaan infrastruktur dan layanan publik. Pemerintah juga harus mengindari setiap perilaku anti-persaingan atau kolusi.
• Alokasi Risiko yang Memadai: harus terdapat alokasi risiko yang memadai antara pihak pemerintah dan swasta. Hal ini berarti, risiko harus dibebankan kepada pihak yang memiliki kapasitas terbaik untuk mengelola risiko yang ada dengan biaya yang lebih rendah, dengan mempertimbangkan baik kepentingan publik maupun karakteristik proyek.
• Tanggung Jawab Anggaran: dideinisikan sebagai kapasitas Pemerintah untuk menanggung komitmen keuangan kontinjen dan pasti sehubungan dengan pelaksanaan kontrak KPS tanpa mengorbankan keberlanjutan keuangan pemerintah atau penyediaan layanan publik secara rutin.
Sumber: Congreso de la República (2008) Decreto Legislativo N° 1012, Lima [#12]
Contoh-contoh prinsip-prinsip panduan yang kokoh lainnya dapat dilihat dalam:
• Kebijakan Infrastruktur Pemerintah Negara Bagian Karnataka (2007) [#144, halaman 135], yang menetapkan dan menjelaskan 'Prinsip-Prinsip Fundamental' kebijakan tersebut dengan jelas. • Kerangka Kerja Kebijakan KPS Nasional Australia (2008) [#13, halaman 10-11], yang menyatakan
tujuh prinsip: kesepadanan nilai dengan biaya, kepentingan publik, alokasi risiko, orientasi terhadap hasil, transparansi, pertanggungjawaban, dan 'kemampuan mengundang minat pasar'.
• Undang-Undang KPS Federal Brasil (Undang-Undang 11079, 2004) [#34, Pasal 4) menyatakan tujuh prinsip pemanfaatan KPS - eisiensi, penghormatan terhadap kepentingan pengguna dan pelaku swasta yang terlibat, tidak dapat dialihkannya tanggungjawab penegakan peraturan, yurisdiksi dan hukum, transparansi, alokasi risiko yang objektif, dan keberlanjutan inansial.
• Undang-Undang KPS (Undang-Undang 11688, 2004) Negara Bagian São Paulo, Brasil [#37, Pasal menyatakan delapan prinsip yang menjadi panduan bagi rancangan dan pelaksanaan KPS. Prinsip-prinsip tersebut termasuk: eisiensi, penghormatan terhadap kepentingan pengguna akhir, akses universal terhadap barang dan jasa esensial, transparansi, tanggungjawab iskal, sosial dan lingkungan.
• Peraturan Presiden Indonesia No. 67 (2005) [#148, Pasal 6] yang menetapkan prinsip-prinsip KPS yang mendukung transparansi, pertimbangan yang adil dan kompetisi dalam program KPS, serta struktur yang saling menguntungkan antara pemerintah dan pihak swasta.
• Undang-Undang KPS Nasional Kolombia (Undang-Undang 1508, 2011) [#52, Pasal 4 dan 5] menetapkan prinsip-prinsip utama kebijakan KPS di negara tersebut, yaitu: eisiensi, kebutuhan dan alokasi risiko yang eisien. Undang-Undang juga menyatakan bahwa pembayaran kepada pihak swasta harus merupakan kewajiban kontinjensi yang bergantung terhadap ketersediaan infrastruktur dengan kualitas sebagaimana diatur dalam kontrak.
• Kebijakan KPS Jamaika (2012) menetapkan empat prinsip panduan: mencapai pengalihan risiko dan kesepadanan nilai dengan biaya yang optimal bagi masyarakat; dapat dipertanggungjawabkan secara iskal, dan mempertahankan kejujuran dan transparansi [#166].
Referensi Utama: Contoh-Contoh Kebijakan KPS
Referensi Keterangan
Australia, Infrastructure Australia (2008) National PPPv Guidelines-PPP Policy Framework, Canberra
Menjabarkan tujuan, ruang lingkup, penilaian proyek KPS, dan prinsip-prinsip panduan penerapan KPS.
Indonesia, Presiden (2005) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2005 Infrastruktur, Jakarta; (2011) Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2011, Jakarta
Menjabarkan tujuan, ruang lingkup, dan prinsip-prinsip KPS di Indonesia, serta menetapkan proses dan tanggung jawab KPS.
Brasil, São Paulo Assembléia Legislativa (2004) Lei 11688/04 | Lei N° 11.688, São Paulo
Menjabarkan tujuan program KPS, mendirikan Dewan Manajemen KPS, Badan Kemitraan São Paulo, dan Unit KPS di bawah Sekretariat Perencanaan. Kebijakan ini juga menetapkan tanggung jawab mitra swasta dan menetapkan peraturan mengenai kontrak KPS.
General Congress of the United States of Mexico (2012) Ley de Asociaciones Publico Privadas (PPP Law)
Menjabarkan ruang lingkup, prinsip dan proses program KPS di Meksiko.
Brasil, Congresso Nacional (2004) Lei N° 11079, Brasília
Menetapkan deinisi KPS dan menjabarkan proses KPS, termasuk persyaratan
proses lelang dan rancangan kontrak. Kebijakan ini juga menetapkan kerangka kerja kelembagaan bagi program KPS.
Chile, Ministerio de Obras Públicas (2010) Ley y Reglamento de Concesiones de Obras Públicas, Santiago
Undang-Undang ini mengamandemen Dekrit sebelumnya yang berlaku sebagai Undang-Undang KPS di Chile. Undang-Undang ini mendirikan Dewan Konsesi, menetapkan seluruh aktivitas persiapan yang harus dilaksanakan oleh badan pemerintah yang berwenang, menetapkan proses pengadaan, menentukan hak dan tanggung jawab dan menetapkan proses untuk menangani perubahan.