Selama periode pelaksanaan, perubahan dalam proil risiko proyek atau pasar modal mungkin berarti
perusahaan KPS dapat mengganti atau menegosiasi ulang utang awal mereka dengan persyaratan yang
lebih menguntungkan. Sebagaimana dijelaskan dalam Bab 1.4: Pembiayaan KPS, beberapa kontrak KPS
menetapkan peraturan untuk menentukan dan membagi keuntungan dari restrukturisasi pembiayaan.
menetapkan pembagian 50:50 atas keuntungan restrukturisasi antara investor dan pemerintah. Panduan Pedoman EPEC mengenai KPS [#83, halaman 35] juga menyajikan ringkasan yang jelas dan singkat
mengenai perlakuan restrukturisasi pembiayaan dalam kontrak KPS.
3.4.4 Mekanisme Penyelesaian Sengketa
Karena perjanjian KPS bersifat jangka panjang dan kompleks, kontrak KPS cenderung tidak lengkap,
sebagaimana dijelaskan dalam Bab 3.4.3: Mekanisme Penyesuaian. Apabila hal ini menciptakan ruang
untuk perbedaan interpretasi, maka sengketa mungkin timbul. Menetapkan proses penyelesaian sengketa membantu memastikan sengketa dapat diselesaikan dengan cepat dan eisien, tanpa
gangguan terhadap layanan – dengan demikian mengurangi risiko gangguan akibat sengketa, baik
bagi pihak pemerintah maupun swasta. Mekanisme penyelesaian sengketa dapat dituangkan ke dalam
kontrak KPS. Beberapa pemerintah menetapkan mekanisme penyelesaian sengketa dalam undang- undang KPS, yang berlaku atas seluruh kontrak KPS.
Sebagaimana dijelaskan oleh Kerf et al [#169, Bab 3.10], mekanisme penyelesaian sengketa dalam KPS
meliputi:
• Mediasi – pihak ketiga turut terlibat untuk membantu menyelesaikan sengketa dengan memberikan rekomendasi alternatif penyelesaian ketidaksepakatan. Medias digunakan dengan harapan arbitrase
resmi tidak perlu dilakukan.
• Bantuan regulator sektor – bagi KPS dalam sektor yang berada di bawah badan regulator independen,
badan regulator tersebut dapat diberikan tanggung jawab untuk menyelesaikan sengketa tertentu. Opsi ini relatif sederhana dan dengan demikian berbiaya rendah, tetapi dapat berisiko bagi pihak swasta, terutama dalam hal adanya kekhawatiran mengenai independensi atau kapasitas regulator.
• Sistem peradilan – pada umumnya, sengketa kontraktual berada di bawah yurisdiksi pengadilan,
dan hal ini juga berlaku bagi kontrak KPS. Akan tetapi, pihak-pihak yang terlibat dalam KPS pada umumnya tidak memandang sistem pengadilan sebagai solusi yang tepat untuk menyelesaikan perselisihan, karena sistem peradilan tersebut mungkin lambat, atau tidak memiliki keahlian teknis
yang memadai – terutama di negara-negara berkembang. Mekanisme penyelesaian sengketa dalam
KPS pada umumnya berupaya sedapat mungkin untuk menghindari penggunaan sistem pengadilan.
• Panel ahli sebagai arbiter – kontrak atau undang-undang KPS dapat membentuk sebuah panel yang
terdiri dari tenaga ahli independen, untuk bertindak sebagai arbiter dalam hal terjadi sengketa. Keputusan dapat ditetapkan sebagai tidak mengikat (dalam hal ini, diperlukan mekanisme banding lebih lanjut), atau mengikat.
• Arbitrase internasional – upaya terakhir bagi sebagiana besar KPS adalah arbitrase internasional,
yang dapat dilakukan di bawah lembaga arbitrase permanen seperti Pusat Penyelesaian Sengketa Investasi Internasional atau International Centre for Settlement of Investment Disputes (lihat Kotak 3.10: International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID)) atau melibatkan pengaturan ad-hoc seperti panel ahli internasional.
Lebih dari satu pendekatan dapat digunakan, sehingga terdapat mekanisme banding atas sengketa
• Konsesi Chile. Mekanisme penyelesaian sengketa untuk kontrak-kontrak KPS di Chile ditetapkan
dalam Undang-Undang Konsesi, dan berpusat pada peran panel ahli independen, sebagaimana
dijelaskan dalam kajian Jadresic mengenai pengalaman Chile dengan panel ahli [#165, halaman 25- 26]. Sebuah panel konsiliasi ahli ditetapkan untuk setiap kontrak, terdiri dari tiga ahli – tenaga
ahli pertama dipilih oleh pemerintah, kedua dipilih oleh pihak swasta, dan ketiga dipilih berdasarkan kesepakatan bersama. Panel konsiliasi dapat dipanggil untuk mengajukan persyaratan konsiliasi untuk menyelesaikan sengketa, untuk disetujui oleh para pihak. Apabila kesepakatan tidak dapat dicapai, pihak swasta dapat meminta panel konsiliasi untuk bertindak sebagai panel arbitrase (dan mencapai keputusan yang mengikat), atau menyerahkan sengketa pada sistem pengadilan.
• Konsesi Layanan Air Bucharest. Mekanisme penyelesaian sengketa ditetapkan dalam kontrak KPS. Mekanisme tersebut melibatkan regulator ekonomi, regulator teknis yang berada di bawah
pemerintah kota, dengan rujukan kepada panel ahli internasional dalam hal pengajuan banding.
• Undang-Undang Federal Meksiko mengenai Akuisisi, Sewa Guna Usaha dan Jasa [#184] menguraikan prosedur penyelesaian konlik selama pelaksanaan kontrak KPS. Secretaría de la Función Pública
merupakan organisasi yang bertanggung jawab untuk menangani proses tersebut. Undang- Undang menyatakan bahwa pihak yang berminta harus mengajukan permintaan untuk dukungan penyelesaian sengketa dari Sekretaris. Sekretaris memfasilitasi pertemuan penyelesaian sengketa. Setiap kesepakatan yang dicapai melalui prosedur ini bersifat mengikat, dan pihak-pihak yang terlibat harus menerbitkan laporan yang menunjukkan kemajuan yang dicapai dalam melaksanakan kesepakatan yang dicapai.
• Di Uruguay, Undang-Undang mengenai Kontrak KPS [#269] menetapkan bahwa para pihak wajib
menyepakati panel arbitrasi ad-hoc untuk menyelesaikan setiap sengketa.
Kontrak-kontrak standar yang dijabarkan dalam Tabel 3.1: Contoh-Contoh Kontrak dan Klausul Kontrak Terstandarisasi menyajikan contoh-contoh lebih lanjut mengenai klausul dan opsi penyelesaian sengketa.
Kotak 3.10: International Centre for Settlement of Investment Disputes (ICSID)
ICSID, bagian dari World Bank Group, merupakan lembaga internasional otonom yang didirikan
berdasarkan Konvensi Penyelesaian Sengketa Investasi antara Negara Bagian dan Negara dari
Negara Bagian (Convention on the Settlement of Investment Disputes between States and
Nationals of Other States) (dikenal sebagai Konvensi ICSID atau Konvensi Washington, mulai berlaku pada tahun 1996) dengan lebih dari seratus empat puluh Negara Bagian anggota.
Tujuan utama ICSID adalah menyediakan fasilitas konsiliasi dan arbitrase atas sengketa investasi internasional.
Konvensi ICSID berupaya menghilangkan hambatan utama yang ditimbulkan oleh risiko nonkomersial dan ketiadaan metode internasional terspesialisi dalam penyelesaian sengketa investasi terhadap kebebasan aliran investasi swasta internasional. ICSID didirikan oleh Konvensi sebagai forum internasional tidak memihak yang menyediakan fasilitas untuk menyelesaikan sengketa hukum antara pihak-pihak yang memenuhi syarat, melalui prosedur konsiliasi atau
arbitrase. Penyerahan sengketa kepada fasilitas ICSID selalu tunduk kepada persetujuan para pihak. ICSID memiliki satu Panel Arbitrase dan Panel Konsiliator (mediator).
Situs web ICSID, https://icsid.worldbank.org/ICSID/Index.jsp menyediakan informasi dan contoh lebih lanjut mengenai penyelesaian sengketa internasional – termasuk kasus-kasus dalam sektor jalan, jalan kereta api, pelabuhan, bandara, energy, limbah, air, limbah cair, dan sektor-sektor lainnya. Berbagai laporan pemberian kontrak juga tersedia dalam situs web tersebut, dalam Bahasa Inggris dan Prancis. Situs web ini juga menyajikan serangkaian klausul model mengenai konsiliasi dan arbitrase – disajikan dalam Bahasa Inggris, Prancis dan Spanyol.
3.4.5 Ketentuan-Ketentuan Pengakhiran
Dalam sebagian besar kasus, kontrak KPS memiliki persyaratan yang telah ditentukan. Kontrak KPS pada umumnya menetapkan tanggal pengakhiran kontrak, serta pengaturan sehubungan dengan penutupan kontrak dan serah terima aset. Kontrak KPS, atau dalam beberapa kasus, Undang-Undang KPS yang relevan, juga harus menetapkan situasi yang mengakibatkan kontrak dapat diakhiri lebih awal, dan konsekuensi pengakhiran tersebut dalam masing-masing situasi.