Oleh Budiarto Danujaya
KETIKA meraih Nobel Sastra 7 Desember 1994, Kenzaburo Oe berceramah dengan tajuk "Japan, the Ambiguous, and Myself". Risalah ini sebetulnya secara tak langsung merupakan tanggapan terhadap pidato pemenang Nobel Sastra 1968, Yasunari Kawabata, yang berjudul "Japan, the Beautiful, and Myself". Oe menyatakan sikapnya tidak sejalan dengan mistifikasi Jepang yang dilakukan Kawabata.
Oe bertutur tentang ambiguitas bipolar yang diderita Jepang mutakhir setelah lebih dari seabad modernisasi. Restorasi Meiji mengantar Jepang pada sebuah modernisasi ala Barat, yang membuat keretakan sosial-kultural mendalam antara negara dan masyarakatnya. Bahkan, orientasi ambisius yang diakibatkannya juga senantiasa membuat Jepang berposisi sebagai "sang penyerbu" di Asia, sehingga terkucil dari tetangga-tetangganya, baik secara politis maupun sosial-kultural.
Salah satu varian ambiguitas tersebut memuncak pada kebrutalan Jepang semasa Perang Dunia II, termasuk di Korea, China, dan Indonesia. Kebrutalan tersebut juga merangsang kebrutalan lain, yakni bom atom AS di Hiroshima dan Nagasaki, yang mengakibatkan lebih dari 300.000 korban jiwa. Oleh karena itu, Oe
mengatasnamakan risalah ini tak hanya pada seorang warga sebuah negeri yang kini kenyang puja-puji karena kemajuan industri elektronik dan mobilnya, akan tetapi juga seorang warga sebuah negeri yang pernah "diserbu kegilaan pada antusiasime penghancuran baik bagi negeri sendiri maupun pada negara-negara tetangganya". TAMPAKLAH bahwa salah satu perbedaan pokok antara kekejian kemanusiaan semacam ini dan berbagai bentuk kejahatan berdampak massal lainnya, katakanlah korupsi, adalah pada kenangan buruk yang diakibatkannya. Kejahatan kemanusiaan ternyata membangkitkan kegetiran dan rasa malu kolektif yang tak kunjung mati.
Dalam pengertian inilah, Oe tidak sendirian. Hal yang sama kita rasakan ketika kebetulan ada kenalan asing bertanya mengenai tragedi Aceh semasa DOM (Daerah Operasi Militer), Tanjung Priok, Trisakti, Semanggi, Poso, Ambon, kerusuhan Mei, peristiwa Santa Cruz maupun pembumihangusan Timtim, atau pembakaran maupun pengeboman banyak tempat publik dan ibadah. Bahkan, ketika kita membaca jatuhnya satu juta korban jiwa pada peristiwa G30S dalam The Anatomy of Human Destructiveness dari Erich Fromm, bukan lagi kengerian melainkan kegetiran dan rasa malu itu yang meremang.
Oleh karena itu, pokok yang perlu digarisbawahi dalam penyelesaian kasus pelanggaran berat hak asasi manusia (HAM) adalah bahwa di samping sebuah bentuk kejahatan luar biasa karena mengoyak sendi-sendi
kemanusiaan, kejahatan HAM juga berdampak kolektif, dan bahkan melintasi zaman. Penekanan ini penting melihat kecenderungan penyelesaian kasus pelanggaran HAM berat belakangan ini yang mengesankan dua hal. Pertama, kebutuhan politik jangka pendek, dalam arti segenap pihak sedang berusaha memulung
popularitas/dukungan dari pihak mana pun, atau setidaknya jangan sampai cari musuh, terlebih lagi terhadap para mantan pejabat/petinggi militer era Orde Baru yang jelas masih sangat sarat dana, pengaruh, dan bahkan kekuasaan terselubung.
Kedua, crash program, dalam arti yang penting segera selesai daripada terus membebani perjalanan bangsa selanjutnya dengan masa lalu yang kelam. Atau, mungkin lebih tepatnya, jangan sampai perkara masa lalu ini terus membebani pemerintahan yang sekarang/akan datang dengan isu simalakama, yang apa pun keputusannya cenderung merugikan aliansi strategis atau popularitas yang sedang mereka bangun.
KECENDERUNGAN ini bisa jelas kita tengarai bukan hanya lewat lolosnya semua terdakwa berpangkat puncak dalam perkara pelanggaran berat HAM, antara lain pada pengadilan kasus Timor Timur dan Tanjung Priok belakangan ini. Melainkan, terutama dengan adanya upaya untuk mengubah Rancangan Undang-Undang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (RUU KKR) menjadi sekadar legitimasi lebih absah terhadap upaya penyelamatan para terdakwa pelanggaran berat HAM tersebut.
Sedemikian rupa keputusan ini sampai tak peduli mengandung paradoks di dalam logika internal keputusan atau antara keputusan-keputusannya. Begitu pula, sedemikian rupa upaya ini sampai tak peduli apakah mengusik
kliping
ELSAM
KLP: Wacana KKR 2004---Hal. 77
rasa keadilan para korban, keluarganya, atau masyarakat luas. Bahkan, tampaknya juga tak peduli justru telah menciptakan sebuah kekerasan baru oleh negara atau sekelompok orang yang kebetulan berwenang terhadap para korban, keluarganya, dan masyarakat luas.
Sebagai contoh, dalam naskah RUU KKR usulan pemerintah disebutkan bahwa komisi ini wajib memberi rekomendasi untuk memberi amnesti terhadap pelanggar berat HAM kalau pelaku dan korban saling
memaafkan. Komisi bahkan masih berkemungkinan memutuskan pemberian rekomendasi amnesti, betapapun berkeharusan mandiri dan obyektif, kalau pelaku telah bersedia mengakui kesalahan dan kebenaran fakta-fakta kejahatan serta menyatakan penyesalan, walaupun gagal mendapat maaf dari korban atau sanak keluarganya (Kompas, 31/8).
Mudah sekali ditafsirkan betapa segenap ujung dan raison d’etre RUU KKR ini adalah amnesti dan bukannya rekonsiliasi. Tidakkah rekonsiliasi lalu sekadar menjadi konsekuensi dependen keinginan memberi amnesti? Tidakkah sebuah rekonsiliasi seharusnya tak hanya mengandaikan niat baik korban dan sanaknya tapi juga para pelakunya, katakanlah menyadari kejahatannya dan siap dihukum tanpa harus melalui proses pengadilan rumit yang melelahkan semua pihak? Tampaknya, inilah yang luput dari logika keadilan proses rekonsiliasi kita jika dibandingkan dengan Korsel, misalnya, yang sempat mengandangkan lebih dulu dua presiden sebelum rekonsiliasi disepakati.
Jelaslah, sebuah rekonsiliasi memang penting agar bangsa ini tidak tetap tercabik-cabik dan terus disandera masa lalu. Dan, juga sangatlah jelas bahwa rekonsiliasi yang wajar mengandaikan sebuah proses memaafkan yang tulus. Akan tetapi, kiranya, dalam hal pengampunan pelaku kejahatan berat HAM semacam ini, sebagai afirmasi, "maaf" dari korban bukanlah segala-galanya. Masalahnya, secara legal maupun terlebih lagi secara sosial-etis, sebuah kejahatan berat HAM tidaklah pernah sekadar sebuah peristiwa individual, melainkan sebuah peristiwa sosial, karena yang dicabik-cabik adalah sendi-sendi kehidupan legal-etis kita bersama.
Hubungan seorang pelaku kejahatan berat HAM dengan korbannya bukanlah sebuah hubungan personal dengan sebuah mekanisme relasi timbal-balik yang bersifat resiprokal, melainkan sebuah hubungan sosial dengan sebuah mekanisme relasi mutual yang menyebar ke segenap anggota masyarakat sehingga bersifat kolektif. Di lain pihak, sebagai negasi, ketika hubungan antara sebuah kejahatan HAM berat terhadap korbannya coba ditiadakan, sebaliknya "maaf" korban adalah segala-galanya. Masalahnya, dalam hubungan mutual yang bersifat kolektif tersebut tercantum jelas jejak utama perkara, yakni hubungan yang diandaikan akan bersifat resiprokal, baku-balas, antara pelaku dan korban. Tentu saja hukum modern perlahan-lahan meninggalkan sisi resiprokal ini dan lebih menitikberatkan pada aspek rekonstruktif dari sebuah hukuman, akan tetapi jejak purba sebuah hukuman, apa boleh buat, mengandaikan unsur ini seperti kita lihat dalam tindak sosial sehari-hari.
Dan, dalam hal ini, memaafkan bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Oleh karena itu, kehilangan hak tuntut korban karena pelaku telah diberi amnesti berdasar pengakuan bersalah walau tanpa maaf, lalu seakan
menghilangkan sangkut-paut diri korban. Rasanya, kalaupun ada praktik mirip ini di negeri lain, misalnya demi membongkar kejahatan lebih besar, bukanlah bagi pelaku kejahatan berat kemanusiaan, dan juga tetap sangat bersyarat agar tak mengusik rasa keadilan orang banyak atau bahkan justru merusak aspek rekonstruktif dari hukum itu sendiri.
Alih-alih dari tudingan pragmatisme hukum, seperti pada praktik plea bargain umumnya, jika tidak dengan pertimbangan adil, saksama, dan sangat bersyarat, perkara semacam ini bahkan bisa berkembang menjadi sebuah bentuk kekerasan baru negara atau sekelompok orang yang kebetulan berwenang terhadap representasi hak para korban atas keadilan dalam hukum bersama.
Lagi pula, jika prosesnya dipaksakan, adakah efektivitasnya dalam mengendurkan ketegangan politik kita? Bahkan sebuah proses islah yang berlangsung informal dan tampak wajar seperti kasus Tanjung Priok, misalnya, ternyata masih menyisakan silang sengkarut berkepanjangan. Dengan demikian, alih-alih
menyelesaikan masa lalu, jika tak bijak-bijak dalam penerapannya kelak, jangan-jangan komisi ini justru akan menjadi pangkal penerbitan ketidakadilan dan kekerasan baru oleh negara, yang akan lebih menuai
kliping
ELSAM
KLP: Wacana KKR 2004---Hal. 78
TAK berarti lalu proses rekonsiliasi jadi tak penting. Pun, pengungkapan kebenaran. Betapapun pedihnya, kebenaran memang lebih baik terbuka, agar bisa menghadirkan proses pembelajaran. Akan tetapi, hidup dengan berbagai masalah yang tak kunjung selesai, dan bahkan berproses bersama masalah-masalah tersebut adalah roman kehidupan sosial mutakhir di mana pun, jadi tak perlu sampai membangkitkan fobia.
Jangan sampai kepenatan dan keengganan kita menghadapi ketegangan sosial-politis yang tak kunjung putus akibat semakin banyaknya muncul permasalahan, tuntutan, pertanyaan, sisipan, dan perbedaan sebagai
konsekuensi mulai berseminya demokrasi kita, kembali kita tutup dengan jenis-jenis jalan pintas dan obat instan jangka pendek, terlebih lagi yang bersifat kursif.
Dalam masa yang lebih dinamik tapi volatil ini, merawat sendi-sendi kehidupan kolektif kita bersama jauh lebih penting daripada sekadar mengendurkan ketegangan, apalagi kalau bersifat implikatif. Dan, representasi rasa keadilan segenap warga dalam hukum, pun kegetiran dan rasa malu bersama sebagai bangsa termasuk di antaranya. Dalam hal ini, jelaslah, rekonsiliasi adalah sebuah gramatika kolektif.
kliping
ELSAM
KLP: Wacana KKR 2004---Hal. 79
Kompas, Sabtu 04 Septembers 2004