• Tidak ada hasil yang ditemukan

STUDI KASUS PENERJEMAHAN DALAM ASPEK TEORITIS DAN PRAKTIS PADA TEKS DESKRIPSI BERJUDUL “THE BASIC FUNCTION OF A MATTRESS”

menuliskan sumbernya dalam bentuk Zuchdi, 1993:61 begitu juga dengan penulisan daftar pustakanya, seperti pada beberapa tulisan di bawah ini

STUDI KASUS PENERJEMAHAN DALAM ASPEK TEORITIS DAN PRAKTIS PADA TEKS DESKRIPSI BERJUDUL “THE BASIC FUNCTION OF A MATTRESS”

Ayu Bandu Retnomurti

Universitas Indraprasta PGRI

[email protected]

ABSTRAK

Penerjemahan adalah proses mengalihkan pesan dari Teks Bahasa Sumber (TBS) ke Teks Bahasa Penerima (TBP) dan tetap menjaga kesepadanan kata antara Teks Bahasa Sumber (TBS) dan Teks Bahasa Penerima (TBP) agar makna pesan jelas tersampaikan kepada pembaca Teks Bahasa Penerima (TBP). Penelitian ini merupakan studi kasus penerjemahan dalam bidang linguistik terapan melalui aspek teoritis dan praktis pada teks deskripsi berjudul “The Basic Function of A Mattress“ sebagai Teks Bahasa Sumber (TBS) ke dalam Teks Bahasa Penerima (TBP). Penelitian ini menarik karena menggunakan teks deskripsi berjudul “The Basic Function of A Mattress“. Adapun kesulitan menerjemahkan teks di bidang industri pekerjaan karena teks tersebut termasuk kedalam penerjemahan teks khusus. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan studi kasus penerjemahan dalam aspek teoritis dan praktis pada teks deskripsi berjudul “The Basic Function of A Mattress“yang digunakan untuk menerjemahkan TBS ke dalam TBP agar menghasilkan terjemahan yang tepat, wajar dan mudah dipahami oleh pembaca Teks Bahasa Penerima (TBP) dan menjelaskan jenis-jenis teknik serta metode penerjemahan dalam aspek teoritis dan praktis pada teks deskripsi berjudul “The Basic Function of A Mattress“. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif berdasarkan pada analisis teks deskripsi yang melibatkan Teks Bahasa Sumber (TBS) dan Teks Bahasa Penerima (TBP) serta fokus terhadap aspek teoritis dan praktis melalui metode komparatif, yaitu membandingkan Teks Bahasa Sumber dengan Teks Bahasa Penerima, sehingga tujuan untuk menghasilkan terjemahan yang tepat, jelas dan wajar dapat diterima oleh TBP. Jadi, penelitian ini penting karena dalam pengalihbahasaan ke TBP mempertimbangkan penggunaan aspek teoritis dan praktis dilihat dari prinsip kesepadanan yaitu padanan penggunaan teknik dan metode penerjemahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek teoritis lebih sering digunakan dibandingkan aspek praktis. Misal dalam aspek teoritis dalam teknik penerjemahan seperti teknik eksplitasi; penambahan; peminjaman; deskriptif; naturalisasi atau transferensi; parafrase; peminjaman murni; transposisi atau pergeseran; dan modulasi; dibandingkan dengan aspek praktis dalam metode penerjemahannya seperti Metode penerjemahan bebas; semantik; dan idiomatik. Berdasarkan penjelasan di atas, terjemahan yang dihasilkan harus tepat (maknanya tidak melenceng dari makna yang terkandung dalam Teks Bahasa Sumber), jelas (mudah dipahami atau tidak menimbulkan kesalahpahaman), wajar (tidak terkesan sebagai hasil terjemahan), dan dinamis (TBP memiliki efek yang sama dengan TBS).

Kata Kunci: Penerjemahan, Aspek Teoritis, Aspek Praktis, Teknik, Metode Penerjemahan PENDAHULUAN

Dunia penerjemahan dewasa ini mulai dikenal luas oleh masyarakat bersamaan dengan banyaknya sumber bacaan maupun informasi teknologi mancanegara yang menggunakan bahasa Inggris. Namun, belum banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hal ini membuat kebutuhan atas jasa penerjemahan semakin meningkat. Untuk menghasilkan terjemahan yang tepat, jelas, wajar, dan juga dapat dimengerti oleh pembaca teks Bahasa penerima (TBP) dibutuhkan kemampuan analisis teks dalam penerjemahan yang memadai dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah penerjemahan.

Penelitian ini merupakan studi kasus penerjemahan teks khusus yaitu teks deskripsi berjudul “The

Basic Function of A Mattress” sebagai teks Bahasa sumber (TBS) dialihbahasakan ke dalam bahasa

Indonesia sebagai teks Bahasa penerima (TBP). Penelitian ini menarik karena menggunakan teks deskripsi di bidang industri pekerjaan yang digolongkan kedalam penerjemahan teks khusus dengan istilah tertentu. Penelitian ini penting karena dalam pengalihbahasaan ke TBP mempertimbangkan penggunaan aspek teoritis dan praktis dilihat dari prinsip kesepadanan yaitu padanan penggunaan teknik

STUDI KASUS PENERJEMAHAN DALAM ASPEK TEORITIS DAN PRAKTIS PADA TEKS DESKRIPSI BERJUDUL “THE BASIC FUNCTION OF A MATTRESS”

Ayu Bandu Retnomurti

Universitas Indraprasta PGRI

[email protected]

ABSTRAK

Penerjemahan adalah proses mengalihkan pesan dari Teks Bahasa Sumber (TBS) ke Teks Bahasa Penerima (TBP) dan tetap menjaga kesepadanan kata antara Teks Bahasa Sumber (TBS) dan Teks Bahasa Penerima (TBP) agar makna pesan jelas tersampaikan kepada pembaca Teks Bahasa Penerima (TBP). Penelitian ini merupakan studi kasus penerjemahan dalam bidang linguistik terapan melalui aspek teoritis dan praktis pada teks deskripsi berjudul “The Basic Function of A Mattress“ sebagai Teks Bahasa Sumber (TBS) ke dalam Teks Bahasa Penerima (TBP). Penelitian ini menarik karena menggunakan teks deskripsi berjudul “The Basic Function of A Mattress“. Adapun kesulitan menerjemahkan teks di bidang industri pekerjaan karena teks tersebut termasuk kedalam penerjemahan teks khusus. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan studi kasus penerjemahan dalam aspek teoritis dan praktis pada teks deskripsi berjudul “The Basic Function of A Mattress“yang digunakan untuk menerjemahkan TBS ke dalam TBP agar menghasilkan terjemahan yang tepat, wajar dan mudah dipahami oleh pembaca Teks Bahasa Penerima (TBP) dan menjelaskan jenis-jenis teknik serta metode penerjemahan dalam aspek teoritis dan praktis pada teks deskripsi berjudul “The Basic Function of A Mattress“. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif berdasarkan pada analisis teks deskripsi yang melibatkan Teks Bahasa Sumber (TBS) dan Teks Bahasa Penerima (TBP) serta fokus terhadap aspek teoritis dan praktis melalui metode komparatif, yaitu membandingkan Teks Bahasa Sumber dengan Teks Bahasa Penerima, sehingga tujuan untuk menghasilkan terjemahan yang tepat, jelas dan wajar dapat diterima oleh TBP. Jadi, penelitian ini penting karena dalam pengalihbahasaan ke TBP mempertimbangkan penggunaan aspek teoritis dan praktis dilihat dari prinsip kesepadanan yaitu padanan penggunaan teknik dan metode penerjemahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek teoritis lebih sering digunakan dibandingkan aspek praktis. Misal dalam aspek teoritis dalam teknik penerjemahan seperti teknik eksplitasi; penambahan; peminjaman; deskriptif; naturalisasi atau transferensi; parafrase; peminjaman murni; transposisi atau pergeseran; dan modulasi; dibandingkan dengan aspek praktis dalam metode penerjemahannya seperti Metode penerjemahan bebas; semantik; dan idiomatik. Berdasarkan penjelasan di atas, terjemahan yang dihasilkan harus tepat (maknanya tidak melenceng dari makna yang terkandung dalam Teks Bahasa Sumber), jelas (mudah dipahami atau tidak menimbulkan kesalahpahaman), wajar (tidak terkesan sebagai hasil terjemahan), dan dinamis (TBP memiliki efek yang sama dengan TBS).

Kata Kunci: Penerjemahan, Aspek Teoritis, Aspek Praktis, Teknik, Metode Penerjemahan PENDAHULUAN

Dunia penerjemahan dewasa ini mulai dikenal luas oleh masyarakat bersamaan dengan banyaknya sumber bacaan maupun informasi teknologi mancanegara yang menggunakan bahasa Inggris. Namun, belum banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hal ini membuat kebutuhan atas jasa penerjemahan semakin meningkat. Untuk menghasilkan terjemahan yang tepat, jelas, wajar, dan juga dapat dimengerti oleh pembaca teks Bahasa penerima (TBP) dibutuhkan kemampuan analisis teks dalam penerjemahan yang memadai dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah penerjemahan.

Penelitian ini merupakan studi kasus penerjemahan teks khusus yaitu teks deskripsi berjudul “The

Basic Function of A Mattress” sebagai teks Bahasa sumber (TBS) dialihbahasakan ke dalam bahasa

Indonesia sebagai teks Bahasa penerima (TBP). Penelitian ini menarik karena menggunakan teks deskripsi di bidang industri pekerjaan yang digolongkan kedalam penerjemahan teks khusus dengan istilah tertentu. Penelitian ini penting karena dalam pengalihbahasaan ke TBP mempertimbangkan penggunaan aspek teoritis dan praktis dilihat dari prinsip kesepadanan yaitu padanan penggunaan teknik dan metode penerjemahan.

TEORI & METODOLOGI Penerjemahan

Menurut Sager (2007:15) bahwa dalam penerjemahan,aspek isi pesan yang terdapat di Tsa haruslah sama dengan isi pesan yang terdapat dalam Tsu meskipun dari sisi struktur bahasa terdapat perbedaan antara kedua bahasa.

Menerjemahkan adalah mengalihkan pesan dari teks bahasa sumberke teks bahasa penerima. ’Mengalihkan pesan’ artinya memindahkan pesan yang sama dari teks bahasa sumber (TBS) ke teks bahasa penerima (TBP). Misalnya, memindahkan pesan yang sama dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Pesan yang sama artinya PESAN yang dipahami pembaca TBS sama dengan pesan yang dipahami pembaca TBP. (Larson, 2008:10).

Metode Penerjemahan

Newmark (2009:55) menjelaskan bahwa metode penerjemahan dibagi menjadi dua bagian yaitu empat metode pertama menitikberatkan pada bahasa sumber (TBS) dan empat metode kedua menitikberatkan pada bahasa sasaran (TBP).

Metode-metode tersebut dijelaskan sebagai berikut:

I. Penerjemahan Kata per Kata (Word-for-word Translation)

Dalam metode penerjemahan ini, setiap kata diterjemahkan satu-satu berdasarkan makna umum atau di luar konteks,sedangkan kata-kata yang berkaitan dengan budaya diterjemahkan secara harfiah. (Newmark, 2009:57)

Contohnya, TBS: I like that romance movie. TBP: Saya suka itu romantis film.

II. Penerjemahan Harfiah (Literal Translation)

Dalam metode ini,struktur gramatikal TBS dipadankan sedekat mungkin dengan struktur gramatikal TBP. Penerjemahan harfiah ini terlepas dari konteks. Metode ini sering dipakai dalam menerjemahkan kata budaya yang tidak terdapat dalam budaya TBP (Newmark, 2008:33)

Contohnya, TBS : Tomy is a book-worm in my class.

TBP : Tomy adalah seorang cacing buku di kelas saya. III. Penerjemahan Setia (Faithful Translation)

Dalam metode ini,penerjemahan berpegang teguh pada pola TBS yang tetap setia terhadap struktur gramatikal TBP, sehingga terjemahan kadang-kadang masih terasa kaku dan seringkali asing. (Newmark, 2008:36)

Contohnya, TBS : Bento is too well aware that he is naughty TBP: Bento menyadari terlalu baik bahwa ia nakal.

IV. Penerjemahan Semantik (Semantics Translation)

Dalam metode ini hampir serupa dengan penerjemahan setia, tetapi semantik nilai keindahan dan kewajaran serta makna yang terkandung dalam TBS lebih diperhatikan. (Newmark, 2009:60)

Contohnya, TBS : While at school, I was promising student.

TBP : Saat di bangku sekolah,saya seorang bintang kelas. V. Adaptasi (Adaptation)

Dalam metode ini menghasilkan kesepadanan yang paling jauh dari TBS untuk tema, tokoh dan cerita biasanya dipertahankan, akan tetapi, kata budaya dalam TBS digantikan dengan padanannya dalam TBP. (Larson, 2008:44).

Contohnya, TBS: Rini’s face lost all color when Adit came. TBP: Wajah Rini pucat saat Adit tiba.

VI. Penerjemahan Bebas (Free Translation)

Dalam metode ini hasil terjemahan mengutamakan isi ketimbang bentuk TBS. Biasanya metode ini menghasilkan parafase yang lebih panjang daripada bentuk aslinya. (Larson, 2008:28).

Contohnya :

TBS : “It’s unlikely to happen that way,”Boby explained her.”If your memory were going to come back all in one swoop,the odds are it would have happened by now.”

TBP : “Sangat kecil kemungkinannya untuk ingatanmu akan langsung kembali secara bersamaan,”Boby menjelaskan hal itu padanya.”Jika memang itu terjadi,pasti sudah terjadi saat ini.”

VII. Penerjemahan Idiomatik (Idiomatic Translation)

Dalam metode ini hasil terjemahannya menghasilkan pesan dalam TBP dengan ungkapan yang lebih alamiah dan akrab daripada TBS. Selain itu,pesan dalam TBS diciptakan kembali dalam bentuk kolokial dan idiom TBP yang tidak terdapat dalam budaya TBS (Larson, 2008:15).

Contohnya, TBS: “Excuse me? What are you talking about.I don’t get it.” TBP: “OMG helloo, ngomong apa sih lo? emang gue pikirin.”

VIII. Penerjemahan Komunikatif (Communicative Translation)

Dalam metode ini berupaya untuk menterjemahkan makna kontekstual dalam TBS, baik aspek kebahasaan maupun aspek isinya, agar dapat diterima dan dimengerti oleh pembaca TBP. (Larson, 2008:67). Contoh, TBS: Beware of the dog!

TBP: Awas!Anjing galak. Analisis Teks Deskripsi dalam Penerjemahan

(Karnedi, 2011:177) dijelaskan bahwa teks ilmiah sarat dengan penggunaan leksis dan struktur kalimat atau dalam komposisi serta isi/substansi yang khusus (technical translation), juga masalah-masalah penerjemahan teks khusus berkaitan dengan unsur-unsur leksikal dan masalah konseptual dalam TBP.

Teks deskripsi adalah teks yang berisi gambaran sifat-sifat benda yang dideskripsikan. Dengan kalimat deskripsi, pembaca seolah-olah melihat, mendengar, dan merasakan sendiri tentang hal yang disampaikan dalam suatu teks. Struktur teks deskriptif terdiri atas identifikasi, klasifikasi/definisi dan deskripsi bagian.(Gleason, 2006:156).

Metode penerjemahan yang digunakan dalam karya ilmiah ini menggunakan beberapa metode yang ada dalam tabel dibawah ini (Budiman, 2011:89):

Orientasi pada TBS Orientasi pada TBP

(1) Teknik harfiah (6) Teknik transposisi (2) Teknik peminjaman alamiah (7) Teknik modulasi (3) Teknik tranferensi (8) Teknik penghilangan (4) Teknik calque (9) Teknik eksplisitasi (5) Teknik peminjaman murni (10) Teknik penambahan

(11) Teknik deskriptif Aspek Semantik dan Pragmatik Dalam Penerjemahan

Bahasan didahului dengan pentingnya aspek linguistik, misalnya penguasaan grammar, fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, prakmatik, sosiolingistik, dan psikolinguistik yang harus dikuasai oleh penerjemah agar dapat menghasilkan karya yang baik. Disebutkan, terdapat enam masalah makna dalam penerjemahan, yaitu makna leksikal, makna gramatikal, makna kontekstual atau situasional, makna tekstual, makna sosio kultural dan makna idiomatik. Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pemahaman dan penguasaan aspek linguistik yang baik dalam bahasa sumber maupun dalam bahasa sasaran sangat berperan dalam menghasilkan karya terjemahan. (Pelawi, 2009: Jurnal Lingua Cultura Volume 3 Nomor 2)

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif-komparatif, didasarkan pada pengamatan dan analisis teks deskripsi yang membandingkan teks Bahasa sumber (TBS) dengan teks Bahasa penerima (TBP) serta fokus terhadap aspek teoritis dan aspek praktis sehingga tujuannya yaitu untuk menghasilkan terjemahan yang tepat, jelas, wajar dan dapat diterima oleh pembaca. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa jenis teks deskripsi yang berjudul “The Basic

Function of A Mattress” sebagai teks Bahasa sumber (TBS) yang terkait dengan bidang industri pekerjaan

dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia; Teks ini dikutip dari artikel sebuah website matras. Tahapan pemrosesan data ini dimulai dengan menerjemahkan Teks Bahasa Sumber (TBS) ke dalam Bahasa Indonesia sebagai Teks Bahasa Penerima (TBP) melalui aspek teoritis dan praktis agar bisa menghasilkan terjemahan yang tepat, jelas, wajar dan dinamis serta mudah diterima oleh pembaca TBP dalam menerjemahkan istilah-istilah yang terdapat di dalamnya.

TEMUAN & PEMBAHASAN

(1). Teks Bahasa Sumber (TBS) Teks Bahasa Penerima (TBP)

The basic functions of a mattress - Overview Ikhtisar Tentang Fungsi Utama Sebuah Kasur

A mattress in its simplest form is a sleeping system with different parts which work together to do two main things. These are to

Sebuah kasur dalam bentuknya yang paling sederhana merupakan suatu sistem tidur yang terdiri dari berbagai bagian yang berbeda yang

Contohnya, TBS: “Excuse me? What are you talking about.I don’t get it.” TBP: “OMG helloo, ngomong apa sih lo? emang gue pikirin.”

VIII. Penerjemahan Komunikatif (Communicative Translation)

Dalam metode ini berupaya untuk menterjemahkan makna kontekstual dalam TBS, baik aspek kebahasaan maupun aspek isinya, agar dapat diterima dan dimengerti oleh pembaca TBP. (Larson, 2008:67). Contoh, TBS: Beware of the dog!

TBP: Awas!Anjing galak. Analisis Teks Deskripsi dalam Penerjemahan

(Karnedi, 2011:177) dijelaskan bahwa teks ilmiah sarat dengan penggunaan leksis dan struktur kalimat atau dalam komposisi serta isi/substansi yang khusus (technical translation), juga masalah-masalah penerjemahan teks khusus berkaitan dengan unsur-unsur leksikal dan masalah konseptual dalam TBP.

Teks deskripsi adalah teks yang berisi gambaran sifat-sifat benda yang dideskripsikan. Dengan kalimat deskripsi, pembaca seolah-olah melihat, mendengar, dan merasakan sendiri tentang hal yang disampaikan dalam suatu teks. Struktur teks deskriptif terdiri atas identifikasi, klasifikasi/definisi dan deskripsi bagian.(Gleason, 2006:156).

Metode penerjemahan yang digunakan dalam karya ilmiah ini menggunakan beberapa metode yang ada dalam tabel dibawah ini (Budiman, 2011:89):

Orientasi pada TBS Orientasi pada TBP

(1) Teknik harfiah (6) Teknik transposisi (2) Teknik peminjaman alamiah (7) Teknik modulasi (3) Teknik tranferensi (8) Teknik penghilangan (4) Teknik calque (9) Teknik eksplisitasi (5) Teknik peminjaman murni (10) Teknik penambahan

(11) Teknik deskriptif Aspek Semantik dan Pragmatik Dalam Penerjemahan

Bahasan didahului dengan pentingnya aspek linguistik, misalnya penguasaan grammar, fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, prakmatik, sosiolingistik, dan psikolinguistik yang harus dikuasai oleh penerjemah agar dapat menghasilkan karya yang baik. Disebutkan, terdapat enam masalah makna dalam penerjemahan, yaitu makna leksikal, makna gramatikal, makna kontekstual atau situasional, makna tekstual, makna sosio kultural dan makna idiomatik. Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa pemahaman dan penguasaan aspek linguistik yang baik dalam bahasa sumber maupun dalam bahasa sasaran sangat berperan dalam menghasilkan karya terjemahan. (Pelawi, 2009: Jurnal Lingua Cultura Volume 3 Nomor 2)

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif-komparatif, didasarkan pada pengamatan dan analisis teks deskripsi yang membandingkan teks Bahasa sumber (TBS) dengan teks Bahasa penerima (TBP) serta fokus terhadap aspek teoritis dan aspek praktis sehingga tujuannya yaitu untuk menghasilkan terjemahan yang tepat, jelas, wajar dan dapat diterima oleh pembaca. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa jenis teks deskripsi yang berjudul “The Basic

Function of A Mattress” sebagai teks Bahasa sumber (TBS) yang terkait dengan bidang industri pekerjaan

dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia; Teks ini dikutip dari artikel sebuah website matras. Tahapan pemrosesan data ini dimulai dengan menerjemahkan Teks Bahasa Sumber (TBS) ke dalam Bahasa Indonesia sebagai Teks Bahasa Penerima (TBP) melalui aspek teoritis dan praktis agar bisa menghasilkan terjemahan yang tepat, jelas, wajar dan dinamis serta mudah diterima oleh pembaca TBP dalam menerjemahkan istilah-istilah yang terdapat di dalamnya.

TEMUAN & PEMBAHASAN

(1). Teks Bahasa Sumber (TBS) Teks Bahasa Penerima (TBP)

The basic functions of a mattress - Overview Ikhtisar Tentang Fungsi Utama Sebuah Kasur

A mattress in its simplest form is a sleeping system with different parts which work together to do two main things. These are to provide you with comfort and provide you with

Sebuah kasur dalam bentuknya yang paling sederhana merupakan suatu sistem tidur yang terdiri dari berbagai bagian yang berbeda yang bekerja sama untuk dapat memberikan dua

support in all your different sleeping positions. That's it ... everything else is secondary to these.

keutamaan. Dua keutamaan yaitu dapat memberikan kenyamanan saat tidur dan mampu menopang tubuh saat Anda tidur dengan berbagai posisi. Itulah keutamaannya....yang lainnya hanya pelengkap saja.

Pembahasan:

Sesuai dengan jenis teksnya yang merupakan teks deskripsi, paragraf awal berisi pernyataan tentang sebuah kasur sebagai topik dan pada paragraf berikutnya berisikan tentang komen serta berisikan informasi detail mengenai kasur. Beberapa Aspek teoritis dan praktis pada paragraf ini di antaranya: Teknik Eksplitasi: terdapat pada penggunaan promina its yang mengacu pada kata kasur dan juga pada pronomina these are yang mengacu pada penjelasan kalimat sebelumnya yaitu dua keutamaan. Teknik Penambahan (addition): terdapat pada teks …with different parts which... dengan menambahkan kata berbagai bagian untuk menegaskan frase bagian yang berbeda. Metode penerjemahan bebas pada kalimat terakhir that’s it…everything else is secondary to these yang diterjemahkan menjadi Itulah keutamaanya…yang lainnya hanya pelengkap saja agar kalimatnya berterima dalam TBP dan mudah dipahami. Metode penerjemahan semantik pada teks to do two main things yang dimaknai menjadi memberikan dua keutamaan ketimbang diterjemahkan menggunakan metode harfiah menjadi untuk melakukan dua hal-hal utama dengan alasan nilai keindahan dan kewajaran pada maknanya.

(2). Teks Bahasa Sumber (TBS) Teks Bahasa Penerima (TBP) For comfort, which is mainly about pressure

relief, your mattress needs to conform to your body shape and form a cradle that is deep enough to spread your weight over the surface of the mattress and relieve pressure points. We call this sinking IN. This is the role of the top part of your mattress or what is called the comfort layers. This may include one or more thinner layers and includes any quilting which is on the very top of your mattress.

Untuk segi kenyamanan, yang paling penting adalah bagian yang dapat mengurangi tekanan. Kasur tersebut mampu menyesuaikan lekuk tubuh serta mendistribusikan beban tubuh Anda ke seluruh permukaan kasur dan meredam titik tekanan pada permukaan kasur. Kami menyebutnya dengan istilah “Terapung”. Itulah fungsi dari bagian atas kasur atau yang disebut sebagai Lapisan Comfort. Bagian ini terdiri dari satu atau lebih lapisan bantalan lembut yang melekat pada permukaan kasur.

Pembahasan:

Aspek teoritis dan praktis pada paragraf kedua ini yaitu: Teknik penambahan yang terdapat pada kalimat pertama TBS sehingga terjadi perluasan makna dan dipecah menjadi 2 kalimat dalam TBP. Metode penerjemahan idiomatik pada frase sinking IN yang diterjemahkan menjadi “terapung” yang mengacu pada penjelasan di paragraf berikutnya dan supaya memberikan nuansa atau citarasa yang lebih mengena kepada pembaca TBP. Teknik peminjaman (borrowing) pada frase the comfort layers yang diterjemahkan menjadi Lapisan Comfort karena menurut penulis istilah Lapisan Comfort sering digunakan dalam industri Kasur. Metode penerjemahan semantik diakhir paragraf “which is on the very top of your mattress” yang secara harfiah terjemahannya adalah yang berada paling atas dari kasur Anda tetapi penulis menerjemahkan menjadi “yang melekat pada permukaan kasur”.

(3). Teks Bahasa Sumber (TBS) Teks Bahasa Penerima (TBP) For support, which is mainly about spinal

alignment, your mattress needs to control how far different parts of your body sink DOWN into a mattress. This is primarily the role of the lower parts of your mattress or what is called the support layers. There may be one or more support layers and together they are called the Core of your mattress.

Untuk bagian penopang, yang paling penting adalah bagian penyangga tulang belakang. Kasur tersebut harus mampu beradaptasi dengan lekuk tubuh Anda seolah-olah tubuh Anda terasa “Terbenam” di dalam kasur. Inilah fungsi utama dari bagian bawah kasur atau yang disebut sebagai Lapisan Support.Bagian ini terdiri dari satu atau lebih lapisan penopang dan jika disatukan semua bagian dari lapisan-lapisan kasur tersebut maka semua itu dinamakan Core atau inti kasur.

Pembahasan:

Dalam paragraf ketiga terdapat beberapa aspek-aspek teoritis dan praktis di antaranya adalah: Teknik penambahan yang terdapat pada kalimat pertama TBS yang diterjemahkan menjadi dua kalimat baru dalam TBP. Metode penerjemahan semantik pada frase Sinking Down diterjemahkan menjadi “terbenam” yang mengacu pada penjelasannya di paragraf berikutnya, selain itu untuk memberikan sensasi dan gambaran yang mudah dipahami oleh pembaca TBP. Teknik peminjaman (borrowing) pada