• Tidak ada hasil yang ditemukan

“An den anderen Donnerstagabenden treffe ich mich in der Stadt mit einer Kollegin

TEMUAN DATA

Berita yang digunakan sebagai unit analisis adalah berita di Kompas.com edisi 10 Februari 2016 dengan judul “Komnas HAM Desak Negara Beri Perlindungan dan Hak LGBT” dan Republika.co.id edisi 18 April 2016 dengan judul “DPR: Menentang LGBT Juga Termasuk Hak Asasi” .

ANALISIS DAN INTERPRETASI Pemberitaan LGBT dalam Kompas.com

Dari analisis sintaksis, pandangan kompas tersebut diwujudkan dalam skema atau bagan dalam berita. Judul berita kompas sudah sangat jelas menunjukkan pandangan kompas. Judul itu melakukan nominalisasi bahwa seluruh anggota komnas HAM mendesak negara untuk memberi perlindungan dan hak LGBT. Judul memuat lembaga komnas HAM yang dinominalisasi, bukan nama

anggota komnas HAM itu sendiri. Judul semacam ini membawa pesan tertentu yang ingin disampaikan, yakni LGBT telah mendapatkan perlakuan diskriminatif dan telah diabaikan oleh negara.

Dalam teks berita ini, kompas mengutip pendapat seorang anggota komnas HAM yang bernama Muhammad Nurkhoiron. Ia berpendapat bahwa apa yang dialami oleh LGBT merupakan dampak dari pernyataan pejabat publik yang terus-menerus diekspose oleh media. Ia pun menyatakan bahwa apa yang dinyatakan oleh pejabat publik terkait LGBT bertentangan dengan Nawacita. Dengan pemakaian judul yang menyebut Komnas HAM, secara tidak langsung menekankan kepada masyarakat bahwa LGBT telah mengalami diskriminasi berlebihan yang diakibatkan oleh pernyataan negatif para pejabat negara terkait isu LGBT, dengan pemakaian komnas HAM mengindikasikan bahwa LGBT merupakan hak individu dan mengenai hal ini komnas HAM yang paling mengetahui terkait hal tersebut, sedangkan pernyataan para pejabat publik adalah pernyataan yang tak mendasar. Hal ini mengindikasikan bahwa Komnas HAM lah yang memiliki otoritas dalam menanggapi isu ini.

Teks berita kompas itu secara umum berisi dua hal; tentang sanggahan kompas atas apa yang dinyatakan oleh pejabat publik, dan diskriminasi yang diterima kaum LGBT adalah dampak dari pemberitaan pejabat publik yang terus menerus dikutip oleh media. Hal ini seolah-olah menunjukkan bahwa diskriminasi dan perlakuan tidak adil dari masyarakat terhadap LGBT bukan dikarenakan oleh “apa itu LGBT atau hakikat sesungguhnya dari LGBT” sehingga masyarakat berlaku diskriminatif tapi dikarenakan media dan para pejabat publik yang perlahan memberi doktrin atau sugesti pada khalayak bahwa LGBT adalah sesuatu yang negatif. Pemberitaan ini disusun oleh kompas dalam satu skema yang menghasilkan berita negara telah membuat LGBT terasingkan dan mendapatkan perlakuan diskriminatif. Tiga paragraf awal diisi dengan tanggapan komnas HAM terkait isu LGBT, diselingi dengan ungkapan yang menyatakan bahwa LGBT mengalami tindak kekerasan sebanyak satu paragraf, selanjutnya sebanyak tujuh paragraf menjelaskan mengapa LGBT sebenarnya bukanlah pelanggaran atas negara akan tetapi hak atas setiap individu, kemudian selebihnya berisi saran komnas HAM untuk masyarakat juga media agar LGBT tidak lagi mendapatkan perlakuan diskriminatif.

Teks berita kompas memang memuat pendapat pakar yang menilai bahwa LGBT bukanlah pelanggaran akan tetapi hak asasi manusia. Bahkan pandangan yang tidak setuju dengan itu dengan strategi wacana tertentu dibuat untuk menekankan seakan-akan pendapat mereka itu tidak benar. Hal ini diamati dari bagaimana kompas menyusun pernyataan pejabat publik yang langsung direspon oleh komnas HAM bahwa pernyataan tersebut salah karena sesungguhnya keberadaan kaum LGBT telah diakui negara tepatnya dalam peraturan Mendagri No. 27/2014 yang memasukkan gay, waria, dan lesbian dalam peraturan tersebut.

Dalam berita ini pun kerap kali kata “LGBT” diganti menjadi “kelompok seksual minoritas” sebagai upaya penekanan bahwa LGBT merupakan kaum minoritas yang dimaksud dalam beberapa peraturan menteri tentang adanya kaum minoritas di Indonesia. Pemilihan frasa “kelompok minoritas seksual” pun sebagai upaya kompas untuk menggiring kognisi masyarakat bahwa ada tiga jenis seksual di Indonesia, laki-laki, perempuan, dan LGBT.

Pembingkaian wacana LGBT dalam teks juga didukung oleh penekanan-penekanan tertentu dalam level retoris. Retorika yang banyak dipakai adalah pemakaian klaim-klaim yuridis untuk menekankan bahwa pandangannya yang paling benar, sementara pandangan pihak lain tidak berdasarkan dan tidak benar. Pandangan komnas HAM yang menilai LGBT adalah hak setiap individu dilengkapi dengan uraian mengenai dasar hukum dan klaim yuridis sehingga pendapat itu tampak mempunyai landasan yang kokoh. Muhammad Nurkhoiron dilekati dengan Komnas HAM yang mengkomunikasikan bahwa yang berpendapat adalah seseorang yang memiliki otoritas dan ahli dalam sesuatu yang berkaitan dengan HAM.

Kerap digunakan pula kata-kata yang biasa digunakan untuk sesuatu yang merujuk kepada “korban”, seperti “mengalami kekerasan”, “mendiskriminasi”, “memberikan pernyataan negatif”, dan “melakukan kekerasan” yang semua kata tersebut mengacu kepada LGBT. Pemilihan diksi “komunitas” dalam menggambarkan “kelompok LGBT” adalah sebagai upaya memberikan kesan yang positif terhadap LGBT.

anggota komnas HAM itu sendiri. Judul semacam ini membawa pesan tertentu yang ingin disampaikan, yakni LGBT telah mendapatkan perlakuan diskriminatif dan telah diabaikan oleh negara.

Dalam teks berita ini, kompas mengutip pendapat seorang anggota komnas HAM yang bernama Muhammad Nurkhoiron. Ia berpendapat bahwa apa yang dialami oleh LGBT merupakan dampak dari pernyataan pejabat publik yang terus-menerus diekspose oleh media. Ia pun menyatakan bahwa apa yang dinyatakan oleh pejabat publik terkait LGBT bertentangan dengan Nawacita. Dengan pemakaian judul yang menyebut Komnas HAM, secara tidak langsung menekankan kepada masyarakat bahwa LGBT telah mengalami diskriminasi berlebihan yang diakibatkan oleh pernyataan negatif para pejabat negara terkait isu LGBT, dengan pemakaian komnas HAM mengindikasikan bahwa LGBT merupakan hak individu dan mengenai hal ini komnas HAM yang paling mengetahui terkait hal tersebut, sedangkan pernyataan para pejabat publik adalah pernyataan yang tak mendasar. Hal ini mengindikasikan bahwa Komnas HAM lah yang memiliki otoritas dalam menanggapi isu ini.

Teks berita kompas itu secara umum berisi dua hal; tentang sanggahan kompas atas apa yang dinyatakan oleh pejabat publik, dan diskriminasi yang diterima kaum LGBT adalah dampak dari pemberitaan pejabat publik yang terus menerus dikutip oleh media. Hal ini seolah-olah menunjukkan bahwa diskriminasi dan perlakuan tidak adil dari masyarakat terhadap LGBT bukan dikarenakan oleh “apa itu LGBT atau hakikat sesungguhnya dari LGBT” sehingga masyarakat berlaku diskriminatif tapi dikarenakan media dan para pejabat publik yang perlahan memberi doktrin atau sugesti pada khalayak bahwa LGBT adalah sesuatu yang negatif. Pemberitaan ini disusun oleh kompas dalam satu skema yang menghasilkan berita negara telah membuat LGBT terasingkan dan mendapatkan perlakuan diskriminatif. Tiga paragraf awal diisi dengan tanggapan komnas HAM terkait isu LGBT, diselingi dengan ungkapan yang menyatakan bahwa LGBT mengalami tindak kekerasan sebanyak satu paragraf, selanjutnya sebanyak tujuh paragraf menjelaskan mengapa LGBT sebenarnya bukanlah pelanggaran atas negara akan tetapi hak atas setiap individu, kemudian selebihnya berisi saran komnas HAM untuk masyarakat juga media agar LGBT tidak lagi mendapatkan perlakuan diskriminatif.

Teks berita kompas memang memuat pendapat pakar yang menilai bahwa LGBT bukanlah pelanggaran akan tetapi hak asasi manusia. Bahkan pandangan yang tidak setuju dengan itu dengan strategi wacana tertentu dibuat untuk menekankan seakan-akan pendapat mereka itu tidak benar. Hal ini diamati dari bagaimana kompas menyusun pernyataan pejabat publik yang langsung direspon oleh komnas HAM bahwa pernyataan tersebut salah karena sesungguhnya keberadaan kaum LGBT telah diakui negara tepatnya dalam peraturan Mendagri No. 27/2014 yang memasukkan gay, waria, dan lesbian dalam peraturan tersebut.

Dalam berita ini pun kerap kali kata “LGBT” diganti menjadi “kelompok seksual minoritas” sebagai upaya penekanan bahwa LGBT merupakan kaum minoritas yang dimaksud dalam beberapa peraturan menteri tentang adanya kaum minoritas di Indonesia. Pemilihan frasa “kelompok minoritas seksual” pun sebagai upaya kompas untuk menggiring kognisi masyarakat bahwa ada tiga jenis seksual di Indonesia, laki-laki, perempuan, dan LGBT.

Pembingkaian wacana LGBT dalam teks juga didukung oleh penekanan-penekanan tertentu dalam level retoris. Retorika yang banyak dipakai adalah pemakaian klaim-klaim yuridis untuk menekankan bahwa pandangannya yang paling benar, sementara pandangan pihak lain tidak berdasarkan dan tidak benar. Pandangan komnas HAM yang menilai LGBT adalah hak setiap individu dilengkapi dengan uraian mengenai dasar hukum dan klaim yuridis sehingga pendapat itu tampak mempunyai landasan yang kokoh. Muhammad Nurkhoiron dilekati dengan Komnas HAM yang mengkomunikasikan bahwa yang berpendapat adalah seseorang yang memiliki otoritas dan ahli dalam sesuatu yang berkaitan dengan HAM.

Kerap digunakan pula kata-kata yang biasa digunakan untuk sesuatu yang merujuk kepada “korban”, seperti “mengalami kekerasan”, “mendiskriminasi”, “memberikan pernyataan negatif”, dan “melakukan kekerasan” yang semua kata tersebut mengacu kepada LGBT. Pemilihan diksi “komunitas” dalam menggambarkan “kelompok LGBT” adalah sebagai upaya memberikan kesan yang positif terhadap LGBT.

Pemberitaan LGBT dalam Republika.co.id

Dalam republika.co.id frame tampak jelas dari judul berita yang dipakai “DPR: Menentang LGBT juga termasuk hak asasi”. Berbeda dengan judul yang dipakai kompas, republika memakai kalimat “Menentang LGBT merupakan hak asasi” bukan “berikan perlindungan kepada LGBT”. Dengan pemakaian judul seperti itu, republika ingin menekankan bahwa jika seseorang menggunakan HAM sebagai dalih melegalkan perbuatannya, maka perilaku menentang terhadap LGBT pun merupakan hak asasi manusia. Lead yang dipakai republika pun menunjukkan dengan jelas frame semacam ini:

“Anggota komisi III DPR Hasrul Azwar mengatakan sikap menentang perilaku lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) juga merupakan hak asasi manusia (HAM) untuk menjalankan keyakinan dan ajaran agama”.

Lead ini secara jelas menunjukkan bahwa jika LGBT memiliki hak atas perlindungan,

masyarakat pun memiliki hak untuk menentang LGBT. Untuk memperjelas kalimat pembuka, lead didukung oleh pernyataan bahwa masyarakat memiliki hak untuk menjalankan keyakinan dan ajaran agama. Pernyataan ini menunjukkan bahwa LGBT adalah sesuatu yang bertentangan dengan keyakinan dan ajaran agama. Dalam teks berita ini, republika menyatakan bahwa jika sama-sama mengandalkan hak asasi manusia, maka menentang LGBT pun adalah hak asasi manusia, tidak ada yang berhak melarang masyarakat untuk menentang keberadaan LGBT. Ia pun berpendapat bahwa LGBT bertentangan dengan dogma agama yang ada. Komnas HAM sebaiknya berhati-hati dalam menyatakan pendapat yang berkaitan dengan keyakinan dan ajaran agama.

Pemberitaan ini disusun oleh republika dalam satu skema yang menghasilkan berita bahwa penyataan yang diungkapkan oleh komnas HAM terkait LGBT akan berdampak buruk terhadap masyarakat juga negara, maka dari itu sikap menentang LGBT adalah sikap yang benar. Dua paragraf awal diisi dengan tanggapan DPR atas diskriminasi yang diterima LGBT, kemudian selebihnya berisikan alasan mengapa DPR membenarkan dan mengijinkan tindakan masyarakat yang menentang LGBT.

Dalam berita ini pun kerap kali kata “LGBT” diganti menjadi “hubungan antar manusia dengan jenis kelamin yang sama” sebagai upaya penekanan bahwa LGBT perilaku menyimpang dimana seseorgang menyukai orang lain yang memiliki jenis kelamin yang sama. Tentu ini bukanlah sesuatu yang wajar yang terjadi antar umat manusia, bahkan binatang pun tidak melakukan hal seperti itu.

Pembingkaian wacana LGBT dalam teks juga didukung oleh penekanan-penekanan tertentu dalam level retoris. Retorika yang banyak dipakai adalah pemakaian klaim-klaim agamis juga berpikir kritis untuk meyakinkan bahwa pandangannya yang paling benar, sementara pandangan pihak lain tidak benar. Hasrul Azwar menekankan bahwa menggunakan HAM sebagai dalih membenarkan LGBT tidaklah tepat, dalam agama ada yang disebut dengan dogma yang tidak bisa ditukar dengan pemahaman apapun.

SIMPULAN

Elemen Kompas.com Republika.co.id

Frame LGBT mendapatkan perlakuan

diskriminatif Menentang LGBT adalah Hak Asasi Manusia

Sintaksis Pendapat komnas HAM yang

menyatakan negara memberikn perlindungan terhadap kaum LGBT. Kompas menempatkan pendapat yang menganggap bahwa LGBT sering mendapatkan kekerasan dan perlakuan diskriminatif, tidak haya dari masyarakat juga dari negara.

Pendapat DPR yang memang memiliki pendapat berbeda dengan komnas HAM. Anggota komisi III DPR menyatakan jika LGBT adalah hak asasi, maka masyarakat pun berhak atas menjalankan keyakinan dan agamanya, maka dari itu menentang LGBT tidak berhak dilarang karena hal tersebut adalah

hak masyarakat.

Skrip Penekanan pada aspek diskriminasi

yang dialami LGBT. Sedangkan dari sisi sebab sesungguhnya mengapa masyarakat mendiskrimasi LGBT tidak dijelaskan lebih jauh. Penekanan pada peraturan mendagri No.27/2014 juga penekanan pada peraturan menteri sosial No.28/2012 serta mencantumkan program nawacita.

Penekanan bahwa bentuk menentang LGBT termasuk hak asasi manusia. Juga ditekankan bahwa LGBT merupakan suatu pelanggaran dan penyimpangan karena tidak sesuai dengan ajaran agama manapun. DPR bahkan menyindir komnas HAM, apakah akan mengikuti apa prinsip HAM atau ajaran agama?

Tematis 1) Tentang sanggahan kompas atas apa yang dinyatakan oleh pejabat publik

2) Diskriminasi yang diterima kaum LGBT adalah dampak dari pemberitaan pejabat publik yang terus menerus dikutip oleh media

1) LGBT adalah suatu bentuk penyimpangan yang menggunakan HAM sebagai tameng.

2) Menentang LGBT merupakan hak asasi manusia.

3) Mengapa LGBT dilarang. Retoris Pemberian label otoritas ke ilmuan

dari pendapat pakar, memberi bukti dan klaim yuridis (peraturan Mendagri no. 27/ 2014).

Pemakaian klaim agamis dan cara berpikir kritis sebagai dasar pembuatan keputusan yang tepat terkait isu LGBT.

DAFTAR PUSTAKA

Andjani, Made Dwi. 2012. Konstruksi Pemberitaan Media Tentang Negara Islam Indonesia (Analisis Framing Republika dan Kompas). Jurnal MAKNA, 3 (1): 25-41.

Eriyanto. 2012. Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi dan Politik Media. Cetakan ke-2. Yogyakarta: PT. LKIS.

Herman, Achmad dan Jimmy Nurdiansa. 2010. Analisis framing pemberitaan konflik Israel-Palestina dalam Harian Kompas dan Radar Sulteng. Jurnal ilmu komunikasi, 8 (2): 154-168.

Metila, Romylyn. A. 2013. A discourse analysis of news headline: Diverse framings for a hostage-taking event. Asian journal of social sciences & humanities, 2 (2): 71-78.

Paltridge, Brian. 2006. Discourse Analysis: An Introduction. London: Continuum.

Pan, Zhongdang dan Gerald, M. Kosicki. 1993. Framing Analysis: An Approach to New Discourse. Journal Political Communication, Vol. 10: 55-75.

Rizko, Muhammad Mikal. 2014. Analisis Framing Berita Bencana Lumpur Lapindo Porong Sidoarjo

Di Tv One. eJurnal Ilmu Komunikasi Fisip Unmul, 2 (2): 116-129.

hak masyarakat.

Skrip Penekanan pada aspek diskriminasi

yang dialami LGBT. Sedangkan dari sisi sebab sesungguhnya mengapa masyarakat mendiskrimasi LGBT tidak dijelaskan lebih jauh. Penekanan pada peraturan mendagri No.27/2014 juga penekanan pada peraturan menteri sosial No.28/2012 serta mencantumkan program nawacita.

Penekanan bahwa bentuk menentang LGBT termasuk hak asasi manusia. Juga ditekankan bahwa LGBT merupakan suatu pelanggaran dan penyimpangan karena tidak sesuai dengan ajaran agama manapun. DPR bahkan menyindir komnas HAM, apakah akan mengikuti apa prinsip HAM atau ajaran agama?

Tematis 1) Tentang sanggahan kompas atas apa yang dinyatakan oleh pejabat publik

2) Diskriminasi yang diterima kaum LGBT adalah dampak dari pemberitaan pejabat publik yang terus menerus dikutip oleh media

1) LGBT adalah suatu bentuk penyimpangan yang menggunakan HAM sebagai tameng.

2) Menentang LGBT merupakan hak asasi manusia.

3) Mengapa LGBT dilarang. Retoris Pemberian label otoritas ke ilmuan

dari pendapat pakar, memberi bukti dan klaim yuridis (peraturan Mendagri no. 27/ 2014).

Pemakaian klaim agamis dan cara berpikir kritis sebagai dasar pembuatan keputusan yang tepat terkait isu LGBT.

DAFTAR PUSTAKA

Andjani, Made Dwi. 2012. Konstruksi Pemberitaan Media Tentang Negara Islam Indonesia (Analisis Framing Republika dan Kompas). Jurnal MAKNA, 3 (1): 25-41.

Eriyanto. 2012. Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi dan Politik Media. Cetakan ke-2. Yogyakarta: PT. LKIS.

Herman, Achmad dan Jimmy Nurdiansa. 2010. Analisis framing pemberitaan konflik Israel-Palestina dalam Harian Kompas dan Radar Sulteng. Jurnal ilmu komunikasi, 8 (2): 154-168.

Metila, Romylyn. A. 2013. A discourse analysis of news headline: Diverse framings for a hostage-taking event. Asian journal of social sciences & humanities, 2 (2): 71-78.

Paltridge, Brian. 2006. Discourse Analysis: An Introduction. London: Continuum.

Pan, Zhongdang dan Gerald, M. Kosicki. 1993. Framing Analysis: An Approach to New Discourse. Journal Political Communication, Vol. 10: 55-75.

Rizko, Muhammad Mikal. 2014. Analisis Framing Berita Bencana Lumpur Lapindo Porong Sidoarjo

Di Tv One. eJurnal Ilmu Komunikasi Fisip Unmul, 2 (2): 116-129.

Sobur, Alex. 2012. Analisis Teks Media. Cetakan ke-6. Bandung: PT. Remaja Rosadakarya.