I-
PERSEPSI
PESERTA I}II}[K TENTANG PERILAKU MENYONTEK DI
SMPN
2LEMBA}IG JAYA KABUPATEN SOLOK
JURNAL
Oleh
:ruT'A UAIMUR]\'I NPM:12060076
lrr-
o,' olP
huo
PROGRAM DAN KONSELING
SEKOLAH TINGGI KEG AI{ I}AN
IL1UUPENDII}IKAN TERA BARAT
PADAI\IG
2016(sTKrP) PG
PERSEPSI PESERTA DIDIK TENTANG PERILAKU MENYONTEK DI SMP N 2 LEMBANG JAYA KABUPATEN SOLOK
Oleh Rifa Maimurni*
Dr. Yuzarion Zubir, S.Ag., S.Psi, M.Si**
Joni Adison, S.Pd.I., M.Pd***
Student Guidance And Counseling STKIP PGRI SUMATERA BARAT ABSTRACT
This research is motivated by the students who perception that the behavior of cheating is not serious mistakes, if you want to get a high score can be done by seeing thefriend’s answer.
The purpose of this research is to uncover the perceptions of students about cheating behavior can be seen from cheating behavior in SMP N 2 Lembang Jaya, Solok regency. This research is quantitative descriptive. The population in this research were all of the students in class VII and VIII SMP N 2 Lembang Jaya with totally 137. For sampling used proportional random sampling technique. The data analyzed by using interval used help of IBM software Statistical Package for the Social Sciences version 20 for Windows (IBM SPSS version 20.0). The result of the research show that: (1) The perception of students about cheating behavior seen from other forms of cheating behavior in SMP N 2 Lembang Jaya, Solok regency were in either category. (2) The perception of students about cheating behavior seen from the behavioral symptoms Cheating in SMP N 2 Lembang Jaya, Solok regency were in either category.
Keywords : Perceptions and Behaviors of Students Cheat
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan hal yang sangat diperlukan oleh setiap orang, baik melalui lembaga formal maupun informal.
Pendidikan pertama yang diperoleh seseorang tentunya berasal dari keluarga karena keluargalah yang mengasuh, membesarkan serta merawat dan mendidik individu. Pendidikan yang diperoleh di keluarga tidak cukup untuk membuat seseorang menjadi seseorang yang mampu mengembangkan potensinya secara optimal.
Oleh sebab itu, dibutuhkan lembaga formal yang menyelenggarakan pendidikan yang mengupayakan mengembangkan potensi individu, serta menjadikan manusia yang utuh, jujur bertanggung jawab dan lain-lain.
Lembaga pendidikan formal yang dimaksudkan adalah sekolah.
Seperti yang telah dijelaskan dalam Undang-undang Dasar Tahun 1945 Pasal 31 ayat 1 dan 3 bahwa “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan dan pemerintah mengusahakan serta menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan Undang-undang” (UUD 1954: Pasal 31 ayat 1 dan 3).
Sekolah merupakan salah satu tempat yang terpenting dalam memperoleh ilmu pengetahuan, keterampilan serta wawasan. Maka dari itu pemerintah mewajibkan seluruh masyarakat Indonesia wajib belajar sembilan tahun. Selain itu sekolah juga salah satu tempat untuk mendidik sikap tingkah laku agar menjadi seseorang yang berguna serta bisa diterima dimana berada. Hal ini sesuai dengan Undang-undang Sistem Pendidikan Nomor 20 Tahun 2003 yang merumuskan fungsi dan tujuan pendidikan nasional sebagai berikut yaitu:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermatabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab.
Fungsi dan tujuan pendidikan di atas terlihat jelas bahwa pendidikan bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa, tentu dengan cara yang baik bukan dengan cara-cara yang curang dan tidak bertanggung jawab. Dalam pendidikan telah diajarkan nilai-nilai kejujuran dalam segi apapun, baik kejujuran berbicara maupun kejujuran dalam bertindak. Namun pada kenyataan yang sering terlihat dilapangan, masih saja terjadi kecurangan-kecurangan yang dilakukan terutama oleh peserta didik. Kecurangan dalam belajar yang sering terlihat adalah perilaku menyontek yang sudah menjadi budaya secara terus menerus. Peserta didik terlihat santai dan tanpa memiliki rasa bersalah sedikitpun ketika mereka menyontek.
Menurut Wikipedia (Yudhawati dan Haryanto, 2011:228) bahwa cheating (perilaku menyontek) adalah tindakan berbohong, curang, penipuan untuk memperoleh keuntungan tertentu dengan mengorbankan kepentingan orang lain.
Meski tidak ditunjang bukti empiris, banyak orang yang menduga, maraknya korupsi di Indonesia sekarang ini memiliki korelasi dengan kebiasaan menyontek yang dilakukan pelakunya saat ia mengikuti pendidikan.
Sedangkan menurut McCabe, dkk (Hartanto, 2012:12) mendokumentasikan perilaku menyontek sebagai perilaku yang serius harus ditangani. Lebih lanjut McCabe mendefinisikan perilaku menyontek sebagai seseorang yang dapat menerima atau melakukan kegiatan mengcopi atau menyalin (menjiplak) pekerjaan orang lain pada saat tes atau menggunakan catatan yang tidak diperbolehkan atau membantu seseorang dalam menyontek ketika tes atau ujian sedang berlansung. Perilaku menyontek yang serius meliputi plagiat, membuat atau memalsukan karya yang telah dikerjakan atau dilakukan orang lain, dan/
atau menyalin beberapa kalimat atau materi tanpa izin dari yang bersangkutan.
Jadi, dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku menyontek adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengambil, mencuri, menjiplak, mencontoh,
dan meniru hasil kegiatan orang lain dengan menyatakan bahwa hasil kegiatan tersebut adalah milik sendiri.
Perilaku menyontek akan mengakibatkan seseorang menjadi malas seperti malas belajar, malas berfikir, malas berusaha serta juga menjadikan seseorang belajar berbohong. Perilaku menyontek bukan hanya akan berdampak untuk saat sekarang, tapi akan membawa pengaruh untuk kedepannya. Contohnya seseorang yang korupsi merupakan salah satu dampak dari kegiatan menyontek. Seseorang yang sudah terbiasa berbohong dari hal-hal kecil akan terbawa ketika ia beranjak dewasa.
Individu tidak akan takut melakukan kecurangan demi mendapatkan apa yang ia inginkan.
Jika peserta didik berpersepsi bahwa menyontek tersebut adalah hal yang lumrah dan biasa maka, perilaku menyontek ini tidak akan pernah hilang dari waktu ke waktu. Oleh sebab itu, sebaiknya peserta didik mengubah persepsinya terhadap perilaku menyontek tersebut, karena perilaku menyontek itu adalah hal yang tidak boleh dianggap lumrah.
Menurut Ruch (Marliani, 2010:188) persepsi adalah suatu proses tentang petunjuk-petunjuk indrawi (sensory) dan pengalaman masa lampau yang relevan diorganisasikan untuk memberikan kepada kita gambaran yang testruktur dan bermakna pada situasi tertentu. Kemudian Chaplin (Desmita, 2014:117) menjelaskan bahwa persepsi adalah proses mengetahui atau mengenali objek dan kejadian objektif dengan bantuan indra.
Selanjutnya menurut Walgito (2004:88) persepsi adalah suatu proses yang didahului oleh proses penginderaan, yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat indra atau juga disebut proses sensoris. Kemudian persepsi merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu, maka apa yang ada dalam diri individu akan ikut aktif dalam persepsi.
Berdasarkan hal tersebut, maka dalam persepsi dapat dikemukakan karena perasaan, kemampuan berpikir, pengalaman- pengalaman individu tidak sama, maka dalam mempersepsi sesuatu stimulus, hasil persepsi mungkin akan berbeda antara individu satu dengan individu lain.
Apabila peserta didik sudah berpersepsi bahwa perilaku menyontek itu tidak baik, maka secara tidak lansung peserta didik akan mengubah perilakunya tersebut, sehingga mereka mau belajar dengan sungguh-sungguh untuk mendapatkan, menguasai materi pelajaran dengan baik sehingga terhindar dari perilaku menyontek. Adapun yang akan dibahas disini yaitu mengenai persepsi peserta didik tentang perilaku menyontek dilihat dari bentuk- benruk perilaku menyontek dan gejala perilaku menyontek.
Berdasarkan fenomena di atas, penulis tertarik melakukan penelitian secara ilmiah mengenai persepsi peserta didik tentang perilaku menyontek di SMP N 2 Lembang Jaya Kabupaten Solok, yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi peserta didik tentang perilaku menyontek dilihat dari bentuk-bentuk perilaku menyontek dan gejala perilaku menyontek.
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan persepsi peserta didik tentang perilaku menyontek dilihat dari bentuk-bentuk perilaku menyontek, mendeskripsikan persepsi peserta didik tentang perilaku menyontek dilihat dari gejala perilaku menyontek.
Metode Penelitian
Penelitian dilakukan di SMP N 2 Lembang Jaya Kabupaten Solok Jl. Raya Koto Anau Bukit Sileh. Dimana seluruh data sementara yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dengan melakukan pengamatan secara langsung dari konseling para peserta didik dan observasi secara langsung dilapangan yang telah dipublikasikan dalam bentuk uraian yang telah dipaparkan dalam Latar Belakang. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2016. Dengan jenis penelitian yaitu deskriptif kuantitatif.
Dimana peneliti menggambarkan tentang persepsi peserta didik tentang perilaku menyontek di SMP N 2 Lembang Jaya Kabupaten Solok. Menurut Subana (2001:89) ”Penelitian dengan format deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan, meringkaskan kondisi dengan berbagai situasi, atau berbagai variabel yang timbul di masyarakat berdasarkan apa adanya sesuai dengan kenyataan”. Sedangkan menurut Arikunto
(2013:234) “Penelitian deskriptif tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan “apa adanya” tentang sesuatu variabel, gejala atau keadaan”.
Berkaitan dengan ini Yusuf (2007:83) bahwa ”Penelitian deskriptif adalah salah satu jenis penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat populasi tertentu dan mencoba menggambarkan fenomena secara mendetail apa adanya, artinya penelitian deskriptif adalah penelitian yang menggambarkan sesuatu yang sedang terjadi apa adanya”.
1. Populasi
Menurut Yusuf (2007: 181) populasi adalah keseluruhan objek dari penelitian yang akan diteliti. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa populasi merupakan keseluruhan objek yang akan diteliti.
Populasi dalam penelitian ini bersifat terbatas, yaitu peserta didik di SMP N 2 Lembang Jaya Kabupaten Solok kelas VII dan kelas VIII. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 137 orang.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 1. Jumlah peserta didik kelas VII dan kelas VIII di SMP N 2 Lembang Jaya Kabupaten Solok.
Sumber: Tata Usaha SMP N 2 Lembang Jaya.
2. Sampel
Sebuah sampel adalah bagian dari populasi. Sampel adalah kumpulan dari unit sampling. Ia merupakan subset dari populasi. Menurut Yusuf (2007: 186) sampel adalah sebagian dari populasi yang terpilih dan mewakili populasi tersebut. Selanjutnya menurut Sugiyono (2011: 118) sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Syarat pengambilan sampel yaitu data itu benar, relevan dan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai sehingga kesimpulan dari penelitian itu dapat dipertanggung jawabkan.
Jenis data dalam penelitian ini adalah interval. Menurut Bungin (2011: 131)
“Data interval adalah data yang memiliki ruas atau interval, atau jarak yang berdekatan dan sama”. Data yang akan diintervalkan adalah persepsi peserta didik tentang perilaku menyontek.
Pada penelitian ini, sumber data yang digunakan merupakan data primer dan data sekunder dalam Bungin (2005:132).
Sedangkan instrumen adalah teknik pengumpulan data. Dalam penelitian ini untuk mendapatkan data yang akurat digunakan alat pengumpulan data berupa angket. Menurut Sugiyono (2011: 199) angket merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis pada responden untuk dijawab.
Sedangkan menurut Yusuf (2007: 252)
“Kuesioner adalah suatu rangkaian pertanyaan yang berhubungan dengan topik tertentu diberikan kepada sekelompok individu dengan maksud memperoleh data”.
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisis data dengan menggunakan bantuan Microsoft Excel 2007 dan SPSS 20 (Statistical Program For Social Science). Teknik analisis data yang digunakan adalah interval untuk mengungkapkan aspek yang diteliti.
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Secara umum deskripsi data persepsi peserta didik tentang perilaku menyontek menggunakan item pernyataan yang valid dan reliabel sebanyak 52 item.
Setiap item jawaban responden diberi skor 0 sampai 4 untuk semua pernyataan karena pertanyaan angket bentuk negatif secara keseluruhan. Berdasarkan jawaban responden maka deskripsi persepsi peserta didik tentang perilaku menyontek, pada variabel ini skor terendah 0, skor tertinggi 208, dan intervalnya 41,6.
Pembahasan
1. Peserta Didik tentang Perilaku Menyontek dilihat dari Bentuk- bentuk Perilaku Menyontek.
Secara umum gambaran dari 102 orang peserta didik yang dijadikan responden terdapat 1 orang persepsi kategori sangat kurang baik ( 1,0 percent), kurang baik 7 orang (6,9 percent), cukup baik 38 orang ( 37,3 percent), baik 49 orang (48,0 percent), dan sangat baik 7 (6,9 percent).
Berdasarkan hasil penelitian di atas terdapat bahwa persepsi peserta didik tentang perilaku menyontek dilihat dari bentuk-bentuk perilaku menyontek adalah baik. Namun demikian masih adanya beberapa peserta didik yang mempunyai perssepsi yang kurang baik. Oleh sebab itu, perlu adanya perencanaan program layanan yang harus dberikan guru BK agar dapat lebih mengurangi persepsi yang kurang baik tersebut.
Adapun bentuk-bentuk perilaku menyontek menurut Menurut Hetherington & Feldman (Hartanto, 2012:17) mengelompokkan empat bentuk perilaku menyontek, yaitu:
a. Individualistic-opportunistic, dapat dimaknai sebagai perilaku dimana siswa mengganti suatu No Kelas Jumlah Peserta
Didik
1 VII.1 21 orang
2 VII.2 21 orang
3 VII.3 20 orang
4 VIII.1 25 orang
5 VIII.2 24 orang
6 VIII.3 26 orang
Total 137 orang
jawaban ketika ujian atau tes sedang berlansung dengan menggunakan catatan ketika guru keluar dari kelas.
b. Independent-planned, dapat diidentifikasi sebagai menggunakan catatan ketika tes atau ujian sedang berlansung, atau membawa catatan yang telah lengkap atau dipersiapkan dengan menulisnya terlebih dahulu sebelum berlansungnya ujian.
c. Social-active adalah perilaku menyontek dimana siswa mengcopi atau melihat atau meminta jawaban dari orang lain.
d. Sosial-passive adalah
mengizinkan seseorang melihat atau mengcopi jawabannya.
Persepsi yang kurang baik dari bentuk- bentuk perilaku menyontek inilah yang harus diminimalisir oleh guru bimbingan dan konseling.
2. Peserta Didik tentang Perilaku Menyontek dilihat dari Gejala Perilaku Menyontek.
Secara umum gambaran dari 102 orang peserta didik yang dijadikan responden terdapat kategori kurang baik 9 orang (8,8 percent), cukup baik 30 orang ( 29,4 percent), baik 59 orang (57,8 percent), dan sangat baik 4 orang (3,9 percent).
Berdasarkan hasil penelitian di atas terdapat bahwa persepsi peserta didik tentang perilaku menyontek dilihat dari gejala perilaku menyontek adalah baik.
Namun demikian masih adanya beberapa peserta didik yang mempunyai perssepsi yang kurang baik. Oleh sebab itu, perlu adanya perencanaan program layanan yang harus dberikan guru BK agar dapat lebih mengurangi persepsi yang kurang baik tersebut.
Adapun gejala perilaku menyontek menurut Hartanto (2012:23-29) mengemukakan beberapa gejala menyontek yang terlihat terutama pada siswa, yaitu sebagai berikut:
a. Prokastinasi dan Self-efficacy.
b. Kecemasan yang berlebihan.
c. Motivasi belajar dan berprestasi.
d. Keterikatan pada kelompok.
e. Keinginan akan nilai tinggi.
f. Pikiran negatif.
g. Harga diri dan kendali diri.
h. Perilaku impulsive dan cari perhatian.
Persepsi yang kurang baik dari gejala perilaku menyontek inilah yang harus diminimalisir oleh guru bimbingan dan konseling.
PENUTUP Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang persepsi peserta didik tentang perilaku menyontek di SMP N 2 Lembang Jaya Kabupaten Solok, dilihat secara keseluruhan yaitu terdapat 54 orang (52,9%) yang berpersepsi bahwa perilaku menyontek adalah perilaku yang kurang baik, sehingga dapat diambil kesimpulan sesuai dengan batasan masalah dan sebagai rincinya sesuai dengan indikator yaitu sebagai berikut:
1. Persepsi peserta didik tentang perilaku menyontek dilihat dari bentuk-bentuk perilaku menyontek yaitu terdapat 49 orang (48,0%) yang berpersepsi bahwa bentuk- bentuk perilaku menyontek adalah perilaku yang kurang baik.
2. Persepsi peserta didik tentang perilaku menyontek dilihat dari gejala perilaku menyontek yaitu terdapat 59 orang (57,8%) yang berpersepsi bahwa gejala perilaku menyontek adalah perilaku yang kurang baik.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian, peneliti memberikan saran kepada pembaca, yaitu sebagai berikut:
a. Seorang guru bimbingan dan konseling, agar dapat memberikan layanan bimbingan dan konseling yang sesuai dengan materi tentang perilaku menyontek.
b. Pengelola Program Studi Bimbingan dan Konseling, sebagai bahan masukan untuk lebih mengembangkan dan meningkatkan nilai-nilai kejujuran kepada mahasiswa sehingga dapat dikembangkan mahasiswa jika telah dilapangan.
c. Kepala Sekolah SMP N 2
Lembang Jaya, sebagai salah acuan untuk mengambil kebijakan dalam membantu mengembangkan program bimbingan dan konseling dan melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan tenaga bimbingan dan konseling.
d. Peneliti, sebagai salah satu syarat untuk dapat menyelesaikan program Strata Satu (S1) di Prodi BK STKIP PGRI Sumatera Barat.
Peneliti dapat mengetahui persepsi peserta didik tentang perilaku menyontek di SMP N 2 Lembang Jaya Kabupaten Solok dan agar dapat mengaplikasikan pengetahuan dan pengalaman yang telah didapatkan atau diperoleh.
KEPUSTAKAAN
Arikunto, Suharsimi. 2013. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Bungin, Burhan. 2005. Metodologi Penelitian Kuantitatif : Komunikasi, Ekonomi, dan Kebijakan Publik serta Ilmu-ilmu Lainnya (Edisi kedua). Jakarta : Kencana.
Desmita. 2014. Psikologi Perkembangan Peserta Didik (Panduan Bagi Orang Tua dan Guru dalam Memahami Psikologi Anak Usia SD, SMP, dan SMA). Bandung:
PT Remaja Rosdakarya Offset.
Hartanto, Dody. 2012. Bimbingan dan Konseling (Menyontek) Mengungkap Akar Masalah dan Solusinya. Jakarta: Indeks.
Marliani, Rosleny. 2010. Psikologi Umum.
Bandung: Pustaka Setia.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Undang-undang Dasar. 1945. Pasal 31 ayat 1 dan 3 tentang pendidikan.
Jakarta: Surabaya.
Undang-undang RI. No.20 Tahun 2003.
Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdikbud.
Walgito, Bimo. 2004. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi.
Yudhawati, Ratna & Dany Haryanto. 2011.
Teori-Teori Dasar: Psikologi Pendidikan. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Yusuf, A Muri. 2007. Metodologi Penelitian. Padang: UNP Press.