• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aktor dan Kemampuan Menciptakan Pertentangan

DUALISME AKTOR DI DUA KAMPUNG DI KABUPATEN BANGKA BARAT

Boks 5.3. Cara Kerja Ciam

5.2. Aktor dan Kemampuan Menciptakan Pertentangan

Sebagaimana disinggung di awal bahwa hubungan aktor-massa sangat tergantung dari seberapa jauh kepiawaian aktor dalam menciptakan pertentangan-pertentangan. Dalam praktik sosial, praktik-praktik penciptaan pertentangan-pertentangan di dunia pertambangan adalah kemampuan aktor -- melalui responsi yang dia bangun – diperhadapkan kepada struktur. Counter

hegemonik adalah bentuk kepiawaian aktor dalam memainkan „kartu‟ dominasi politiknya, tepatnya „kesepakatan‟ dengan struktur yang menghegemoni;

sehingga dengan demikian kesepakatan-kesepakatan yang terbangun dalam struktur terhadap agensi itulah yang menyebabkan seorang aktor diikuti oleh pengikutnya. Gambaran tentang pertentangan-pertentangan tersebut dikisahkan terhadap AP dan AT.

Prinsip untuk menemukan dan mempertahankan sosok keaktoran aktor terletak pada kemampuannya dalam menciptakan pertentangan. Data tabel 5.3 di bawah sesungguhnya terbagi dalam periodedisasi Orde baru dan Reformasi tetapi dalam kepentingan penelitian ini beberapa komponen penjelasan dalam penciptaan pertentangan tersebut disatukan. Penyatuan dimaksud semata-mata

30

Jika musim hujan tiba, sebagai tanaman merambat, tunas lada menjadi bercabang ke berbagai arah. Cabang-cabang tersebut harus segera dipotong dan dibentuk menyesuaikan junjung/cagak kayu sebagai tempat rambatannya. Di samping, jika musim hujan junjung tersebut sering roboh bersama dengan tanaman. Tindakan ini harus dilakukan setiap hari. Perlakuan-perlakuan khusus demikian tidak mungkin dilakukan dengan tenaga upahan.

85 melihat secara proporsional posisi keaktoran AT dan AP di masyarakatnya dan keaktoran aktor hanya untuk AT sedangkan AT seluruh aktivitas yang terdokumentasi berlangsung masa reformasi.

AP dan Masjid Al-Hijraiyah. AP ditunjuk oleh warga kampung Airputih untuk menjadi ketua panitia pembangunan masjid di kampungnya. Awalnya AP sendiri sebagai pemrakarsa tetapi tidak berkeinginan untuk menjadi ketua panitia karena alasan kesibukan dan keluarga. AP mengusulkan perlunya dibentuk panitia kecil sementara AP sendiri diposisikan sebagai penasehat. Namun dalam perjalanan panitia kecil tersebut tersendat-sendat sementara warga sudah sangat mendesak agar masjid baru segera terwujud. Kuatnya desakan warga menyebabkan panitia kecil tidak dapat berfungsi dengan baik bahkan terhenti sama sekali. Mereka akhirnya menyerahkan persoalan itu kepada AP sebagai pemrakarsa untuk mencari jalan keluarnya. Tidak diketahui apa yang menyebabkan tersendat-sendatnya pembangunan itu tetapi jika menyimak dari apa yang dituturkan AP ternyata mereka tidak cukup akses mencari dana di luar kampung. Dengan kata lain mereka tidak cukup dikenal. AP menjelaskan bahwa pembangunan masjid tersebut menghabiskan dana sekitar Rp 1 miliar. Jumlah yang sangat besar untuk kampung Airputih bahkan bagi kabupaten Bangka Barat sendiri. Strategi yang digunakan AP yaitu tidak selalu meminta dalam bentuk uang melainkan material. Sebagai mantan KK, AP menggunakan jaringan itu sehingga masjid tersebut dapat dibangun.

Tabel 5.6. Kapasitas Aktor sebagai Agen Sosial

Dimensi Wujud Aktor sebagai Agen Sosial

Agen Pembaru (AP)

Pembuatan gorong-gorong dan pengerasan jalan Penengah dalam konflik tambang

Penghijauan di atas lahan tambang Pemrakarsa dan pelaku pendirian masjid Agen Transisi

(AT)

Sikap apatis dalam pemilu (dibaca warga dengan „mbalelo‟) Demo „Oktober Kelabu 2006‟

Demo ke PT GSBL (Gunung Sawit Bina Lestari) Penengah dalam setiap konflik (antarwarga, kampung) Sumber : Data Lapangan, 2012

86

AP dan Gorong-gorong. Prinsip aktor sebagai agen sosial terletak pada aktivitas aktor yang diikuti oleh massa secara sukarela. Meski awalnya setiap aktivitas hanya dilakukan AP sendirian. Membuat gorong-gorong misalnya. Mulanya hanya kerisauan AP saja di mana setiap musim hujan tiba, jalan menuju ke kampungnya begitu buruk dan membawa korban berjatuhan terutama malam hari. Jalan yang selalu tergenang air dan belum beraspal itu membuat warga sulit untuk menjual dan membeli komoditas dan kebutuhan sehari-hari. Komunikasi dari kampung ke ibukota kabupaten dan sebaliknya seolah terputus. Di sinilah AP dengan uang sendiri membeli material buat pembangunan gorong-gorong tanpa perlu mengajak masyarakat. Namun masyarakat merasa bahwa pembangunan itu sebenarnya untuk kepentingan mereka juga maka tanpa perintah dari siapapun mereka seolah berlomba membantu AP. Berkaitan dengan itu, apakah keikut sertaan masyarakat ada hubungannya dengan AP yang mantan KK, ternyata tidak juga. Pasalnya pembuatan gorong-gorong itu dilakukan sebelum AP menjabat sebagai KK . Dengan demikian dapat dilihat bahwa keaktoran AP sudah terlihat jauh sebelum dirinya menjadi KK. Nampaknya seperti dikatakan Sanderson bahwa perbedaan sosial lebih tepat untuk menjelaskan perilaku ini tanpa perlu mengaitkannya dengan strata sosial sebagaimana lazimnya dalam aliran pemikiran Weberian dalam menjelaskan ketokohan seseorang.

AT dan Peredam dalam setiap Konflik. Pagi pukul 10.00 tanggal 4 Maret 2011, AT bergegas dan setengah memaksa supir truk untuk segera pergi meninggalkan kampung Mayang bersama truknya. Pasalnya di depan truk berhenti itu, terjadi kecelakaan yang mengakibatkan remaja [laki-laki] kampung Mayang terserempet. Remaja itu sedianya mau keluar dan berbelok masuk ke jalan raya. Tetapi karena pandangannya terhalang truk, remaja tadi nyelonong begitu saja hingga tersambar motor dari arah timur [Pangkalpinang]. Pengendara itu kelihatan tergesa-gesa terbukti dari motor yang dipacu tadi begitu cepat. Si pengendara, belakangan diketahui remaja dari kampung sebelah [kampung Simpangtritip], terpelanting dan luka ringan saja.

Di sini tiba-tiba supir truk menjadi tertuduh. Dia dianggap sebagai penyebab kecelakaan. Penduduk mulai mengerubuti supir dan kata-kata „menyerang‟ makin

gencar terdengar. Betapa keras pembelaan supir atas kecelakaan itu tetap saja kuasa pengetahuan masyarakat yang terbangun tidak dapat dipatahkannya. Bahkan dia sendiri dalam posisi terjepit. Kurang dari 15 menit dari kejadian itu

87 nampaknya hukum masyarakat bakal dijatuhkan. AT tampil cepat. Dengan sigap AT menggandeng supir dan segera memintanya untuk naik ke atas truk, dan pergi. Tanpa pikir panjang supir yang sudah kepepet langsung tancap gas. Tinggallah kerumunan penduduk yang mulai terpecah dan perlahan-lahan meninggalkan lokasi. Dengan santai AT kembali ke rumah, seolah-olah tidak ada kejadian apapun31.

AP setelah berakhir jabatannya sebagai kepala kampung tahun 2004 maka sejak itu pula AP secara total memasuki dunia tambang [TI]. Totalitas demikian

memungkinkan karena „keterputusan‟ hubungan AT sebagai agensi dengan

struktur yang mengikatkan dirinya. Struktur negara dengan pemangku kuasa aparat birokrasi dan AP saat menjadi KK adalah bagian dari kuasa aparat birokrasi itu menyebabkan AP dalam bertindak harus sejalan dengan aparat birokrasi itu sendiri. Berakhirnya jabatan KK itu maka berakhir pula relasi formal dirinya dengan negara. Namun tidak demikian dalam hubungan dengan masyarakatnya. Dimensi-dimensi hubungan secara dialektis masih terangkai melalui jaringan modal sosial, finansial, intelektual dan mungkin kultural. Sebagai pembeda, masyarakat masih menilai bahwa melalui jaringan yang memuat modal sosial, finansial dan intelektual serta kultural itu, yang selama ini ternyata melekat dalam dirinya, ternyata AP masih dipercayai warga sejauh keempat dimensi tersebut memiliki kemampuan dalam menciptakan pertentangan-pertentangan.

Pro-kontra warga terkait ngelimbang di tepi pantai [Selindung] menempatkan AP pada posisi yang dilematis. Dua kesulitan yang muncul: pertama, mereka yang kontra-tambang datang dari penduduk yang bermata pencaharian utama sebagai nelayan; sementara pro-tambang adalah mereka dengan bermata pencaharian utama pekebun/ladang. Meski selama ini tidak pernah terjadi konflik fisik tetapi suasana saat itu mulai memanas dan mencekam. Dalam teori deviansi klasik seperti Brown, Lemert dan lain lain mengatakan bahwa, mereka yang bertikai hubungannya dengan kesamaan dalam visibilita sosialnya tentu

memiliki „perhatian‟ yang tinggi terhadap lawan konfliknya. Setiap dari mereka

yang saling berhadap-hadapan itu selalu berupaya untuk mencari berbagai kelemahan lawan. Sebab melalui titik kelemahan itulah dimulai atau awalnya sebuah serangan.

31 Jika dibiarkan berlarut-larut AT justru mengkhawatirkan keselamatan supir. Bisa runyam. Tidak ada pembelaan. Itulah sebabnya kenapa supir segera diminta meninggalkan Mayang.

88

Boks 5.4. Penyelesaian Konflik Tambang di Kampung Airputih

Warga kampung Airputih tiba-tiba datang menjelang waktu Margib ke rumah AP dengan membawa berbagai perlengkapan „perang‟ dan dalam suasana marah. Kondisi yang sudah tentu tidak mudah ditenangkan. Mereka yang datang terbelah dan saling berhadap-hadapan dan setengah marah. Masalahnya pro-kontra terkait bibir pantai Selindung itu boleh ditambang atau tidak. Bagi yang pro, mendesak AP agar segera dibolehkan menambang di wilayah itu. Tetapi desakan itu tidak berani dilakukan secara terbuka. Andaikan mereka memaksa maka mereka akan berhadapan dengan masyarakat lain yang kontra tambang. Perang terbuka pun mungkin terjadi [meski dalam catatan sejarah di kampung Airputih ini bahwa perang antar sesama warga belum pernah terjadi]. Sebaliknya bagi yang kontra. Jika mereka dengan keras menyatakan penolakan maka mereka akan berhadapan dengan struktur yang sangat kuat dan pada gilirannya akan mendapatkan „tekanan‟ pula. Pasalnya, dari mereka yang pro penambangan hampir semuanya setuju dengan penambangan [dua tekanan yang mereka dapatkan/kontra tambang: pertama, hampir semua aparat dari RW dan beberapa RT yang mewilayahi daerah itu akan mempersulit administrasi persuratan dll jika berhubungan dengan mereka; kedua, aparat tersebut nantinya akan mendapatkan fee sehingga tanpa perlu kerja sekalipun mereka akan mendapatkan hasil dari „upeti‟ itu]. Bagi yang kontra umumnya adalah bekerja sebagai nelayan. Jika lokasi perairan dangkal ditambang maka akan meerusak terumbu karang dan memungkinkan mereka akan kesulitan untuk mendapatkan hasil atau mereka akan melaut lebih ke tengah lagi. Pertimbangan lainnya adalah, faktor kerusakan lingkungan yang diakibatkan penambang.

Namun karena sudah beberapa kali dilakukan pertemuan tetapi tidak juga

menemukan „kata putus‟ maka kondisi pun memanas sebagaimana diungkapkan di atas

tadi. Tokoh AP karena pengalaman dan penguasaan dalam memimpin kampung Airputih, oleh warga diminta menyelesaikan perseteruan itu. Kepercayaan warga terhadap Kepala Kampung pengganti, meluntur dan dipastikan tidak menemukan jalan keluar setelah terbukti bahwa aparat kampung itu sendiri merupakan „mafia‟ dari jaringan yang ada. AP dianggap orang yang netral dan karena pernah sebagai bagian dari timah maka diharapkan keputusan-keputusannya lebih adil.

Sebagaimana dipaparkan AP kepada peneliti bahwa penyelesaian tersebut memang tidak mudah. Keterlibatan aparat kampung hingga kepolisian terutama Polairud menekan dirinya sehingga dia sendiri tidak mampu berbuat banyak. Dengan alasan demokrasi maka teknik pengambilan suara terbanyak (voting) dipandang paling relevan dan adil. Dalam pilihan itu mudah ditebak bahwa mereka yang pro-penambang alias dibolehkan menambang di tepi/laut dangkal [Selindung] dengan beberapa persyaratan. Umumnya menyangkut teknis dan administratif tambang belaka, seperti membeli solar kepada penduduk maupun besaran fee yang didapat dusun dan warga [nelayan] sekitar yang terkena dampak langsung dari eksploitasi itu.

Teori ini semula hanya berlaku terhadap masyarakat majemuk, tetapi kepada mereka yang saling berhadap-hadapan maka dipastikan tidak lagi mempertimbangkan faktor-faktor di mana persoalan pokok itu berlaku. Kondisi tersebut semakin tajam dan buruk manakala mereka yang saling bertikai memiliki kedudukan yang secara sosial-kultural sama tinggi dengan diikuti keterlibatan

89 elite lokal. Dalam catatan, hampir semua aparat (kepala kampung dan RT/RW]32 dan sebagian besar penduduk – adalah pro-tambang. Sisanya, sekitar tiga RT/RW yang mewilayahi pesisir pantai adalah mereka yang kontra-tambang (penyelesaian konflik lihat Boks5.4).

Bagi AP sendiri tidak mudah dalam memutuskan perkara tersebut. Kedua

belah pihak yang bertikai adalah kelompok yang „pernah‟ menjadi warganya.

Pilihan kepada pro-tambang di satu sisi dan kontra-tambang di sisi lain, berujung pada upaya menjaga survivalitas dan keamanan kehidupan mereka. Keterlibatan aparat kampung hingga jajarannya ke bawah (hingga dusun) yang pro-tambang dan tuntutan masyarakat yang menolak tambang dan membawa persoalan itu kepada dirinya tentu peliknya jadinya. Tetapi juga sebagai suatu kehormatan besar. Dalam bahasa agen sosial, bahwa penyerahan itu sebagai sebuah bentuk kepercayaan warga yang mungkin masih dianggap netral setelah keterlibatan aparat kampung di TI. Bentuk kepercayaan ini bertambah setelah AP juga sebagai seorang penambang, sehingga seluk beluk pertambangan dapat dijadikan back ground penyelesaian masalah. Dengan demikian kemampuan AP terasa begitu komplit. Di samping, sebagai mantan KK tentu dia juga sangat menguasai prosedur dan tatacara administrasi pemerintahan. Pengalamannya sebagai KK dengan sendirinya, mau tidak mau, juga memahami hukum tatanegara dan struktur keagrariaan.

Persoalan kedua muncul. Meski tidak ada hubungan langsung dengan masalah pertama tetapi tetap bersambungan dengan timah. Kali ini persoalan yang dihadapi AP sangat berat. AP harus berhadapan dengan Polisi Air (Polairud). AP mendapat pengaduan masyarakat penambang terkait tingginya upeti yang mereka berikan kepada aparat. Penambang merasa sangat keberatan. Mereka sadar bahwa tindakan menambang dianggap illegal tetapi tidak pada tempatnya mereka harus membayar tinggi kepada aparat yang hanya menunggu di tepi pantai. Permainan oknum muncul di mana Polisi Air (Polairud)

bersama “Satgas” air memantau setiap perkembangan (penambahan

TA/Tambang Apung). Bagi satgas bahwa dengan adanya tambahan TA di perairan laut dangkal maka setara dengan tambahan „upeti‟ yang mereka terima. Kondisi tersebut semakin berat jika para penambang tidak memiliki „bendera‟

32

Kepala kampung dan aparat mendorong untuk menambang. Mereka mendapatkan institusi fee yang besarannya bervariasi. Umumnya Rp 1500/kg timah basah. Sementara RT dan sebagian aparat kampung selain mendapatkan fee [tanpa kerja] juga mereka terlibat dalam penambanganbaik sebagai buruh maupun pemilik TI.

90

maka upetinya semakin besar. Upeti bisa sama sekali tidak ada jika TA masuk ke dalam salah satu bendera yang ada33.

AT dengan aktivitas yang beragam membuat penampilan tokoh ini begitu sibuk. AT sejak pagi hingga menjelang dhuhur dipastikan selalu berada di kebun/ladangnya. AT kembali ke rumah untuk beristirahat siang, sholat, makan dan aktivitas lain di rumah hingga masuk waktu Asar. Usai sholat Asar AT kembali ke ladangnya hingga masuk waktu Magrib. Aktivitas rutin tersebut bisa tidak dilakukan AT jika ada pekerjaan lain yang dianggapnya penting. Belanja mengisi warung kelontongnya ke kota (Muntok), mengunjungi saudara/famili di lain kampung, merapatkan masalah warga, atau lainnya. Ketika PT GSBL sebagai koporasi kelapa sawit milik Malaysia itu memasuki wilayah kampung Mayang dan warga merasa dirugikan atas tindakan itu maka didiskusikan di balai kampung. AT biasanya diminta tampil dan dimintakan sarannya. Kebetulan orangtua, kakek dan buyut AT adalah dukun kampung (sudah meninggal) maka

wilayah „kepemilikan‟ kampung masuk dalam penguasaannya. Wilayah yang

disengketakan dekat aliran sungai berada di selatan kampung sekaligus lokasi beroperasi korporasi sawit.

5.3. Jargon Politik Ekologi Aktor Pembaru (AP) dan Aktor Transisi (AT)