• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONTESTASI AKTOR DAN ARAH BARU TRANSISI KONSOLIDASI DEMOKRASI DI BANGKA

3. Jejaring Sosial AT dan AP

3.2. Jejaring Sosial AP

Membandingkan jejaring sosial AP dan AT di mana keduanya sama-sama memiliki jaringan hingga provinsi. Bahkan AP melampaui hingga aparat keamanan di Jakarta. Sementara AT cukup sampai tingkat provinsi. Perbedaannya bahwa AT lebih banyak dikunjungi oleh aktor tingkat provinsi yaitu

117

selain karena keaktoran adalah juga karena letak kampung Mayang cukup strategis. Berdasarkan lokasi, AP dengan kampung Airputih memang terbatas ke

„dunia‟ luar. Posisi kampung yang berada diujung barat-utara Bangka Barat menghadap laut Natuna membuat kampung ini tidak mudah mendapatkan akses ke luar. Jalan satu-satunya hanya mengharapkan jalan yang langsung menuju ke Muntok.

AP berjejaring dengan SWT (54 thn), NAD (56 thn) dan ANG (53 thn) serta DHN(53 thn). AP berjejaring dengan SWT, NAD dan ANG karena teman semasa

di STM. Sebagai alumni dari STM “Bina Karya” Muntok hubungan sosial mereka terus dibina. Dalam praktik sosial memang tidak ada transaksi ekonomi. Mereka hadir bersama dalam memupuk sikap bersama dan identitas bahwa mereka adalah satu sekolah dan satu kelas. Berdasarkan kontak pribadi satu dengan yang lain yang akhirnya membentuk jaringan dan terhubung antar-mereka di berbagai kota. Berdasarkan hubungan itulah mereka bertemu dan sepakat untuk mengadakan reuni, setelah sebelumnya terpisah lebih dari 25 tahun.

Dalam jejaring hubungan teridentifikasi bahwa lebih dari separoh teman-teman AP tidak berada dalam kota yang sama (Muntok). Mereka tersebar di berbagai kota. Ada yang melintas kabupaten (SWT dan NAD, Sungailiat) hingga provinsi dan di Jakarta (DHN dan ANG). Jejaring hubungan yang dibangun tidak berkaitan dengan pemupukan modal melainkan kepentingan dan kepuasan spiritual. Berkenaan dengan teman-teman sekolah memang tidak terjadi transaksi ekonomi di antara mereka tetapi potensi untuk masuk ke arah transaksi ekonomi mulai terlihat. Gejala tersebut terlihat jika menilik sebagian dari teman-teman AP adalah juga pengusaha. Bahkan ANG bisnisnya hingga ke Asia. Jejaring AP membentuk solidaritas dan menuju ekonomi.

AP berjejaring dengan Kolektor (YEP 54 thn, BUN 55 thn, JIT 54 thn dan ALU 54 thn). Jejaring sosial tambang AP lebih luas dibandingkan dengan AT jika melihat dari jumlah kolektor yang dimiliki yaitu YEP, BUN, JIT dan ALU. Kesamaan kedua aktor dalam hubungannya dengan kolektor adalah hubungan pertemanan yang cukup lama dan intensif. Basis pertemanan ini membentuk kepentingan yang sama yaitu ekonomi. Jika AT dengan teman kerja sementara AP teman bermain masa kecil (tetapi bergerak dipertambangan sejak 1996). Perbedaan lain antara AP dan AT adalah, dalam hubungan dengan tambang bahwa AP dengan sistem jaminan, yaitu dengan meminjam uang dan setelah itu

118 baru mengerjakan pekerjaan tambang, sedangkan AT semua itu dilakukan dengan modal sendiri. Sederhananya AT dengan modal sendiri AP dengan pinjaman dari teman-temannya. Persamaannya bahwa keduanya sudah mengenal kolektor sejak lama. Lamanya perkenalan mereka dijadikan jaminan dalam usaha bersama (bisnis timah). Persamaan lain bahwa lamanya hubungan mereka itu melahirkan kepercayaan (trust).

Gambar 6.2 Jejaring Sosial AP Keterangan: : hubungan langsung

: hubungan tidak langsung AP ANG 1975-12 IWN 2002-12 HAN 2005-12 DHN 1975-12 Ketertiban dan keamanan

Kedekatan sosial dan kebersamaan/solidaritas Tidak terjadi transaksi ekonomi

Kolektor pembeli timah AT Kepentingan ekonomi Orang suruhan Bertolak bela-kang karenaAP rasional Membentuk kepentingan ekonomi tapi gagal

HER 1975-12 APARAT KP 1996-2012 Warga Kedekatan sosial YEP 1996-05 BUN 1995-05 JIT 1995-05 ALU 1995-05 SWT 1975-12 NAD 1975-12 Membentuk kepentingan ekonomi,

119

AP dalam jejaring dengan teman kolektor itu diikat oleh adanya rasa kepercayaan dan melalui dasar kepercayaan ini melahirkan jaminan (kerja). Meski sebenarnya AP dapat saja membiayai usaha tambangnya sendiri. Dengan adanya jaminan sebenarnya AP menghindari pajak dan bunga jika harus melalui perbankan, dan hubungan dengan pihak bank selalu menuntut adanya izin usaha (TI). Padahal AP tidak memiiki izin usaha pertambangan. Faktor inilah salah satu penyebab keengganan AP untuk meminjam uang di bank. Juga dengan adanya jaminan dari kolektor ini modal yang dimiliki AP dapat digunakan untuk aktivitas ekonomi lainnya. Ada banyak usaha yang dibuka AP. Dalam pengertian ini pilihan sikap AP memang sangat rasional. Bergerak ditambang itu sebenarnya resikonya besar. Tidak selamanya mereka yang bergerak ditambang selalu untung besar. Itulah sebabnya pilihan AP ketika ada tawaran dari kolektor yang juga teman-temannya itu tidak ditampik.

Jika demikian, bagaimana pula kolektor mau meminjamkan uang/modalnya diputar untuk kepentingan pertambangan yang penuh resiko? Dari pengamatan sementara bahwa selain teman dekat juga modal dasar yang dimiliki AP sendiri. Modal dasar itu tidak saja sebatas modal ekonomi seperti, katakanlah jika usaha itu bangkrut maka sedikit banyak AP mampu mengembalikannya, tetapi juga modal sosial. Modal sosial ini meski nampak tidak kelihatan tetapi memiliki pengaruh yang cukup bersar, yaitu sebagai bekas Kepala Kampung. Modal

sosial inilah yang „dipertaruhkan‟ sesungguhnya. Tentu sebagai mantan Kepala

Kampung tentu AP akan bekerja sungguh-sungguh dan apabila ada tanda-tanda bakal tersendat usaha tambangnya itu tentu sudah diperhitungkan nama baiknya di kampung Airputih.

Dari keempat kolektor itu hanya seorang yang beretnis Melayu (YEP), sisanya Tionghoa. YEP tinggal di kampung Tanjung-Muntok, sama seperti ketiga lainnya. Kecuali JIT yang senang menyendiri dan dengan kesukaannya itu JIT saat ini memiliki kebun cukup luas di kampung Airputih. JIT tinggal bersama dengan anjing dan beberapa binatang peliharaannya. Istri JIT bersama anak-anak tinggal di Muntok. Tetapi perbedaan etnis tidak terlalu berpengaruh hubungannya dengan kolektor timah. artinya, kepada siapapun di antara

120 keempatnya, yangg pernah meminjamkan unagnya kepada SP, tetap saja hitung-hitungannya sesuai standar11 dari harga pasar timah yang berlaku saat itu.

AP berjejaring dengan Transtip (IWN, 45 thn). Hubungan AP dengan aparat keamanan sebenarnya bukanlah sekali jadi. Sebenarnya aparat yang dikenal sebagai IWN itu adalah aparat Palembang yang bertugas di Bangka Barat. Sebagai perwira lulusan akademi di Sukabumi IWN sangat mempertimbangkan karir di instansi kerjanya. Berdasarkan itu maka IWN sangat tidak ingin terlibat dalam urusan tambang apalagi berkaitan dengan suap menyuap. IWN hanya mau menyelesaikan persoalan sesuai kapasitasnya tanpa perlu adanya imbalan. Itulah sebabnya ketika IWN bertugas di Bangka Barat dan mengatasi kerusuhan antara aparat-laut dengan masyarakat tambang tentang besaran upeti yang harus disetorkan ke aparat-laut sehingga menyebabkan konflik. Masyarakat keberatan dengan besaran upeti untuk “satu bendera” yang saat itu dikenakan Rp 3500 per kilo timah. Masyarakat tambang menghendaki Rp 1500 per kilo timah. Tarik menarik itulah yang menyebabkan IWN turun tangan dan AP juga hadir di sana sebagai penengah. Dari sinilah AP berkenalan dengan IWN untuk tujuan yan sama, yaitu sama-sama menyelesaikan konflik.

Jejaring mereka berlanjut. Meski IWN telah pindah tugas di ibukota provinsi Pangkalpinang dan kemudian pindah lagi setelah dua tahun (sekitar tahun 2004-06) ke kantor pusat mereka di Jakarta tetapi hubungan mereka tetap berlanjut. Bahkan IWN sendiri selalu menawarkan kepada AP untuk membuka apa saja yang dapat mendatangkan uang serta membantu masyarakat; dan manakala mendapatkan gangguan dalam usahanya dapat menghubungi IWN. Artinya IWN menawarkan jaminan keamanan kepada AP tanpa perlu adanya transaksi ekonomi di dalamnya. Dasar kepercayaan dan sikap yang sama (menolak) terhadap berbagai penyimpangan dan membantu masyarakat atau berbuat baik terhadap sesama menyebabkan hubungan mereka terjalin dengan sangat baik. Meski hingga saat ini AP sendiri tidak pernah memanfaatkan jejaring antara mereka berkaitan dengan kepentingan yang ditawarkan itu.

Jejaring AP dengan HAN (25 thn). Pada dasarnya hubungan AP dengan HAN adalah hubungan bapak-anak. AP menghendaki agar pekerjaan yang

11

Dimaksud dengan harga „standar‟ adalah harga dari kolektor (dengan jaminan) dengan harga „pasar‟ yang berlaku saat itu. intinya, harga jual yang ditawarkan AP dan uang yang diterimanya berkirang sekitar 10 % dari harga pasar itu.

121

dilakukan selama ini mulai dapat digantikan oleh anaknya HAN. Upaya tersebut mulai dilakukan sejak tahun 2005 hingga sekarang. Mirip dengan AT sebagai orang suruhan adalah cucunya (ANN) tetapi untuk AP adalah anak laki-lakinya langsung. Cara atau pembelajaran adalah sama, yaitu menyertakan mereka dalam setiap aktivitas yang dilakukan AP maupun AT. Jadi hampir semua terkait tambang maupun bukan dikenalkan dengan jejaring yang mereka miliki. Nampak sebagai strategi untuk memupuk kepercayaan dan kepercayaan ini sebagai dasar untuk beraktivitas lebih lanjut.

Dalam praktik tidak semua dapat menerima itu. Ada empat kolektor teman AP hanya tiga saja yang cukup baik dengan HAN dan justru ketiganya beretnis Tionghoa, sementara YEP yang tinggal di kampung Tanjung di Muntok tidak terlalu baik. Gejalanya terlihat ketika HAN diminta untuk mengantarkan timah atau meminjamkan uang tambahan untuk operasi TI ayahnya, HAN sering menolak dengan berbagai alasan. Tetapi untuk ketiga teman ayahnya yang kebetulan berentis Tinghoa itu tidak ada masalah.

Jejaring AP dengan Aparat Kampung (FER, 35 thn dan TIH, 46 thn). Jejaring AP dengan aparat kampung tidak cukup baik. Sejak purna-bakti tahun 1996 lalu hubungan AP dengan pihak aparat seperti tersekat. Setelah tidak lagi sebagai Kepala Kampung AP banyak berkiprah di masyarakat sehingga memang banyak yang berkaitan dengan pembangunan kampung warga yang mengeluh kepada AP. Sebagai orang yang pernah duduk di birokrasi tentu tahu tindakan apa yang harus dilakukan terkait keluhan warga itu. Di sinilah benturan itu terjadi. Aparat merasa bahwa sebaiknya warga mengeluh kepada mereka dan di selesaikan di kantor tetapi sebaliknya warga sudah melapor namun hasilnya tidak memuaskan maka pindah ke AP. Sebagai contoh, meski keluarga miskin berdasar data (BPS, 2010) tidak banyak di Airputih tetapi tidak ada salahnya di data ada berapa banyak. Selanjutnya bentuk kompensasi terserah pemerintah kabupaten. Data sudah diberikan tetapi aparat kampung melalui FER sebagai Kepala Kampung pengganti tidak bersikap.

Ketika persoalan itu diserahkan ke AP segera diambil tindakan oleh AP dan membawa persoalan itu ke kabupaten. Terlepas dari kompensasi dapat cepat atau lambat sesungguhnya tidak terlalu dipersoalkan warga tetapi bentuk perhatian aparat terhadap warga itulah yang diutamakan. Dengan kata lain, bahwa aparat bertolak belakang dengan AP hanya karena sikap mereka saja

122 yang tidak sesuai dengan pekerjaan yang seharusnya diemban. Tidak jauh berbeda dengan TIH sebagai Kepala Dusun (Kadus) sebagai pimpinan dusun di wilayah AP tinggal. Terlepas dari persoalan bahwa usia TIH lebih muda tetapi konflik kepentingan dengan warga menjadi tinggi terkait timah. TIH memposisikan diri sebagai pengambil fee dari setiap warga yang mendulang timah dengan alasan kerusakan lingkungan. Dalam hubungan ini TIH bekerja sama dengan aparat di laut. Padahal aparat itu tidak ada hubunganya dengan urusan timah di pesisir pantai. TIH membutuhkan jaminan keamanan dan jaminan itu sebagai penguat legitimasi TIH untuk menarik fee tadi.

AP berjejaring dengan Her (55 thn). Dengan HER, AP berteman. Hubungan mereka sudah terbentuk jauh sebelum maraknya timah. HER tinggal di Jebus. Kota ini banyak diisi oleh etnis Tionghoa sehingga dinamika ekonominya cukup tinggi. Ketika pemekaran terjadi dan Bangka Barat membentuk kabupaten sendiri, Jebus sempat dijadikan alternatif sebagai ibukota kabupaten. Tarik menarik itu cukup kuat. Elite di Jebus dan Muntok sampai harus rapat beberapa kali hingga akhirnya diputuskan bahwa Muntok sebagai ibukota kabupaten dengan alasan kesejarahan. Berkenaan dengan jejaring AP dengan HER di kota Jebus ini adalah kepentingan AP sendiri untuk membuka usaha sebagai kolektor tambang. AP berharap dengan bantuan HER (sudah lama sebagai kolektor di Jebus) dapat mempermudah dirinya mendapatkan izin usaha sebagai kolektor. Tetapi korporasi tambang menolak dengan alasan wilayah kerja. Pengalaman tersebut mendorong AP untuk tidak sepaham dengan korporasi tambang dan akhirnya sebagai anti-tambang.