KONTESTASI AKTOR DAN ARAH BARU TRANSISI KONSOLIDASI DEMOKRASI DI BANGKA
5. Refleksi Arah Baru Transisi Konsolidasi Demokrasi di Bangka
4.3. Artikulasi Aktor dalam Penguasaan Sumberdaya Timah
Timah adalah untuk menopang berjalannya ekonomi rumah tangga. Kondisi tersebut makin kuat memaksa AT bekerja lebih keras karena hasil yang diperoleh akan digunakan menunjang aktivitas sosialnya di masyarakat dan keluarganya.
Di sinilah di kenal dengan „ekonomi berbagi‟ dari AT karena sebagai orang yang
ditokohkan maka setiap pertemuan AT harus menyediakan rokok dan makanan kecil lainnya. Bahkan dalam pertemuan keluarga besarnya AT sebagai sosok penyumbang dana terbesar.
4.3. Artikulasi Aktor dalam Penguasaan Sumberdaya Timah
Giddens menempatkan struktur-agensi dalam hubungan yang dualitas dan bukan dualisme. Dualitas kata Giddens (2010a) merupakan hubungan timbal-balik atau dialektik, yang dalam posisi ini mirip seperti Parsons tetapi hubungan tersebut bersifat internal. Parsons seorang tokoh aliran struktural-fungsional dengan sangat tegas menyatakan bahwa penyebab perubahan dalam sistem sosial dipengaruhi oleh elemen-elemen di luar sistem itu, sementara Giddens sebaliknya.
Aktor, dalam hal ini AP dan AT, setelah melihat melemahnya struktur terutama tindakan represifnya maka mulai melakukan analisis ekonomi politik terkait timah itu. Perhitungan-perhitungan dilakukan secara matang sesuai
134 dengan kondisi dan kuasa pengetahuan yang berkembang sehingga dalam pilihan-pilihan itu memutuskan untuk ikut terlibat dalam praktik penambangan.
Stop Tambang dan Revitalisasi Potensi
AP setelah mengalami kebangkrutan di timah sekitar 7 tahun lalu sudah tidak tertarik lagi dengan aktivitas penambangan. Meski sebelumnya sempat menjadi kepentingan utama mengingat keuntungan secara cepat diperoleh, sementara saat yang sama kepentingan alternatif-1 sebagai KK sedikit terganggu sempat terabaikan. Artinya ketika timah lagi boming AP mengerjakan dua aktivitas sekaligus. Sebelum berangkat ke kantor AP masih menyediakan waktu untuk melihat lokasi dan memberikan petunjuk kepada pekerja tentang apa yang harus dilakukan hari itu, sekitar habis dhuhur AP sudah berada di tambangnya.
AP melakukan aktivitas itu untuk beberapa tahun lamanya sehingga curahan waktu untuk kepentingan alternatif-2 yaitu berkebun sama sekali tidak tersentuh. Toko kelontong karena gandeng dengan rumah tinggal maka dapat dilakukan oleh istri maupun anaknya. AP baru memiliki waktu yang cukup setelah sama sekali tidak lagi menjabat sebagai KK. Waktu luang yang tersisa ternyata juga cukup bahkan lebih sehingga AP menambah lagi kepentingan alternatif-3 yaitu dengan membuka tambak ikan dan paling akhir membuka bagan.
AP dengan kepentingan alternatif-3 ternyata membuka lahan baru baginya, yaitu transportasi laut. AP pemilik perahu dengan mesin tempel semula untuk mendukung profesi barunya sebagai nelayan. Perahu bermesin itu semula digunakannya melihat bagan miliknya yang berada di tengah laut. AP belakangan menambah satu bagan lagi sehingga aktivitasnya makin tinggi ke laut. justru sering dimintai tolong untuk mengantar oleh buruh timah ke kapal isap di pinggiran pantai dengan sistem upah. Aktivitas transportasi laut tersebut berlanjut sehingga kepentingan alternatif-3 memiliki tambahan pendapatan baru sebagai ojek-laut.
Pergeseran dari kepentingan utama kepada kepentingan alternatif 1-3 khusus dengan hadirnya kepentingan alternatif-3 justru menjauhkan AP dari godaan untuk kembali kepada kepentingan utamanya sebagai penambang. AP dalam sistem-sistem sosial terorganisasi sebagai praktik-praktik sosial rutin, yang dipertahankan dalam perjumpaan-perjumpaan yang tersebar di sepanjang ruang-waktu (Giddens, 2010: 129). Perilaku AP dalam praktik sosial itu „diposisikan‟
135
setelah sekitar 7 tahun di mana AP sudah tidak lagi berkiprah di tambang
sehingga AP dapat dengan tegas mengatakan, “stop sebagai penambang”.
Keberanian dan ketegasan AP untuk menyatakan berhenti sebagai penambang tanpa didukung kepentingan alternatif sama artinya dengan
mendorong masyarakat „terjun bebas‟ dan jatuh ke kubangan kemiskinan.
Tingginya harga jual timah setelah dikurang ongkos produksi menyebabkan masyarakat yang sudah terlanjur meninggalkan kepentingan utama sebagai pekebun dan nelayan, mengalami kesulitan untuk kembali. Tindakan represif aparatus negara dan menolak membeli timah dari komunitas tidak menjamin berhentinya masyarakat sebagai penambang; sementara kolektor, pedagang di pasar gelap dan penyelundupan masih terus mendatangi kampung-kampung. Jika mencontoh AP maka dengan memperbanyak kepentingan alternatif dan merevitalisasi yang semula utama menjadi alternatif untuk kemudian kembali kepada kepentingan utama (U A U) maka sekurang-kurangnya mampu untuk menjawab persoalan. Pasalnya dalam rentang ruang-waktu tertentu maka kemampuan fisik seseorang berbanding terbalik dengan beban kerjanya adalah sama dengan bertambahnya curahan waktu kerja, agar dapat dijadikan pertimbangan (Fisik : Beban Kerja = Curah Waktu bertambah).
Keberlangsungan dan Eksistensi
AT masih eksis dengan tambang timahnya, bahkan belum ada tanda-tanda bakal berhenti. Rumusan Giddens (2010a; 2010b) tentang ruang-waktu tidak menyurutkan semangat AT untuk terus bekerja. Artinya, kemampuan fisik seseorang berbanding terbalik dengan beban kerjanya adalah sama dengan bertambahnya curahan waktu kerja dalam satuan ruang-waktu, ternyata tidak relevan bagi AT. Dalam praktik sosial AT dengan pengetahuan sederhananya (local knowledge) bekerja dengan sistem distribusi atau pembagian kerja ala Durkheimian. AT dalam bekerja tidak pernah melakukan pekerjaan dengan penuh waktu. Saat AT masih belum menunaikan ibadah haji pun tetap kembali ke rumah sebelum pukul 11 siang. Aktivitas utamanya secara kronologis adalah istirahat (bersih-bersih rumah dll), sholat dhuhur, makan siang dan tidur siang. T kembali ke kebun atau aktivitas lain di luar rumah setelah Asar dan kembali ke rumah lagi menjelang Magrib.
AT bekerja dengan siklus yang tetap dan teratur. Tidak ada waktu istirahat bagi AT, termasuk Jumat yang merupakan tradisi di semua perkampungan di
136 Bangka. Bedanya di hari Jumat itu AT melakukannya selepas Asar hingga menjelang Magrib. Sebenarnya siklus kerja semacam ini merupakan tindakan rutin belaka. Rutinitas itu dapat terganggu manakala AT memang tidak hendak bekerja maka kepentingan utama dan alternatif dapat ditinggalkan hingga seminggu lamanya. Namun menjadi terbalik bahkan berlebihan jika tanaman butuh pupuk (pupuk pernah menghilang hingga 3 bulan) maka AT akan mengerjakan pemupukan sepanjang hari. AT begitu merasakan dan prihatin melihat tanamannya yang merangas tanpa pupuk, sehingga ketika pupuk datang dia akan mengerah seluruh tenaga kerja yang dimiliki seperti pekerja tambang miliknya, istri, anak dan beberapa sanak keluarga diminta untuk terjun ke kebun.
AT bagi sementara warga dianggap sebagai pekerja keras. Namun bagi AT sendiri tidak demikian. Sepanjang pekerjaan diberikan porsi waktu yang sama banyaknya dan dilakukan secara rutin seraya mendistribusikan beberapa pekerjaan kepada keluarga inti maka pekerjaan berbasis kepentingan utama dan alternatif tidak akan terbengkalai. Prinsip kerja berbagi dilakukan pula dengan
hasil yang berbagi. Sebagai orang yang „dituakan‟ dalam struktur keluarga
besarnya maka prinsip berbagi menjadi pemicu dan sebagai landasan moral. AT dengan prinsipnya ini tentu saja berupaya mempertahankan baik kepentingan utama maupun alternatif sebagai pemasok sumberdaya ekonomi keluarga yang ajeg. Meskipun dalam keluarga AT sendiri hanya dihuni 4 anggota keluarga yang terdiri dari AT dan istri, anak dan mantu, dan sekarang tambah satu cucu pertama maka terhadap apa yang dimiliki sudah lebih dari cukup.
Pada sisi inilah sebenarnya basis moralitasnya mengemuka seraya tetap mempertahankan keberangsungan pemasok ekonomi rumah tangganya. Keberlangsungan dengan demikian bukan semata-mata bagi kepentingan AT dan keluarga tetapi keluarga besar AT dan warga lain pada umumnya. Berdasarkan prinsip-prinsip inilah maka AT dengan sumberdaya-sumberdaya yang dimiliki harus eksis. Goncangan terhadap pasokan sumberdaya ekonomi keluarga tidak dikhawatirkan AT sebagai ancaman terhadap sosial ekonomi keluarga, melain ketakutan bakal „runtuh‟ dirinya sebagai patron atau gantungan
bagi keluarga maupun warga secara keseluruhan.