• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kejatuhan AP sebagai Aktor Tambang

DUALISME AKTOR DI DUA KAMPUNG DI KABUPATEN BANGKA BARAT

Boks 5.1. Kejatuhan AP sebagai Aktor Tambang

AP bukan sosok yang baru sama sekali di timah. AP sudah memulai lama dan dilakukan tidak secara mencolok mengingat dia masa booming timah masih menduduki jabatan KK. Tetapi pengalaman yang ada itu ternyata masih belum cukup. AP menyebut bahwa kejatuhannya hanya karena „emosi‟. Maksudnya,

jika hendak bermain di timah harus dengan „kepala dingin‟. Pada dasarnya timah

itu „panas‟ karena mudah diperoleh dan segera berganti dengan uang. Cara paling sederhana, yaitu ketika timah belum sampai ke rumah pun kolektor kecil sudah menunggu di lokasi beserta timbangannya. Artinya transaksi dapat terjadi di lokasi. Timah berganti uang. Tinggal pilih ke rumah bawa timah atau dalam bentuk uang. Emosi dimaksud, yaitu ada dorongan kuat dari dalam-diri di mana ketika dalam proses penggalian, langsung ditemukan pasir timah. Digali lagi dan terus bermunculan maka untuk hasil yang lebih besar alat berat pun diturunkan. Godaan inilah yang memicu untuk mencari lokasi baru, dan seterusnya. Padahal tidak selamanya di dalam areal yang sama memiliki kandungan yang sama banyaknya. Ini awalnya. Saat AP mencari lokasi baru dan diduga bakal ditemukan banyak timah di tepi pantai dusun Selindung. AP memperkirakan bahwa di lokasi itu memiliki kandungan timah tinggi dengan areal eksplorasi cukup luas. Kerja besar pun dimulai. AP mendatangakn 3 eskavator untuk mengelupas kulit bumi dan mendatangkan beberapa tenaga buruh. Hari pertama baru terbuka kulitnya. Hari berikutnya, mulai masuk ke lapisan berikut hingga membentuk camui. Ternyata proses berlanjut hingga seminggu lamanya dan perkiraan akan menemukan pasir timah, ternyata meleset. Di sini masalahnya. Selama proses, AP telah mengeluarkan biaya operasional sangat besar. AP memperkirakan sekitar hampir Rp 3 miliar yang selama proses eksplorasi AP menjual dan menggadai 4 kendaraan roda empatnya (lihat Tabel 5.3) dan barang tidak bergerak lain. Dalam kondisi panik semua menjadi tidak rasional. Akhirnya seluruh harta yang dipandang bernilai dipasok hanya untuk menemukan pasir timah di lokasi itu. Pasir timah yang ditemukan di lokasi tidak cukup ekonomis untuk ditambang sehingga AP akhirnya bangkrut. Mobil minibus satu-satunya warna metalik abu-abu yang dimiliki AP hingga berita ini diturunkan akhir Pebruari 2012 lalu terjebur ke kolong bekas tambang saat menuju ke rumah.

79 Kontribusi timah sebagai pemasok ekonomi rumah tangga begitu besar artinya. Dalam praktik perdagangan, meminjam aliran pemikiran Weberian, sebagai sebuah fakta yang hidup di dunia pertambangan dan masuk sebagai ekonomi dasar (dilawankan dengan ekonomi formal berbasis logika) maka

Boks 5.2. ‘Mafia’ dalam jual-beli Timah

Tanda bahwa setiap pemain timah baik sebagai pemilik tambang, penggali atau kolektor skala kecil (AP masuk dalam ketiga jenis ini) harus jeli dan waspada. Istilah ini penting untuk menunjuk dan menelisik „permainan‟ yang oleh AP

disebut sebagai “mafia” timah. Mafia pertama „main‟ di proses awal dan pelaku

penjualan. Sejak awal, muasal timah sudah dimasalahkan. Seolah-olah ada kesepakatan bahwa beda lokasi maka beda pula harga oleh kolektor. Timah yang dihasilkan dusun Pait beda kualitas Sn-nya dengan dusun Selindung. Padahal kedua dusun secara administratif masuk dalam satu kecamatan [Muntok] dan keduanya berada di pesisir pantai. Kedua dusun memang berbeda letak di mana dusun Pait di daya kota Muntok dan Selindung di barat-lautnya. Warna timah dilihat secara kasat-mata, apakah lebih hitam atau hitam-kecoklatan; atau siapa-pelaku penjual (anak-anak, penggali, atau kolektor) yang secara berurutan dengan harga beli jauh di bawah harga pasar hingga ke harga yang mendekati harga standar yang berlaku saat itu. Rendahnya harga beli oleh kolektor tambang terhadap anak-anak karena biasanya mereka hanya mengambil dari sisa-sisa bekas tambang di sakan. sedikit lebih tinggi jika yang menjual adalah penggali semata. Dua hal yang dipahami oleh kolektor jika penggali yang menjual timah. Pertama, penjual itu butuh uang sehingga harga pasar yang berlaku saat itu dapat dikesampingkan dan yang muncul adalah

harga „damai‟. Kedua, penggali adalah juga buruh tambang yang bekerja di tambang milik orang lain sehingga ketika penggali teridentifikasi menjual timah maka timah yang dijual dipastikan diambil (dicuri) dari tambang tempat dia

bekerja sehingga harga jual pun masuk ke harga „damai‟. Harga damai kedua ini jauh lebih rendah dari harga damai pertama karena beragam resiko yang menyertainya. Selain itu masih ada mafia lain dalam konteks jual-beli timah. mereka yang menjual orang kampung setempat ataukah buruh (luar Bangka), dan akhirnya kolektor sebagai penduduk lokal atau etnis Tionghoa.

Mafia berikutnya, „main‟ ditimbangan. Mempersoalkan timah-basah timah-kering (melalui proses penggorengan), timbangan kotor-bersih lewat „permainan‟

anak timbangan, dan kualitas Sn-timah hingga akhirnya „kesepakatan‟ harga

yang saat itu berlaku. Beda jam, apalagi beda hari maka akan berbeda pula harga. Untuk aktor setingkat AP, mafia yang dipaparkan mampu dia lewati. Tetapi bagi aktor lain? Apalagi mereka yang amatiran. Ketidak-jelian dan waspada sebagai penghasil timah dipastikan akan tertipu. Bahkan menurut AP masih ada mafia jenis (cara-cara) lain, yaitu dimaksud, menipu dengan teknik-teknik tertentu tetapi ujungnya merugikan penjual timah. Baginya yang kecil-kecil itu tidak dianggap. Namun jika diperlakukan terhadap semua pemasok tentu

80

Perilaku mafia dalam tambang selalu hidup (Polanyi, et.al, 1988: 107). Meski mafia pada dasarnya merugikan tetapi perilaku tersebut sangat dibutuhkan ketika keterdesakan akan uang tunai (lihat Boks 5.2). Mafia timah yang mengandung unsur merugikan bagi diri pelaku timah tetapi selisih harga yang ditimbulkan setelah dikurangi biaya produksi dan tenaga ternyata masih sangat menjanjikan. Harga yang merupakan hasil akhir ini tetap jauh melampaui pemasok keuangan konvensional dalam ekonomi rumah tangga. Oleh karena itu, ketika setiap orang sudah tersentuh timah maka akan terus mengupayakannya. Hambatan hingga seseorang berhenti sama sekali, jika modal dasar sudah betul-betul habis24. Biasanya untuk pemodal yang pernah berhasil dan terlanjur besar, mereka tidak akan mungkin mengulangi lagi dari awal [sebagai penggali mirip buruh]. Terlebih jika melihat AP sebagai mantan KK tentu bukan sebuah pilihan.

AP meski sudah tidak lagi bergerak di tambang dalam kapasitas sebagai aktor mencoba mereproduksi diri atau meminjam Gramsci memposisikan diri sebagai

„deputi‟ atas masyarakatnya. Deputi pada dasarnya adalah strategi aktor dalam

menyiasati dan mempertahankan hidup dari kehancuran akibat runtuhnya ekonomi material sebagai penopang kehidupan (Femia, 1987: 50). AP yang gagal dalam tambang maka faktor ikutan berupa ideologi, norma, mitos-mitos maupun politik serta budaya yang terhimpun dalam tambang ikut hilang sehingga kesadaran dalam diri mendorongnya untuk melakukan tindakan penyelamatan. Isu krusial yang dibangun AP adalah mengembalikan keaktorannya yang menurutnya meski tidak hancur tetapi telah mengalami erosi. AP sangat

merasakan betul ada „rasa‟ kehilangan kepercayaan masyarakat terhadap

dirinya, meski jika dibandingkan dengan aktor-aktor lain dalam masyarakatnya di mana posisinya masih tetap lebih tinggi dalam penilaian dari masyarakatnya. AP menuturkan.

“Orang tidak akan mungkin mau mengatakan langsung tetapi

melihat dari gerak-gerik tubuh maupun ucapan dan pilihan kata menjadi berbeda. Perjumpaan dan bergaul setiap hari dengan warga menggambarkan bahwa keseluruhan itu sedikit banyak membuktikan terjadinya penurunan. Biasanya orang dengan sangat cepat datang jika dimintai tolong dlsbngnya. Belakangan

memang masih tetapi dengan sedikit melambat”

24

Modal tidak saja biaya eksplorasi tetapi juga untuk kucing-kucingan jika aparat merazia di lokasi tambang. Berita koran lokal jika ada razia,selalu tidak tertangkap orangnya, tetapi mesin-mesin dan pelaratan eksplorasi ditinggalkan langsung disita. Ini termasuk modal yang sudah dihitung.

81 AP nampak berupaya mengembalikan kepercayaan itu. AP menangkap ada keterkungkungan dari kuasa pengetahuan rezim komunal atas dirinya maka AP membentuk strategi perlawanan yang dalam bahasa Gramsci dikenal sebagai perang posisi (war of position). Istilah yang diturunkan dari sebuah strategi perang buat melawan negara. Pada intinya berupaya untuk mengembalikan mitos-mitos dan ideologi ataupun kuasa pengetahuan masyarakat dalam bentuk yang sama sekali lain. Istilah yang meskipun terkesan penuh kekerasan sebagaimana terjadi dalam peperangan tetapi dimaksudkan adalah strategi mengembalikan ke bentuk-bentuk awal berupa mitos dll itu. AP mempergunakan strategi itu dan berharap dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas keaktorannya.

Aktor Transisi (AT) disematkan kepada Bapak H.Jumadil. Pada saat penelitian ini dilakukan AT masih menjalankan usahanya di bidang tambang. Istilah

„Transisi‟ disandangkan kepadanya adalah karena masih ada harapan bahwa AT dapat segera meninggalkan pekerjaan sebagai penambang25. Dalam arti bahwa aktivitas AT banyak (di luar tambang). Bahkan sepulang dari haji kesibukan yang menempatkan dirinya selalu hadir setiap waktu sholat maupun masuk kepanitiaan dalam pembangunan masjid atau lainnya yang berjarak 25 meter sebelah barat rumah. Di samping yang tak kalah penting dari itu adalah bahwa, setiap AT melakukan eksploitasi penambangan di areal KP Timah maka yang bersangkutan selalu melakukan penghijauan kembali [reklamasi] gaya dia yaitu, dengan menabur-nabur di areal bekas tambang; melempar di sisi kanan-kiri jalan saat meninggalkan lokasi tambang dengan biji tanaman Sengon (Albasia falcataria, L), Akasia Magium (Acacia Magium Willd), dan Saga (Abrus precatorius L).

“Yang itu sudah 3 bulan. Yang itu 6 bulan dan diujung sana,

sambil telunjuk tangan AT mengarah pada sekumpulan pohon akasia dan sengon yang kelihatan masih remaja itu. Dan yang

di sana usia sudah sekitar 6 tahunan”

25

Usia AT sudah di atas 70 tahun. Pensiunan karyawan timah memiliki keahlian nge- cam sewaktu kerja di

KK ‘a at . Ketika eforia TI keahlia i i la gka da harga jual ti ggi. Ora g a a ya g uta de ga

timah tetapi berminat besar terjun ke timah maka menyewa AT sebagai pilihan yang tidak keliru. Cam atau

tsyam atau chiam dari kata Jian dari bahasa Tiongboi bahasa orang Hakka (Khek) adalah alat bor Cina untuk

teknik mengambil lapisan tanah dan melihat kandungan timah di dalamnya. Dikenalkan tahun 1724, dengan nama Chinese Stick atau Steek Boor atau Chinezen Stokje Bela da . Bor Tusuk I do esia sesuai

kerjanya. Arti harfiahnya, Ujung Runcing terbuat dari tembaga. Sutedjo Sujitno, Sejarah Penambangan Timah di Indonesia, Cempaka Pub. Jakarta, 2007, hlm. 12; dan, Ora g Tio ghoa dala “ejarah

82

Pilihan jenis dan usia tanaman menunjukan bahwa AT bukanlah tokoh yang baru pertama kali serta awam tentang tanaman yang biasa digunakan untuk reklamasi. Kondisi tanah dan dapat kembali seperti sedia kala dalam kurun waktu sekitar 6 tahunan dengan jenis tanaman tersebut, merupakan hasil atau proses pembelajaran yang dilakukan semasa dirinya bekerja di PT Timah maupun pengalaman sebagai orang yang dekat dengan alam lingkungannya. Oleh

karena itu pilihan dengan ditetapkan AT sebagai aktor „Transisi‟ ‟ menunjuk pada

kemungkinan-kemungkinan pada dirinya untuk beralih ke penghidupan [transisi] lain di luar timah. Menilik dari pendapatan yang diperoleh maka timah hanya sebagai bagian saja dari sumber pemasukan rumah tangga.

Selanjutnya, aktivitas di perkebunan pun AT nampak sebagai sosok handal terutama dari kemampuan dan kreativitasnya dalam membuat banyak terobosan melalui eksperimen-eksperimen. Dalam praktik perkebunan AT telah mencoba menanam melon dan semangka. Hanya dua kali panen dan hasilnya belum memuaskan sehingga tidak diteruskan26. Mencoba menanam jeruk. Untuk tanaman terakhir ini cukup bagus hasilnya sehingga jeruk terus dikembangkan dan telah bertahan hingga 7 tahun berikutnya27. Regenerasi tanaman jeruk di lokasi lama tidak diteruskan karena ternyata di bawah tanaman tumbuh tersebut ditemukan pasir timah; sehingga AT lebih memilih mendulang timah dan mengorbankan tanaman jeruk bersama lahannya28. Meski pilihan-pilihan dan sebagian tanaman mulai menunjukkan tanda-tanda keberhasilan tetapi belumlah ditiru oleh warga. Terlepas dari itu AT telah mencoba dan mencoba dengan

26

Eksperimen-eksperimen ini mirip seperti dilakukan petani pasir besi Kulonprogo yang kemudian berhasil menanam cabe keriting sebagai andalan, melon dan semangka sebagai usaha sampingan di atas lahan yang semula tidak produktif. Apa yang dilakukan AT dengan trial and error terhadap semua jenis tanaman yang dianggap cocok dan terkesan tanpa perduli berapapun dana yang dikeluarkan. Bedanya petani Kulonprogo ini harus berjuang melawan kapitalisme-feodal [oleh penelitinya sebagai unik karena dua cara produksi melalui penguasaan swapraja di Yogyakarta digabung, yaitu kapitalisme yang berbasis industri komoditas dengan feodalisme yang bebasis penguasaan tanah yang luas, dalam Cahyono, et.al, “Konflik Lahan Pasir Besi dan Dinamika Sosial-Eko o i Peta i Pesisir Kulo progo , dala , “a itri et.al (Ed), Memahami dan Menemukan Jalan keluar dari Problem Agraria dan Krisis Sosial Ekologi, STPN, Yogyakarta, 2010 hlm 175-220], sementara AT tidak pernah bersoal tentang lahan yang mau diuji-cobakan. Tinggal ambil dan seberapa mampu dalam mengerjakan.

27

Ada banyak alasan kenapa tindakan AT tidak dapat ditiru warga. Pertama adalah modal. AT dapat melakukan itu karena hanya memiliki satu anak (perempuan) dan sudah menikah sehingga sebagaimana yang berlaku di kampung bahwa anak putri menjadi tanggungan suami. Meski, untuk keluarga AT dan mantu justru menjadi tanggung jawabnya. Kedua, AT memang seorang yang hidupnya sebagai petani/pekebun. Ketiga, karena lahannya luas dan terserak maka dengan mudah melakukan eksperimen. 28

Kali pertama, peneliti masih dapat menikmati panen jeruk. Kali kedua, tanaman jeruknya sempat merangas kekurangan pupuk dan mulai berencana memindahkan ke lokasi lain (juga terbukti belakangan dibawah tanaman ada kandungan pasir timah). Akhirnya kali ketiga, tanaman jeruk menghilang berganti dengan gurun pasir bekas ditambang. Berdasarkan tanaman liar yang tumbuh dibekas jeruk dapat dipresdiksi bahwa lokasi tersebut dieksploitasi sekitar 3-4 bulan lalu.

83 berbagai jenis tanaman di luar tanaman tradisional seperti karet dan lada. Disadari atau tidak, tindakan AT telah memberikan gambaran kepada warga bahwa lahan di Mayang dapat ditumbuhi dengan jenis tanaman apapun, asalkan mau dicoba29.