• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONTESTASI AKTOR DAN ARAH BARU TRANSISI KONSOLIDASI DEMOKRASI DI BANGKA

3. Jejaring Sosial AT dan AP

3.1. Jejaring Sosial AT

Gambar 6.1 menjelaskan jejaring sosial yang dibangun AT terkait dengan tambang. Relasi AT memang cukup luas. Beragam orang memiliki jejaring sosial dengan AT. Berdasarkan analisis jaringan AT dapat mengumpulkan beragam jaringan, mulai dari: politik, sosial, ekonomi, kultural dan spiritual. Bahkan ada jaringan baru terbentuk sama sekali terkait perubahan peta politik pertambangan dengan munculnya Pemda kabupaten, di samping jejaring yang sudah lama tidak pernah berkomunikasi adalah bekas teman-teman kerjadi perusahaanTambang Korporasi.

AT berjejaring dengan Kolektor IPN (63 thn) dan GRS (35 thn). Jejaring sosial AT dengan kolektor adalah jejaring sosial yang sangat kuat dan bernuansa historis. Kekuatan hubungan tersebut terletak pada jaringan hubungan yang sebelumnya sudah lama terbina. Bahkan sebelum timah boleh ditambang secara

„bebas‟ hubungan AT dan IPN sudah terjalin. Mereka berkenalan sejak masih

bersama-sama di Tambang Korporasi tahun 1975. Tepatnya sebagai karyawan

di kapal keruk “Rambat”. Tetapi karena adanya kebijakan pending5 dari perusahaan menyebabkan mereka terpisah dan bekerja sesuai dengan keinginan dan ketrampilan masing-masing. AT memilih pekerjaan sebagai

5

Rasionalisasi karyawan Tambang Korporasi ketika korporasi itu mengalami penurunan produksi sehingga kesulitan membayar gaji karyawan. Rasionalisasi itu berlangsung awal tahun 1990-an.

111

pekebun/ladang sementara IPN masih sebagai pekerja-lepas6 di perusahaan tambang korporasi. Mereka bertemu kembali setelah adanya kebijakan di mana masyarakat boleh menambang. Dalam praktik AT sebagai penambang yang dikenal dengan Tambang Inkonvensional (TI), sementara IPN ditunjuk Tambang Korporasi sebagai kolektor7.

Berdasarkan penjelasan di atas bahwa hubungan antara AT dengan IPN memang sangat dekat. Kedekatan ini menyebabkan tidak mungkin AT menjual timahnya kepada kolektor lain yang mungkin juga dikenalnya. Sudah lebih dari dua tahun terakhir AT tidak lagi berhubungan langsung dengan IPN jika ingin menjualkan timahnya karena seluruh pekerjaan yang dilakukan AT sekarang ini sudah dapat digantikan oleh cucunya (ANN). Memang untuk mengenalkan ANN kepada IPN tidak sekali jadi. Mulanya AT mengajak ANN untuk mengikutinya dalam bertransaksi dengan IPN hingga lama kelamaan terjalin hubungan IPN dengan ANN. Jadi untuk waktu seterusnya jika bertransaksi dengan IPN, AT selalu mengutus ANN, tetapi dengan terlebih dahulu AT menelpon IPN. Peralihan dari AT ke ANN karena AT merasa dirinya sudah tua maka sudah selayaknya diganti oleh yang lebih muda dan selanjutnya AT lebih menekuni

agama dan kegiatan sosial lainnya. ANN sebagai „cucu‟ dan sudah pengganti

tentulah orang yang sangat dipercayai mengingat AT sama sekali tidak memiliki anak kandung.

Meski AT berjejaring dengan IPN dan sudah lama berhubungan, tetapi adakalanya cadangan (stock) timah yang dimiliki melimpah sehingga IPN meski menyetorkan perusahaan tambang itu sudah diatur tetap saja melimpah maka IPN merekomendasi ke GRS untuk menampung timah dari AT/ANN. Meski cara ini jarang sekali. GRS adalah kolektor tambang juga dan kerjanya seperti yang dilakukan IPN. GRS masih muda dan sebagai pemain baru sebagai kolektor sehingga GRS pun memerlukan jaringan tambahan untuk mempertahankan cadangan timah yang dibeli agar tetap menenuhi persyaratan (quota). Tentu pihak korporasi tidak serta merta memberikan persyaratan dengan jumlah hingga

6

Pekerja-lepas dimaksud adalah pekerjaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan produksi timah. Pekerjaan Ip awalnya serabutan tetapi berjejaring dengan Tambang Korporasi. Misalnya, penyediaan catering buat karyawan timah, pembelian Alat Tulis Kantor (ATK).

7

Hampir semua kolektor timah disebut bos. Jika mereka tinggal di kecamatan pun sudah disebut bos. Bahkan istilah bos ini sudah merasuk dalam pergaulan anak-anak muda di Bangka jika ada diantara mereka membayar gratis teman-temannya. Tidak harus banyak uang. Jadi andaikan seseorang banyak uang tetapi tidak pernah membayar makan dan minumnya secara gratis, tidak disebut bos. “Bos Besar” adalah mereka sebagai kolektor timah sekaligus pemilik smelter atau jika tidak pun, adalah bos diantara bos yang ada di tingkat kabupaten/kota

112 di atas 100 ton per minggu. Jejaring baru terkait kolektor paling banyak sekitar 50 ton per minggu. Jumlah tersebut bertahan hingga satu samai dua tahun dan setelah itu dievaluasi untuk ditingkatkan atau diberi peringatan. Dalam posisi inilah GRS harus membuka jaringan dengan kolektor lain yang lebih besar8.

Gambar 6.1 Jejaring Sosial AT

Keterangan:

: hubungan langsung

: hubungan tidak langsung

8

Dalam permainan di timah ini juga tidak mudah. Kolektor harus membangun jaringan ke berbagai arah terutama dengan pihak penambang. Kesulitan utama mereka sebagai kolektor adalah memenuhi standar/jumlah yang tetap sebagai persyaratan mereka dengan perusahaan tambang itu. Sementara sebagaimana digambarkan dalam kasus GRS dengan IPN itu sangat jarang terjadi hubungan semacam itu jika dibalik itu tidak ada hubungan yang istimewa (misalnya ada hubungan saudara, famili dan bentuk-bentuk hubungan lainnya. Antar-kolektor pun jika memungkinkan tidak akan menambah saingan sesama mereka.

AT

AHK

2006-12

JON & UND BAM 1999-01 IPN 1975-12 ANN 2000-12 AKN 1970-12 Ketertiban dan keamanan

Kedekatan moral politik Tidak terjadi transaksi kepentingan politik Membeli timah AT Kepentingan ekonomi Orang suruhan Bertolakbela-kang dalam hal gagasan pragmatisme AT Kedekatan moral agama THA 1970-12 GRS 2000-12 TAMBANG KORPORASI PEMDA 1998-12 11111200 Sebagai karyawan (dulu) Warga Mendapat izin usaha Kedekatan kultural dan sosial Patron

MIA & AID

1980-12

Kedekatan pengetahuan

113

AT berjejaring politik dengan Provinsi (AHK, 45 thn). Jejaring politik AT di tingkat provinsi diketahui setelah kedatangan AHK ke rumah AT di kampung Mayang sekitar tahun 2006. AHK adalah tokoh politik lokal. Kedatangan AHK ke AT tentu ada hubungannya dengan pencalonan dirinya merebut jabatan BN 1. Banyaknya tamu yang berdatangan ke rumah AT adalah karena sifat AT sendiri yang tidak banyak berharap. AT memang suka membantu dan banyak bercerita terutama tentang tanam menanam sehingga banyak tertarik. Dengan sifat yang seperti inilah AT dimanfaatkan tokoh politik lokal AHK untuk meraih dukungan dari kampung Mayang.

AT begitu bangga sambil memamerkan foto dirinya sedang bergandeng dengan AHK di depan rumahnya. Saat itu menjelang pemilihan gubernur Babel tahun 2007. AHK masih menjabat bupati di Belitung, sampai harus mampir ke kampung Mayang untuk menemui AT

Tidak ada yang meminta seorang AHK untuk datang ke rumah AT, tetapi warga Mayang tanpa diperintah dengan serta merta menunjuk kepada tim sukses AHK untuk menemui AT. AT sendiri pun tidak mengetahui dengan alasan apa warga menunjuk AT untuk berbicara dengan AHK. Padahal ada aparat kampung tentu yang paling mungkin memberikan informasi tentang kampung Mayang. Padahal secara struktural AT bukanlah pejabat kampung. AT sendiri sebenarnya merasa bingung dengan alasan apa seorang AHK dapat berkunjung ke rumahnya di Mayang. AHK itu tinggal di Belitung Timur sementara Mayang tempat tinggal AT di ujung Barat pulau Bangka.

AT berjejaring dengan pihak ketertiban (JON, 45 thn dan UND, 40 thn) dan keamanan (BAM, 46 thn) tingkat provinsi. Sebenarnya hanya seorang saja yang dikenal AT dengan pihak ketertiban di provinsi yaitu JON sekitar tahun 1999. Mulanya hanya kepentingan institusi untuk mendapatkan data yang lebih akurat tentang sejumlah TI yang beroperasi di wilayah Mayang. Pihak aparat nampak mengalami kesulitan untuk mengidentifikasi berapa banyak TI yang beroperasi jika tanpa adanya bantuan dari orang Mayang sendiri. AT semula tidak terlalu tahu persis untuk kepentingan apa pihak aparat mendata sejumlah TI yang ada di Mayang. Tetapi menurut perkiraan AT bahwa masa itu ada hubungannya dengan Pilkada Gubernur dan bisa jadi aparat ketertiban ini adalah bagian dari salah satu tim dalam Pilgub itu.

114 Setelah pertemuan (secara fisik) itu AT diberikan nomor telepon genggam berikut diselipkan foto sang perwira. AT dipesan oleh perwira itu bahwa jika ada apa-apa, maksudnya gangguan dengan dan atas nama „keamanan‟ terhadap TInya maka AT dapat mengontak dirinya. Dalam jejaring ini JON menawarkan keamanan atau transaksi perlindungan terhadap AT. Meski hingga kini belum terealisasi tetapi dapat dijadikan sebagai garansi dalam jejaringan tersebut. AT sendiri tidak terlalu tahu siapa nama sang perwira kecuali dengan menyebut

nama “JON” yang menurut AT adalah nama panggilan. Pasalnya saat

berkunjung ke kediaman AT, perwira itu tidak mengenakan pakaian dinas kecuali mobil dinas dengan logo bintang berwarna kuning keemasan. Bersama JON, AT berkenalan dengan teman JON yang bernama UND. AT mengetahui nama UND setelah mereka saling bersalaman. Kelihatannya menurut AT keduanya memiliki pangkat yang sama. Sampai hari ini AT pun tidak mengetahui untuk kepentingan apa JON dan UND mampir di Mayang. Memang menurut AT sesekali JON itu mengontak AT dan biasanya menanyakan kabar dan kesehatan.

Pertemuan dengan perwira menengah dari keamanan di provinsi juga dalam agenda acara yang tidak diketahui AT. Bahkan perwira ini, yang belakangan dikenal dengan nama BAM dan sangat jelas mengenakan pakaian berwana hijau dengan nama tersandang di atas kantong depan saat berkunjung ke rumah AT. Juga tidak diketahui apa pula yang diinginkan. BAM dalam pertemuan itu saling bertukar pikiran tentang apa saja sehingga AT sendiri tidak dapat menyimpulkan apa yang diinginkan BAM atas kunjungannya ke rumah AT. Meski dalam pembicaraan menyentuh soal tanaman karet dan sawit tetapi apa mungkin BAM hendak berusaha di bidang perkebunan di Mayang.

Sama seperti kedua aparat ketertiban tadi bahwa jika ada “apa-apa” terkait

tambang yang dilakukan AT maka AT dapat menghubungi BAM. Tetapi terpenting dalam hubungan ini bahwa jaringan keamanan dan ketertiban sudah dipegang AT meski AT sendiri tidak pernah memanfaatkan tawaran

„perlindungan keamanan‟ yang diberikan ketiga aktor itu. Kebetulan persoalan yang berkaitan dengan tambangnya tidak ada persoalan, kecuali izin usaha tambangnya yang sudah habis masa berlakunya. AT sendiri merasa bahwa untuk urusan perizinan tidak perlu minta bantuan kepada mereka. AT sudah membayangkan untuk urusan perizinan, terlalu tinggi sampai harus minta

115

bantuan kepada mereka. Selain juga, aparat keamanan itu berdinas diibukota provinsi sehingga seluk beluk perizinan tentu saja tidak diketahui.

AT berjejaring dengan Pemda. AT sebenarnya sudah tahu betapa tidak mudahnya mendapat perpanjangan izin usaha penambangan setelah akhir-akhir ini kerusakan lingkungan makin parah akibat eksplolarasi TI. Kesan seperti berbelit-belit sebagaimana dipaparkan AT setelah mendapatkan informasi dari Dinas Perindustrian dan Pemda serta ESDM di kabupaten bahwa persoalan koordinasi dan pertanggung jawaban dari masing-masing instansi belum ditemukan kata sepakat. Selain AT sendiri memiliki beberapa teman (semasa kecil) yang anak-anak mereka bekerja di Pemda; juga AT memiliki ponakan yang bekerja di Pemda (meski berbeda bidang yaitu di Dinas Pertanian, AMN, 29 thn lulusan S2 di Bogor) sehingga tahu betul bahwa persoalan perizinan usaha penambangan tidak mudah.

Prosedur sudah diikuti dan ada sebagaimana dijelaskan (lampiran 3) tetapi dalam praktiknya di lapangan masih tersendat-sendat. Memang ada sebagian yang diloloskan dan sebagian lagi masuk dalam daftar tunggu, bahkan tidak jarang ada di antara mereka yang ditolak sama sekali9. Menyadari itulah kemudian AT sendiri dengan hanya berbekal pernyataan lisan saja sudah cukup baginya untuk menjalankan TI-nya. AT meski sebagai orang yang patuh dan taat tetapi tetap saja masih belum mantap jika izin belum dikeluarkan. Tindakan yang dilakukan AT tidak lain adalah desakan bahwa buruhnya yang didatangakn dari Jawa (Tengah)10 dan satu lain dari Lampung terpaksa nganggur, menjadi tanggungan AT secara moral. AT merasa tidak nyaman. Gelar haji yang disandang AT mendorong pada dirinya untuk berbuat lebih dan berbeda dengan pemilik TI yang ada di wilayahnya.

9

Bagi beberapa pengusaha tambang memang cukup risau dengan perizinan ini. Jika dicermati justru kesulitan/agak lama turun izin itu datang dari mereka yang memiliki tambang yang sudah lama/terlebih, sementara mereka yang baru saja ingin berusaha justru banyak yang lolos. Perbedaan inilah yang menyebabkan „kecemburuan‟. Bagi peneliti penyebabnya terletak pada tidak adanya lampiran target dan arela yang mau ditambang serta rencana reklamasi yang tidak ada dari penambang lama.

10

Peneliti pernah bertanya asal WGN (35-an thn) ini tetapi tidak terlalu jelas menyebutkan secara tepat daerah asalnya, kecuali Jawa Tengah. WGN hanya menjelaskan sekitar Banyumas utara. TON usia lebih muda, 26 tahun juga tidak terlalu menjelaskan secara tepat di Lampung mana. Ketika hal ini peneliti konfirmasikan ke AT, AT tidak terlalu perduli soal asal keduanya. Bagi AT sejauh keduanya bekerja baik, itu sudah cukup. Referensinya hanya mengandalkan tenaga kerja yang mengikutinya lebih dari 10 tahun, SAM (44 thn) dan pengawas internal yaitu anak-mantunya AGS maka AT merasa sudah cukup. SAM sendiri meski berasal dari suku Jawa tetapi sudah lama berada di Mayang (hanya lebaran saja kembali ke Jawa di desa kecil di Tegal) dan SAM memang dipercaya untuk mengelola TI milik AT ini.

116 AT Berjejaring dengan MIA (58 thn) dan AID (56 thn). Jejaring MIA dan AID dengan AT adalah seputar kegiatan tanam menanam. Pada dasarnya ketiga orang ini sudah saling kenal (baik) sejak tahun 1980-an. Meski, sejak meningkatnya intensitas tambang AID dan MIA menurun karena keduanya lebih berkonsentrasi dengan timah tetapi keterikatan dan ketertarikan keduanya dengan tanaman perkebunan tidak bisa hilang. Sebagai warga kampung yang dahulunya moda produksi perkebunan jadi andalan maka tanaman perkebunan masih juga mereka perhatikan. Itulah sebabnya ketika melihat AT berhasil dengan banyak jenis tanaman yang diuji-cobakan maka keduanya ingin mencontoh. Beberapa kali AID dan MIA berdiskusi dengan AT mengenai beragam jenis tanaman dan kecocokan dengan tanah di Mayang serta aspek pemupukan. AT dengan tangan-terbuka mempersilahkan keduanya bertanya hingga akhirnya MIA dan AID mencoba.

Persoalan muncul. Pada saat tanaman jeruk yang menjadi andalan dan kemudian ditanam MIA dan AID di kebun mereka ternyata khusus AID rasanya masam setelah tiga tahun kemudian. MIA lumayan manis. Padahal kedua jenis diambil dari bibit yang sama dengan pemupukan tidak berbeda. AT menjelaskan bahwa cara atau teknik menanam yang dilakukan AID ternyata tidak tepat. AT mengatakan bahwa anjuran yang disarankan kepada keduanya hanya MIA yang melakukan, itupun dilakukan sebagian; dan sisanya juga terasa masam. Proporsi AID jauh lebih banyak jika tidak ingin dikatakan semua. Tetapi karena sebagai uji-coba baik MIA dan AID tidak menanam dalam jumlah yang besar, MIA sekitar 25 pohon dan AID hanya 15 pohon. Penyebabnya sederhana. AT mengatakan bahwa keduanya tidak mengikuti anjurannya, yaitu ketika menanam tidak menghadapkan pokok yang ditanam ke arah matahari. Jika cara ini tidak dilakukan maka tentu saja hasil akhirnya berbeda. Padahal dengan cara yang sama pun tidak semua terasa manis. Peneliti pun pernah pula mencoba dan rasanya bahwa ada beberapa jenis jeruknya lebih tepat dibuat sirop daripada sebagai jeruk manis yang dapat langsung dimakan begitu saja.