PETA POLITIK TATAKELOLA SUMBERDAYA TIMAH DI BANGKA
4. Pihak-pihak yang Terlibat dalam Kontestasi
4.1. Aktor Negara (PT Timah dan Pemda)
di Jakarta memungkinkan masyarakat lokal mulai berani menambang. Klimaksnya ketika reformasi. Diawali oleh peraturan yang dikeluarkan bupati Bangka, setelah menyimak perkembangan di masyarakat, hingga mendorong bupati mengeluarkan peraturan yang membolehkan masyarakat menambang. Kondisi tersebut diikuti dengan melepaskan istilah strategis dan vital dan sekaligus membolehkan masyarakat ikut menjual-belikan pasir timah yang semula dalam pengawasan tambang korporasi (PT Timah).
Peraturan demi peraturan dikeluarkan bupati hingga gubernur babel sehingga pada intinya melepaskan satu persatu kekuatan negara melalui PT Timah. Negara telah kehilangan kewibawaan hingga akhirnya tidak mampu berbuat apa-apa. Reformasi tidak saja memberikan peluang kepada masyarakat tetapi juga pemerintah daerah sebagai pesaing baru. Sebagai penguasa wilayah di mana semula mereka hanya mendapatkan royalty PT Timah maka dengan adanya UU otonomi daerah, setiap kepala wilayah mendapatkan tidak saja dari royalty yang memang wajib dikeluarkan tambang korporasi tetapi dari pemodal dan masyarakat itu sendiri. Di sinilah dikenal kemudian apa yang disebut sebagai perubahan dari monolitas ke multilitas.
4. Pihak-pihak yang Terlibat dalam Kontestasi
Ada tiga kelompok aktor yang “bermain” dalam perebutan sumberdaya
agraria/timah di Bangka, yaitu aktor negara yang terdiri dari aktor korporasi dan aktor pemerintah daerah; aktor pemodal terdiri dari aktor yang bergerak dipertambangan timah (Tambang Inkonvensional) dan mereka yang non-timah (kelapa sawit dan tanaman perkebunan lainnya); dan aktor masyarakat.
4.1. Aktor Negara (PT Timah dan Pemda)
Keterkaitan aktor negara dengan timah dapat dikelompokkan dalam dua bagian. Pengelompokkan ini didasarkan atas pemberian izin usaha, yaitu: pertama, perusahaan yang izinnya diterbitkan oleh Pemerintah Pusat dan diperoleh sebelum diberlakukannya UU Otonomi Daerah. Mereka dikelompokkan sebagai Tambang Korporasi seperti: PT Tambang Timah Tbk. Kedua, perusahaan yang izin usahanya dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota dan diterbitkan setelah diberlakukannya UU Otonomi Daerah. Mereka dikelompokkan sebagai BUMD dan swasta.
42 Tambang Korporasi (TK). Tambang Korporasi (TK) adalah tambang yang dikelola secara terstruktur, terorganisasi dan dengan manajemen serta tujuan yang jelas. Pemiliknya adalah korporat atau kelembagaan. Jadi bukan perseorangan. Jika menilik dari masa pengelolaan tambang [modern] di Bangka secara korporasi telah dimulai sejak Kesultanan Palembang, penjajahan Inggris, kolonial Belanda, Orde Baru hingga Era Reformasi. Mengikuti subjek pelaku pertambangan dari masa ke masa maka yang dapat ditelusuri adalah sejarah perjalanan timah itu sendiri maupun regulasi yang membingkainya. Dalam rangkaian itu akan berujung pada PT Timah Tbk sebagai representasi negara dan lembaga ini pulalah yang menguasai tambang di Bangka maupun Belitung secara penuhnya. Penuh dalam artian bahwa tidak ada pihak lain yang dapat melakukannya. Tambang korporasi kemudian mendapatkan perlindungan dari aparatusnya.
PT Tambang Timah Tbk. PT Tambang Timah Tbk merupakan bentuk usaha yang dikelola negara. PT Tambang Timah Tbk adalah salah satu BUMN di mana pada tanggal 18 Oktober 1995 beralih menjadi perusahaan publik (go public). PT Tambang Timah Tbk setelah menjadi perusahaan publik berganti nama menjadi PT Timah Tbk dengan komposisi saham 65 persen milik negara dan 35 persen milik publik. Dalam rangka pengembangan usaha PT Timah Tbk mulai melakukan usaha dengan mengubah dirinya menjadi holding company dengan sejumlah anak perusahaan, di mana salah satunya yang bergerak dipertambangan timah di Bangka Belitung dengan memakai nama PT Tambang Timah (Zulkarnain, et.al., 2005: 74).
Selanjutnya luas area KP darat PT Timah Tbk di pulau Bangka 969.000 Ha (35% dari luas daratan Bangka) dan di Belitung seluas 57.470,25 Ha sedang luas KP lautnya mencapai 30.075 Ha (30% dari luas daratan Belitung). Perusahaan yang izin usahanya dikeluarkan Pemerintah Pusat maka kontribusi PT Timah tersebut banyak mengalir ke Pemerintah Pusat dalam bentuk PPh Badan, PPh Ps.23, PPh.Ps.26, PPh.Ps.21, PPN, PBB, Dividen, Royalty, Iuran KP (landrent), dan Iuran lainnya. Pos-pos terbesar yang diterima negara berasal dari PPh Badan 78.666 miliar tahun 1997 meningkat menjadi 221.396 miliar tahun 1998 dan Dividen 46.214 miliar tahun 1997 menjadi 133.828 miliar tahun 1998.
43
Sejak tahun 1990 PT Timah tidak lagi mengelola langsung pertambangan timah di lokasi darat. Konsentrasi perusahaan seluruhnya dialihkan pada penambangan dengan kapal keruk di laut. Pengelolaan di darat dilaksanakan dengan cara kemitraan dengan perusahaan lokal atau koperasi. Selanjutnya dengan area KP terluas di provinsi Babel, perusahaan merupakan produsen timah penting di dunia, yang dalam praktiknya cenderung berlandaskan pada kebijakan pemerintah pusat semata dan kurang memperhatikan kepentingan daerah. Pemerintah provinsi Babel sebelum pemekaran hampir tidak mengenyam keuntungan sama sekali selain infrastruktur yang dibangun PT Timah. Pemerintah provinsi Sumatera Selatan yang merupakan kepanjangan tangan dari Pusat jauh lebih menikmati keuntungan tersebut (Zulkarnain, et.al. 2005: 76).
Perusahaan Daerah dan Swasta. Kedua perusahaan ini muncul setelah reformasi. Tujuannya jelas yaitu untuk kepentingan PAD dan kepentingan swasta itu sendiri. Perusahaan swasta izin penambangannya diterbitkan pemerintah Kabupaten/Kota biasanya berupa CV. Tidak saja dalam pengolahan tetapi juga sebagai pengepul atau kolektor yang menjadi mitra PT Koba Tin. Selain itu, pemerintah lokal atau kabupaten/kota melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan mengeluarkan pula izin peleburan pasir timah menjadi batangan atau smelter. Sebenarnya perusahaan smelter ini merupakan bagian dari rangkaian proses yang termasuk dalam kegiatan penambangan tetapi khusus penambangan timah di Bangka-Belitung, sebagai industri yang terpisah. Menurut Zulkarnain et.al (2005: 78) ini sebuah fenomena yang hanya ada di Bangka-Belitung.
Dengan demikian TK dari segi pemilikannya menunjuk perbedaan dengan TR, tetapi dalam penelitian ini memiliki irisan yang sama yaitu terkena imbas kebijakan negara. Tetapi bagi TK merujuk pada terminal pengakselerasian dan pemakai (user) kebijakan. Jika ada pihak lain yang terlibat dipertambangan maka keterlibatan mereka secara jelas disebutkan akan posisi serta persyaratan akan penunjukkan itu. Mereka adalah PT Timah Tbk dan penunjukkan dengan persyaratan [mitra] adalah PT Koba Tin sebagaimana dipaparkan Tabel 4.3.
Selanjutnya untuk kepentingan analisis ini, Gramsci menekankan aspek „deputi‟