berbasis kerja adalah kelas atau program bersama antara sekolah dan tempat kerja untuk meningkatkan pengalaman dan kecakapan di tempat kerja. Dengan demikian antara sekolah dan tempat kerja bersama-sama untuk dapat saling mendukung dalam melakukan pembelajaran. Jadi pembelajaran yang dilakukan harus sesuai dengan kerja yang akan dilakukan. Pada pembelajaran di sekolah dapat berbentuk magang di industri, atau pada unit produksi yang ada di sekolah. Dengan demikian untuk pembelajaran menggambar teknik dapat dilakukan dengan magang di industri, dengan mengambil tempat magang pada industri yang punya bagian perencanaan/desainer.
Pembelajaran berbasis produksi dibagi menjadi beberapa tipe antara lain kurikulum berbasis produksi, pelatihan berbasis produksi pendidikan dan pelatihan berbasis produksi. Kurikulum berbasis produksi adalah kegiatan pendidikan dan pelatihan yang menyatu pada proses produksi atau menggunakan proses produksi sebagai media pembelajaran. Pendekatan ini dilakukan dengan tujuan untuk memperkenalkan peserta didik dengan iklim kerja yang nyata. Pelaksanaan pembelajaran bisa dilakukan dengan cara (1) di dunia industri, peserta didik mendapat pelatihan dan pengalaman nyata melalui keterlibatan langsung dalam proses produksi sebagai media pendidikan, (2) di sekolah, peserta didik dilibatkan dalam proses produksi diunit produksi sekolah (3) di sekolah, peserta didik berpraktik diruang praktikum yang menerapkan mekanisme produksi, sehingga tercipta suasana kerja seperti yang ada di industri. Pelatihan harus menghasilkan produk yang memenuhi standar industri dan layak jual dan siswa atau peserta didik mempunyai kesempatan untuk belajar dan bekerja pada mesin-mesin perkakas yang ada untuk mengerjakan modul-modul latihan yang nantinya menjadi barang bernilai jual dan barang-barang praktek industri yang merupakan pesanan indusri atau masyarakat. Tujuan dari pelatihan berbasis produksi (Depdiknas, 1999) adalah (1) membekali peserta dengan kompetensi yang sepadan dengan tuntutan dunia kerja, dan menghasilkan produk/jasa yang laku jual, (2) menanamkan pengalaman produktif dan mengembangkan sikap wirausaha, melalui pengalaman langsung memproduksi barang yang berorientasi pasar. Pelaksanaan pelatihan berbasis produksi di SMK antara lain (1) pelatihan berbasis produksi dilaksanakan
bekerja sama dengan unit produksi atau institusi pasangan, (2) setiap peserta kelompok, dapat dibagi tugas sesuai dengan jenis pekerjaan dan tingkat kompetensi, tetapi tetap dalam prosedur dan standar kerja yang menjamin ketepatan waktu dan hasil pekerjaan yang dituntut konsumen. Jadi setiap peserta dalam kelompok tidak harus mengerjakan suatu produk/jasa secara keseluruhan, (3) keberhasilan pelatihan berbasis produksi harus didukung oleh fasilitas yang siap pakai, guru/instruktur yang memiliki profesionalisme tinggi, kesiapan bekerja, sikap menghargai kepada kualitas, dan sikap komitmen kepada kualitas, (4) basil pembelajaran merupakan produk jadi yang layak jual atau bagian-bagian produk (komponen) yang dapat dirakit menjadi produk yang layak jual.
Menurut Direktorat Pembinaan SMK (2008:132) Production Based Education (PBE) merupakan salah satu pola yang dapat diterapkan sebagai langkah awal dalam mewujudkan teaching factory. Dengan model ini, sekolah dituntut mampu mencari pasar dan manghasilkan suatu produk atau jasa yang dijual kepada masyarakat luas. Hasil penjualan ini kemudian digunakan untuk membiayai praktek selanjutnya serta pembiayaan proses pembelajaran pada umumnya. Dengan pola ini sekolah dapat pula bekerja sama dengan industri untuk memenuhi kebutuhan karyawan bagi industri bersangkutan. PBE menekankan pada pembelajaran keahlian atau keterampilan yang dirancang berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya (real job).
Tujuan Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) Program Keahlian Teknik Pemesinan (Kurikulum SMK 2004), adalah menghasilkan profil tamatan yang mampu: (1) memasuki lapangan kerja dan mengembangkan sikap profesional dalam keahlian Teknik Mesin, khususnya Teknik Gambar Mesin, (2) mampu memilih karir, mampu berkompetisi dan mampu mengembangkan diri dalam keahlian Teknik Mesin, khususnya Teknik Gambar Mesin, (3) menjadi tenaga kerja tingkat menengah untuk mengisi kebutuhan dunia usaha dan industri pada saat ini maupun pada masa yang akan datang dalam keahlian Teknik Mesin, khususnya Teknik Gambar Mesin, (4) dapat menjadi warga negara yang produktif, adaptif dan kreatif.
Ada 3 (tiga) hal yang menjadi tujuan utama dari experiential learning, yaitu selalu berjiwa melayani, bekerja keras, dan tidak pantang
116
menyerah. Langkah-langkah untuk mengintegrasikan pembelajaran di kelas adalah (a) membangun pengalaman dengan memperkenalkan pelajar pada topik dan peliputan materi, (b) melibatkan siswa pada satu pengalaman realistis yang menyediakan gambaran sesuatu pengalaman, (c) pertimbangkan bahasan dari pengalaman yang akan dialami oleh pelajar dan bagaimaria hasil yang akan dicapai, (d) siswa akan merumuskan konsep dan hipotesis dan mengkaitkan pengalaman melalui bahasan dan selanjutnya akan melihat hasil yang dicapai secara perorangan, (e) berilah kesempatan siswa untuk mengadakan percobaan dengan apa yang telah mereka alami untuk membentuk pemahaman dan pengalaman. Dengan demikian siswa aktif terlibat dalam kegiatan melakukan sesuatu dalam pembelajaran. Dalam experiential learning siswa lebih mudah mencapai target yang diharapkan dengan mengalami sendiri pembelajaran tersebut. Juga siswa lebih mudah menerima materi dengan cara mengalami praktek langsung. Dengan demikian siswa akan lebih paham tentang menggambar gambar produksi apabila siswa tersebut langsung untuk ikut praktek didalamnya dan mendapatkan pengalaman.
Pembelajaran pada pendidikan kejuruan dan vokasi harus dilakukan secara kontekstual, atau dalam istilah lain dengan situated learning. Situated learning pada dasarnya merancang pembelajaran yang sama dengan apa yang peserta didik kelak dilakukan setelah lulus. Bila orang menekankan pada belajar situasional, maka kelanjutannya adalah memahami belajar sebagai suatu proses yang aktif, berkesinambungan dan dinilai lebih pada aplikasi pada dunia nyata daripada sekedar perolehan. Jadi pembelajaran situasional dapat diterapkan pada pembelajaran praktek yang membutuhkan situasi nyata seperti suasana dan kondisi dimana kelak para siswa akan bekerja.
Dalam cognitive apprenticeship, dilakukan visualisasi konsep-konsep abstrak, memahami konsep, dan menggunakannya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan kepada para siswa. Apprenticeship (belajar untuk mencapai keahlian tertentu, magang) adalah suatu metode pembelajaran yang menghubungkan pembelajaran dengan dunia nyata. Karena yang dipelajari adalah konsep yang lebih berkaitan dengan kognisi daripada keterampilan, maka pembelajarannya disebut dengan cognitive apprenticeship.
Penelitian mengenai bagaimana individu belajar di tempat kerja menunjukkan pada model konstruktivis, pembelajaran yang disituasikan, seringkali dalam bentuk kegiatan magang. Hasil penelitian menegaskan bahwa fokus pembelajaran harus ada dalam pembentukan pengetahuan individu yang aktif' dan peran utama pendidikan kejuruan untuk mempermudah pembentukan pengetahuan melalui pengalaman, konteks dan sosial pada lingkungan dunia nyata.
Kurikulum Menggambar Teknik Mesin pada Pendidikan Kejuruan dan Vokasi
Sesuai dengan kurikulum SMK tahun 2009 untuk program keahlian pengerjaan logam, maka standar kompetensi menggambar teknik kelas X adalah siswa dapat membaca gambar teknik yang terdiri dari mendeskripsikan gambar teknik, memilih teknik gambar yang benar, dan membaca gambar teknik. Untuk kelas XI standar kompetensinya adalah siswa dapat menggambar bukaan/bentangan geometri lanjut benda silinder dan terdiri dari membuat penandaan/melukis, membuat mal/model, membuat bukaan mal/pola, menginterpretasikan level pekerjaan standar dan simbul yang relevan, dan memperkirakan jumlah material dari gambar detail.
Ditinjau dari kompetensi drafter di industri dengan tingkatan pencapaian kompetensi lulusan SMK yang sesuai dengan kurikulum, tampak masih jauh di bawah standar kompetensi mechanical drafter industri. Hal ini dapat dilihat dari isi kurikulum gambar teknik di SMK yang sedikitpun belum menyentuh penggunaan software gambar sedangkan kompetensi mechanical drafter di industri sudah sampai pada penggunaan software 3D untuk merencanakan. Dari data yang ada pada uraian di atas maka isi kurikulum gambar teknik di pendidikan kejuruan (SMK dan sekolah vokasi) harus disesuaikan dengan kompetensi mechanical drafter yang dibutuhkan industri. Dengan waktu empat semester, akan dapat menyelesaikan bahan ajar yang telah ada dalam kurikulum dan ditambah dengan menggambar dengan program 3D. Secara ringkas kurikulum menggambar teknik di SMK mencakup jenis-jenis garis, gambar proyeksi, gambar perspektif, gambar potongan, gambar pandangan, penunjukan ukuran, memberikan tanda pengerjaan dan toleransi, menggambar dengan software 2D, dan menggambar dengan software 3D. Untuk