• Tidak ada hasil yang ditemukan

117 sekolah vokasi, semua kurikulum menggambar

Dalam dokumen Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta (Halaman 127-130)

pada SMK ditambah dengan merakit gambar dalam 3D, dan menguji animasi gambar. Bila mulai masuk karir sebagai mechanical drafter dari SMK, maka minimal harus ambil kursus penggunaan software 3D melalui kursus. Sesuai dengan temuan di industri, bahwa kompetensi mechanical drafter di industri meliputi merancang, mendesain, dan menggambar komponen mesin menggunakan software 3D dan kemudian merakit serta menguji animasi gambar, sedangkan kompetensi menggambar lulusan pendidikan kejuruan meliputi merancang, mendesain, dan menggambar komponen mesin menggunakan software 2D, maka perencanaan kurikulum menggambar teknik untuk pendidikan kejuruan supaya dapat mencapai kompetensi mechanical drafter di industri dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu jalur kursus atau berlatih dan jalur konsentrasi atau opsi.Pencapaian kompetensi mechanical drafter dapat dicapai dari lulusan SMK lalu mengambil kursus CAD, atau belajar sendiri seperti dapat dilihat pada gambar 1

berikut.

Gambar 1 Wahana Pencapaian Kompetensi

Untuk mencapai penguasaan kompetensi menggambar teknik yang sesuai dengan kompetensi mechanical drafter di industri ada dua jalur yaitu jalur berlatih dan jalur kursus. Jalur pertama adalah berlatih, dimana lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) dapat berlatih sendiri cara menggambar teknik dengan software 3D. Hal ini dimungkinkan karena mereka telah mendapatkan kompetensi menggambar teknik baik secara teori maupun praktek. Dari kurikulum yang ada, menggambar teknik mempelajari dan melakukan praktek menggambar teknik yang memuat gambar proyeksi dan gambar bentuk dari komponen pemesinan. Menggambar teknik diakhiri dengan penggunaan software 2D AutoCAD dan hal ini juga terjadi pada sekolah vokasi.

Untuk berikutnya, penguasaan kompetensi menggambar teknik dengan software 3D dapat dilakukan dengan jalur kursus. Dengan mengikuti kursus menggambar mesin dengan software 3D akan mendapatkan sertifikat kursus. Dengan demikian jika suatu saat ada lowongan kerja drafter di industri, mereka dapat mendaftar dan memasuki kerja dengan tes yang dilakukan. Sertifikat keahlian menggambar 3D kadang menjadi salah satu syarat menjadi drafter. Kadang ada persyaratan kualifikasi, yaitu lulusan S1 atau Diploma 3 Teknik Pemesinan. Sebaiknya lulusan SMK melanjutkan ke sekolah vokasi sampai lulus D3. Untuk selanjutnya lulusan D3 bisa belajar sendiri tentang gambar 3D atau kursus menggambar 3D, namun sebaiknya ambil kursus, sebab mendapat sertifikat sebagai prasyarat dalam mendaftar. Dengan demikian ijazah tetap menjadi syarat utama dalam penerimaan pegawai. Juga surat keterangan yang berupa sertifikat tetap menjadi syarat tambahan untuk bisa mendaftar sebagai mechanical drafter di industri. Kemudian baru tes dan uji coba kerja dapat dilakukan.

Dari gambaran pencapaian kompetensi menggambar dapat disimpulkan bahwa, untuk mencapai kompetensi menggambar yang dibutuhkan industri dapat dilakukan beberapa cara, yaitu belajar sendiri, kursus, dan sekolah formal dan dilakukan setelah lulus SMK atau sekolah vokasi. Untuk menjadi mechanical drafter di industri perlu syarat administrasi dan tes. Persyratan administrasi menyangkut ijazah dan sertifikat (D3/S1 Teknik Pemesinan dan sertifikat menggambar 3D). Untuk tes adalah merupakan uji kemampuan dari kompetensi yang dimiliki sesuai yang ada pada sertifikat. Jalur sekolah yang diharapkan

Untuk menjadikan lulusan sekolah vokasi mempunyai kompetensi menggambar yang sesuai dengan mechanical drafter di industri perlu adanya penataan kurikulumnya. Untuk itu penataan mata pelajaran di sekolah vokasi dapat dilihat pada gambar 2 berikut.

118

Gambar 2

Struktur Kurikulum

Dari gambar di atas dapat dijelaskan bahwa, pada semester satu, dua, tiga, empat kurikulum sesuai dengan sekolah vokasi program teknik pemesinan. Untuk semester lima, diberikan semua mata kuliah yang ada hubungan langsung dengan merencana mesin, kerja produksi dan komunikasi. Dalam merencana mesin yang perlu ditingkatkan kemampuannya adalah elemen mesin, kekuatan bahan, dan pengetahuan mesin. Elemen mesin untuk mengetahui gambaran profil yang digunakan dan menghitung ukurannya, kekuatan bahan untuk menghitung bahan yang digunakan agar mampu menerima beban yang diberikan, pengetahuan teknik untuk mengetahui jenis profil, aturan perakitan dan penyambungannya.

Untuk kerja produksi membahas tentang bagaimana profil dapat dikerjakan, disambung, direkayasa, dan dengan cara apa penyambungan dapat dilakukan. Sedangkan komunikasi untuk memberikan bekal dalam kerjasama yang harus dilakukan baik dengan pimpinan, teman, maupun dengan bagian lain yang terkait seperti bagian gudang untuk konsultasi bahan dan bagian produksi untuk menentukan pengerjaan yang dapat dilakukan.

Dari dua jalur yang dapat digunakan untuk menjadikan kompetensi menggambar teknik lulusan sekolah vokasi sesuai dengan kompetensi mechanical drafter di industri, maka perlu pertimbangan yang matang. Untuk jangka pendek lebih cenderung pada jalur kursus, sebab akan lebih cepat dapat dilakukan. Tetapi untuk jangka panjang, jalur sekolah akan lebih mantap, sebab sekolah dapat memperkuat kompetensi lulusan dengan cara merencanakan kurikulumnya sehingga akan mendapatkan lulusan yang sesuai dengan harapan

Simpulan

1. Kompetensi mechanical drafter di industri permesinan melipti: (a) memahami perintah kepala unit gambar dan perancangan; (2) menguasai penggunaan perangkat lunak (software gambar mesin) 3D, untuk merancang gambar dari komponen dan rakitan sampai proses animasi fungsi dan cara kerja alat atau mesin.

2. Kompetensi mechanical drafter yang menjadi responden pada umumnya sudah mencapai level principal mechanical drafter menurut leveling dari Associates Degree Program in Computer Aided Drafting (ADPCAD, 2010). Kompetensi level ini meliputi kemampuan dalam perhitungan dan analisis gambar yang komplek termasuk pemilihan bahan, toleransi, pengerjaan, dan semua tanda perintah maupun pemilihan dan pengerjaan gambar dari semua gambar teknik baik mesin, elektro, arsitektur dan yang lainnya dengan kualifikasi teknik. 3. Kompetensi mechanical drafter di industri

dapat terbentuk dari kompetensi menggambar menggunakan software 3D, kompetensi menggambar teknik, dan pembentukan drafter di industri dengan pengalaman kerja menggambar. Kemampuan yang mendukung adalah kemampuan dalam mengambil keputusan dan kerjasama tim, sedangkan pengetahuan yang mendukung adalah pengetahuan bahan, pengetahuan alat ukur, pengetahuan elemen mesin, pengetahuan kekuatan bahan, pengetahuan mesin, pengetahuan proses produksi permesinan.

4. Kompetensi mechanical drafter di industri permesinan ini dapat digunakan sebagai dasar pengembangan kurikulum dengan menggambar 3D diberikan di SMK, merakit, menguji animasi gambar, memberikan toleransi diberikan di D3, dan menentukan bahan, proses produksi, dan kerjasama dikembangkan di D4 atau S1

Daftar Pustaka

Ade Rusliana. (2006). Belajar dan pembelajaran. Diambil pada tanggal 25 November 2009, dari http ://smanlsukarai a.com/index.php? option =com content& v=article&id

119

=36:where-did-the-installer-go& catid= 28

:ipa&Itemid=44

Associates Degree Program in Computer-aided Drafting (ADPCAD). (2009). Online classes in computer-aided drafting with career information. Diambil pada tanggal 4 Juni 2010, dari http://cad drafting and design technologi.online classes).

Balai Latihan Kerja Industri (BLKI). (2009). Materi pelatihan berbasis kompetensi sektor logam mesin. Jakarta: Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Becker, Huselid & Ulrich. (2001). A competency-based approach to intercultural relation. Boston: Mcber.

Billet, S. (2008). Constituting the workplace curriculum, dalam Murphy, P. & McCormick, R., Knowledge and Practice; Representations and identity, pp. 61-73. Boud, D. & Nicky, Solomon. (2001). Work-

based learning. Philadelphia: Open University

Bransford, Brown dan Cocking, J. (2000). Design & online learning. Journal of Educational Computing 4, 110-116

Dantes, I. N. (2008). Inovasi pembelajaran. Diambil pada tanggal19 November 2009,

dari http://

profdantes.wordnress.com/2009/09/29/ kurikulum-tingkat¬satuan-endidik an-dan- inovasi-pembelajaran-dalam- kaitannva- dengan¬pembaharuan

Departemen Pendidikan Nasional. (2010). Standar kompetensi kerja Nasional Indonesia (SKKNI) sektor logam mesin. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional. Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar

dan Menengah. (2009). Pembangunan pendidikan SMK. Jakarta : Direktorat Pembinaan SMK

Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi. (2010). Kerangka kualifikasi Nasional Indonesia. Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional Direktorat Pembinaan SMK, Depdiknas. (2006).

Penyelenggaraan SMK berstandar internasional. Jakarta : Direktorat Pembinaan SMK.

Dirjen Dikti (2010). Sosialisasi KKNI. Diambil pada tanggal 5 September 2011, dari (http://www.dikti.go.id/files/ kelem - bagaan/Rujukan %202%20-%20 Sosialisasi %20KKNI-Nasional-%20SV-%20MSA- Agustus% 202011.pdf

Dreyfus, H. & Dreyfus, S. (1986). Mind over machine: the power of human intuition and

expertise in the age of the computer. New York: Free Press.

Finch, C.R. & Crunkilton. (1999). Curriculum development in voca- tional and technical education. Boston: Allyn and Bacon, inc. Gotts, S. (1989). Apprenticeship instruction for

real-world tasks: The coordination of procedures, mental models, and strategies. Review of Research in Education, 15, 97- 169.

Hahn. (2009). Work based learning. Diambil pada tanggal 23 November 2010, dari http://venuemagz.corn/index.php?option=co m content& task — view &I d=494&Itemid=58.

Hayton, G. (1992). Workplace reform and vocational educaton and training, dalam Gonci, A., Developing a competent workforce. Adeaide: NCVER.

Jacobd, R. L. (2003). Structured on-the-job training: Unleashing employee expertise in the workplace. 2ed. San Francisco: Berret- Koehler.

Lave, J. & Wenger, E. (1991). Situated learning: legitimate peripheral participation. Series on Learning in doing: social cognitive and computational perspectives. R. Pea & J.S. Brown, General Editors. Cambridge: Cambridge University Press.

Marshall, J.A. (1996). On the psychology competence. London: Janatan Cape.

Miles, M.B., dan A.M. Huberman. 1994. Qualitative data analysis. 2d ed. Thousand Oaks. CA: Sage Publications.

Muhammad Ramadoni. (2009). Desain componen 3D dengan Catia V.5. Jakarta: Flash Book.

Murdani. (2013). Kompetensi mechanical drafter berbasis industri bidang teknologi pemesinan. Disertasi, tidak dipublikasikan. Universitas Negeri Yogyakarta.

Ratna Wilis Dahar. (1989). Teori-teori belajar. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Spencer, L.M.& Spencer, S.M. (1993). Competence at work. Boston: Gorham & Lambert,

Stemberg. (2009). Situated learning. Diambil pada tanggal 23 November 2010, dari http://situated learning.corn/index.php option=com content & task.view.

Stevenson, J. (2008). Concepts of workplace knowledge. Dalam Murphy, P. & McCormic, R., Knowegde and Practice: Representations and Identity. Los Angeles: Sage.

120

LITERASI INFORMASI DALAM PERKEMBANGAN TEKNOLOGI

Dalam dokumen Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta (Halaman 127-130)

Garis besar

Dokumen terkait