eksplisit disebutkan dalam Peraturan Pemerintah RI No. 29 tahun 1990 bab XI pasal 29 ayat 2: “Untuk mempersiapkan siswa sekolah menengah kejuruan menjadi tenaga kerja, pada sekolah menengah kejuruan dapat didirikan unit produksi yang beroperasi secara profesional”. Pengelolaan Unit Produksi secara profesional tersebut indikatornya tertuang dalam pasal 30 Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 0490/U/I/1992, diantaranya menyebut-kan, bahwa mengorientasikan kegiatan belajar siswa pada jenis pekerjaan yang dapat menghasilkan barang atau jasa yang layak untuk dijual. Perkembangan kebijakan berikutnya, “Unit Produksi merupakan suatu sarana pembelajaran, berwirausaha bagi siswa dan guru serta memberi dukungan operasional sekolah. Untuk manajemen sekolah Unit Produksi merupakan salah satu optimalisasi pemanfaatan sumber daya sekolah” (Dit. PSMK, 2007μ1).
Unit Produksi SMK sebagai model pembelajaran yang merupakan pewujudan dari program penyelarasan, dapat menyerupai model- model pembelajaran dalam pendidikan Teknik dan Kejuruan di beberapa negara, seperti: model Learning Factory yang diselenggarakan di Penn State University (PSU), University of Puerto Rico di Mayaguez (UPRM), dan University of Washington (UW), Co-operative Education Program (Co-op) yang diselenggarakan dilakukan pada School of Engeneering and Computer Science, University of the Pasific di Stockton CA, dan Engineer-Entrepreneur Program yang dilaksanakan di Shamoon College of Engineering. Kemiripan antara model-model pembelajaran tersebut sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Morell (2012, hlm. 2), bahwa “...basically comprises four key elements: 1) learning facilities integrated with hands on learning, 2) competency based curriculum, 3) industry collaboration, and, 4) outcomes assessment for continuous quality improvement”.
Metode Penelitian
Lokasi penelitian ini adalah di wilayah Cirebon, Kabupaten dan Kota, karena pembangunan ekonomi di Cirebon belum
mampu menciptakan kesempatan kerja penuh, dan Indek Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Cirebon sebesar 69,58 yang menempati posisi ke 25 dari 26 Kabupaten/Kota di Jawa Barat (BPS, 2012). Subjek populasi dalam penelitian ini terdiri dari: (1) para pelaksana dan pelaku usaha sektor industri kreatif, dan (2) guru dan siswa SMK yang terlibat dalam kegiatan Unit Produksi SMK. Untuk kebutuhan penelitian ditetapkan subjek sampel, dengan menggunakan teknik purposive sampling, sehingga diperoleh subjek sampel penelitian: (1) para pelaksana dan pelaku usaha kreatif yang mewakili berdasarkan jenis lapangan usaha sektor industri kreatif, (2) Guru dan siswa SMK yang terlibat dalam kegiatan Unit Produksi di SMK yang mewakili berdasarkan jenis program keahlian.
Penelitian ini bermaksud untuk mengembangkan model Unit Produksi SMK, sehingga rancangan penelitian ini adalah penelitian dan pengembangan dengan tahapan sebagai berikut:
1) Fase eksplorasi, yang merupakan studi pendahuluan untuk mengeksplorasi mengenai (a) potensi industri kreatif di Cirebon, (b) potensi dan keberadaan SMK di Cirebon, dan (c) pelaksanan Unit produksi SMK di Cirebon. Temuan dari studi pendahuluan itu dianalisis dengan analisis SWOT sehingga diperoleh model Unit Produksi SMK yang telah divalidasi secara konseptual.
2) Fase pengembangan, dimulai dari kegiatan diskusi kelompok terfokus (focus group discussion, FGD) sampai kepada pelaksanaan uji coba model. FGD berfungsi untuk memvalidasi model secara rasional. Uji coba model adalah untuk memvalidasi model secara empirik, yang berarti model memiliki kesesuaian yang nyata untuk dilaksanakan sebagai program pendidikan. 3) Fase evaluatif, yaitu kegiatan penelitian
untuk mengevaluasi model mengenai tingkat efektivitas, efisiensi, dan fleksibelitas model. Model evaluasi penelitian yang digunakan adalah stake’s countenance model dengan langkah- langkah: (a) perumusan model hasil rujukan
140
teoritis dan empirik dalam format stake’s countenence model disajikan pada kolom standard dari judgement matrix, (b) perumusan model Unit Produksi SMK Three Wheels yang telah divalidasi secara rasional melalui focus group discussion (FGD) disajikan dalam kolom intens pada description matrix, (c) Perumusan model Unit Produksi SMK Three Wheels yang ada pada kolom intens tersebut divalidasi secara empirik melalui uji coba, hasilnya disajikan dalam kolom observations, dan (d) perumusan kebijakan dari analisis kesesuaian disajikan dalam kolom judgement. Uji coba model dilaksanakan di program keahlian Teknik Elektronika Industri SMK Negeri 1 Kota Cirebon, Busana Butik SMK Negeri 2 Kota Cirebon, dan SMK Islamic Center Kabupaten Cirebon.
4) Fase Perumusan model hasil pengembang- an.
5) Desiminasi, Implementasi, dan Institusi- onalisasi.
Jenis metode penelitian yang dilaksanakan adalah metode deskriptif dan metode evaluatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi, wawancara, angket, dan observasi. Aspek-aspek yang menjadi fokus dalam pengembangan model Unit Produksi SMK meliputi: pola penyelenggaraan, pola pengorganisasian, pola pembelajaran, pola penjualan produk, pola evaluasi kegiatan, dan pola pengendalian. Dalam pola pembelajaran, variabel-variabel yang diteliti adalah (1) Minat atau intensi siswa dalam berwirausaha, (2) Indikasi potensi siswa dalam berwirausaha, (3) Kemampuan membuat rencana usaha, (4) Kemampuan menjual produk, (5) Kemampuan membuat desain produk, (6) Kemampuan membuat prototip produk, (7) Kemampuan merakit produk, (8) Kemampuan menyampaikan ide-ide kreatif, dan (9) Sikap siswa dalam pengembangan produk. Data yang telah dinyatakan valid dan reliabel kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif dan statistic process control.
Pembahasan
Merujuk pada kajian teoritis dan empiris (hasil studi pendahuluan) maka model Unit Produksi SMK sebagai wahana pembelajaran Prakarya dan Kewirausahaan sektor industri kreatif itu diperlukan tiga penggerak, yaitu: (1) Learning Factory berbasis pembelajaran paket keahlian, (2) pembelajaran Prakaya dan Kewirausahaan berbasis potensi industri kreatif, dan (3) pendekatan aplikatif untuk transfer pengetahuan berbasis pegalaman pelaku industri kreatif. Tiga penggerak itu berjalan dan berkolaborasi laksana “Tiga Roda (Three Wheels)” dengan sasaran peningkatan keterampilan siswa dalam pengembangan produk kreatif (PPK) dan berwirausaha pada sktor industri kreatif (BSIK). Oleh karena itu, model hasil inovasi Unit Produksi SMK itu disebut model Unit Produksi SMK Three Wheels. Dengan demikian secara definitif, model Unit Produksi SMK Three Wheels adalah wadah pembelajaran tentang berwirausaha pada sektor industri kreatif yang memadukan pengetahuan teoritis dan pengetahuan praktis yang bersumber dari program pembelajaran produktif, pembelajaran Prakaya dan Kewirausahaan, dan potensi industri kreatif (pelaku industri kreatif). Rancangan model Unit Produksi SMK Three Wheels seperti pada gambar 1.
Temuan hasil uji coba tahap antecedents meliputi aspek penyelenggaraan dan pengorganisasian. Pada pola penyelenggaraan, Unit Produksi pada program keahlian Teknik Elektronika Industri di SMK Negeri 1 Kota Cirebon, Busana Butik SMK Negeri 2 Kota Cirebon, dan SMK Islamic Center Kabupaten Cirebon itu belum memiliki badan hukum usaha, maka pada uji coba model Unit Produksi SMK Three Wheels kegiatan kemitraanya dilakukan dengan indutri kreatif Alam Sunyaragi, Sanggar Batik Mahkota, dan Radar Cirebon TV. Secara didaktik, belum menunjukkan adanya kolaborasi antara pembelajaran kewirausahaan, pembelajaran produktif, dan pelaku industri kreatif, sehingga pada penelitian ini dirancang dimana penyelenggaraan Unit tersebut adalah kolaborasi antara pembelajaran kewirausahaan, pembelajaran produktif, dan pelaku industri kreatif. Pada pola pengorganisasian, belum memiliki stuktur organisasi, dalam surat tugas