• Tidak ada hasil yang ditemukan

187 instruksional yang diawali dengan analisis

Dalam dokumen Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta (Halaman 197-199)

instruksional, analisis siswa dan kontek, merumuskan sasaran kinerja, pengembangan instrumen penilaian, mengembangkan strategi pembelajaran, mengembangkan dan memilih materi, dan mengembangkan serta melakukan evaluasi formatif dan sumatif.1

Pendidikan vokasi saat ini menjadi salah satu pilihan yang tepat untuk mesyarakat, karena memberikan bekal kemampuan terapan yang unggul, pengalaman praktek kerja lapangan di industri yang mendekatkan antara pendekatan konseptual dengan pendekatan praktek, dan sesuai dengan harapan orang tua yang ingin anaknya dapat langsung bekerja. Pendidikan vokasi telah dikembangkan sampai dengan jenjang pascasarjana. Politeknik Negeri Media Kreatif merupakan perguruan tinggi negeri dibidang vokasi yang memberikan layanan khususnya untuk pengembangan industri kreatif. Industri kreatif sedang berkembang dan dibutuhkan untuk memenuhi pembangunan ekonomi Indonesia. Politeknik Negeri Media Kreatif (PoliMedia) memiliki 10 Program Studi, diantaranya Program Studi Teknik Grafika, Penerbitan, Desain Grafis, Periklanan, Fotografi, Teknik Kemasan, Animasi, Multimedia, Desain Mode, dan Broadcast. Pada program studi Periklanan proses belajar mengajar lebih interaktif dan membutuhkan bantuan media audio visual sehingga dapat memberikan dorongan yang lebih baik. Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk mencapai kurang lebih 250 juta jiwa memiliki potensi industri kreatif yang sangat besar. Indonesia sangat kaya dengan local wisdom dan local genius yang dapat dikembangkan baik seni, budaya maupun warisan budaya. Menurut Departemen Perdagangan tahun 2007, industri kreatif indonesia saat ini menyumbang PDB sekitar 6,3%. Nilai pasar (sales) tahun 2007 mencapai Rp19 triliun. Sementara pemasukan devisa dari pengembangan industri ini baru sekitar USD2 miliar.

Kajian Pustaka

Pembelajaran vokasi dilakukan dengan pendekatan dan metode yang beragam. Metode yaitu strategi, pendekatan, teknik atau taktik

1 Dick and carey, The Systemstic Design of

Instruction, Sixth Edition (New York: Pearson, 2005) hh 7-361.

dalam pembelajaran. Strategi kadang-kadang dipahami sebagai keseluruhan rencana yang mengarahkan pengalaman belajar, seperti mata pelajaran, mata kuliah, atau modul. Hal ini mencakup cara yang direncanakan oleh pengembang pembelajaran untuk membantu peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran.Pemanfaatan teknologi hybridlearning akan memberikan dampak terhadap peningkatan kompetensi baik kepada Dosen maupun mahasiswa. Pendekatan (approach) menetapkan arah umum atau lintasan yang jelas untuk pembelajaran yang mencakup komponen yang lebih tepat atau rinci. Perhatikan istilah problem-based learning (pembelajaran berbasis masalah), experiential learning (pembelajaran berbasis pengalaman), direct instruction (pembelajaran langsung), dan simulation (simulation). Semua istilah ini merujuk pada pendekatan pembelajaran umum di mana metode (komponen). Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan (Undang- undang Nomor 14 Tahun 2005). Menurut Muhibbin Syah kompetensi adalah kemampuan, kecakapan, keadaan berwenang, atau memenuhui syarat menurut ketentuan hukum2.

Bahan pengajaran adalah bahan-bahan atau materi pelajaran yang disusun secara sistematis yang di gunakan Dosen dan Mahasiswa dalam proses pembelajaran. Dalam modul wawasan pengembangan bahan pengajaran mengungkapkan bahwa bahan pengajaran adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktur dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Modul instruksional dalam sistem pembelajaran mandiri ini mempunyai ciri-ciri: 1) self instruction, bahan dapat dipelajari sendiri; 2) self-explanatory power, bahan pengajaran mampu menjelaskan sendiri dengan bahasa yang sederhana, runut dan tersusun sistematis; 3) self- paced learning, peserta didik dapat mempelajari bahan pengajaran dengan kecepatan yang sesuai dengan dirinya tanpa perlu menunggu peserta didik lainnya; 4) self-contained, bahan pengajaran lengkap dengan sedirinya sehingga peserta didik tidak perlu tergantung pada bahan 2 Muhibbin Syah. Psikologi Pendidikan dengan

Pendekatan Baru. Cetakan 15; Februari 2011, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011)

188

lain; 5) individualized learning materials, bahan pengajaran didesain sesuai dengan kemampuan dan karakteristik peserta didik; 6) flexible and mobile learning materials, bahan pengajaran dapat dipelajari oleh peserta didik kapan saja, di mana saja, dalam keadaan diam, atau bergerak; 7) communicative and interactive learning materials, bahan pengajaran didesain sesuai dengan prinsip komunikasi yang efektif; 8) multimedia, computer-based materials, bahan pengajaran didesain berbasiskan multimedia termasuk pendayagunaan komputer secara optimal; 9) supported by tutorials, and study group, bahan pengajaran masing mungkin membutuhkan dukungan tutorial dan kelompok belajar.3

Hybrid learning dapat didefinisikan menurut Jay Caulfield, sebagai berikut:

Hybrid learning that have reduced “face time” that is replaced by time spent outside the traditional classroom.10Hybrid focus on the percentage of time spent learning in the classroom and the percentage of time spent learning outside the classroom.) Hybrid courses place the primary responsibility of learning on the learner, thus making it the teacher’s primary responsibility to create opportunities and foster environment that encourage student learning, rather than simply telling student what they need to know. Hybrid Teaching adalah the signature pedagogy of hybrid teaching, refers to the interwoven higher level cognitive process involved in structured, outcome-based, student- centered teaching, and learning occuring in multiple environments.4Pengembangan bahan pengajaran hybrid learning merupakan bahan pengajaran yang dikembangkan untuk sistem pembelajaran mandiri bagi siswa sehingga pembelajaran menjadi menyenangkan dan mandiri. Menurut Harding, Kaczynski dan Wood, 2005, Blended learning merupakan pendekatan pembelajaran yang

3 M. Atwi Suparman, Desain Instruksional Modern (Jakarta: Penerbit Erlangga, 2012). hh. 283-285 4 Jay Caulfied, How to Design and Teach a Hybrid

Course, (Virginia: Stylus Publising, 2011), h.187.

5 Christopher Butcher, Clara Davies, dan Melissa Highton, From Module Outline to Effective Teaching (New York: Routledge, 2006), h.130.

mengintegrasikan pembelajaran tradisonal tatap muka dan pembelajaran jarak jauh yang menggunakan sumber belajar online dan beragam pilihan komunikasi yang dapat digunakan oleh Dosen dan Mahasiswa. Pelaksanaan pembelajaran ini memungkinkan penggunaan sumber belajar online, terutama yang berbasis web, dengan tanpa meninggalkan kegiatan tatap muka. Dengan pelaksanaan blended learning, pembelajaran berlangsung lebih bermakna karena keragaman sumber belajar yang mungkin diperoleh. bahan pengajaran juga disebut learning materials (materi ajar) yang mencakup alat bantu visual seperti handout, slides/ overheads, yang terdiri atas teks, diagram, gambar dan foto, dan media lain seperti audio, video, dan animasi.5 Selain

instructional material, material, learning materials, bahan pengajaran juga dikenal dengan istilah teaching materials (bahan pengajaran) yang dipandang sebagai materi yang disediakan untuk kebutuhan pembelajaran yang mencakup buku teks, video dan audio tapes, software computer, dan alat bantu visual.6 Jadi, yang

dimaksud dengan bahan pengajaran di sini adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematis untuk kebutuhan pembelajaran baik bersifat bahan cetak (printed material) maupun yang berwujud audio, visual, video, multimedia, dan materi yang berbasis web.

Pada kinerja guru merujuk pada unjuk kerja yang dilakukan guru dalam melaksanakan tugas dan profesinya. Tugas dan profesi guru mencakup (1) rencana pembelajaran (teaching plans and materials) atau disebut dengann RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran), (2) prosedur pembelajaran (classroom procedure), dan (3) hubungan antar pribadi (interpersonal skill).7 Penilaian terhadap kinerja guru juga dapat diukur melalui delapan indikator, seperti: (1) pengelolaan waktu pembelajaran, (2) 6 Doshisha Kenji Kitao and Doshisha S. Kathleen Kitao, Selecting and Developing Teaching/ Learning Materials (Osaka: Kitao Press, 2009, h. 4.

7 Direktorat Tenaga Kependidikan.

Penilaian Kinerja Guru (Jakarta: Direktoral Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional, 2008), h. 22.

189

Dalam dokumen Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta (Halaman 197-199)

Garis besar

Dokumen terkait