• Tidak ada hasil yang ditemukan

113 komponen Gambar 3D ini kemudian

Dalam dokumen Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta (Halaman 123-125)

dimasukkan ke lembar kerja drafting untuk diberi dimensi dan tanda pengerjaan, bahan yang akan digunakan, dan toleransi dengan mengunakan perangkat lunak AutoCAD 3D. Pembahasan Hasil Penelitian

Kompetensi dapat dibentuk melalui proses pendidikan maupun pengalaman kerja. Kompetensi mechanical drafter di industri merupakan kompetensi menggambar teknik di industri permesinan yang didukung oleh pengetahuan dalam beberapa hal dan sikap yang diperlukan sehingga terbentuk kompetensi mechanical drafter. Untuk itu, maka kompetensi mechanical drafter di industri dapat dibentuk dari kompetensi menggambar menggunakan software 3D, kompetensi menggambar teknik, dan pembentukan drafter di industri dengan pengalaman kerja menggambar. Kompetensi menggambar menggunakan software 3D merupakan kompetensi mechanical drafter di industri permesinan yang wajib dikuasai. Semua perintah gambar selalu diawali dengan benda dalam tiga dimensi dari suatu komponen dari pemesinan. Selanjutnya, gambar komponen tiga dimensi yang telah selesai diakhiri dengan memasukkan dalam gambar isometric yang kemudian dapat diketahui gambar pandangan tampak depan, tampak atas, dan tampak samping. Kompetensi menggambar teknik merupakan kompetensi yang selalu digunakan dalam aktivitas menggambar dengan software 3D. Hal ini terlihat dari semua aturan gambar 3D yang menggunakan aturan gambar teknik, misalnya aturan pandangan, aturan garis, aturan arsir dan lainnya. Kemudian masuk dalam lembar kerja part design dan editing, maka pengetahuan gambar teknik tentang proyeksi tentu digunakan. Selanjutnya menampakkan pandangan, memberi tanda pengerjaan, toleransi, ukuran, sampai memberi etiket gambar adalah menggunakan aturan gambar teknik.

Penguasaan kompetensi mechanical drafter di industry dapat dilakukan melalui latihan atau pengalaman yang dilakukan menurut teori behavioristik. Sesuai dengan teori belajar behavioristik tentang hukum latihan (Ratna Wilis, 1989:23) menyatakan bahwa semakin sering latihan dilakukan maka pemahaman semakin kuat. Hal ini sesuai dengan experiential learning yang dinyatakan.

Penguasaan kompetensi mechanical drafter di industri memerlukan pengetahuan pendukung, yaitu pengetahuan bahan, pengetahuan alat ukur,

pengetahuan elemen mesin, pengetahuan kekuatan bahan, pengetahuan mesin, pengetahuan proses produksi. Kemampuan mengambil keputusan dapat dilakukan pada waktu kerja maupun pada saat komunikasi dengan bagian lain. Kemampuan mengambil keputusan selama bekerja dapat dalam hal menentukan profil yang digunakan sebagai dasar merakit dan menentukan ukuran profil yang digunakan. Kemampuan pendukung yang lain adalah kemampuan kerja sama tim untuk menyelesaikan suatu tugas bersama tim, misalnya dalam pembagian menggambar salah satu menggambar komponen dan satunya lagi menggambar kerangka.

Kompetensi pengetahuan mesin digunakan dalam melakukan pembuatan bentuk gambar yang diinginkan, misalnya seperti apakah bentuk dari piston, yang kemudian diawali dengan menggambar tampak depan atau tampak samping, selanjutnya untuk diberi tempat ring dan diakhiri dengan memasukkan lembar kerja view untuk diberi dimensi gambar. Kompetensi elemen mesin digunakan dalam merakit gambar dan menguji animasi gerakan. Pada waktu merakit gambar, tentu mechanical drafter sudah tahu tentang urutan pemasangan komponen dan penempatannya. Urutan pemasangan untuk menentukan komponen yang digunakan sebagai base, sedangkan penempatan komponen digunakan sebagai penentuan letak komponen dalam pemasangannya (misalnya baut pengikat akan ditaruh pada bagian luar). Dalam menguji animasi gerakan juga harus tahu bagian yang bergerak, ini dalam istilah Gotts (1989)disebut procedural knowledge. Pada bagian rangka, waktu terbebani gerakannya akan melengkung ke arah pembebanan. Kompetensi pengetahuan bahan dapat digunakan sebagai pendukung dalam menentukan jenis bahan yang akan digunakan. Hal ini menyangkut pada waktu memilih bahan di bagian gudang yang tersedia terutama pada sepesifikasinya. Kompetensi kekuatan bahan dipakai dalam menentukan bahan yang kuat terhadap tekanan maupun momen, misalnya pada plat yang digunakan, bagaimana gaya yang harus diterima dan berapa besar gaya, kemudian dihitung untuk menentukan ukuran plat yang aman. Kompetensi penggunaan alat ukur digunakan dalam menentukan ukuran bahan pada waktu komponen akan digambar. Komponen yang bentuknya tidak merata tentu membutuhkan ketelitian dalam mengukur, misalnya

114

sambungan bengkok plat akan ditentukan dari dua ukuran yang tidak sama.

Dari semua kompetensi pendukung dalam melakukan kegiatan kerja, maka akan terbentuk kompetensi mechanical drafter di industri seperti hasil temuan dalam penelitian ini, yaitu mechanical drafter mampu memahami perintah kerja dari pimpinan, mampu menggambar dengan menggunakan software 3D untuk menggambar komponen pemesinan, merakit gambar dalam 3D, menguji animasi gambar, menentukan bahan yang akan digunakan, menentukan proses produksi yang akhirnya gambar dapat diproduksi. Dengan demikian menggambar teknik dengan software 3D selain menguasai penggunaan software menggambar perlu penguasaan kompetensi pendukung yang digunakan dalam kegiatan kerja menggambar. Hal ini sesuai yang dikatakan oleh Muhammad Ramadoni (2009:183) bahwa, software 3D Catia dapat digunakan untuk menggambar komponen, merakit, menentukan bahan dan jumlah bahan, menentukan sambungan yang akan digunakan, serta untuk menguji animasi. Dengan kompetensi utama dan kompetensi pendukung maka akan terbentuk kompetensi mechanical drafter di industri..

Kompetensi kerja sesuai SKKNI, jenjang penggambar di industri dapat dibagi dalam tiga tingkatan, yaitu operator gambar, teknisi gambar, dan ahli gambar. Operator gambar atau juru gambar yang tugasnya menggambar setelah mendapat perintah dari ahli gambar. Jika disesuaikan dengan kompetensi mechanical drafter di industri, maka operator dengan tugas menggambar dalam tiga dimensi untuk komponen dan sampai mendokumentasikan gambar dapat dijabat oleh lulusan SMK. Operator harus mampu menggambar dengan menggunakan software 3D, dari mengoperasikan lembar kerja sketcher tampak depan, mengoperasionalkan lembar kerja part design untuk menentukan gambar dalam tiga dimensi dan kemudian mengedit sesuai dengan benda yang diinginkan sampai selesai. Gambar 3D ini kemudian dimasukkan ke lembar kerja drafting untuk diberi dimensi dan ini dapat dimasukkan pada kurikulum SMK. Untuk teknisi gambar, jabatan di atas operator, bertugas menyelesaikan gambar komponen dengan kompetensi mampu memasukkan gambar tiga dimensi ke dalam lembar kerja drafting yang kemudian memberikan tanda pengerjaan, toleransi, dan etiket gambar komponen. Gambar komponen kemudian dirakit dan diuji animasi

sampai selesai dengan memasukkan ke dalam lembar drafting dan diberi nomor susunan gambar serta etiket gambar dan disimpan (save), kemudian memberikan laporan pada ahli gambar. Kemampuan ini dapat dimasukkan pada kurikulum menggambar mesin sekolah vokasi atau setingkat D3. Ahli gambar merupakan jabatan tertinggi yang tugasnya melapor pada pemberi perintah. Kompetensi ahli gambar, yaitu mampu menjelaskan laporan pada pemberi perintah yang dilanjutkan dengan menganalisis bahan dan proses produksi, merevisi gambar, menghitung biaya bahan dan produksi, ikut bekerja bersama di produksi. Kompetensi dapat dimasukkan dalam kurikulum D4 atau S1. Dengan demikian maka kompetensi mechanical drafter di industri dapat digunakan sebagai standar pengembangan penyusunan kurikulum pendidikan kejuruan setingkat D4 atau S1 dan ini sesuai dengan tingkatan karir ahli gambar dari aturan KKNI, maupun SKKNI.

Pendidikan tertinggi mechanical drafter yang ada di industri adalah S1 teknik mesin. Dengan demikian jika kompetensi mechanical drafter dibentuk dari jalur sekolah maka kurikulum menggambar SMK dan sekolah vokasi supaya menyesuaikan kompetensi mechanical drafter di industri yaitu menggambar komponen dengan software 3D dipelajari di SMK. Kemudian untuk merakit gambar, menguji animasi gambar, merapikan gambar, dan memberi etiket gambar dipelajari di sekolah vokasi (D1, D2, D3 atau Politeknik). Untuk kompetensi kerjasama, pengambilan keputusan dapat melalui pembelajaran di sekolah maupun di tempat kerja.

Implikasi Hasil Penelitian pada Kurikulum

Pendidikan Kejuruan dan Vokasi

Pembentukan kompetensi mechanical drafter di industri dapat dikembangkan melalui proses pendidikan di sekolah formal maupun non formal atau di tempat kerja melalui proses pembelajaran. Untuk pendidikan kejuruan, pembelajaran yang banyak digunakan adalah pembelajaran berbasis kerja, pembelajaran berbasis produksi, pembelajaran berbasis pengalaman, pembelajaran situasional/ kontekstual, pembelajaran magang kognitif, dan pembelajaran di tempat kerja. Pembelajaran berbasis kerja biasa disebut work based learning, adalah pembelajaran yang didasarkan pada kerja seperti yang dinyatakan Boud (2003: 4) bahwa: “work based learning is class or programs that brings together campuses and work organizations to create new learning experiences

115

Dalam dokumen Staff Site Universitas Negeri Yogyakarta (Halaman 123-125)

Garis besar

Dokumen terkait