Inggit Puji Astuti
Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor LIPI Email :
[email protected]
Abstrak—Artocarpus adalah salah satu genus anggota
suku Moraceae. Genus ini dibagi menjadi dua subgenus yaitu Artocarpus subgenus Artocarpus dan Artocarpus subgenus Pseudocoja. Artocarpus subgenus Pseudocoja beranggotakan sekitar 21 spesies yang tersebar dari Sri Lanka sampai ke Kepulauan Solomon dan Australia. Dari 21 spesies tersebut 13 spesies diantaranya terdapat di Malesiana region. Informasi tentang kekayaan
Artocarpus subgenus Pseudocoja di Indonesia masih
sangat terbatas, namun dari beberapa pustaka tercatat ada 11 spesies, itu berarti bahwa di Indonesia ada 84,61 % dari jumlah yang ada di Malesian dan 52,38 % dari jumlah spesies Artocarpus subgenus Pseudocoja di Dunia. Ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan pusat persebaran dari Artocarpus subgenus Pseudocoja. Berdasarkan data yang tercatat di SubBid Registrasi Koleksi, sampai saat ini Kebun Raya Bogor mempunyai koleksi Artocarpus subgenus Pseudocoja sekitar 5 spesies. Ke lima jenis tersebut adalah Artocarpus
altissimus (Miq.) J.J.Sm., Artocarpus glaucus Blume., Artocarpus gomezianus Wall ex Trecul., Artocarpus lacucha Buch.Ham., dan Artocarpus reticulatus Miq.
Dapat dikatakan bahwa Kebun Raya Bogor baru menpunyai koleksi Artocarpus subgenus Pseudocoja sekitar 45,45 % dari Artocarpus subgenus Pseudocoja yang tercatat di Indonesia, sehingga masih diperlukan pengoleksian jenis lainnya, agar koleksi Artocarpus subgenus Pseudocoja di Kebun Raya Bogor itu lengkap. Uraian lebih lengkap tentang koleksi Artocarpus subgenus Pseudocoja di Kebun Raya Bogor disajikan dalam makalah ini.
Kata kunci : Artocarpus, Pseudocoja, Koleksi, Kebun Raya Bogor
PENDAHULUAN
Kebun Raya Bogor adalah kawasan konservasi ex situ yang luasnya 84 Ha dengan total jumlah koleksi sekitar 14585 spesimen yang tergolong dalam 3411 jenis, 1259 marga dan 215 suku. Salah satu marga atau genus tersebut adalah genus Artocarpus, dengan jumlah spesies sebanyak 17 dan 11 lokasi asal tanaman koleksi yang baru dapat teridentifikasi pada tingkat marga /sp (Rismita Sari, dkk, 2010).
Artocarpus adalah salah satu genus dari sekitar 300
genus yang tergolong dalam suku Moraceae. Genus
Artocarpus ini menurut Berg et al (2006) dibagi
menjadi 2 subgenus yaitu Artocarpus dan Pseudocoja. Subgenus Artocarpus mempunyai anggota sekitar 21 jenis yang tersebar dari kawasan Malesiana bagian Barat sampai New Gunea bagian Barat sedangkan subgenus Pseudocoja beranggotakan sebanyak 21 jenis yng tersebar dari Sri Lanka sampai ke Kepulauan Solomon dan Austrakia.
Artocarpus subgenus Pseudocoja ini dibedakan
dari Artocarpus subgenus Artocarpus diantaranya
karena sususnan karangan daunnya, stipula pendek, adanya kelenjar dan titik kelenjar, bentuk buah yang tidak beraturan, ukurannya lebih kecil dan permukaan kulit buahnya halus. Meskipun demikian ada dua spesies anggota Artocarpus subgenus Artocarpus yang buahnya berkulit halus yaitu Arocarpus altilis dan
Artocarpus kemando.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, meskipun Berg et al (2006) telah melaporkan keberadaan
Artocarpus subgenus Pseudocoja dan persebarannya
di Malesiana.akan tetapi informasi tentang Artocarpus subgenus Pseudocoja khususnya di Indonesia belum banyak data dan referensinya terutama terkait tentang kekayaan keanekaragamannya secara pasti. Pemaparan tentang tanaman koleksi Artocarpus subgenus
Pseudocoja di Kebun Raya Bogor ini digunakan
sebagai data awal dengan maksud untuk mengungkap kekayaan keanekaragaman subgenus Pseudocoja di Indonesia. Penelitian ini menjadi penting dan perlu dilakukan agar data tentang kekayaan keaneragaman
Artocarpus subgenus Pseudocoja di Indonesia valid
dan sekaligus menjadi dasar untuk pengembangan spesies-spesies anggotanya, mengingat belum banyak masyarakat yang mengenal dan mengetahui spesies-spesies tumbuhan ini.
METODE
Bahan yang digunakan adalah tanaman hidup koleksi Kebun Raya Bogor dan data tanaman koleksi yang tersimpan di Sub Bidang Registrasi Koleksi PKT Kebun Raya Bogor LIPI serta dilengkapi dengan data referensi tentang Artocarpus subgenus Pseudocoja. Data yang dicatat diutamakan data tentang jenis-jenis dari anggota Artocarpus subgenus Pseudocoja dan persebarannya, sehingga dapat diketahui kekayaan keanekaragaman serta dimana jenis-jenis tersebut dapat ditemukan. Data-data yang terkumpul dapat menjadi informasi tentang keanekaragaman
Artocarpus subgenus Pseudocoja dan persebarannya
di Indonesia.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Keanekaragaman spesies Artocarpus subgenus
Pseudocoja di Malesiana (termasuk Indonesia) dan di
Kebun Raya Bogor.
Tanaman koleksi spesies-spesies anggota
Artocarpus subgenus Pseudocoja di Kebun Raya
Bogor yang saat ini ada umurnya rata-rata sudah diatas 50 tahun, ini menunjukkan bahwa sudah sejak lama spesies-spesies ini diperhatikan, meskipun belum banyak dikembangkan dan digali potensinya untuk dapat dimanfaatkan oleh manusia.
Prosiding Seminar Nasional Biologi-IPA 2013- ISBN: 978-979-028-573-6
Berdasarkan hasil penelusuran pustaka tercatat ada 21 jenis anggota Artocarpus subgenus Pseudocoja di dunia, namun Berg et al (2006) melaporkan bahwa di Malesiana region hanya ada 13 spesies dalam kunci menuju spesies. Ke 13 jenis tersebut adalah
Artocarpus albobrunneus C.C.Berg., Artocarpus altissimus (Miq.) J.J.Sm., Artocarpus fulvicortex
F.M.Jarret., Artocarpus glaucus Blume., Artovarpus
gomezianus Wall ex Trucel., Artocarpus lacucha
Buch-Ham., Artocarpus longifolius Vecc., Artocarpus
nitidus Trecul., Artocarpus reticulatus Miq., Artocarpus rubrovenius Warb., Artocarpus subrutundifolius Elmer., Artocarpus tomentosulus
F.M. Jarret., dan Artocarpus vriesianus Miq.
Data persebaran spesies-spesies anggota subgenus
Pseudocoja yang dapat ditemukan di Indonesia
tersebut berdasarkan laporan Berg et al. (2006) adalah sebagai berikut A.albobrunneus di Kalimantan Timur;
A.altissimus di Sumatra & Borneo (bagian Barat); A.fulvicortex di Sumatra; A.glaucus di Sumatra,
Borneo, Jawa, Kepulauan Sunda Kecil & Kepulauan Tanimbar (Maluku ); A.gomezianus di Sumatra & Jawa; A.lacucha di Sumatra, Borneo, Sulawesi & Kepulauan Aru (Maluku); A.longifolius di Borneo (Kalimantan Tengah); A.nitidus di Sumatra, Borneo & Kepulauan Aru (Maluku); A.reticulatus di Sulawesi & Maluku (Ternate dan Ambon); A.tomentosulus di Borneo; dan A.vrieseanus di Sulawesi (Manado) & Maluku (Bacan). Backer & Bakhuizen v.d, Brink Jr (1965) melaporkan keberadaan A.glaucus dan
A.gomezianus di Jawa.
Sedangkan tanaman koleksi spesies anggota subgenus Pseudocoja di Kebun Raya Bogor tercatat ada 5 spesies yaitu A.altissimus; A.glaucus;
A.gomezianus; A.lacucha dan A.reticulatus. Dimana
tanaman koleksi tersebut masing-masing berasal dari tempat yang berbeda, A.altissimus dari Lampung (Sumatra) A.glaucus dari.Jawa; A.gomezianus dari Jawa; A.lacucha dari Sumatra Utara; dan A.reticulatus dari Sulawesi Utara
Berg et al (2006) melaporkan bahwa A.lacucha sebagai nama dengan konsep spesies yang valid saat ini dimana spesies ini dibedakan berdasarkan bentuk buahnya menjadi kelompok dengan bentuk buah “lacucha”, kelompok dengan bentuk buah “dadah”, kelompok dengan bentuk buah “fretessii”, kelompok dengan bentuk buah “peltatus”, kelompok dengan bentuk buah :ovatus”, dan kelompok dengan bentuk buah “refractus”.dimana konsep spesiesnya terwakili
A. lacucha. Selain itu A. nitidus mempunyai beberapa
subsp yaitu subsp “nitidus”, subsp “griffithii”, subsp “ borneensis”, subsp subsessilis”
Namun berdasarkan pada The International Plant
Name dan The Plant List nama Artocarpus dadah Miq
merupakan nama yang valid, demikian juga dengan nama Artocarpus lakoocha Roxb. adalah nama yang valid dengan sinonimnya Artocarpus lacucha Buch-Ham ex. D.Don. Adanya kondisi seperti ini disarankan untuk tetap mengacu pada Berg et al (2006).
Pertelaan
Agar masyarakat lebih mengenalkan spesies-spesies Artocarpus subgenus Pseudocoja, sebagai contohnya akan diuraikan pertelaan dari tanaman koleksi yang ada di Kebun Raya Bogor.sebagai berikut :
• A.altissimus
Pohon tingginya dapat mencapai sampai 30 m, kadang-kadang dengan banir. Rantingnya tebal 1.5 – 3 mm, berbulu kecoklatan sampai keputihan, kadang-kadang dilengkapi dengan rambut-rambut yang halus, berwarna coklat gelap sampai hitam. Daun, duduk daun berseling berhadapan, helaian daun seperti kulit sampai seperti kertas, utuh atau berlobus 3 - 5 saat muda, bulat telur – setengah membulat telur – elip – elip menyempit, 6 – 20 cm panjangnya, 5 – 13 cm lebarnya, ujung helaian daun meruncing, pangkal daunnya menjantung – setengah menjantung – membulat, tepi daun bergerigi, berkelenjar, mengulung ke dalam, permukaan helaian daun bagian atas hijau halus dengan bulu berwarna keputihan atau kecoklatan. Perbungaan jantan muncul di ketiak daun atau menempel pada tunas muda dari batang kayu yang sudah tua, tankai perbungaan pendek 5 – 7 mm panjangnya, kecoklatan, kepala elip – silinder, 5 – 8 mm panjangnya, 2 - 3 mm diameternya. Perbungaan betina muncul di ketiak daun atau menempel pada tunas muda dari batang kayu yang sudah tua, tangkai perbungaan 12 mm panjangnya, kecoklatan, kepala bulat.
• A glaucus
Pohon tingginya mencapai 40 m, kadang-kadang berbanir, rantingnya tebal 1,5 – 4 mm, berbulu keputihan sampai kecoklatan, jarang berbulu keputihan sampai kecoklatan, halus, coklat pucat sampai coklat gelap bila kering. Daun : duduk daun berseling berhadapan, helaian daun seperti kulit, saat muda utuh atau berlobus 3 – 5, elip –melonjong, 10 – 20 cm panjangnya, 4 – 12 cm lebarnya, ujung helaian daun meruncing, pangkal helaian daun membulat, tepi helaian daun rata-bergerigi, permukaan bagian atas gundul, halus; permukaan bagian bawah sedikit berbulu, tangkai daun 1 – 2,5 cm panjangnya, 1 – 2,5 mm tebalnya. Perbungaan jantan muncul di ketiak daun, sendiri atau berpadangan, tangkai perbungaan 1 – 3 mm panjangnya, sedikit berbulu coklat, kepala silinder – elip, 10 – 15 mm panjangnya, 2 – 4 mm diameternya.Perbungaan betina muncul di ketiak daun, sendiri, tangkai perbungaan 2 – 5 mm panjangnya, kepalanya setengah membulat. Buah berbentuk membundar, permukaan kulit buah tidak rata, hijau saat muda berubah menjadi kekuningan saat matang • A.gomezianus
Pohon tingginya , mencapai 40 m, rantingnya 2 - 4 mm tebalnya, berbulu keputihan, halus, coklat kering sampai coklat tua. Daun: duduk daun berseling berhadapan, helaian daun seperti kulit utuh, 10 – 25 cm panjangnya, 6 – 16 cm lebarnya, ujung helaian daun meruncing, pangkal daun setengah menjantung – membulat, tepi daun rata, permukaan bagian atas helaian daun dengan pertulangan daun sedikit berbulu
Prosiding Seminar Nasional Biologi-IPA 2013- ISBN: 978-979-028-573-6
kecoklatan - keputihan, halus, permukaan daun bagian bawah dengan urat daun berbulu kecoklatan - keputihan, halus, tangkai daun 1,5 - 3 cm panjang, tebalnya 1,5 – 2,5 mm. Perbungaan jantan muncul di ketiak daun, sendiri, tangkai perbungaan 5 - 15 mm panjangnya, sedikit berbulu putih, kepala melonjong – setengah membulat, diameter 10 – 15 mm. Perbungaan betina muncul di ketiak daun, sendiri, tangkai perbungaan 15 - 45 mm, kepala melonjong - setengah membulat. Buah membulat panjang, permukaannya halus, saat muda berwarna hijau muda berubah menjadi kuning saat masak, daging buahnya kuning keorangean.
• A.lacucha
Pohon tingginya mencapai 40 m, rantingnya 1.5 - 5 mm tebalnya, coklat sampai kekuningan, berbulu coklat, halus, coklat kering sampai hitam, dengan atau tanpa tunas pendek yang panjangnya 5 mm pada kayu yang tua. Daun: duduk daun berseling berhadapan, helaian daun seperti kulit - kertas , utuh, atau menjari tiga lobus saat muda, elip, 10 – 30 cm panjangnya, 6 – 17 cm lebarnya, ujung helaian daun meruncing, pangkal daun setengah menjantung – membulat, tepi daun kadang-kadang rata, permukaan bagian atas helaian daun dengan pertulangan daun sedikit berbulu kecoklatan - keputihan, halus, permukaan daun bagian bawah dengan urat daun berbulu kecoklatan - keputihan, halus, tangkai daun 0,8 - 2 cm panjang, tebalnya 1,5 – 3 mm. Perbungaan jantan muncul di ketiak daun, sendiri, atau 1 – 5 pada tunas muda yang pendek pada kayu yang tua tangkai perbungaan 3 – 35 mm panjangnya, kepala membulat-elip-clavate atau pulvinate, panjang 3 cm, diameter 3 – 15 mm. Perbungaan betina muncul di ketiak daun atau dibawah daun, sendiri, tangkai perbungaan 10 – 80 mm, kepala setengah membulat – melonjong. Buah membulat - tidak beraturan, permukaannya halus, saat muda berwarna hijau muda berubah menjadi orange saat masak, daging buahnya orange – merah muda- orange kemerahan
• A.reticulatus
Pohon tingginya , mencapai 30 m, dengan banir yang pendek, rantingnya 3 - 6 mm tebalnya, , berbulu coklat, halus, coklat kering sampai keabu-abuan, Daun: duduk daun berseling berhadapan, helaian daun seperti kulit elip – setengah melonjong, 15 – 35 cm panjangnya, 8 – 16 cm lebarnya, ujung helaian daun meruncing, pangkal daun membulat, tepi daun rata, permukaan bagian atas helaian daun dengan ibu tulang daun sedikit berbulu kecoklatan - keputihan, halus, permukaan daun bagian bawah dengan ibu tulang daun dan urat daun berbulu kecoklatan, halus, tangkai daun 0,8 - 2 cm panjang, tebalnya 1,5 – 3 mm. Perbungaan jantan muncul di ketiak daun (atau pada ketiak tunas yang pendek), sendiri, atau berpasangan,jelas, tangkai perbungaan 8 13 mm panjangnya, kepala melonjong - setengah membulat, diameter 1,5 cm. Perbungaan betina muncul di ketiak daun, sendiri, tangkai perbungaan 2,5 – 4,5 cm, kepala setengah membulat – elip.
Potensi
Seperti buah nangka umumnya, sebagian besar buah dari spesies anggota subgenus Pseudocoja juga dapat dimakan, dengan rasa manis asem. Buah ini mempunyai nama lokal yang dikenal dengan sebutan buah tampang, dadah, nangka monyet. Astuti & Munawaroh (2012) melaporkan bahwa buah dari
Arocarpus nitidus subspesies graffitii banyak dimakan
masyarakat di sekitar hutan di Kabupaten Lampung Barat. Buah tersebut ternyata dapat diolah secara konvensional untuk menghasilkan produk sirup dan selai. Demikian pula dengan buah dari Artocarpus
lacucha juga dapat diolah dan menghasilkan produk
sirup dan selai (Astuti & Sri Rahayu, 2012).
Pembahasan
Dari hasil di atas diperoleh data bahwa spesies-spesies anggota subgenus Pseudocoja yang ada di Malesiana region sebanyak 13 spesies, sedangkan yang dapat ditemukan di Indonesia tercatat ada 11 spesies sama dengan 84,61 % dari jumlah spesies di kawasan Malesiana, sehingga ini dapat pula diasumsikan bahwa Indonesia adalah sebagai pusat persebaran dari spesies-spesies anggota subgenus
Pseudocoja. Bila dibandingkan dengan jumlah
spesies-spesies anggota subgenus Pseudocoja yang ada di Indonesia dengan yang ada di dunia sama dengan 52,38 %.. Sedangkan jika dihubungkan dengan jumlah spesies anggota subgenus Pseudocoja koleksi Kebun Raya Bogor, maka jumlah tersebut baru sekitar 45,45 % dari Artocarpus subgenus Pseudocoja yang tercatat di Indonesia, Ini berarti bahwa Kebun Raya Bogor masih harus menambah jumlah spesies anggota subhenus Pseudocoja yang belum terkoleksi, sehingga semua spesies yang ada di Indonesia dapat dikoleksi . Adapun spesies-spesies anggota subgenus Pseudocoja yang dapat ditemukan di Indonesia dan belum dikoleksikan di Kebun Raya Bogor dalah A.
albobrunneus; A.fulvicortex; A.longifolius; A.nitidus; A.tomentosulus; dan A.vrieseanus. Untuk mengoleksi
ke 6 spesies tersebut Kebun Raya Bogor dapat melakukannya melalui program kegiatan eksplorasi ke kawasan dimana spesies-spesies tersebut dapat ditemukan.
Data persebaran spesies-spesies Artocarpus subgenus Pseudocoja koleksi Kebun Raya Bogor baru yang berasal dari sebagian wilayah Jawa, Sumatra dan Sulawesi, pada hal daerah persebaran spesies-spesies
Artocarpus subgenus Pseudocoja seperti yang
dilaporkan oleh Berg et al (2006) di Indonesia adalah di Jawa, Sumatra. Borneo (Kalimantan), Sulawesi, Maluku dan Kepulauan Suda Kecil
Sehingga berdasarkan data persebaran dari spesies-spesies anggota subgenus Pseudocoja di Indonesia dapat diinformsikan sebagai berikut spesies subgenus
Pseudocoja yang dapat ditemukan di Pulau Jawa
adalah A.glaucus, dan A.gomezianus, spesies yang ditemukan di Pulau Sumatra yaitu A.altissimus,
A.fulvicortex, A.glaucus, A.gomezianus, A.lacucha dan A.nitidus. Sedanfkan spesies subgenus Pseudocoja
yang dapat ditemukan di Kalimantan (Borneo) antara lain A.albobruneus, A.altissimus, A,glaucus, A.lacucha, A.longifolius dan A.nitidus. Spesies
Prosiding Seminar Nasional Biologi-IPA 2013- ISBN: 978-979-028-573-6
Sulawesi yaitu A.lacucha, A.reticulatus dan
A.vriesianus; spesies yang ditemukan di Kepulauan
Maluku adalah A.glaucus, A.gomezianus, A.nitidus,
A.reticulatus dan A.vriesianus serta spesies yang
ditemukan di Kepulauan Sunda Kecil adalah
A.glaucus.
Oleh karena itu melihat persebaran masing-masing spesies anggota subgenus Pseudocoja dapat diinformasikan bahwa A.glaucus adalah spesies dengan daerah persebaran terluas, diikuti
A.gomezianus, A.lacucha dan A.nitidus, selanjutnya A.altissimus, A.reticulatus dan A.vriesianus.
Sedangkan A.fulvicortex hanya ditemukan di Sumatra serta A.albobruneus dan A.longifolius hanya ada di Kalimantan (Borneo)
Bila ditinjau dari pemanfaatan potensinya, selama ini kelompok genus Artocarpus yang sudah dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat serta mempunyai nilai ekonomi adalah spesies-spesies dari anggota subgenus Artocarpus seperti nangka, cempedak, sukun dan kluwih Sedangkan spesies-spesies anggota subgenus Pseudocoja belum banyak diketahui dan dimanfaatkan seperti kayaknya nangka, cempedak, sukun dan kluwih, oleh sebab itu untuk mengenalkan spesies-spesies anggota subgenus Pseudocoja bukanlah suatu hal yang mudah, meskipun banyak masyarakat di sekitar hutan khususnya anak-anak telah mengonsumsi buahnya. Tidak demikian pula halnya dengan masyarakat di perkotaan yang memang tidak mengenal spesies ini baik bentuk pohon maupun buahnya. Maka pemaparan tentang Artocarpus subgenus Pseudocoja koleksi Kebun Raya Bogor ini memang tepat dan efektif sebagai sarana memperkenalkan spesies-spesies tersebut
PENUTUP
Koleksi spesies-spesies anggota Artocarpus subgenus .Pseudocoja di Kebun Raya Bogor sebanyak 5 spesies yaitu A.altissimus, A.glaucus, A.gomezianus,
A,lacucha dan A,reticulatus. Jumlah koleksi spesies
anggota subgenus Pseudocoja tersebut hanya 45,45 % dari jumlah spesies yang ada di Indonesia, diperlukan penambahan koleksi melalui kegiatan eksplorasi ke wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku dan Kepulauan Sunda Kecil.
Koleksi spesies anggota subgenus Pseudocoja di Kebun Raya Bogor setelah dipadukan dengan data anggota subgenus Pseudocoja di Indonesia yang diperoleh dari referensi dapat disampaikan bahwa
A.glaucus mempunyai daerah persebaran yang paling
luas dibanding dengan spesies lainnya (Jawa, Sumatra, Kalimantan, Kepulauan Maluku & Kepulauan Sunda Kecil).
Buah dari spesies anggota subgenus Pseudocoja umumnya dimakan mentah oleh masyarakat disekiatar hutan, terutama anak-anak. Buah ini ternyata dapat dioleh secara konvensional untuk memproduksi sirop dan selai.
DAFTAR PUSTAKA
[23] Astuti, I.P. dan Esti Munawaroh. 2012 Buah Tampang (Artocarpus nitidus subsp griffithii) dan Potensinya. Prosiding Seminar Nasional Proses Biologi dan Kimia Dalam Industri Yang berwawasan Lingkungan. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Nusa Bangsa. Bogor.
[24] Astuti, I.P. dan S. Rahayu. 2012. Potensi Buah Lakuca (Artocarpus lacuchai Buch-Ham) Sebagai Sumber Bahan Pangan Olahan. Prosiding Seminar Bersama Peragi-Perhorti-Peripi – Higi, Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor
[25] Backer, R.C. and Bakhuizen v.d. Brink, Jr. 1965. Flora of Java, Volume II. N.V.P. Noordhoff Groningen – The Netherlands. 19
[26] Berg, C.C., E.J.H. Corner and F.M. Jarrett. 2006. Moraceae (genera other than Ficus) Flora Malesiana. Series I – Seed Plants Volume 17/Part 1 – 2006. National Herbarium Nederland. Leiden.107 -126.
Prosiding Seminar Nasional Biologi-IPA 2013- ISBN: 978-979-028-573-6