• Tidak ada hasil yang ditemukan

Denti Dwi Lestar

Dalam dokumen KOPI CAFE DAN CINTA Antologi Cerpen Beng (Halaman 152-157)

Aku dan calon pacarku belum menjalin hubungan lebih jauh menjadi sepasang kekasih. Banyak sekali perbedaan diantara kami, kami berdua memutuskan untuk mencari persamaan kami terlebih dahulu sebelum menjalin hubungan yang lebih jauh.

Pagi ini kami berdua akan bertemu di sebuah danau yang sering sekali kami kunjungi semasa SMA, kami akan kembali bertemu disana setelah tiga tahun kami tidak bertemu untuk belajar di perguruan tinggi. Aku sampai duluan di danau itu, dan menunggu Andi di sebuah kursi yang sekarang sudah terkelupas catnya. Sudah sekitar tiga puluh menit aku menunggunya datang, tapi Andi lama sekali.

“Arini?” Terdengar suara lelaki memanggil namaku. Aku me- noleh ke arah suara itu. Terlihat seorang lelaki yang tinggi, berkulit sawo matang yang berlari ke arahku. Dia semakin dekat ke arahku sambil terseyum. Aku ikut terseyum untuk membalas senyumannya.

“Maain aku ya lama, tadi macet, kan lagi pada mudik.” Aku

terseyum.

“Kamu lama, bosan aku nunggu kamu.” Sambil membalik mem- belakangi Andi. Andi menarik tanganku sampai tubuhku terhempas ke arahnya, membuat kami saling bertatap mata. Cukup lama kami saling menatap. Aku mengalihkan perhatianku dan melepaskan tanggannya. Rasanya aneh, dadaku berdebar, aku pun duduk di kursi taman dekat danau. Andi mendekat, dan duduk di sampingku.

“Terus gimana sama hubungan kita, perbedaan yang ada di antara kita tidak dapat disamakan, karena apa yang ada pada kamu dan pada aku itu bawaan dai lahir, dan jika kita merubahnya maka orangtua kita yang akan turun tangan untuk menggagalkan hubungan kita.”

“Iya, aku tahu. Tapi paling tidak kita memiliki sedikit persamaan. Benar kan?”

Kami berdua berdiam diri di kursi dekat danau itu, mengharapkan datangnya suatu keajaiban agar kami berdua terlahir kembali menjadi sepasang tanpa adanya perbedaan yang menghambat hubungan kami.

“An, ak punya ide.”

“Apa? Apa itu bisa membuat persamaan diantara kita?” “Iya, kamu kidal kan?”

“Iya, apa hubungannya?” Andi mulai bingung mendengar perkataanku.

“Itu hubungannya, kamu kidal dan aku tidak. Aku belajar menggunakan tangan kiri dan kamu belajar menggunakan tangan kanan. Setelah kita bisa kita mempunyai persamaan kan An?” Aku terseyum bahagia. Terdengar aneh memang, tapi jika itu terjadi akan menjadi kisah yang sangat menarik untukku.

“Kamu benar sih Rin, aku setuju. Terus kapan kita bisa mulai belajar?”

“Secepatnya? Kita praktekan ini di rumah juga, di mana-mana. Tapi kita juga harus menyeimbangkan kedua tangan kita. Jangan dominan di salah satu tangan saja.”

“Ok sayang. Ya sudah sekarang kita makan yuk. Ajak Andi.” “Boleh.” Kami berdua pegi dari danau dan menuju ke rumah makan cepat saji di sekitar danau. Di sana aku memesan makanan favoridku, begitu juga Andi. Kita menyadari perbedaan makanan yang kami pesan. Tapi minuman yang kami pesan sengaja kami campurkan agar memiliki rasa yang sama. Perpaduan di antara minuman kami ini kami berdua harapkan dapat berpadu juga di dalam hubungan kami berdua.

Aku makan menggunakan tangan kiri, sedangkan Andi yang biasanya menggunakan tangan kiri menjadi makan dengan tangan kanan. Dia terlihat kaku menggunakan tangan kanan, sedangan aku juga tidak lebih baik dari dia. Kami tertawa melihat ini semua. Untuk menjadi sama ternyata tidak mudah.

Hari demi hari kami berusaha belajar untuk menjadi sama. Banyak hal yang biasanya aku lakukan dengan tangan kanan sekarang aku lakukan dengan menggunakan tangan kiri. Orangtuaku menyadari

perubahan ini, awalnya mereka memuji aku karena aku beusaha menyeimbangkan kedua tangganku. Tapi lama kelamaan mereka menjadi tidak suka dengan perubahan ini. Memang wajar orangtuaku tidak suka dengan perbedaan ini. Makan memang pada umumnya seharusnya menggunakan tangan kanan, bahkan itu diwajibkan. Tapi aku yang sudah biasa menggunakan tangan kanan berubah menjadi menggunakan tangan kiri.

Orangtuaku semakin geram dengan perilakuku, akhirnya papa meminta mama untuk menegurku. “Nak, kamu boleh saja meng- gunakan tangan kirimu, tapi tidak semua hal harus kamu lakukan dengan tangan kiri.” Kata mamaku.

“Makan itu menggunakan tangan kanan.” Bentak papaku yang mulai membenci aku. “Kalau seperti ini, papa tidak menyetujui hubungan kamu dengan Andi.”

“Jangan pa, Arini akan tetap belajar menggunakan tangan kiri, tapi Arini juga akan belajar untuk membedakan fungsi tangan kanan dan tangan kiri.” Papa hanya mengangguk dan pergi, sedangkan mama menyusul papa dari belakang. Aku merenungi perkataan mama dan papa. Mereka memang ada benarnya. Etika makan memang menggunakan tangan kanan, aku tahu tapi kenapa aku melakukan kesalahan? Mungkin selain aku belajar menggunakan tangan kiri aku juga harus tahu fungsi kedua tangan yang aku miliki ini. Aku menghubungi Andi dan memintanya untuk menemui aku di danau.

“Kenapa Rin, kok kamu sedih? Capek ya pake tangan kiri?” tanya Andi cemas.

“Bukan, orangtuaku marah aku makan dengan tangan kiri.” “Ehhm, bukannya kamu yang bilang kalau makan itu memang harus pake tangan kanan. Tapi kenapa kamu makan pake tangan kiri?”

“Kan biar sama kayak kamu An.”

“Iya sih, memang. Tapi aku juga baru sadar kalau makan seharusnya memang pake tangan kanan. Orangtuaku saja suka aku mulai belajar makan dengan tangan kanan.”

“Ehhmm, brarti sebenarnya aku yang salah. Aku yang punya ide, tapi aku sendiri yang nggak paham maksudnya. Ya sudah kita berdua makan dengan tangan kanan dan belajar main bulu tangkis dengan menggunakan tangan kiri.”

“Iya sayang. Aku setuju. Ya udah sekarang main bulu tangkis yuk.” Ajak Andi.

Seharian penuh aku meluangkan waktuku untuk belajar bermain bulu tangkis dengan menggunakan tangan kiri. Setelah berjam jam kami berdua berlatih, kami kelelahan dan mencari makan di emperan jalan.

“Ayo makan dengan tangan kanan An.” Ajakku girang. “Ayo. Makan makan.” Andi menggandeng tanganku.

Sekarang semuanya sudah seimbang. Kami berdua sudah memiliki persamaan. Dan kami berdua meresmikan hubungan kami menjadi sepasang kekasih.

Sepulang dari makan aku memberitahukan berita ini kepada orangtuaku. Aku menceritakan hubunganku dengan Andi saat makan makan malam.

“Pa, ma aku ada berita bagus sekarang.” Aku terseyum. “Apa nak.” Tanya mama.

“Sekarang aku dan Andi sudah resmi pacran lho. Kita sudah ada persamaan seperti yang papa mama mau”.

“Astairullah. Maksud papa bukan persamaan bisa pake tangan

kanan dan kiri. Kamu nggak tahu maksud papa nak?” Papa tidak melanjutkan makannya.

“Jangan sama Andi ya!” Perintah mama dan langsung mening- galkan tempat makan.

Aku hanya tiggal sendirian berada di ruang makan. Aku tahu sih maksud papa Tapi masak hanya karena perbedaan kami berdua dipisahkan. Bukannya perbedaan itu indah? Aku terdiam merenungi perkataan papa, tiba-tiba telefonku bordering, setelah aku buka ternyata dari Andi, dia memintaku menemuinya di danau, aku segera bergegas ke danau. Aku ingin cepat bertemu dengan Andi dan menceritakan perkataan papa dan mama tadi.

Kami berdua sampai di danau bersamaan, wajah Andi terlihat sangat sedih. Aku bingung, apa dia mendadak akan kembali ke Bandung? Aku masih menebak- nebak.

“Kamu kenapa sedih An?” Tanyaku khawatir.

“Orangtuaku menentang hubungan kita kalau hubungan kita lebih dari teman”. Aku menunduk mendengar perkataan Andi tadi.

“Kamu sedih ya?” Aku hanya mengangguk.

“Aku juga sama kayak kamu An.” Andi kaget dan mendekati aku. “Apa ide kamu? Maaf aku juga bingung. Aku takut menentang orangtuaku.”

“Aku rasa mereka benar, kita seharusnya menjadi sahabat bukan sepasang merpati.” Setelah aku berkata seperti itu, aku meninggalkan Andi. Selama beberapa minggu kami tidak saling berkomunikasi. Ddan tiba-tiba di suatu pagi aku mendapatkan undangan pernikahan Andi dengan seorang wanita yang sudah dipilihkan orangtuanya.

Dalam dokumen KOPI CAFE DAN CINTA Antologi Cerpen Beng (Halaman 152-157)