• Tidak ada hasil yang ditemukan

Diatribusikan kepada Pemilik Entitas Induk

Dalam dokumen TLKM Annual Report 2012. pdf (Halaman 104-108)

Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meningkat sebesar Rp1.885 miliar, atau 17,2%, dari Rp10.965 miliar pada 2011 menjadi Rp12.850 miliar pada 2012.

J. Laba Bersih per Saham

Laba bersih per saham meningkat sebesar Rp109 atau 19,5%, dari Rp560 di tahun 2011 menjadi Rp669 di tahun 2012.

Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2011 dibandingkan dengan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2010

A. Pendapatan

Jumlah pendapatan meningkat sebesar Rp2.624 miliar, atau 3,8%, dari Rp68.629 miliar pada tahun 2010 menjadi Rp71.253 miliar pada tahun 2011. Peningkatan pendapatan di tahun 2011 terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan data, internet dan jasa teknologi informatika, jaringan dan jasa telekomunikasi lainnya yang diimbangi dengan penurunan pendapatan telepon tidak bergerak, pendapatan telepon seluler dan interkoneksi. Pendapatan telepon seluler, yang merupakan komponen terbesar dari pendapatan usaha kami, menunjukkan sedikit penurunan sebesar Rp536 miliar, atau 1,8% di tahun 2011.

1. Pendapatan Telepon

Pendapatan Telepon Seluler

Pendapatan telepon seluler menurun sebesar Rp536 miliar, atau 1,8%, dari Rp29.134 miliar pada tahun 2010 menjadi Rp28.598 miliar pada tahun 2011 terutama disebabkan oleh penurunan pendapatan pemakaian, yang diimbangi dengan

peningkatan pendapatan fitur.

Pendapatan pemakaian menurun sebesar Rp835 miliar, atau 3,0%, dari Rp28.024 miliar di tahun 2010 menjadi Rp27.189 miliar di tahun 2011 disebabkan oleh penurunan pemakaian lokal. Penurunan pada pendapatan pemakaian diimbangi dengan peningkatan pada pendapatan

fitur sebesar Rp256 miliar, atau 44,0%, dari

Rp582 miliar di tahun 2010 menjadi Rp838 miliar di tahun 2011.

Pendapatan Sambungan Telepon Tidak Bergerak

Pendapatan sambungan telepon tidak bergerak menurun sebesar Rp1.321 miliar, atau 10,2%, dari Rp12.940 miliar pada tahun 2010 menjadi Rp11.619 miliar pada tahun 2011. Penurunan pendapatan sambungan telepon tidak bergerak terutama disebabkan oleh penurunan pada pendapatan pemakaian sebesar Rp1.173 miliar, atau 12,6%, dari Rp9.287 miliar pada tahun 2010 menjadi Rp8.114 miliar pada tahun 2011 yang disebabkan oleh penurunan pemakaian lokal dan SLJJ. Kemudian, pendapatan abodemen bulanan juga menurun sebesar Rp247 miliar, atau 7,6% di tahun 2011. Penurunan pendapatan sambungan telepon tidak bergerak ini terutama disebabkan oleh penurunan penggunaan layanan telepon tidak bergerak karena pelanggan beralih ke teknologi baru.

2. Pendapatan Data, Internet dan Jasa

Teknologi Informatika

Pendapatan data, internet dan jasa teknologi informatika meningkat sebesar Rp4.123 miliar, atau 20,8%, dari Rp19.801 miliar pada 2010 menjadi Rp23.924 miliar pada tahun 2011. Peningkatan pendapatan ini terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan internet, komunikasi data dan jasa teknologi informatika sebesar Rp2.443 miliar, atau 29,4%, dari Rp8.297 miliar di tahun 2010 menjadi Rp10.740 miliar di tahun 2011. Peningkatan ini sebagian disebabkan oleh peningkatan pelanggan Speedy sebesar 8,5%, dari 1,6 juta pelanggan di tahun 2010 menjadi 1,8 juta pelanggan ditahun 2011, dan peningkatan pelanggan Flash sebesar 45,7%, dari 3,8 juta pelanggan di tahun 2010 menjadi 5,5 juta pelanggan di tahun 2011. Peningkatan ini juga disebabkan oleh peningkatan volume data yang melalui jaringan VPN sebesar 18,4%, dari 24.237 Mbps menjadi 28.702 Mbps, dan peningkatan volume data yang melalui metro ethernet sebesar 131,0%, dari 60.924 Mbps menjadi 140.733 Mbps.

Pendapatan SMS juga berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan sebesar Rp1.804 miliar atau 16,0% dari Rp11.289 miliar pada tahun 2010 menjadi Rp13.093 miliar pada tahun 2011. Peningkatan ini disebabkan oleh peningkatan volume SMS sebesar 13,4% dari 199,6 miliar SMS di tahun 2010 menjadi 226,4 miliar SMS di tahun 2011.

3. Pendapatan Interkoneksi

Pendapatan interkoneksi turun sebesar Rp226 miliar, atau 6,1%, dari Rp3.735 miliar pada tahun 2010 menjadi Rp3.509 miliar pada tahun

2011. Pendapatan interkoneksi internasional turun sebesar Rp123 miliar, atau 7,9%, dari Rp1.561 miliar di tahun 2010 menjadi Rp1.438 miliar di tahun 2011. Pendapatan interkoneksi domestik dan transit turun sebesar Rp103 miliar, atau 4,7%, dari Rp2.174 miliar di tahun 2010 menjadi Rp2.071 miliar di tahun 2011. Penurunan pendapatan interkoneksi sebagian disebabkan oleh penurunan pendapatan interkoneksi seluler sebesar Rp113 miliar, atau 6,0%, yang disebabkan oleh promosi dari industri seluler atas pengurangan tarif panggilan antar sesama pelanggan dalam satu penyedia jaringan. Selain itu, pemerintah menetapkan tarif interkoneksi yang lebih rendah di tahun 2011 dibandingkan dengan tarif di tahun 2010. Pendapatan interkoneksi juga menurun disebabkan oleh penurunan pendapatan interkoneksi seluler dan internasional karena peningkatan substantial pada penggunaan VoIP untuk melakukan panggilan, termasuk melalui telepon seluler dengan menggunakan aplikasi seluler VoIP.

Pendapatan interkoneksi terdiri dari pendapatan interkoneksi dari sambungan telepon tidak bergerak Telkom dan pendapatan interkoneksi dari jaringan seluler Telkomsel. Pendapatan interkoneksi termasuk sambungan langsung incoming dari layanan SLI (TIC-007). Jumlah pendapatan interkoneksi berkontribusi sebesar 4,9% dari pendapatan konsolidasian untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2011 dibandingkan dengan 5,4% untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2010.

4. Pendapatan Jaringan

Pendapatan jaringan meningkat sebesar Rp243 miliar, atau 23,0%, dari Rp1.058 miliar di tahun 2010 menjadi Rp1.301 miliar pada tahun 2011 terutama disebabkan oleh peningkatan substansial pada pendapatan sewa sirkit sebesar Rp224 miliar, atau 32,6%, dari Rp687 miliar di tahun 2010 menjadi Rp911 miliar di tahun 2011. Peningkatan ini disebabkan oleh meningkatnya kapasitas sewa sirkit dari 40.451 E1 di tahun 2010 menjadi 118.357 E1 di tahun 2011 sejalan dengan peningkatan permintaan akibat pertumbuhan ekonomi yang diimbangi dengan penurunan tarif sewa sirkit.

Pendapatan sewa transponder satelit meningkat sebesar Rp19 miliar, atau 5,1%, dari Rp371 miliar di tahun 2010 menjadi Rp390 miliar di tahun 2011 yang disebabkan oleh peningkatan kapasitas sewa akibat adanya peningkatan permintaan.

5. Pendapatan

Jasa

Telekomunikasi

Lainnya

Pada tahun 2011, pendapatan dari jasa telekomunikasi lainnya meningkat sebesar Rp341 miliar, atau 17,4%, dari Rp1.961 miliar pada tahun 2010 menjadi Rp2.302 miliar pada tahun 2011. Peningkatan pendapatan ini terutama berasal dari peningkatan pendapatan TV berbayar sebesar Rp100 miliar, atau 62,9%, dari Rp159 miliar di tahun 2010 menjadi Rp259 miliar pada tahun 2011; peningkatan kompensasi KPU sebesar Rp88 miliar, atau 25,7%, dari Rp342 miliar di tahun 2010 menjadi Rp430 miliar di tahun 2011 serta peningkatan pendapatan lain-lain meningkat sebesar Rp26 miliar, atau 22,2%, dari Rp117 miliar pada tahun 2010 menjadi Rp143 miliar pada tahun 2011.

Pendapatan TV berbayar meningkat disebabkan oleh peningkatan substansial pada pelanggan TelkomVision sebesar 369,7% dari 212,9 ribu pelanggan di tahun 2010 menjadi 1 juta pelanggan di tahun 2011 akibat promosi yang intensif dan penurunan tarif. Pendapatan dari kompensasi KPU meningkat terutama disebabkan oleh pendapatan dari proyek KPU di tahun 2011 untuk membangun layanan pusat internet di berbagai ibu kota provinsi. Pendapatan lain-lain meningkat disebabkan oleh pendapatan dari bisnis direktori telepon menjadi Rp349 miliar pada tahun 2011.

B. Beban

Jumlah beban meningkat sebesar Rp3.720 miliar, atau 8,0%, dari Rp46.240 miliar pada tahun 2010 menjadi Rp49.960 miliar pada tahun 2011. Peningkatan jumlah beban terutama disebabkan oleh meningkatnya beban karyawan, beban pemasaran serta beban interkoneksi. Penjelasan lebih lanjut adalah sebagai berikut:

1. Beban Operasi, Pemeliharaan dan Jasa

Telekomunikasi

Beban operasi, pemeliharaan dan jasa telekomunikasi meningkat sebesar Rp326 miliar, atau 2,0%, dari Rp16.046 miliar pada tahun 2010 menjadi Rp16.372 miliar pada tahun 2011. Peningkatan beban operasi, pemeliharaan dan jasa telekomunikasi terutama disebabkan oleh peningkatan pada beban pemeliharaan menara, gedung perkantoran dan BTS sebesar Rp355 miliar, atau 4,0%, disebabkan oleh meningkatnya beban karena adanya peningkatan kapasitas stasiun penerima dan transmisi serta layanan broadband Telkomsel.

Peningkatan beban operasi, pemeliharaan dan jasa telekomunikasi juga disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:

- Beban sewa sirkit dan CPE meningkat sebesar Rp191 miliar, atau 88,8%, dari Rp215 miliar di tahun 2010 menjadi Rp406 miliar di tahun 2011;

- Beban hak penyelenggaraan dan KPU meningkat sebesar Rp58 miliar, atau 4,9%, dari Rp1.177 miliar di tahun 2010 menjadi Rp1.235 miliar di tahun 2011. Peningkatan beban ini mengikuti peningkatan jumlah pendapatan sebesar 3,8%; dan

- Beban asuransi meningkat sebesar Rp47 miliar, atau 12,2%, dari Rp384 miliar di tahun 2010 menjadi Rp431 miliar di tahun 2011. Peningkatan ini disebabkan oleh beban asuransi atas kerusakan kabel bawah laut terkait bencana tsunami di Sumatera Barat dan gempa di Sumbawa pada tahun 2010. Peningkatan di atas sebagian dimbangi oleh hal- hal berikut:

- Beban pokok penjualan telepon, set top box, kartu SIM dan RUIM turun sebesar Rp188 miliar, atau 17,6%, dari Rp1.067 miliar di tahun 2010 menjadi Rp879 miliar di tahun 2011. Penurunan ini disebabkan oleh kemasan yang lebih murah untuk kartu SIM dan RUIM; - Beban pokok jasa teknologi informatika

turun sebesar Rp56 miliar, atau 28,0%, dari Rp200 miliar di tahun 2010 menjadi Rp144 miliar di tahun 2011. Penurunan ini disebabkan oleh menurunnya jumlah lisensi software akibat berakhirnya beberapa lisensi software dan penunjukan Sigma sebagai penyedia software serta menurunnya beban pemeliharaan software; dan

- Beban pemakaian frekuensi radio menurun sebesar Rp46 miliar, atau 1,6%, dari Rp2.892 miliar di tahun 2010 menjadi Rp2.846 miliar di tahun 2011, disebabkan oleh peraturan baru yang dikeluarkan pada tanggal 13 Desember 2010, dimana biaya hak pakai BTS yang dibayarkan kepada pemerintah tidak lagi dihitung berdasarkan jumlah BTS yang dipakai, namun dihitung berdasarkan bandwidth yang digunakan.

2. Beban Penyusutan dan Amortisasi

Beban penyusutan dan amortisasi meningkat sebesar Rp251 miliar, atau 1,7%, dari Rp14.612 miliar pada tahun 2010 menjadi Rp14.863 miliar pada tahun 2011 yang terutama disebabkan oleh meningkatnya beban penyusutan sebesar Rp616 miliar, atau 4,7%, dari Rp13.085 miliar di tahun 2010 menjadi Rp13.701 miliar di tahun 2011, disebabkan oleh

beban penyusutan fasilitas pendukung, BTS dan peralatan switching yang diimbangi dengan penurunan baban penyusutan untuk jaringan kabel, peralatan pemrosesan data serta sewa pembiayaan.

Dengan meningkatnya persaingan dalam pasar layanan sambungan nirkabel tidak bergerak yang berdampak pada tarif rata-rata yang lebih rendah, menurunnya jumlah pelanggan aktif, dan menurunnya rata-rata pendapatan per pelanggan (“Average Revenue Per User” atau “ARPU”), kami melakukan pengujian penurunan nilai untuk unit penghasil kas layanan telepon nirkabel tidak bergerak. Lihat “Faktor-faktor Risiko – Layanan telepon nirkabel tidak bergerak kami mengalami persaingan ketat”. Jumlah tercatat aset terkait layanan telepon nirkabel tidak bergerak yang mengalami penurunan nilai diturunkan hingga sebesar jumlah terpulihkan, yang ditentukan oleh manajemen berdasarkan perhitungan estimasi nilai pakai. Dalam menentukan nilai pakai, manajemen menggunakan pertimbangan dalam menentukan proyeksi kinerja operasional masa depan, dan dalam menentukan tingkat pertumbuhan dan tingkat diskonto.

Pertimbangan-pertimbangan tersebut diterapkan berdasarkan pemahaman kami atas informasi historis dan ekspektasi atas kinerja operasional masa depan. Proyeksi arus kas mencerminkan ekspektasi manajemen terhadap pendapatan, pertumbuhan laba sebelum bunga, pajak, penyusutan, dan amortisasi (“Earnings Before Interest, Tax, Depreciation, and Amortisation” atau “EBITDA”), dan arus kas operasi atas dasar unit penghasil kas layanan sambungan nirkabel tidak bergerak menghasilkan surplus arus kas bersih sejak tahun 2013 dan pengembalian tingkat

profitabilitas di tahun 2016. Proyeksi arus kas

manajemen juga mempertimbangkan ekspektasi wajar manajemen terhadap perkembangan kondisi ekonomi makro dan ekspektasi pasar terhadap industri telekomunikasi di Indonesia. Proyeksi tersebut mengasumsikan bahwa manajemen akan menerima lisensi dan menyelenggarakan jasa layanan sambungan nirkabel bergerak secara efektif yang akan mengeliminasi keterbatasan pada jasa yang diselenggarakan sekarang dimana hanya dapat digunakan oleh pelanggan dalam kode area tertentu. Manajemen menggunakan tingkat diskonto sebelum pajak sebesar 11,4%, yang berasal dari perhitungan rata-rata tertimbang biaya modal Perusahaan setelah pajak dan diperbandingkan dengan data eksternal yang tersedia. Tingkat pertumbuhan perpetuitas yang digunakan adalah 0% dengan asumsi jumlah pelanggan akan terus meningkat

setelah lima tahun, ARPU akan menurun sehingga hanya tingkat pertumbuhan jangka panjang yang dapat diabaikan akan dicapai dalam pasar yang kompetitif.

Perusahaan mengakui penurunan nilai untuk aset-aset dalam kelompok unit penghasil kas layanan sambungan nirkabel tidak bergerak pada 31 Desember 2011, yang menyebabkan rugi penurunan nilai sebesar Rp563 miliar (2010: nihil) yang diakui dalam laporan laba rugi komprehensif konsolidasian sebagai bagian dari “Penyusutan dan amortisasi”. Perubahan asumsi penting, termasuk asumsi tingkat diskonto atau tingkat pertumbuhan dalam proyeksi arus kas, dapat mempengaruhi secara material perhitungan nilai pakai. Kenaikan sebesar 1% pada tingkat diskonto yang digunakan akan menambah rugi penurunan nilai menjadi Rp907 miliar. Namun jumlah terpulihkan dari unit penghasil kas layanan sambungan nirkabel tidak bergerak sangat dipengaruhi oleh keberhasilan manajemen dalam melaksanakan rencananya, termasuk rencana untuk menyelenggarakan jasa layanan telepon nirkabel bergerak, yang diharapkan akan menghasilkan surplus arus

kas dan tingkat profitabilitas sesuai proyeksi.

Apabila kinerja dari unit penghasil kas layanan telepon nirkabel tidak bergerak terus mengalami penurunan atau rencana-rencana manajemen tidak terlaksana seperti yang diharapkan dalam periode keuangan selanjutnya, analisa harus dilakukan untuk menentukan apakah terdapat tambahan penurunan nilai di tahun yang akan datang.

3. Beban Karyawan

Beban karyawan meningkat sebesar Rp1.223 miliar, atau 16,7%, dari Rp7.332 miliar pada tahun 2010 menjadi Rp8.555 miliar pada tahun 2011. Peningkatan beban karyawan ini sebagian disebabkan oleh kenaikan beban gaji dan tunjangan sebesar Rp250 miliar, atau 9,1%, dari Rp2.751 miliar di tahun 2010 menjadi Rp3.001 miliar di tahun 2011. Peningkatan ini sebagian disebabkan oleh kenaikan gaji dasar tahunan sebesar 8,0% untuk mengimbangi

inflasi.

Selain itu, kenaikan juga disebabkan oleh adanya beban program pensiun dini sebesar Rp517 miliar di tahun 2011 dan tidak adanya program pensiun dini yang ditawarkan di 2010. Beban cuti, insentif dan tunjangan lainnya juga memberikan kontribusi kenaikan sebesar Rp239 miliar, atau 9,3%, dari Rp2.575 miliar di tahun 2010 menjadi Rp2.814 miliar di tahun 2011, terutama disebabkan oleh kenaikan insentif.

Beban pajak penghasilan karyawan juga meningkat sebesar Rp247 miliar, atau 31,0%, dari Rp796 miliar di tahun 2010 menjadi Rp1.043 miliar di tahun 2011. Peningkatan ini mengikuti peningkatan beban gaji dan tunjangan.

4. Beban Interkoneksi

Beban interkoneksi meningkat sebesar Rp469 miliar, atau 15,2%, dari Rp3.086 miliar pada tahun 2010 menjadi Rp3.555 miliar pada tahun 2011. Beban interkoneksi meningkat terutama disebabkan peningkatan beban interkoneksi domestik seluler dan transit (beban interkoneksi untuk panggilan antara sesama pelanggan Telkomsel yang diarahkan melalui jaringan seluler operator lain), sebesar Rp434 miliar, atau 21,9% sejalan dengan peningkatan pada jumlah pelanggan Telkomsel di 2011 sebesar 13,8%. Beban interkoneksi mencapai 7,1% dari jumlah beban konsolidasian untuk tahun 2011 dibandingkan dengan 6,7% untuk tahun 2010.

5. Beban Pemasaran

Beban pemasaran meningkat sebesar Rp753 miliar, atau 29,8%, dari Rp2.525 miliar pada tahun 2010 menjadi Rp3.278 miliar pada tahun 2011, terutama disebabkan oleh peningkatan beban iklan dan promosi sebesar Rp749 miliar, atau 37,6%. Peningkatan beban iklan dan promosi ini disebabkan oleh perubahan skema insentif dealer di Telkomsel.

6. Beban Umum dan Administrasi

Beban umum dan administrasi meningkat sebesar Rp398 miliar, atau 15,7%, dari Rp2.537 miliar pada tahun 2010 menjadi Rp2.935 miliar pada tahun 2011, sebagian disebabkan oleh peningkatan beban penyisihan piutang ragu-ragu dan persediaan usang sebesar Rp358 miliar, atau 68,2%, dari Rp525 miliar di tahun 2010 menjadi Rp883 miliar di tahun 2011. Peningkatan ini disebabkan perubahan penilaian piutang ragu-ragu berdasarkan umur piutang menjadi tingkat kolektibilitas.

Selain itu, beban sumbangan sosial meningkat sebesar Rp119 miliar, atau 69,6%, dari Rp171 miliar di tahun 2010 menjadi Rp290 miliar di tahun 2011. Peningkatan ini disebabkan oleh keputusan pemegang saham untuk meningkatkan jumlah dana yang dialokasikan untuk tanggung jawab sosial perusahaan dari 1,0% jumlah laba

komprehensif di tahun 2010 menjadi 2,0% jumlah laba komprehensif di tahun 2011. Dana ini dialokasikan secara merata untuk program kemitraan dan bina lingkungan.

Beban jasa profesional meningkat sebesar Rp72 miliar, atau 44,2%, dari Rp163 miliar pada tahun 2010 menjadi Rp235 miliar pada tahun 2011.

Peningkatan beban jasa profesional, sumbangan sosial serta beban penyisihan piutang ragu- ragu dan persediaan usang diimbangi oleh penurunan beban keamanan dan screening sebesar Rp118 miliar, atau 54,9%, dari Rp215 miliar di tahun 2010 menjadi Rp97 miliar di tahun 2011. Penurunan ini disebabkan oleh kebijakan Telkom untuk melakukan penurunan jumlah tenaga kerja keamanan dan menggunakan tenaga kerja keamanan dari entitas anak, bukan dari pihak ketiga.

Selain itu beban penagihan menurun sebesar Rp74 miliar, atau 18,5%, dari Rp401 miliar di tahun 2010 menjadi Rp327 miliar di tahun 2011.

Dalam dokumen TLKM Annual Report 2012. pdf (Halaman 104-108)