• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komite-Komite di bawah Dewan Komisaris

Dalam dokumen TLKM Annual Report 2012. pdf (Halaman 140-144)

STRUKTUR TATA KELOLA PERUSAHAAN

D. Komite-Komite di bawah Dewan Komisaris

1. Komite Audit

Komite Audit menjalankan tugas berdasarkan mandat Audit Committee Charter yang ditetapkan dengan Keputusan Dewan Komisaris. Audit Committee Charter dievaluasi secara berkala dan apabila diperlukan dilakukan amandemen untuk memastikan kepatuhan Perusahaan terhadap peraturan OJK dan SEC serta peraturan terkait lainnya. Terakhir, Audit Committee Charter ditetapkan dengan Keputusan Dewan Komisaris No.11/KEP/DK/2011 tanggal 30 November 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Kerja (Charter) Komite Audit Telkom Group. Selama tahun 2012 tidak ada perubahan peraturan yang terkait dengan Komite Audit kami yang mengharuskan kami untuk melakukan amandemen terhadap Audit Committee Charter tersebut.

a. Profil Komite Audit

Telkom memiliki Komite Audit yang terdiri dari enam anggota: dua Komisaris Independen, satu Komisaris dan tiga anggota eksternal

independen yang tidak terafiliasi dengan

Telkom.

Pada tahun 2012 terdapat perubahan komposisi keanggotaan Komite Audit. Sampai dengan 11 Mei 2012, susunan Komite Audit terdiri dari; (i) Rudiantara (Komisaris Independen - ketua); (ii) Salam (Sekretaris); (iii) Johnny Swandi Sjam (Komisaris Independen); (iv) Bobby A.A. Nazief (Komisaris); (v) Sahat Pardede; dan (vi) Agus Yulianto. Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan tanggal 11 Mei 2012 memutuskan untuk tidak melanjutkan masa tugas Rudiantara dan Bobby A.A. Nazief.

Susunan Komite Audit per 31 Desember 2012 dan sampai saat ini terdiri dari:

Keanggotaan Nama

Ketua Johnny Swandi Sjam

Sekretaris Salam

Anggota Virano Gazi Nasution

Parikesit Suprapto Sahat Pardede Agus Yulianto

Di bawah ini adalah profil ringkas dari masing-

masing anggota Komite Audit:

Johnny Swandi Sjam - Komisaris Independen

Sebagai Ketua Komite Audit, Johnny Swandi Sjam bertanggung jawab untuk mengarahkan, mengoordinasikan dan memonitor pelaksanaan tugas tiap anggota Komite Audit.

Salam - Sekretaris/Anggota

Salam bertugas untuk memfasilitasi pelaksanaan tugas anggota Komite Audit, melakukan korespondensi, menyiapkan dokumentasi, menyiapkan Laporan Tahunan Komite Audit dan mengoordinasikan proses seleksi auditor independen.

Salam adalah akuntan bersertifikat dan

berpengalaman dalam bidang auditing, akuntansi dan keuangan. Antara tahun 1974 dan 1989, beliau adalah pegawai Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. Beliau juga pernah menjabat sebagai AVP Divisi Pengembangan Usaha PT Rajawali Wirabhakti Utama, Kepala Corporate Control Unit PT Pabrik Rokok Cap Bentoel dan Direktur Keuangan PT Telekomindo Primakarya. Beliau meraih gelar sarjana bidang akuntansi dari Institut Ilmu Keuangan Jakarta.

Parikesit Suprapto – Komisaris

Parikesit Suprapto bertugas melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap tata kelola perusahaan serta memantau peraturan pasar modal dan perundangan lainnya yang terkait dengan operasi Perusahaan.

Virano Gazi Nasution – Komisaris Independen

Virano Gazi Nasution bertugas untuk mengawasi dan memantau teknologi informasi Perusahaan.

Sahat Pardede – Anggota

Sahat Pardede bertugas untuk mengawasi dan memantau proses integrated audit, proses konsolidasi laporan keuangan, penerapan standar akuntansi keuangan, dan efektivitas pengendalian internal atas pelaporan keuangan (“ICOFR”).

Sahat Pardede adalah akuntan publik

bersertifikat dan managing partner di Kantor Akuntan Publik Ghazali, Sahat & Rekan. Beliau mempunyai pengalaman yang luas dan keahlian di bidang auditing dan akuntansi keuangan dan pengendalian internal sesuai dengan SOA Seksi 404. Pada tahun 1981 hingga 2000, beliau adalah pegawai Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. Beliau meraih gelar sarjana bidang Akuntansi dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Jakarta dan meraih gelar Master bidang Business Administration dari Universitas Saint Mary di Halifax, Kanada.

Agus Yulianto – Anggota

Agus Yulianto bertugas untuk mengawasi dan memantau efektivitas manajemen risiko (khususnya risiko-risiko pelaporan keuangan) yang dilaksanakan Direksi, memantau kemungkinan terjadinya kecurangan dan/atau penyimpangan yang berpotensi merugikan Perusahaan dan penanganan pengaduan.

Agus Yulianto adalah akuntan bersertifikat

dan berpengalaman dalam bidang auditing, akuntansi dan keuangan. Antara tahun 1983–1999, beliau adalah pegawai Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. Beliau juga pernah bekerja sebagai konsultan senior pada Jakarta Iniative Task Force, procurement audit specialist untuk proyek- proyek yang didanai Bank Dunia. Sebelum ditunjuk sebagai anggota Komite Audit, beliau bekerja di Kantor Akuntan Publik HLB Hadori Sugiarto Adi & Rekan sebagai Ketua

Tim Financial Management Specialist untuk sebuah proyek di Aceh yang dikelola oleh Bank Dunia dan didanai Multi Donor Fund. Beliau meraih gelar sarjana bidang akuntansi dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, Jakarta dan meraih gelar Master bidang akuntansi dari Universitas Case Western Reserve, Cleveland, Ohio, Amerika Serikat.

b. Tugas dan Tanggung Jawab Komite Audit Audit Committee Charter secara garis besar memuat tujuan, fungsi dan tanggung jawab Komite Audit.

Berdasarkan Charter ini Komite Audit bertanggung jawab untuk:

- Mengawasi proses pelaporan keuangan Perusahaan atas nama Dewan Komisaris; - Memberikan rekomendasi kepada Dewan

Komisaris mengenai penunjukan auditor eksternal;

- Mendiskusikan dengan auditor internal dan eksternal semua lingkup pekerjaan, baik pekerjaan audit dan non-audit serta rencana audit mereka;

- Menelaah laporan keuangan konsolidasian Telkom serta efektivitas pengendalian internal atas pelaporan keuangan (”ICOFR”);

- Mengadakan rapat secara berkala dengan auditor internal dan eksternal, tanpa kehadiran manajemen, masing-masing untuk membahas hasil evaluasi dan hasil audit mereka atas pengendalian internal Telkom serta kualitas laporan keuangan Telkom secara keseluruhan; dan

- Melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Dewan Komisaris, khususnya dalam bidang yang terkait

dengan akuntansi dan keuangan, serta kewajiban lain yang diharuskan oleh SOA. Selain itu, Komite Audit juga bertugas untuk menerima dan menangani pengaduan. Untuk membantu tugas-tugasnya, Komite Audit dapat menunjuk konsultan independen atau penasihat profesional.

c. Independensi Komite Audit

Peraturan OJK tentang Komite Audit mensyaratkan bahwa Komite Audit sedikitnya terdiri dari tiga orang anggota, satu diantaranya adalah Komisaris Independen yang bertindak sebagai ketua, sementara dua anggota lainnya harus merupakan pihak yang independen, minimal salah satu diantaranya harus memiliki keahlian (dalam konteks Item 16A dari Form 20 F) dalam bidang akuntansi dan/atau keuangan. Agar memenuhi syarat independensi sesuai dengan peraturan yang berlaku di Indonesia, anggota eksternal Komite Audit:

- Bukan pejabat eksekutif Kantor Akuntan Publik yang memberikan jasa audit dan/ atau jasa non-audit kepada Perusahaan dalam jangka waktu enam bulan terakhir sebelum penunjukannya sebagai anggota Komite Audit;

- Bukan sebagai pejabat eksekutif kami dalam jangka waktu enam bulan terakhir sebelum penunjukannya sebagai anggota Komite Audit;

- Tidak boleh terafiliasi dengan pemegang

saham mayoritas;

- Tidak boleh mempunyai hubungan keluarga dengan Dewan Komisaris atau Direksi;

- Tidak boleh memiliki, secara langsung maupun tidak langsung, saham Perusahaan; dan

- Tidak boleh memiliki hubungan bisnis apapun yang terkait dengan bisnis Perusahaan.

d. Ahli Keuangan Komite Audit

Dewan Komisaris telah menetapkan Sahat Pardede, anggota Komite Audit, memenuhi

kualifikasi sebagai Ahli Keuangan dan

Akuntansi Komite Audit seperti yang diuraikan pada Item 16A Form 20-F, dan sebagai anggota ”independen” sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan 10A-3 dari Exchange Act. Sahat Perdede telah menjadi anggota Komite Audit sejak Februari 2004. Sebelum penunjukannya sebagai anggota Komite Audit, dan sampai saat ini, beliau berpraktik sebagai Akuntan Publik

Bersertifikat di Indonesia yang menyediakan

jasa audit dan jasa keuangan lainnya kepada sejumlah perusahaan swasta dan lembaga-lembaga publik. Beliau juga adalah anggota Institut Akuntan Publik Indonesia. e. Kebijakan dan Prosedur Pre-Approval Komite

Audit

Telkom menerapkan kebijakan dan prosedur Pre-Approval yang mensyaratkan bahwa semua jasa non-audit yang akan diberikan oleh Kantor Akuntan Publik yang ditunjuk sebagai auditor independen, sebagaimana ditetapkan dalam Audit Committee Charter, harus mendapat persetujuan lebih dulu dari Komite Audit. Berdasarkan Charter tersebut, jasa non-audit mungkin dapat diperkenankan

untuk dilaksanakan oleh Kantor Akuntan Publik yang ditunjuk sebagai auditor independen dengan ketentuan bahwa: (i) Direksi harus menyampaikan kepada Komite Audit (melalui Dewan Komisaris) uraian jasa non-audit yang akan dilaksanakan oleh Kantor Akuntan Publik yang ditunjuk sebagai auditor independen; dan (ii) Komite Audit akan memutuskan apakah jasa non-audit yang diajukan akan memengaruhi independensi Kantor Akuntan Publik yang ditunjuk sebagai auditor independen atau akan menimbulkan benturan kepentingan.

Konsisten dengan Section 10(i)(1)(B) dari Exchange Act paragraf (c) (7) (i) (C) dari Rule 2-01 Regulation S-X yang dikeluarkan berdasarkan Undang-undang tersebut, Audit Committee Charter memberikan pengecualian untuk persyaratan Pre-Approval atas jasa non-audit yang diperkenankan, apabila (i) jumlah seluruh biaya jasa non-audit tersebut tidak lebih dari lima persen dari jumlah biaya audit yang dibayarkan oleh Telkom kepada Kantor Akuntan Publik yang ditunjuk sebagai auditor independen selama tahun buku dimana jasa tersebut diberikan atau (ii) jasa yang diajukan tidak dianggap sebagai jasa non-audit pada saat perjanjian untuk melaksanakannya ditandatangani. Selain dari kedua hal tersebut, pelaksanaan jasa non- audit harus disetujui lebih dulu oleh seorang anggota Komite Audit yang telah mendapat pelimpahan wewenang untuk memberikan pre-Approval dari Komite Audit atau langsung oleh Komite Audit.

Dalam dokumen TLKM Annual Report 2012. pdf (Halaman 140-144)