• Tidak ada hasil yang ditemukan

Risiko Makro Ekonom

Dalam dokumen TLKM Annual Report 2012. pdf (Halaman 63-65)

keuangan, kegiatan operasional maupun prospek usaha kami.

2. Risiko Makro Ekonom

Perubahan negatif aktivitas ekonomi di tingkat global, regional ataupun di Indonesia dapat berpengaruh pada bisnis kami

Perubahan ekonomi di Indonesia, regional dan global dapat mempengaruhi kinerja kami.

Dua peristiwa signifikan yang mempengaruhi

ekonomi Indonesia adalah krisis keuangan Asia di tahun 1997 dan krisis ekonomi global tahun yang dimulai pada tahun 2008. Dampak krisis tahun 1997 di Indonesia antara lain adalah depresiasi nilai tukar Rupiah, penurunan Produk Domestik

Bruto secara signifikan, tingkat suku bunga yang

tinggi, gejolak sosial serta perkembangan politik yang cukup mencengangkan. Krisis ekonomi global yang dipicu oleh krisis sub-prime mortgage di Amerika Serikat juga menekan perekonomian Indonesia meskipun tidak seburuk tahun 1997. Pasar keuangan global juga mengalami gejolak akibat penurunan peringkat negara Amerika Serikat di tahun 2012 maupun keprihatinan terhadap krisis hutang di Eurozone. Saat ini masih terdapat ketidakpastian terhadap hasil program- program dukungan keuangan yang dilakukan oleh pemerintah negara-negara Eurozone, serta kekhawatiran terhadap keuangan negara-negara secara umum. Jika krisis berkepanjangan, ataupun meluas ke Asia dan Indonesia, kami tidak dapat menjamin tidak adanya dampak yang material dan merugikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia serta konsekuensinya terhadap usaha kami.

Kondisi ekonomi yang merugikan dapat berakibat pada melemahnya kegiatan ekonomi, berkurangnya pendapatan yang tersedia bagi konsumen untuk dibelanjakan dan mengurangi daya beli konsumen. Hal ini akan mengurangi permintaan akan layanan komunikasi termasuk layanan kami dan ini tentu dapat berpengaruh pada bisnis, kondisi keuangan, hasil usaha maupun prospek usaha kami. Tidak ada jaminan bahwa

ketidakstabilan ekonomi tidak akan terjadi lagi di masa mendatang, ataupun bahwa, seandainya hal itu terjadi, tidak akan mempengaruhi kinerja bisnis kami.

Fluktuasi nilai tukar Rupiah dapat berdampak material dan merugikan bisnis kami

Mata uang fungsional yang kami gunakan di Indonesia adalah Rupiah. Salah satu dampak terpenting dari krisis ekonomi di Asia yang mempengaruhi perekonomian di Indonesia adalah depresiasi dan volatilitas nilai tukar Rupiah terhadap mata uang lainnya, seperti Dolar AS. Dari tahun 2008 hingga 2012, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS berada di kisaran terendahnya sebesar Rp12.400 per Dolar AS ke Rp8.460 per Dolar AS. Akibatnya, kami mencatat kerugian sebesar Rp210 miliar pada tahun 2011 dan sebesar Rp189 miliar di tahun 2012. Pada tanggal 28 Desember 2012, nilai tukar Rupiah/Dolar AS berada di level Rp9.637,5 per Dolar AS.

Meskipun nilai tukar Rupiah relatif stabil terhadap Dolar AS sepanjang tahun 2012, tren ini dapat berbalik jika kondisi ekonomi global berubah dan krisis keuangan Eropa meluas ke Asia dan Indonesia. Apabila Rupiah terdepresiasi lebih lanjut terhadap mata uang lainnya dari tingkat nilai tukar per tanggal 31 Desember 2012, kewajiban kami dalam denominasi Dolar AS seperti hutang usaha, hutang pembelian (procurements payable), serta pembayaran pinjaman dan obligasi dalam mata uang asing akan meningkat dalam Rupiah. Depresiasi mata uang Rupiah akan mengakibatkan kerugian dalam transaksi mata uang asing, mempengaruhi secara

signifikan pada biaya usaha dan laba bersih kami,

serta mengurangi jumlah dividen dalam Dolar AS yang akan diterima oleh pemilik saham American Depository (“ADS”) kami. Kami tidak dapat menjamin akan mampu mengelola risiko akibat nilai tukar dengan baik di masa depan dengan sukses ataupun mencegah dampak risiko nilai tukar mata uang terhadap usaha kami.

Meskipun Rupiah telah bebas dipertukarkan dan dikirimkan dari waktu ke waktu, Bank Indonesia (Bank Sentral Indonesia) melakukan intervensi di pasar uang sebagai bagian dari pelaksanaan kebijakannya, baik dengan melepas Rupiah atau dengan menggunakan cadangan devisanya untuk membeli Rupiah. Kami tidak dapat menjamin bahwa kebijakan nilai tukar mata uang mengambang yang diterapkan Bank Indonesia saat ini tidak akan berubah atau bahwa Pemerintah akan mengambil langkah tambahan

untuk menstabilkan, menjaga atau menaikkan nilai tukar Rupiah dan jika salah satu dari langkah ini diterapkan, akan berhasil. Perubahan pada kebijakan nilai tukar mata uang mengambang

dapat berdampak besar signifikan pada kenaikan

suku bunga domestik, kelangkaan likuiditas, kontrol modal atau pasar, atau penahanan bantuan keuangan oleh lembaga pemberi pinjaman multinasional. Hal ini dapat mengakibatkan penurunan kegiatan ekonomi, resesi ekonomi, kredit macet atau menurunnya penggunaan layanan oleh pelanggan kami, dan akibatnya, kami pun akan menghadapi kesulitan mendanai belanja modal dan menerapkan strategi usaha. Akibat lainnya dapat berupa dampak material terhadap bisnis, kondisi keuangan, hasil operasi dan prospek usaha kami.

Penurunan peringkat kredit pemerintah atau Perusahaan di Indonesia dapat mempengaruhi bisnis kami

Pada tanggal Laporan Tahunan, hutang jangka panjang berdenominasi mata uang asing Indonesia memperoleh peringkat “Baa3” oleh Moody’s (meningkat dari “Ba1” pada tanggal 18 Januari 2012), “BB+” oleh Standard & Poor’s (meningkat dari “bb” pada tanggal 8 April 2011) dan “BBB” oleh Fitch Ratings (“meningkat dari BB+ pada tanggal 15 Desember 2011”). Utang jangka pendek berdenominasi mata uang asing dinilai “B1/NP” oleh Moody’s, “B” oleh Standard & Poor’s dan “B” oleh Fitch Rating. Pada tanggal 18 Januari 2012, Moody’s menaikkan peringkat hutang jangka panjang Indonesia menjadi status peringkat investasi.

Berdasarkan informasi yang kami peroleh sampai saat ini, kecil kemungkinan lembaga-lembaga ini melakukan peninjauan atau perubahan peringkat menjadi lebih buruk dari tahun ini. Namun, kami tidak dapat menjamin bahwa Moody’s, Standard & Poor’s atau, Fitch Rating tidak akan mengubah atau menurunkan peringkat kredit Indonesia. Setiap penurunan tersebut dapat berdampak negatif terhadap likuiditas pasar keuangan Indonesia, kemampuan Pemerintah dan perusahaan di Indonesia, termasuk kami, untuk mengumpulkan tambahan dana dan tingkat suku bunga dan kondisi komersial lainnya dimana dana tambahan tersedia. Suku bunga atas hutang berdenominasi Rupiah kami dengan tingkat bunga mengambang juga akan meningkat. Peristiwa semacam itu dapat berdampak material dan merugikan terhadap bisnis, kondisi keuangan, hasil operasi dan prospek usaha kami.

Dalam dokumen TLKM Annual Report 2012. pdf (Halaman 63-65)