Tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2012 dibandingkan dengan tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2011
A. Pendapatan
Jumlah pendapatan meningkat sebesar Rp5.890 miliar, atau 8,3%, dari Rp71.253 miliar pada 2011 menjadi Rp77.143 miliar pada 2012. Peningkatan pendapatan di tahun 2012 terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan seluler, pendapatan data, internet dan jasa teknologi informatika serta pendapatan interkoneksi dan pendapatan jasa telekomunikasi lainnya, yang diimbangi dengan penurunan pendapatan telepon tidak bergerak dan jaringan.
1. Pendapatan Telepon Seluler
Pendapatan telepon seluler meningkat sebesar Rp2.133 miliar, atau 7,5%, dari Rp28.598 miliar pada 2011 menjadi Rp30.731 miliar pada 2012 terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan pemakaian dan pendapatan abonemen bulanan, yang sebagian diimbangi
dengan penurunan pendapatan fitur.
Pendapatan pemakaian meningkat sebesar Rp2.288 miliar, atau 8,4%, dari Rp27.189 miliar di tahun 2011 menjadi Rp29.477 miliar di tahun 2012 disebabkan karena peningkatan minutes of usage sebesar 11,1% menjadi 184,8 miliar menit pada tahun 2012 dan peningkatan jumlah pelanggan sebesar 16,9%. Sedangkan pendapatan abonemen bulanan meningkat sebesar Rp125 miliar, atau 21,9%, dari Rp571 miliar di tahun 2011 menjadi Rp696 miliar di tahun 2012 terutama disebabkan oleh peningkatan jumlah pelanggan Flash dan Blackberry sebesar 93,1% dengan pendapatan tumbuh sebesar 21,5%. Peningkatan tersebut sebagian diimbangi dengan penurunan
pada pendapatan fitur sebesar Rp280 miliar, atau
33,4%, dari Rp838 miliar di tahun 2011 menjadi Rp558 miliar di tahun 2012 disebabkan karena munculnya Peraturan Menkominfo No. 01/PER/M. KOMINFO/01/2009 tentang penyelenggaraan jasa pesan premium dan pengiriman jasa pesan singkat ke banyak tujuan.
2. Pendapatan Sambungan Telepon Tidak
Bergerak
Pendapatan sambungan telepon tidak bergerak menurun sebesar Rp957 miliar, atau 8,2%, dari Rp11.619 miliar pada 2011 menjadi Rp10.662 miliar pada 2012. Penurunan pendapatan sambungan telepon tidak bergerak terutama disebabkan oleh penurunan pada pendapatan pemakaian sebesar
Rp791 miliar, atau 9,7%, dari Rp8.114 miliar pada 2011 menjadi Rp7.323 miliar pada 2012 disebabkan karena penurunan pemakaian lokal dan SLJJ. Lebih lanjut, pendapatan abonemen bulanan juga menurun sebesar Rp199 miliar, atau 6,6% di tahun 2012. Penurunan pendapatan sambungan telepon tidak bergerak ini disebabkan oleh penurunan penggunaan layanan telepon tidak bergerak karena beralihnya pengguna ke layanan telepon seluler.
3. Pendapatan Data, Internet dan Jasa
Teknologi Informatika
Pendapatan data, internet dan jasa teknologi informasi meningkat sebesar Rp3.700 miliar, atau 15,5%, dari Rp23.924 miliar pada 2011 menjadi Rp27.624 miliar pada 2012. Peningkatan pendapatan ini terutama disebabkan oleh peningkatan pendapatan internet, komunikasi data dan jasa teknologi informatika sebesar Rp4.117 miliar, atau 38,3%, dari Rp10.740 miliar di tahun 2011 menjadi Rp14.857 miliar di tahun 2012, yang dipicu oleh pertumbuhan pendapatan data komunikasi seluler dari pemakaian data oleh pengguna ponsel dan kenaikan pelanggan Flash sebesar 99,5%, dari 5,5 juta pelanggan di tahun 2011 menjadi 11,0 juta pelanggan di tahun 2012. Peningkatan pendapatan internet, komunikasi data dan jasa teknologi informatika juga sebagian disebabkan oleh kenaikan pelanggan Speedy sebesar 30,9%, dari 1,8 juta pelanggan di tahun 2011 menjadi 2,3 juta pelanggan di tahun 2012, peningkatan volume data yang melalui jaringan VPN sebesar 41,9% dari 28.702 Mbps di 2011 menjadi 40.748 Mbps di 2012, dan peningkatan volume data yang melalui metro ethernet sebesar 70,8%, dari 140.733 Mbps di 2011 menjadi 240.315 Mbps di 2012.
Volume SMS menurun sebesar 47,8%, dari 226,4 miliar SMS menjadi 118,1 miliar SMS di tahun 2012, sementara pendapatan SMS menurun lebih sedikit sebesar Rp462 miliar, atau 3,5%, dari Rp13.093 miliar pada 2011 menjadi Rp12.631 miliar pada 2012. Penurunan volume SMS sejalan dengan peningkatan pemakaian internet-based messaging. Penurunan yang lebih sedikit pada pendapatan SMS disebabkan oleh penerapan interkoneksi berbasis biaya untuk SMS pada 1 Juni 2012. Sebelum Juni 2012, SMS dikirim dan diterima di antara operator dengan menggunakan basis “Sender Keeps All”. Efektif pada 1 Juni 2012, sejalan dengan rezim interkoneksi berbasis biaya untuk panggilan voice, Pemerintah menerapkan interkoneksi berbasis biaya untuk SMS. Penerapan interkoneksi berbasis biaya untuk SMS secara umum memberi keuntungan bagi
secara historis memiliki jumlah SMS masuk yang lebih besar daripada jumlah SMS keluar.
4. Pendapatan Interkoneksi
Pendapatan interkoneksi terdiri dari pendapatan interkoneksi dari sambungan telepon tidak bergerak Telkom dan pendapatan interkoneksi dari jaringan seluler Telkomsel. Pendapatan interkoneksi termasuk sambungan langsung internasional incoming dari layanan SLI (TIC- 007).
Pendapatan interkoneksi meningkat sebesar Rp764 miliar, atau 21,8%, dari Rp3.509 miliar pada 2011 menjadi Rp4.273 miliar pada 2012. Peningkatan pendapatan interkoneksi disebabkan oleh peningkatan pendapatan interkoneksi domestik dan transit sebesar Rp547 miliar, atau 26,4%, dari Rp2.071 miliar di tahun 2011 menjadi Rp2.618 miliar di tahun 2012 disebabkan terutama karena peningkatan interkoneksi seluler sebesar Rp538 miliar, atau 30,2%, dan pendapatan interkoneksi internasional meningkat sebesar Rp217 miliar, atau 15,1%, yang disebabkan adanya promo tarif panggilan internasional ke semua negara tujuan dan meningkatnya jumlah panggilan masuk ke pelanggan seluler.
Jumlah pendapatan interkoneksi mencapai kontribusi sebesar 5,5% terhadap pendapatan konsolidasian untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2012 dibandingkan dengan 4,9% untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2011.
5. Pendapatan Jaringan
Pendapatan jaringan menurun sebesar Rp93 miliar, atau 7,1%, dari Rp1.301 miliar di 2011 menjadi Rp1.208 miliar pada 2012 terutama disebabkan oleh penurunan pada pendapatan sewa sirkit sebesar Rp87 miliar, atau 9,5%, dari Rp911 miliar di tahun 2011 menjadi Rp824 miliar di tahun 2012. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan tarif sewa sirkit.
6. Pendapatan
Jasa
Telekomunikasi
Lainnya
Pada 2012, pendapatan Telkom dari jasa telekomunikasi lainnya meningkat sebesar Rp343 miliar, atau 14,9%, dari Rp2.302 miliar pada 2011 menjadi Rp2.645 miliar pada 2012. Peningkatan pendapatan ini terutama berasal dari peningkatan pendapatan Customer Premise Equipment (CPE) dan terminal sebesar Rp307 miliar, atau 41,5%, dan peningkatan pendapatan sewa sebesar Rp182 miliar, atau 83,1% serta peningkatan pendapatan TV berbayar sebesar Rp146 miliar, atau 56,4%. Pendapatan
sebesar 19,1% dari 1,0 juta pelanggan di tahun 2011 menjadi 1,2 juta pelanggan di tahun 2012. Peningkatan pendapatan diatas diimbangi dengan penurunan pendapatan dari kompensasi KPU yang disebabkan oleh penurunan proyek KPU untuk membangun layanan pusat internet di berbagai ibu kota provinsi di tahun 2012 dan penurunan pendapatan bisnis direktori telepon.
7. Pendapatan lain
Pendapatan lain meningkat sebesar Rp1.894 miliar dari Rp665 miliar pada tahun 2011 menjadi Rp2.559 miliar pada tahun 2012. Peningkatan ini terutama berkaitan dengan kompensasi asuransi sebesar Rp1.772 miliar yang diterima dari penjamin asuransi sehubungan dengan asuransi Satelit Telkom-3 yang dibangun dan diluncurkan tetapi gagal mencapai orbitnya pada tanggal 7 Agustus 2012, Lihat Catatan 11 pada Laporan Keuangan Konsolidasian.
B. Beban
Jumlah beban meningkat sebesar Rp4.044 miliar, atau 8,1%, dari Rp49.960 miliar pada 2011 menjadi Rp54.004 miliar pada 2012. Peningkatan jumlah beban terutama disebabkan oleh meningkatnya beban operasi dan pemeliharaan, beban karyawan dan beban interkoneksi dengan penjelasan lebih lanjut sebagai berikut:
1. Beban Operasi, Pemeliharaan dan Jasa
Telekomunikasi
Beban operasi, pemeliharaan dan jasa telekomunikasi meningkat sebesar Rp431 miliar, atau 2,6%, dari Rp16.372 miliar pada 2011 menjadi Rp16.803 miliar pada 2012.
Peningkatan beban operasi, pemeliharaan dan jasa telekomunikasi lainnya juga disebabkan oleh hal-hal berikut:
- Beban asuransi meningkat sebesar Rp240 miliar, atau 55,7%, dari Rp431 miliar di tahun 2011 menjadi Rp671 miliar di tahun 2012, disebabkan oleh peningkatan beban asuransi aset tetap dari satelit Telkom-3;
- Beban hak penyelenggaraan dan KPU meningkat sebesar Rp217 miliar, atau 17,6%, dari Rp1.235 miliar di tahun 2011 menjadi Rp1.452 miliar di tahun 2012. Peningkatan beban tersebut disebabkan adanya peningkatan dana yang dicadangkan untuk proyek KPU periode berjalan, dari 1% menjadi 1,9%, yang berdampak pada meningkatnya belanja infrastruktur dan peningkatan jumlah pendapatan sebesar Rp5.889 miliar, atau 8,3%, yang kami gunakan sebagai dasar perhitungan proyek KPU; dan
sebesar Rp156 miliar, atau 5,5%, dari Rp2.846 miliar di tahun 2011 menjadi Rp3.002 miliar di tahun 2012. Peningkatan ini disebabkan oleh peningkatan penggunaan bandwidth seluler.
Peningkatan di atas dimbangi oleh hal-hal berikut:
- Beban pokok penjualan telepon, set-up top box kartu SIM dan RUIM menurun sebesar Rp192 miliar, atau 21,8%, dari Rp879 miliar di tahun 2011 menjadi Rp687 miliar di tahun 2012. Penurunan ini disebabkan oleh packaging yang lebih murah untuk kartu SIM dan RUIM; dan
- Beban operasi dan pemeliharaan menurun sebesar Rp179 miliar, atau 1,9%, disebabkan oleh menurunnya beban yang terkait dengan peningkatan kapasitas stasiun penerima dan transmisi serta layanan broadband Telkomsel;
2. Beban Penyusutan dan amortisasi
Beban penyusutan dan amortisasi menurun sebesar Rp407 miliar, atau 2,7%, dari Rp14.863 miliar pada 2011 menjadi Rp14.456 miliar pada 2012 yang terutama disebabkan oleh penurunan beban penurunan nilai aset tetap sebesar Rp316 miliar, atau 56,1%, dari Rp563 miliar di tahun 2011 menjadi Rp247 miliar di tahun 2012. Sebagai tambahan, beban amortisasi menurun sebesar Rp23 miliar, atau 3,8%, dari Rp599 miliar di tahun 2011 menjadi Rp576 miliar di tahun 2012 disebabkan oleh penurunan beban penurunan nilai goodwill dan penurunan beban amortisasi lisensi, dan beban penyusutan juga menurun sebesar Rp68 miliar, atau 0,5%, dari Rp13.701 miliar di tahun 2011 menjadi Rp13.633 miliar di tahun 2012. Penurunan beban penyusutan terutama disebabkan oleh beban penyusutan peralatan sentral telepon dan jaringan akses.
3. Beban Karyawan
Beban karyawan meningkat sebesar Rp1.231 miliar, atau 14,4%, dari Rp8.555 miliar pada 2011 menjadi Rp9.786 miliar pada 2012. Peningkatan beban karyawan ini sebagian disebabkan oleh peningkatan beban tunjangan cuti insentif dan tunjangan lainnya sebesar Rp586 miliar, atau 20,8%, dari Rp2.814 miliar di tahun 2011 menjadi Rp3.400 miliar di tahun 2012, peningkatan beban program pensiun dini sebesar Rp182 miliar, atau Rp35,2%, dari Rp699 miliar di tahun 2012, dibandingkan dengan Rp517 di tahun 2011, serta peningkatan beban gaji dan tunjangan sebesar Rp256 miliar, atau Rp8,5%, dari Rp3.257 miliar di tahun 2012, dibandingkan dengan Rp3.001 di tahun 2011.
4. Beban Interkoneksi
Beban interkoneksi meningkat sebesar Rp1.112 miliar, atau 31,3%, dari Rp3.555 miliar pada tahun 2011 menjadi Rp4.667 miliar pada tahun 2012. Peningkatan ini disebabkan oleh naiknya beban interkoneksi domestik dan transit sebesar Rp1.050 miliar, atau 43,5%, dan peningkatan pendapatan interkoneksi internasional.
Beban interkoneksi mencapai 8,6% dari beban konsolidasian untuk tahun 2012 dibandingkan dengan 7,1% untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2011.
5. Beban Pemasaran
Beban pemasaran menurun sebesar Rp184 miliar, atau 5,6%, dari Rp3.278 miliar pada 2011 menjadi Rp3.094 miliar pada 2012, terutama disebabkan oleh penurunan beban iklan dan promosi sebesar Rp249 miliar, atau 9,1% yang disebabkan oleh optimalisasi beban pemasaran.
6. Beban Umum dan Administrasi
Beban umum dan administrasi meningkat sebesar Rp101 miliar, atau 3,4%, dari Rp2.935 miliar pada 2011 menjadi Rp3.036 miliar pada 2012, sebagian disebabkan oleh peningkatan beban umum sebesar Rp201 miliar, atau 61,7%, dari Rp326 miliar di tahun 2011 menjadi Rp527 miliar di tahun 2012. Peningkatan beban umum disebabkan oleh peningkatan beban biaya pengganti fasilitas kendaraan jabatan terkait dengan perubahan kebijakan perusahaan serta adanya beban pesangon yang disebabkan pergantian direksi di tahun 2012. Beban penyisihan piutang dan persediaan usang meningkat sebesar Rp32 miliar, atau 3,6%, dari Rp883 miliar di tahun 2011 menjadi Rp915 miliar di tahun 2012. Peningkatan ini terutama berasal dari penilaian individual dan kolektif tahun berjalan atas penurunan nilai piutang
Peningkatan beban penyisihan piutang dan persediaan usang diimbangi sebagian dengan penurunan beban sumbangan sosial sebesar Rp161 miliar, atau 55,5%, dari Rp290 miliar di tahun 2011 menjadi Rp129 miliar di tahun 2012 Penurunan ini disebabkan oleh keputusan pemegang saham untuk menurunkan rasio kontribusi laba bersih perusahaan untuk tanggung jawab sosial dari 2,0% di tahun 2011 menjadi 1,0% di tahun 2012. Beban jasa profesional menurun sebesar Rp48 miliar, atau 20,4%, sedangkan beban keamanan dan screening menurun sebesar Rp35 miliar, atau 36,1%, dari Rp97 miliar di tahun 2011 menjadi Rp62 miliar di tahun 2012.
7. Rugi (laba) selisih kurs - bersih
Rugi selisih kurs bersih menurun sebesar Rp21 miliar, dari sebesar Rp210 miliar pada 2011 menjadi sebesar Rp189 miliar pada 2012. Penurunan ini terutama disebabkan oleh menurunnya nilai tukar Yen Jepang terhadap rupiah sebesar 4,3% dan naiknya aset Telkom akibat penguatan Dollar AS sebesar 6,3%.
8. Beban lain-lain
Beban lain-lain meningkat sebesar Rp1.781 miliar dari Rp192 miliar pada tahun 2011 menjadi Rp1.973 pada tahun 2012. Peningkatan ini terutama berkaitan dengan pengakuan kembali dari nilai tercatat Satelit Telkom-3 sebesar Rp1.606 miliar yang telah dibangun dan diluncurkan tetapi gagal mencapai orbitnya pada tanggal 7 Agustus 2012. Lihat Catatan 11 pada Laporan Keuangan Konsolidasian.
C. Laba Usaha dan Marjin Laba Usaha
Sebagai hasil dari hal-hal yang dijelaskan di atas, laba usaha meningkat sebesar Rp3.740 miliar, atau 17,0%, dari Rp21.958 miliar pada 2011 menjadi Rp25.698 miliar pada 2012. Marjin laba meningkat dari 30,8% pada 2011 menjadi 33,3% pada 2012.
D. Laba Sebelum Pajak dan Marjin Laba
Sebelum Pajak
Sebagai hasil dari hal-hal yang dijelaskan sebelumnya, laba sebelum pajak meningkat sebesar Rp3.371 miliar, atau 16,2%, dari Rp20.857 miliar pada 2011 menjadi Rp24.228 miliar pada 2012. Marjin laba sebelum pajak meningkat dari 29,3% pada 2011 menjadi 31,4% pada 2012.
E. Beban Pajak Penghasilan
Beban pajak penghasilan menurun sebesar Rp479 miliar, atau 8,9%, dari Rp5.387 miliar pada 2011 menjadi Rp5.866 miliar pada 2012, mengikuti peningkatan laba sebelum pajak.
F. Pendapatan Komprehensif Lain
Pendapatan komprehensif lain meningkat sebesar Rp15 miliar, atau 136,4%, dari Rp11 miliar pada 2011 menjadi Rp26 miliar pada 2012 disebabkan karena peningkatan pada selisih kurs karena penjabaran laporan keuangan sebesar Rp24 miliar diimbangi dengan penurunan pada perubahan selisih bersih nilai wajar aset keuangan tersedia untuk dijual sebesar Rp9 miliar.
G. Laba Komprehensif Tahun Berjalan
Laba komprehensif tahun berjalan meningkat sebesar Rp2.907 miliar, atau 18,8%, dari Rp15.481 miliar pada 2011 menjadi Rp18.388 miliar pada 2012.