• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2. Green Mining dan Reklamasi Pertambangan

Mekanisme Pembangunan Bersih atau Clean Development Mechanism

(CDM) adalah cara pembangunan yang tidak hanya memperhatikan pertumbuhan ekonomi tetapi juga kebersihan udara, pelestarian lingkungan serta pembangunan yang berkelanjutan (CIFOR, 2009). Terdapat tiga variabel kunci pada pengertian CDM di atas yaitu kebersihan udara, pelestarian lingkungan serta pembangunan yang berkelanjutan. Ketiga variabel kunci tersebut mengindikasikan pada fungsi dari hutan sebagai penyerap karbon dan penyedia sumber bahan mentah. Kegiatan penanaman pohon-pohonan untuk menyerap karbondioksida sebesar- besarnya pada kegiatan reklamasi akan memperbaiki fungsi lingkungan, keberlanjutan secara lingkungan, ekonomi dan sosial (Soelarno, 2007). Subtansi CDM yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah kegiatan serapan karbon oleh pepohonan yang ada di hutan bukan pada perdagangan karbon atau mekanisme pasar karbon.

Kegiatan penyerapan karbon sangat terkait erat dengan masalah pemanasan global. Melalui pendekatan ekosistem, yaitu pada kemampuan tumbuhan untuk

menyerap CO2, masalah pemanasan global yang disebabkan karbondiokasida

dapat dicegah dan dikendalikan. Kegiatan untuk menyerap karbon sebesar- besarnya pada kegiatan revegetasi lahan bekas tambang, adalah suatu keharusan agar kawasan yang dihutankan tersebut dapat menyerap karbondioksida dan dapat menekan pemanasan global. Penyerapan karbon dari tanaman cepat tumbuh (contoh: sengon) berkisar antara 19,51– 85,27 ton C/ha (Ginoga dan Lugina, 2007). Penelitian Departemen Kehutanan tahun 2002 dalam Sudirman (2011) menunjukkan kemampuan hutan menyerap karbon sebesar 27 ton C/ha/tahun.

Tambang hijau atau Green mining adalah implementasi dari Permen ESDM No. 18/2009 tentang Reklamasi dan Rencana Penutupan Tambang. Berdasarkan peraturan menteri tersebut reklamasi adalah usaha untuk memperbaiki atau menata kembali kegunaan lahan, kualitas lingkungan hidup, sarana dan prasarana yang terganggu sebagai akibat dari usaha pertambangan agar dapat berfungsi dan berdaya guna sesuai peruntukannya.

Pengertian reklamasi di atas secara jelas menyebutkan adalah penataan dan perbaikan kualitas lingkungan hidup, yang dapat dijabarkan lebih lanjut dalam konteks keberlanjutan adalah keberlanjutan ekonomi, keberlanjutan lingkungan,

dan keberlanjutan sosial. Berdasarkan hal ini green mining sebagai implementasi dari kegiatan reklamasi harus memberi keberlanjutan secara ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang bertumpu pada tiga pilar keberlanjutan yaitu pilar ekonomi, sosial, dan lingkungan. Green mining dapat bagian dari pembangunan berkelanjutan selama kegiatan tersebut memberikan keberlanjutan pada pilar pembangunan tersebut.

Green mining merupakan salah satu tolok ukur kuantitas dan kualitas hasil revegetasi. Keberhasilan revegetasi secara kuantitas dan kualitas mengimplikasikan, jika kegiatan revegetasi pada kegiatan reklamasi tambang diimpelementasikan untuk kegiatan pengembangan hutan. Dengan demikian orientasinya didasarkan pada perbaikan fungsi lingkungan yaitu fungsi penyedia sumber bahan mentah dan fungsi jasa lingkungan. Aktivitas penyerapan karbon dan pelepasan oksigen ke udara oleh pohon-pohonan dalam kawasan hutan. Kriteria keberhasilan reklamasi meliputi penataan lahan, pengendalian erosi dan sedimentasi, revegetasi serta pemeliharaan diatur dalam Permenhut No. 60 Tahun 2009.

Berdasarkan pada UU Minerba pasal 1 huruf 26, reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan sepanjang usaha pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat befungsi kembali sesuai peruntukannya. Disini reklamasi didefinisikan sebagai kegiatan yang dilakukan sepanjang tahapan usaha pertambangan untuk menata, memulihkan, dan memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem agar dapat berfungsi kembali sesuai peruntukannya. Berangkat dari definisi itu, kegiatan reklamasi tidak hanya dilaksanakan pada tahap operasi produksi saja, melainkan juga pada tahap eksplorasi.

Kebijakan reklamasi eks lahan pertambangan merupakan implementasi pelaksanaan prinsip green mining sebagai salah satu tolok ukur kuantitas dan kualitas hasil revegetasi. Keberhasilan revegetasi secara kuantitas dan kualitas mengimplikasikan, jika kegiatan revegetasi pada kegiatan reklamasi tambang diimpelementasikan untuk kegiatan pengembangan hutan. Dengan demikian orientasinya didasarkan pada perbaikan fungsi lingkungan yaitu fungsi penyedia sumber bahan mentah dan fungsi jasa lingkungan. Aktivitas penyerapan karbon dan pelepasan oksigen ke udara oleh pohon-pohonan dalam kawasan hutan. Kriteria keberhasilan reklamasi meliputi penataan lahan, pengendalian erosi dan sedimentasi, revegetasi serta pemeliharaan diatur dalam Permenhut No. 60/2009.

Kegiatan reklamasi dan pascatambang merupakan salah satu amanat dalam PP 78/2010 tentang Reklamasi dan Pascatambang. Kegiatan ini perlu direncanakan semenjak awal, dikarenakan:

a. Reklamasi yang dilaksanakan segera merupakan faktor kunci dalam efisiensi penggunaan lahan, serta penambangan yang baik dan benar.

b. Kemajuan tambang perlu sejalan dengan kemajuan reklamasi dan antisipasi pascatambang. Perencanaan pascatambang bahkan perlu menjadi pertimbangan sejak tahap awal, yaitu pada tahap studi kelayakan.

c. Reklamasi dan pascatambang merupakan bagian dari siklus pertambangan

yang harus dilakukan sejak awal sebagai salah satu upaya perlindungan lingkungan dari sejak awal operasi sampai pascatambang untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

Hal yang juga penting dalam pertambangan yang baik dan benar, juga perlu ada pelibatan para pengampu kepentingan sejak awal pada kegiatan reklamasi dan pascatambang. Pelibatan ini untuk menampung aspirasi sehingga lahan bekas tambang dapat secara tepat dilakukan reklamasi yang sesuai dengan aspirasi yang ada dan pada akhirnya memiliki manfaat, ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat dan pemda setempat. Dengan demikian pemanfaatan lahan bekas tambang juga harus sejalan dengan rencana pengembangan wilayah dan kebutuhan masyarakat dan pemda setempat.

Dari sisi lingkungan hidup, makna kegiatan reklamasi dan pascatambang adalah:

a. Perlindungan terhadap kualitas air permukaan, air tanah, air laut, dan tanah serta udara.

b. Perlindungan keanekaragaman hayati.

c. Stabilitas dan keamanan timbunan batuan penutup, kolam tailing, lahan bekas tambang serta struktur buatan (man-made structure) lainnya.

d. Pemanfaatan lahan bekas tambang sesuai dengan peruntukannya; dan e. Menghormati nilai-nilai dan budaya setempat.

Hal yang penting adalah bahwa Pemerintah mewajibkan setiap pemegang IUP dan IUPK untuk menempatkan Jaminan Reklamasi dan Jaminan Pascatambang yang diatur berdasarkan PP No78/2010 tentang Reklamasi dan Pascatambang. Jaminan tersebut merupakan wujud kesungguhan pemegang IUP dan IUPK untuk peduli pada lingkungan dengan cara memulihkan lahan bekas tambang dan lahan di luar bekas tambang sesuai peruntukan yang disepakati para pemangku kepentingan dalam rangka pembangunan berkelanjutan.

Penghitungan besaran Jaminan Reklamasi dan Jaminan Pasca tertuang dalam pengusulan Rencana Kerja Tahunan Teknik dan Lingkungan (RKTTL) pada awal tahun. Besarnya jaminan tersebut dihitung dan ditetapkan sehingga mampu menutup seluruh biaya reklamasi dan pascatambang. Biaya reklamasi dan pascatambang adalah yang dijadikan dasar besarnya jaminan dan dihitung berdasarkan pelaksanaan reklamasi dan pascatambang seolah-olah dilaksanakan oleh pihak ketiga (meskipun dikerjakan sendiri). Penempatan jaminan yang dilakukan oleh pemegang IUP dan IUPK, bukan berarti menghilangkan kewajiban perusahaan melaksanakan reklamasi dan pascatambang.

Jaminan reklamasi disiapkan oleh pemegang IUP Operasi Produksi (OP) dan merupakan dana yang disiapkan untuk melaksanakan reklamasi berdasarkan pada Rencana Reklamasi 5 Tahunan yang telah disetujui oleh pemberi izin sesuai dengan kewenangannya, yaitu: menteri, gubernur atau bupati//walikota. Sesuai dengan pasal 31 PP No 78/2010 jaminan reklamasi berupa: rekening bersama pada bank pemerintah, deposito berjangka pada bank pemerintah, bank garansi pada bank pemerintah atau bank swasta nasional, dan cadangan akuntansi.

Pihak pemilik izin IUP OP dapat mengajukan permohonan untuk pencairan jaminan reklamasi kepada pemerintah setelah melakukan kegiatan reklamasi. Pemerintah akan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan reklamasi tersebut dan memberi persetujuan pencairan dana reklamasi untuk dikembalikan kepada perusahaan sesuai dengan hasil evaluasi pemerintah. Apabila berdasarkan pada hasil evaluasi, pihak perusahaan dianggap belum cukup memenuhi kriteria keberhasilan reklamasi yang ditetapkan oleh pemerintah, pemerintah dapat menunjuk pihak ketiga untuk melaksanakan kegiatan reklamasi baik sebagian atau

keseluruhan dengan menggunakan dana jaminan reklamasi. Dalam hal terjadi dana jaminan reklamasi tidak menutupi seluruh dalam kegiatan reklamasi oleh pihak ketiga tersebut, maka pihak IUP OP bertanggung jawab dalam penyelesaian atau pemenuhan biayanya (DBT, 2012).

Dalam Laporan Pelaksanaan Kegiatan Reklamasi PT Berau Coal (2008) yang berlokasi di Kabupaten Berau Kalimantan Timur, 2008, sejumlah 1.6615 ha atau 99,6% dari rencana reklamasi dapat dilakukan baik di area in-pit dump

maupun outpit dump. Untuk mendukung kegiatan tersebut, dilakukan proses

perapian dan pembuatan drainase serta jalan untuk memudahkan penanaman dan pemeliharaan tanaman reklamasi. Kegiatan revegetasi pada areal bekas tambang di PT Berau Coal, di antaranya adalah:

a. Penanaman tanaman pionir dan Leguminoceae cover crop (LCC) untuk

mengurangi proses terjadinya erosi dan untuk meningkatkan kesuburan tanah di daerah penimbunan dan reklamasi.

b. Pada tanah penutup dilakukan penanaman dengan menggunakan tanaman

penutup tanah (cover crops) jenis CM (Calopogonium muconoides), CP (Centrosema pubescens) dan Korobenguk (Mucuna sp), ketiga tumbuhan dipilih karena kemampuannya mengikat nitrogen bebas dari udara dan melakukan pertukaran hara dalam tanah.

c. Penanaman pohon pionir (fast growing species) juga dilakukan, di antaranya: sengon laut, sengon buto, angsara, ketapang, johar dan jenis pohonan aslinya dengan jarak tanam 5x5 meter.

d. Setelah tanaman pioner berumur 2 tahun dilakukan penanaman pohon yang

bernilai komersial, seperti: meranti, mahoni, kapur dan buah-buahan. 3. Pengembangan Masyarakat dalam Pertambangan

Kontribusi pertambangan selama masa hidupnya dalam bentuk penerimaan negara, tenaga kerja dan lain lain. Di sisi lain juga menjadi prime mover bagi pembangunan di daerah, sehingga tumbuh sentra-sentra pertumbuhan baru. Pertambangan harus bisa melakukan transformasi dari sumberdaya tidak terbarukan menjadi sumberdya terbarukan, melalui pengembangan sumberdaya manusia, lingkungan dan ekonomi. Dalam hal ini peran para pemangku kepentingan perlu dipetakan agar pemerintah dapat melakukan kebijakan yang terbaik untuk kepentingan bersama (Partowidagdo, 2010).

Salah satu komponen penting dalam kegiatan usaha pertambangan adalah pengembangan masyarakat. Dalam pelaksanaan program pengembangan masyarakat keberhasilannya amat tergantung dari kemitraan yang sinergis antar pengampu kepentingan, yaitu adanya kesamaan persepsi antar pengampu

kepentingan. Setiap pengampu kepentingan perlu memahami dan mengerti

tentang peran dan posisi masing-masing, sehingga dengan demikian mereka akan mampu untuk menyesuaikan diri dengan situasi yang diciptakan untuk kepentingan bersama. Tumpuannya adalah bahwa setiap pengampu kepentingan

harus berpegang pada etika dan lingkungan (Mc Farlane, 2006). Hubungan pemerintah, pengusaha dan masyarakat dapat dilihat dari Gambar 9.  

Gambar 9 Hubungan pemerintah, pengusaha dan masyarakat

Dalam setiap kegiatan pertambangan, UU 4/2009 dan PP 55/2010 tentang Pengawasan dan Pembinaan Kegiatan Pertambangan telah mewajibkan suatu pelaksanaan kegiatan pengembangan masyarakat yang bertumpu pada prinsip pembangunan berkelanjutan sejak dari awal tambang itu dibuka sampai dengan masa penutupan tambang, bahkan sesudahnya. Sesuai dengan amanat UU ini, peran pemerintah adalah untuk melakukan pengawasan dan pembinaan sehingga kegiatan pengembangan masyarakat benar-benar dijalankan sesuai dengan kaedahyang ada.

Di sisi lain, pelaku bisnis pertambangan juga memang sangat membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitarnya. UU tersebut menyaratkan bahwa pertambangan hanya bisa dilaksanakan setelah terjadi kesepakatan antar pelaku bisnis dengan masyarakat sekitarnya.

Konsep ini sangat mudah dimengerti, karena masyarakat, hutan dan seluruh kehidupan ada di permukaan tanah, sedangkan deposit batubara ada di bawah tanah. Untuk menggali perlu keserasian di permukaan dulu. Oleh karena itu, sikap responsif terhadap kebutuhan lingkungan menjadi keharusan. Selain tuntutan lingkungan yang tertera pada regulasi, tidak bisa diabaikan pula tuntutan lingkungan yang tidak secara langsung disebutkan dalam peraturan publik. Sukses bisnis perusahan pertambangan pada saat ini sangat ditentukan oleh kisah sukses dalam membangun kepercayaan publik melalui implementasi tanggung jawab perusahaan. Pada hakekatnya tanggung jawab perusahaan terhadap apa yang telah didapat dari hasil kegiatan usahanya di sebuah lingkungan atau negara mengilustrasikan hubungan sebagai mahluk hidup yang tidak dapat hidup sendiri.

Jumlah dana program pengembangan masyarakat dari pertambangan di

Indonesia meningkat dari 5-10% per-tahun. Namun jumlah tersebut belum

termasuk jumlah biaya Community Development (CD) dari pelaku IUP yang

jumlahnya ribuan tersebut. Maka tugas pemerintah khususnya pemerintah daerah adalah untuk meningkatkan pengawasan dan pembinaan agar kewajiban ini dapat dijalankan oleh seluruh perusahaan, termasuk pengawasan pada jenis program dan manfaat yang dirasakan perusahaan.

PEMBANGUNAN YANG 

Tabel 7 menunjukkan besaran dana CD pertambangan tahun 2010-2014 dari tiga pelaku pertambangan yaitu BUMN pertambangan, PKP2B dan Kontrak Karya (KK).

Tabel 7 Community development 2010-2014 (miliar Rp)

2010 % 2011 % 2012 % 2013 % 2014 %

IUP BUMN 248,2 13,9 275,0 16,4 300,0 16,0 350,0 22,2 250,3 12,4

PKP2B 265,8 14,9 280,9 16,7 293,4 15,7 365,4 23,2 304,0 15,0

Kontrak Karya 1269,3 71,2 1121,4 66,9 1277,3 68,3 860,9 54,6 1471,8 72,6 Total 1783,3 100,0 1677,3 100,0 1870,7 100,0 1576,3 100,0 2026,1 100,0

PERUSAHAAN Realisasi (miliar Rp)

Sumber: DJMB (2015)

Pengembangan masyarakat merupakan hal penting yang mengandung konsep keberlanjutan. Dari pengembangan masyarakat dapat dikembankan berbagai kegiatan perekonomian masyarakat yang bisa mnenumbuhkan perkembangan ekonomi lokal di sekitar wilayah tambang dan dapat dianggap sebagai langkah persiapan ketika di wilayah tersebut tambang yang ada sudah selesai atau sudah tutup. Ekonomi lokal yang dikembangkan ini masih terus tumbuh berkembang.

Tinjauan Terhadap Hasil Penelitian Terdahulu 1. Penelitian tentang Keberlanjutan Pertambangan

Muchlis (2008) meneliti tentang kondisi lahan pascatambang batubara dan menyusun kebutuhan para pelaku dalam rangka meningkatkan kapasitas lahan pascatambang batubara dengan perlakuan reklamasi berbasiskan sejumlah tanaman di lahan tersebut. Penelitian tersebut melihat khususnya untuk melihat penambangan (PETI) yang tidak mengindahkan kaidah pertambangan yang baik dan benar, di antaranya mengakibatkan terjadinya penurunan kapasitas tanah yang tidak mendukung pertumbuhan vegetasi.

Dengan menggunakan model Multidimensional Scaling (MDS) yang

menggunakan atribut dalam dimensi lingkungan, ekonomi, budaya, teknologi dan kelembagaan, didapat bahwa indeks keberlanjutan multidimensi lahan pascatambang batubara yang ditinggalkan begitu saja hanya 29,90 pada skala keberlanjutan 0-100, sehingga dikategorikan tidak berkelanjutan, kerusakan fisik yang paling menonjol adalah menurunnya daya dukung lahan.

Sinaga (2010) melakukan penelitian tentang pengelolaan dan pemanfaatan lahan bekas tambang (pascatambang) yang meliputi aspek lingkungan hidup, ekonomi dan sosial di wilayah Kabupatan Kutai Kartanegara yang berbatasan langsung dengan Kota Samarinda. Sinaga (2010) beranggapan bahwa kebijakan pengelolaan pascatambang belum terintegrasi dengan pengelolaan lingkungannya, sehingga terjadi peningkatan kerusakan lahan setiap tahunnya. Berdasarkan hal ini di antaranya peneliti tersebut ingin mengetahui indeks keberlanjutan pascatambang batubara berdasarkan dimensi lingkungan, sosial dan ekonomi.

Penilaian status keberlanjutan tersebut menggunakan metode MDS dengan membuat atribut penilaian dengan skala ordinal pada setiap dimensi. Pemilihan dimensi dilakukan dengan melalui Focus Group Discussion (FGD) sebanyak tiga kali. FGD pertama untuk membangun asumsi, FGD kedua untuk membangun kerangka dan FGD ketiga untuk memverifikasi dimensi.

Berdasarkan hal di atas, untuk dimensi lingkungan terdapat 7 atribut yang digunakan untuk pengujian keberlanjutan pengelolaan kawasan pascatambang, yaitu:

(1) persentase tumbuhan,

(2) pergantian pertumbuhan tanaman, (3) ketersediaan air,

(4) erosi,

(5) kemampuan lahan, (6) banjir,

(7) tingkat kesuburan tanah.

Atribut untuk dimensi ekonomi adalah:

(1) kontribusi terhadap PDRB relatif untuk desa sekitar lokasi, (2) sarana dan prasarana transportasi,

(3) status penguasaan lahan masyarakat, (4) sarana perekonomian,

(5) aktifitas perekonomian pascatambang batubara, (6) mata pencarian masyarakat pascatambang batubara,

(7) pendapatan masyarakat pascatambang batubara dibandingkan dengan pra tambang.

Atribut untuk dimensisosial adalah:

(1) epidemi penyakit pernapasan dan diare,

(2) persepsi masyarakat terhadap keberadaaan tambang batubara, (3) tatanan adat dan kebiasaaan masyarakat,

(4) angka beban tanggungan keluarga, (5) rasio relatif jenis kelamin,

(6) migrasi penduduk, (7) konflik sosial.

Analisis MDS dilakukan dalam 5 tahapan, yaitu:

(1) analisis data kawasan, studi literatur dan pengamatan di lapangan, (2) melakukan skoring dengan mengacu kepada literatur,

(3) melakukan analisis MDS,

(4) melakukan rotasi dengan menentukan posisi pada ordinasi “buruk” (nilai 0) dan “baik” (nilai 100) sebagai skala indeks 0-100,

(5) melakukan analisis sensitivitas dan analisis Monte Carlo untuk

memperhitungkan aspek ketidakpastian.

Berdasarkan tahapan ini, didapat bahwa Indeks keberlanjutan masing- masing dimensi adalah: (1) dimensi ekologi 39,40; (2) dimensi ekonomi 34,96; (3) dimensi 39,09; sedangkan indeks keberlanjutan multidimensi pengelolaan pascatambang batubara sebesar 36,01 yang tergolong dalam kategori tidak berkelanjutan. Dari hasil analisis sensitivitas, atribut erosi dan banjir memiliki sensitivitas tertinggi pada dimensi ekologi. Untuk dimensi ekonomi, atribut yang

memiliki sensitivitas tinggi adalah sarana perekonomian, aktivitas perekonomian pascatambang batubara, status penguasaan lahan masyarakat dan sarana dan prasarana transportasi. Untuk dimensi sosial atribut yang paling sensitif adalah: migrasi penduduk, angka beban tanggungan keluarga, persepsi masyarakat terhadap keberadaan tambang batubara dan konflik yang sering terjadi di kawasan pascatambang batubara.

Hasil penelitian Sujiman (2010) tentang dampak kegiatan pertambangan batubara di Kabupaten Kutai Kartanegara menyatakan bahwa pengelolaan pascatambang bertujuan agar kehidupan dan ekonomi masyarakat sekitar lahan tambang terus berlanjut ketika tambang sudah tidak ada. Untuk itu peneliti memilih tanaman produktif dan perkebunan karet sebagai pilihan strategis tambang yang berkelanjutan. Dengan menggunakan metode MDS, yang disebut dengan metode Rap-Bengkawan menunjukkan bahwa indeks keberlanjutan lahan pascatambang adalah 44,77% yang dikategorikan kurang berkelanjutan. Hasil ini konsisten dengan hasil penelitian Sinaga (2010).

Sujiman (2010) menggunakan 51 atribut dalam pengujian keberlanjutan tersebut. Sebanyak 20 atribut di antaranya sensitif terhadap peningkatan indeks keberlanjutan lahan pascatambang. Penggunakan metode Analytical Hyerarchy

Process (AHP) dalam penelitian ini menyimpulkan bahwa perkebunan karet

memiliki prioritas utama dan terpenting untuk keberlanjutan pascatambang pada jangka pendek, menengah dan panjang.

Hidayat et al. (2013) melakukan analisis status berkelanjutan atas wilayah urban di pinggiran area metropolitan Jakarta dengan menggunakan metode MDS. Dalam analisis ini digunakan 37 atribut yang terdiri dari 10 atribut dimensi ekologi, 10 atribut dimensi sosial, 9 atribut dimensi ekonomi dan 8 atribut dimensi kelembagaan. Hasilnya diperoleh indeks keberlanjutan dimensi ekologi 32,97, dimensi sosial 64,30, dimensi ekonomi 54 dan dimensi kelembagaan 44,15, sedangkan indeks keberlanjutan multidimensinya adalah 41,46 yang termasuk dalam kategori kurang berkelanjutan. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa telah terjadi pembangunan yaang tidak terkendali akibat peningkatan populasi penduduk yang dibarengi dengan lebih cepatnya pertumbuhan wilayah pemukiman di pinggiran Jakarta, sehingga merubah aktifitas urban seperti perdagangan, industri, fasilitas dan layanan umum. Studi tersebut merekomendasikan implementasi perencanaan ruang secara terintegrasi dan holistik melalui kerjasama lintas pemerintah daerah di wilayah urban terkait.

Muchlis (2008) dan Budhyono (2009) menyarankan untuk melakukan analisis prospektif dengan menggunakan alat analisis ISM dalam analisis penentuan faktor kunci. Teknik ISM digunakan untuk mengetahui berbagai alternatif kebijakan yang diperlukan yaitu dengan didapatnya faktor kunci dari analisisi dengan teknik ini. Salah satu aplikasi ISM diterapkan dalam melakukan kajian sistem pembangunan berkelanjutan industri batubara di Shaanxi (Guo, 2012). Penelitian Pengembangan Model ISM untuk Pembangunan Keberlanjutan Industri Batubara Shaanxi adalah untuk mengekspresikan korelasi simbiosis dari elemen-elemen yang berbeda secara ilmiah sebagai pondasi dalam pembentukan sebuah sistem yang lengkap dan memenuhi kebutuhan ekonomi seiring dengan pemberdayaan masyarakat serta tentunya memperhatikan aspek lingkungan dan ekologi yang berkelanjutan.

Hasil kajian Studi Guo (2012) menunjukkan bahwa sistem pembangunan yang berkesinambungan dari industri batubara Shaanxi memiliki tiga tingkatan, yaitu : tingkat pertama mencakup empat faktor, yaitu pertama adalah kapasitas lingkungan yang merupakan satuan ekologi yang dapat menopang pertambangan batubara. Kedua, pembangunan ekonomi, yang merupakan dasar ekonomi untuk mencapai tujuan dari suatu sistem. Ketiga, pembangunan sosial, yang merupakan dasar sosial untuk mencapai tujuan sistem. Keempat, kapasitas sumber daya, yaitu seberapa besar jumlah sumber daya batubara yang dapat memenuhi kebutuhan generasi sekarang dan generasi mendatang. Tingkat kedua meliputi inovasi manajemen, inovasi teknis, pemanfaatan batubara yang komprehensif, teknologi batubara bersih, teknologi pertambangan yang bersih, perlindungan lingkungan, dan manajemen sumber daya batubara. Tingkat ketiga adalah organisasi pemerintah, pelaksanaan kebijakan pemerintah, dan partisipasi pemerintah dalam mendukung kebijakan pemerintah.

2. Penelitian tentang Pengelolaan Lingkungan Pertambangan Batubara