HASIL DAN PEMBAHASAN
3. Keberlanjutan Dimensi Sosial
Indeks untuk keberlanjutan dimensi sosial pada wilayah penelitian adalah 47,29% yang juga masuk dalam kategori kurang berkelanjutan (Gambar 25).
Indeks Keberlanjutan Dimensi Sosial
Gambar 25 Indeks keberlanjutan dimensi sosial 47.29 GOOD BAD UP DOWN -60 -40 -20 0 20 40 60 0 20 40 60 80 100 12
Indeks Keberlanjutan Domensi Sosial
O th e r D is ti n gi s hi n g Fe a tur e s Leverage of Attributes 2.50 1.08 0.44 0.22 1.72 0.04 0.66 2.54 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3
Penciptaan peluang usaha baru Pengaruh thdp pendapatan masyarakat Pengaruh thdp pendapatan perusahaan Nilai ekonomi lahan bekas tambang Aktifitas ekonomi rakyat selama tambang Kontribusi sektor pertambangan thdp PDRB Program pengembangan masyarakat utk
mendorong ekonomi rakyat Keberadaan Sarana Perekonomian Biaya pemeliharaan kerusakan lingkungan Program ekonomi untuk rakyat pada pasca
tambang At tr ib u te
Root Mean Square Change in Ordination when Selected Attribut Sustainability scale 0 to 100)
Terdapat 10 atribut dalam penetapan analisis keberlanjutan dimensi sosial sebagaimana berikut ini:
1) Tingkat penyerapan tenaga kerja
Adanya kegiatan pertambangan akan membutuhkan tenaga kerja baik langsung maupun tidak langsung. Besarnya tingkat penyerapan tenaga kerja tergantung terhadap beberapa faktor, yaitu: tingkat produksi, kebijakan penggunaan tenaga lokal serta ketersediaan tenaga kerja yang memadai. Kegiatan pertambangan menimbulkan efek ganda dari sisi penyerapan tenaga kerja. Setiap tenaga kerja yang diangkat menjadi karyawan pertambangan menimbulkan efek ganda munculnya kebutuhan tenaga kerja di usaha jasa lainnya, seperti: munculnya warung, rumah makan, toko, dll.
2) Kesehatan masyarakat sekitar tambang
Adanya kegiatan pertambangan menimbulkan dampak pada lingkungan, termasuk potensi dampaknya pada manusia, berupa potensi menurunnya tingkat kesehatan masyarakat akibat kurang baiknya manajemen pengelolaan pertambangan yang peduli lingkungan baik dan sehat. Salah satunya adalah dari meningkatnya transportasi batubara yang mendorong peningkatan polusi debu yang dapat berpengaruh kepada jumlah orang yang sakit karena sesak nafas, sakit tenggorokan maupun batuk. Potensi gangguaan terhadap kesehatan juga bisa terjadi apabila terjadi kerusakan sumber-sumber air penduduk yang tercemaar akibat pengelolaan tambang yang kurang baik.
3) Frekuensi konflik kesenjangan
Konflik akibat kesenjangan dicirikan munculnya persepsi ketidakadilan dalam pengelolaan suatu usaha tambang. Hal ini umum terjadi pada suatu wilayah yang memiliki kekayaan sumberdaya alam yang tinggi, termasuk sumberdaya batubara. Dalam pengelolaannya pemilik tambang cenderung sedikit sekali melibatkan penduduk setempat atau dianggap tidak ada atau kurangnya kontribusi kepada masyarakat. Suatu perusahan yang melakukan hal ini akan mendapatkan penolakan dari masyarakat baik langsung atau tidak langsung dan ini akan berujung pada konflik antar perusahaan dengan masyarakat yang pada gilirannya justru merepotkan terhadap operasi kegiatan tambang tersebut. Dengan demikian, tambang sudah selayaknya melihat bahwa pendekatan sosial adalah sebuah investasi jangka panjang yang harus dilakukan demi keberlangsungan operasi pertambangan.
4) Hubungan masyarakat sekitar tambang dengan pelaku industri
pertambangan
Banyak para pelaku pertambangan yang merupakan pendatang sehingga memiliki latar belakang sosial budaya yaang berbeda dengan masyarakat setempat. Pelaku pertambangan memiliki motif ekonomi berupa keinginan mendapatkan keuntungan dari usaha tambangnya. Namun demikian motif tersebut harus dibarengi dengan upaya menjalin hubungan yang serasi dengan masyarakat sekitar tambang. Kegagalan dalam membangun hubungan yang serasi tersebut dapat berakibat fatal berupa penolakan dari masyarakat termasuk kesulitan dalam mendapatkan kesepakatan
penggunaan lahan untuk tambang yang di antaranya dimiliki oleh masyarakat. Keberadaan lembaga desa serta pemerintahan desa yang memiliki hubungan harmonis dengan perusahaan dpat menjadi salah satu jembatan untuk menjalin komunikasi yang baik. Cara lainnya adalah dengan mengutamakan potensi sumber daya manusia lokal dalam menjalankan kegiatan pertambangannya.
5) Pemberdayaan masyarakat selama kegiatan pertambangan berlangsung
Kegiatan Pertambangan dapat menjadi penggerak pembangunan di daerah. Di antaranya melalui hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan masyarakat setempat. Pemberdayaan masyarakat merupakan bagian dari konsep penerapan CSR yang diatur dalam UU no. 40/2007 tentang Perseroan Terbatas yang juga diatur dalam UU No. 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara. Beberapa prinsip dasar terkait pemberdayaan masyarakat adalah:
a. Pemberdayaan masyarakat melalui program pengembangan masyarakat.
b. Penilaian kinerja program masyarakat.
c. Program pengembangan masyarakat pada seluruh tahapan kegiatan
penambangan.
Aktivitas perusahaan pertambangan tidak hanya memberikan konstribusi kepada sektor ekonomi, tetapi juga memberi dampak kepada masyarakat dan lingkungan yang ada di sekitar kegiatan operasinya. Pada hakekatnya, pelaku bisnis pertambangan sangat membutuhkan dukungan dari lingkungannya. Oleh karena itu, sikap responsif terhadap kebutuhan lingkungan menjadi keharusan karena selain tuntutan lingkungan yang tertera pada regulasi, tidak bisa diabaikan pula tuntutan lingkungan yang tidak secara langsung disebutkan dalam peraturan publik. Sukses bisnis perusahan pertambangan pada saat ini sangat ditentukan oleh kisah sukses dalam membangun kepercayaan publik melalui implementasi tanggung jawab sosial perusahaan berupa program pengembangan masyarakat. Namun belum semua perusahaan memiliki tanggung jawab yang sama terhadap hal tersebut, padahal dalam UU 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, PP 23 tahun 2010 tentang Pelaksanan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan batubara, pelaksanaan program pengembangan masyarakat harus dilakukan. Untuk itu pemerintah dan pemerintah daerah perlu lebih proaktif untuk melakukan pengawasan dan pembinaan kewajiban ini.
6) Pengaruh tambang dan pascatambang terhadap nilai sosial budaya
setempat
Sebelum munculnya rencana kegiatan pertambangan masyarakat setempat telah memiliki tata nilai tertentu. Pada umumnya masyarakat di wilayah studi memeluk agama Islam dengan kehidupan yang harmonis dengan penganut agama yang lainnya. Kebanyakan penduduk memiliki pekerjaan sebagai petani, pekebun, atau pegawai pemerintah. Datangnya kegiatan pertambangan menimbulkan suatu proses sosial yang berhubungan dengan nilai budaya masyarakat setempat. Proses sosial tersebut berhubungan dengan mekanisme kerja sama, konflik sosial dan akulturasi. Nilai budaya
setempat yang masih bersifat tradisional bertemu dengan nilai budaya yang dibawa oleh para pemilik modal dan teknologi. Para pemilik modal tersebut perlu memahami dan mengetahui akan tata nilai budaya setempat sehingga dapat menciptakan mekanisme kerja sama dan akulturasi dengan nilai-nilai budaya yang menguntungkan masyarakat termasuk kesehatan, pendidikan, pekerjaan. Pada saat kegiatan operasi pertambangan terjadi sebagian masyarakat telah mulai terbiasa dan kerja sama dalam aspek lapangan kerja dan pendidikan. Ketika terjadi pascatambang kegiatan operasi penambangan berkurang bahkan berhenti sehingga muncul permasalahan baru dengan berkurangnya kesempatan lapangan kerja pada sebagian besar masyarakat
7) Pengaruh terhadap peningkatan pendidikan
Salah satu aplikasi dari pengembangan masyarakat setempat adalah melalui peningkatan kualitas pendidikan setempat dengan membangun sarana dan prasarana pendidikan, penguatan kelembagaan pendidikan, peningkatan kualitas tenaga pengajar. Hal ini menjadi salah satu yang cukup efektif untuk menyebarkan manfaat tambang. Namun dalam aplikasinya diperlukan adanya koordinasi antara perusahaan, pemerintah daerah dan masyarakat. Hal ini juga menjadi salah satu kunci pembangunan yang berkelanjutan dalam kegiatan pertambangan, yaitu dengan transformasi manfaat tambang terhadap kapasitas sumberdaya manusia masyarakat setempat, sehingga mwereka akan lebih mampu terhadap perubahan, termasuk perubahan nantinya ketika telah terjadi pascatambang.
8) Kesadaran masyarakat untuk perbaikan lingkungan
Kondisi lingkungan setempat dapat terpelihara atas peran para pihak yaitu pemerintah, perusahaan dan masyarakat setempat. Kesadaran masyarakat setempat terhadap kelestarian lingkungan termasuk kondisi lahan bisa di ekspresikan langsung melalui kegiatan masyarakat setempat bisa juga melalui peran LSM (Lembaga Swadaya Msyarakat). Pembentukan kelompok sadar lingkungan tersebut menjadi penting dalam rangka menjaga keseimbangan lingkungan yang ada. Hal ini seharusnya juga disambut baik oleh perusahaan dan bisa dikelola melalui kegiatan bersama, sehingga muncul hubungan yang harmonis. Dalam banyak hal hubungan yang harmonis tersebut sering tidak tercapai karena adanya perbedaan kepentingan dari para pihak.
9) Persepsi masyarakat terhadap keberadaan tambang
Persepsi masyarakat terhadap keberadaan tambang sangat berpengaruh pada operasi pertambangan setempat. Perusahaan mungkin berpandangan telah cukup memberikaan kontribusi melalui pajak, royalty serta kegiatan pengembangan masyarakat, di sisi lain masyarakat sering berpendapat bahwa perusahaan kebanyakan hanya mementingkan diri sendiri dan kurang memperhatikan masyarakat sekitarnya yang tetap miskin dan lingkungan alam yang rusak.
Dari hasil survei yang dilakukan terhadap persepsi masyarakat atas dimensi lingkungan, ekonomi dan sosial atas keberadaan tambang, secara umum masih negatif. Hal ini menjadi tantangan bagi para pelaku pertambangan
untuk membuktikan dapat dilakukannya pertambangan yang baik dan benar serta dapat diterima oleh masyarakat.
10) Tingkat keseriusan dan kepedulian untuk menghadapi masalah sosial akibat keberadaan tambang
Sebuah tambang yang dikembangkan seharusnya memiliki rencana jangka panjang yang mencakup prinsip pembangunan yang berkelanjutan, yaitu mulai dari sebelum tambang, selama tambang dan sesudah tambang. Dengan rencana jangka panjang tersebut salah satu faktor yang harus menjadi bahan pertimbangan adalah kepedulian terhadap kondisi sosial. Hal ini karena sifat kemajemukan masyarakat yang perlu dipahami dalam pengelolaan pertambangan yang baik dan benar. Keseriusan dan kepedulian tersebut dapat diekspresikan dalam kegiatan dan program pengembangan masyarakat atau CSR perusahaan yang mengacu kepada solusi atas masalah sosial sekitar tambang.
Dari hasil analisis indeks keberlanjutan, serta analisis leverage seperti tertera pada Gambar 26 di bawah, terdapat atribut yang secara jelas merupakan faktor sensitif terhadap indeks keberlanjutan dimensi sosial, yaitu: pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan pertambangan batubara, dengan nilai leverage 1,45.
Gambar 26 Leverage atribut keberlanjutan dimensi sosial