• Tidak ada hasil yang ditemukan

D

jamil Suherman1 menulis beberapa cerita pendek ten­

tang dunia pesantren dengan tokoh utamanya Ummi Kulsum. Dijelaskannya, bagaimana di pesantren orang berbudaya tersendiri yang lepas dari budaya umum, yang ada di pedesaan kita. Termasuk di dalamnya penggambaran para san­ tri yang mencintai buah hati mereka, tanpa boleh berhubungan sama sekali. Penggambaran itu oleh para kritikus sastra, seperti H.B. Jassin,2 sebagai deskripsi terbaik tentang dunia pesantren.

Dengan demikian, apa yang dituliskan Djamil Suherman menen­ tukan pandangan kita tentang para penghuni pondok pesantren dan jaringan­jaringan mereka, dengan sistem nilai yang tak ka­ lah dahsyatnya dari sistem nilai yang ada dalam cerita­cerita si­ lat/kungfu karya Chin Yung3, yang diterjemahkan dalam bahasa

1 Djamil Suherman, seniman dan penulis puisi angkatan 1950­an yang

terkenal dan menaruh perhatian besar terhadap pesantren serta terhadap per­ juangan dan kepahlawanan kaum muda. Beberapa karyanya dibukukan dalam bentuk kumpulan puisi dan cerita­cerita pendek.

2 Hans Bague (HB) Jassin (1917­2000) itulah nama aslinya. Sastrawan

dan kritikus sastra yang lebih dikenal Paus Sastrawan dan Wali Sastra Indo­ nesia ini adalah dokumenter sastra terbaik yang dimiliki Indonesia hingga sekarang. Lembaganya, Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin di Taman Is­ mail Marzuki menyimpan ribuan karya­karya sastra Indonesia. Gigihnya mem­ bela kebebasan berkarya membuat dia pernah divonis penjara karena menolak mengungkap penulis cerpen “Panji Kusmin” yang dianggap menghina agama sehingga diseret ke pengadilan dan sampai sekarang belum terungkap siapa penulis cerpen tersebut.

3 Nama asli novelis silat kelahiran Haining, China 6 Pebruari 1924 ini

adalah Zha Liangyong. Beberapa karyanya yang sangat populer di Indonesia

Islam dalam dIskuRsus IdEoloGI, kultuRal dan GERakan

kita secara terpisah oleh O.K.T stsu Boe Beng Tjoe4, kedua ba­

hasa itu mencapai dua puluh lima judul (per judul 20 jilid). Sebaliknya “Robohnya Surau Kami”, karya A.A. Navis5,

menggambarkan realita kegundahan hati para pengikut tradi­ sionalisme agama di Ranah Minang, karena tidak menemukan pemecahan rasional atas krisis multi­dimensional yang dihadapi lembaga pondok pesantren di kawasan tersebut. Nada lebih mementingkan pembaharuan dalam karya A.A. Navis ini tam­ pak jelas, dan sesuai dengan kenyataan adanya krisis keagama­ an yang mendalam di Sumatera Barat. Deskripsi situasi itu oleh A.A. Navis, jelas menunjukkan dinamika lain dari dunianya Djamil Suherman yang terasa sangat romantis. Perbandingan ke­ dua karya itu saja, sudah menunjukkan pentingnya arti sebuah deskripsi dalam memaparkan situasi kehidupan yang tengah digumuli.

Maka, jelaslah dari perbandingan di atas, bahwa deskripsi kehidupan beragama di sebuah masyarakat pada suatu waktu, sangatlah penting artinya bagi para pengamat. Romantisme pon­ dok pesantren, dan kemurungan para pencari jawaban atas krisis yang berlarut­larut, menunjukkan dengan jelas besarnya perbe­ daan dalam kehidupan beragama yang dijalani oleh dua buah masyarakat yang berbeda. Menjadi kewajiban kitalahuntuk sang­ gup mencari benang merah yang menghubungkan keduanya.

Dalam ilm “The Singer, Not The Song”, dari tahun 50 atau 60­an, John Mills6 yang menjadi Pendeta Keogh berusaha

4 Oey Kim Tiang atau OKT alias Boe Beng Tjoe alias Aulia (1903­1995).

Pria kelahiran Tangerang ini sejak sekitar tahun 1950­an telah menerjemahkan lebih dari 100 judul cerita silat ke dalam bahasa Indonesia.

5 Ali Akbar Navis, demikian nama lengkapnya, adalah salah satu sas­

trawan besar Indonesia. Mulai memperkenalkan karya­karya fiksinya kepada publik pada awal tahun 1950­an dan langsung terkenal karena ciri khas kri­ tik sosialnya yang tajam dan terkenal satiris. Dilahirkan di Padangpanjang, Sumatera Barat, tahun 1924 Navis sampai sekarang memilih tetap tinggal di daerahnya sambil mengajar dan terus menulis. Karya­karyanya terus mengalir di media massa lokal maupun nasional. Novelnya yang paling terkenal juga sa­ ngat kritis terhadap keadaan keberagamaan yang terbit sekitar 1956 berjudul Robohnya Surau Kami.

6 Sir John Mills (1908 ­ 2005), adalah seorang sineas terkenal asal Ing­

gris. Dia mengabdikan hidupnya untuk film selama 70 tahun. Pernah mengem­ bara di Hollywood, AS, tetapi kemudian kembali ke Inggris untuk menjadi penulis skenario, aktor, dan mempromosikan anak­anaknya menjadi aktor dalam berbagai film. Dua anak perempuannya menjadi aktris terkenal di Ing­

melakukan konversi kepada agama Kristen atas diri Dirk Bogar­ de7 yang bermain sebagai Ancleto, si bandit yang piawai. Akhir­

nya, ketika Bogarde dikepung oleh aparat negara dan tertembak, di saat itulah si pendeta yang ikut ditembus peluru merangkak mendekatinya. Di saat menjelang kematian mereka, Bogarde yang telah memeluk agama Kristen, melihat Pendeta Mills yang mengorbankan jiwanya untuk mengkonversikannya. Ia menjadi Kristen sungguh­sungguh karena pengorbanan Pendeta Mills dan bukan karena "kebenaran" yang dibawakan dan dikhotbah­ kan pendeta tersebut.

Jelas dari gambaran di atas, bagi seorang Bogarde yang sudah muak dengan “kebenaran ajaran agama”, yang lebih ber­ pengaruh atas perilakunya adalah pengorbanan dari “pembawa kebenaran” itu sendiri. Dengan kata lain, setiap orang melihat segala sesuatu dari sudut pandangan tertentu yang terkadang kita anggap tidak penting. Permasalahannya bagi kita adalah pi­ lihan­pilihan pandangan itu sendiri, yang sangat ditentukan oleh deskripsi yang dikemukakan. Jika ini kita abaikan, berarti kita melihat agama sebagai sesuatu yang tidak hidup, melainkan kita hanya melihat sisi universal dan ideal dari agama tersebut.

Dalam kenyataan sehari­hari kita melihat pentingnya arti deskripsi yang diberikan atas sebuah “kebenaran agama”. Aki­ bat dari melupakan hal ini, kita lalu melakukan idealisasi univer­ sal atas ajaran agama, bukannya melihat agama sebagai sebuah proses yang dijalani secara berbeda­beda oleh orang­orang yang berlainan, dan dengan sendirinya membawa pemahaman yang tidak sama pula. Pendekatan idealisasi universal di atas memang sangat penting, tetapi juga sama pentingnya untuk melihat bagai­ mana pengertian orang tentang sebuah agama dibangun dari ke­ nyataan­kenyataaan empirik dalam kehidupan kita.

Kedua pendapat di atas, yaitu pendekatan empirik di satu

gris. Pernah mendapatkan Oscar dalam salah satu filmnya. Film dengan judul

The Singer Not the Song adalah salah satu karya diujung ketenarannya tahun 1961. Setelah itu memang masih memproduksi berbagai film tetapi tidak lagi setenar sebelumnya.

7 Sir Dirk Bogarde (1921­1999). Aktor kelahiran Inggris keturunan Be­

landa ini bernama asli Derek Van den Bogaerde. Akhir tahun 1930 Dirk ber­ gabung dalam Kesatuan Intelejen Foto Udara Angkatan Darat Inggris. Dia per­ nah ditugaskan di Jerman, India, Malaysia dan Jawa. Dirk menulis ‘A Gentle

Occupation’, buku semi biografi–fiksi yang menceritakan pengalamannya ber­ tugas di Jawa.

Islam dalam dIskuRsus IdEoloGI, kultuRal dan GERakan

pihak dan pendekatan idealisme­universal di pihak lain, penting untuk sama­sama kita hayati dan kita pikirkan lebih jauh. Kepin­ cangan untuk melihat sebuah agama dari pendekatan formal dan universal, akan menghasilkan sudut pandang ideal tanpa mema­ hami hakikat agama itu sendiri. Sebaliknya, jika hanya menekan­ kan diri pada aspek empirik belaka sama saja artinya dengan me­ misahkan kehidupan dunia dari kehidupan akhirat.

Dewasa ini, kehidupan dua organisasi keagamaan Is­ lam terbesar di negeri kita, yaitu NU dan Muhammadiyah se­ olah terpaku dalam pandangan universal yang idealistik, yaitu bagaimana sumber­sumber tekstual (adillah naqliyyah) mem­ bentuk hukum agama/iqh secara ideal; dan dari situ dibangun sebuah kerangka universal tentang “kehidupan menurut ajaran Islam”. Terkadang sudut pandang ini tidak bersinggungan de­ ngan kepentingan sebenarnya di masyarakat. Umpamanya saja, mengenai perjudian dan hiburan malam. Yang lebih dipenting­ kan adalah melarang keduanya, tanpa menghilangkan sebab­se­ bab utama yang mendukungnya. Bagaimana judi akan terbasmi kalau ketidakpastian hukum masih merajalela? Bukankah yang kaya dan berpunya akan selalu memenangkan perkara hukum? Dengan ketidakpastian itu, herankah kita kalau ada orang ber­ judi untuk mencari kekayaan dengan cepat?

Nah, di sinilah terletak arti penting deskripsi tentang Is­ lam. Dari manakah ia harus dilihat? Dari kenyataan hidup orang Islam (berarti deskripsi empirik), ataukah dari sudut ajaran for­ mal (berarti pendekatan ideal­formalistik) yang bersifat univer­ sal? Tergantung dari kemampuan kita menjawab hal ini dengan baik. Dari situ "nasib" sejumlah kajian Islam di berbagai lembaga penelitian dewasa ini diuji. h

D

alam sejarah umat manusia, selalu terdapat kesenjang­ an antara teori dan praktek. Terkadang kesenjangan itu sangatlah besar, dan kadang kecil. Apa yang oleh pa­ ham komunisme dirumuskan dengan kata “rakyat”, dalam teo­ ri dimaksudkan untuk membela kepentingan orang kecil; tapi dalam praktek justru yang banyak dibela adalah kepentingan kaum aparatchik. Itupun berlaku dalam orientasi paham terse­ but, yang lebih banyak membela kepentingan penguasa daripada kepentingan rakyat kebanyakan. Karena itu, kita harus berhati­ hati dalam merumuskan orientasi paham ke­Islaman, agar tidak mengalami nasib seperti paham komunisme.

Orientasi paham ke­Islaman sebenarnya adalah kepenting­ an orang kecil dalam hampir seluruh persoalannya. Lihat saja kata “maslahah ‘ammah”,1 yang berarti kesejahteraan umum.

Inilah seharusnya yang menjadi objek dari segala macam tindak­ an yang diambil pemerintah. Kata kesejahteraan umum dan/atau kemaslahatan umum itu tampak nyata dalam keseluruhan umat Islam. Yang langsung tampak, umpamanya, adalah kata kunci da­ lam adagium iqh: “tindakan/kebijakan seorang pemimpin atas rakyat (yang dipimpin) sepenuhnya bergantung kepada kebutuh­

1 Teori tentang maslahah telah dirangkum dan dibahas secara kompre­

hensif oleh Izzuddin Ibn Abdissalam dalam karyanya Qawa’idul Ahkam Fie Masalih Al-Anam.