• Tidak ada hasil yang ditemukan

nu dan negara Islam (2)

interaktif itu dapat diketahui bahwa pengaruh luar pun harus dipikirkan, seperti pengaruhnya bagi berbagai kawasan dunia Islam lainnya dan juga kadar pengetahuan agama Islam yang rendah.

Rendahnya pengetahuan agama yang dimiliki itu, diga­ bungkan dengan rasa kekhawatiran sangat besar lembaga/in­ stitusi ke­Islam­an melihat tantangan modernisasi, membuat mereka melihat bahaya di mana­mana terhadap Islam. Proses pemahaman keadaan seperti itu, yang terlalu menekankan pada aspek kelembagaan/institusional Islam belaka, dapat dinama­ kan sebagai proses pendangkalan agama kalangan kaum mus­ limin. Pihak­pihak lain yang non­muslim juga mengalami pen­ dangkalan seperti itu, dan juga memberikan responsi yang salah terhadap tantangan keadaan. Kalau kita melihat pada budaya/ kultur kaum muslimin dimana­mana, sebenarnya kekhawatiran demikian besar seperti itu tidak seharusnya ada di kalangan mereka. Cara hidup, membaca al-Qurân dan Hadist, main reba­ na, tahlil, berbagai bentuk “seni Islam” dan lain­lainnya, justru mampu menumbuhkan rasa percaya diri yang besar, dalam diri kaum muslimin.

Salah seorang penanya dalam dialog interaktif itu mengu­ tip al-Qurân “Barang siapa tidak (ber) pendapat hukum dengan apa yang di turunkan Allah, mereka adalah orang yang kair (wa man lam yahkum bimâ anzala Allâh fa’ulâika hum al-kâ-

irûn)” (QS al­Maidah [5]:44). Lalu bagaimana mungkin kita menjalankan hukum Allah, tanpa NI? Jawab penulis, karena ada masyarakat yang menerapkan hal itu, dan, atau mendidik kita agar melaksanakan hukum Allah. Jika negara yang melakukan itu, maka dapat saja lembaga bikinan manusia ini ditinggalkan. Jadi, untuk memelihara pluralitas bangsa, tidak ada kewajiban mendirikan NI atau menentang mereka yang menentang adanya gagasan mendirikan NI. Netralitas seperti inilah yang sebenar­ nya jadi pandangan Islam dalam soal wajib tidaknya gagasan mendirikan NI.

Netralitas ini sangat penting untuk dijunjung tinggi, kare­ na hanya dengan demikian sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat didirikan. Dengan berdirinya NII, maka pihak minoritas ­baik minoritas agama maupun minoritas lain­lain­ nya­, tidak mau berada dalam negara ini dan menjadi bagian dari negara tersebut. Dengan demikian, yang dinamakan Republik

Islam, nEGaRa dan kEPEmImPInan umat

Indonesia tidak dapat diwujudkan, karena ketidaksediaan terse­ but. Akhirnya, Indonesia akan tidak terwujud sebagai kesatuan, karena ada negara Aceh, negara bagian Timur dan Selatan dari Sumatra Utara, negara Sumatra Barat, Jambi, Bengkulu, Suma­ tra Selatan, Lampung, Seluruh pulau Jawa, NTB, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, dan sebagian Maluku dan lain­ lainnya, berada di luar susunan kenegaraan NKRI, karena ber­ dasarkan agama mayoritas penduduknya itu.

Karenanya, keputusan para wakil berbagai organisasi Islam dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) untuk menghilangkan Piagam Jakarta2 dari Pembukaan Undang­Un­

dang Dasar 1945, pada tanggal 18 Agustus 1945 adalah sebuah sikap yang sangat bijaksana dan harus di pertahankan. Keputus­ an itu diikuti oleh antara lain: Resolusi Jihad, yang dikeluar­

kan PBNU pada tanggal 22 Oktober 1945, adalah sesuatu yang sangat mendasar, dengan menyatakan bahwa mempertahankan wilayah Republik Indonesia adalah kewajiban agama bagi kaum muslimin. Dengan rangkaian kegiatan seperti itu, termasuk mendirikan Markas Besar Oelama Djawa–Timoer (MBODT) di Surabaya dalam bulan Nopember 1945, adalah salah satu dari kegiatan bermacam­macam untuk mempertahankan Repub­ lik Indonesia, yang notabene bukanlah sebuah NI. Diteruskan dengan perang gerilya melawan tentara pendudukan Belanda di tahun­tahun berikutnya. Dengan peran aktif para ulama dan pesantren­pesantren yang mereka pimpin, selamatlah negara kita dari berbagai rongrongan dalam dan luar negeri, hingga ter­ capainya penyerahan kedaulatan dalam tahun 1949 ­ 1950.

eg

2 Tujuh kata Piagam Jakarta yang dibuang oleh sidang PPKI itu adalah

“Negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa dengan kewajiban menjalankan

Syari’ah Islam bagi para pemeluk-pemeluknya.”

3 Resolusi Jihad digagas oleh KH. Hasyim Asy’ari yang ketika itu menja­

bat sebagai Rais Akbar Nahdlatul Oelama. Hal ini dimaksudkan untuk melaku­ kan perlawanan semesta kepada penjajah Belanda yang dibackingi antara lain oleh tentara Inggris. Resolusi Jihad dikeluarkan pada 22 Oktober 1945. Reso­ lusi Jihad inilah yang memberikan dorongan dan inspirasi bagi Bung Tomo sebagai pemimpin perjuangan untuk melakukan perlawanan semesta kepada penjajah di Surabaya. Itu pula yang kemudian melahirkan Peristiwa 10 Novem­ ber 1945 sebagai Hari Pahlawan dan Surabaya dikenal sebagai Kota Pahlawan.

Perkembangan sejarah setelah itu menunjukkan bahwa agama Islam tidak berkurang perannya dalam kehidupan bang­ sa, walaupun beberapa kali usaha merubah Negara Kesatuan Re­ publik Indonesia (NKRI) berhasil digagalkan, seperti dalam De­ wan Konstituante di tahun 1956­1959. Demikian juga beberapa kali pemberontakan bersenjata terhadap NKRI dapat digagalkan seperti DI­TII dan APRA (Bandung 1950). Ini tidak berarti Islam dibatasi ruang geraknya dalam negara, seperti terbukti dari kip­ rah yang dilakukan oleh Al­Azhar di Kairo.

Siapapun tidak dapat menyangkal bangsa Indonesia adalah memiliki jumlah terbesar kaum muslimin. Ini berbeda dari bang­ sa­bangsa lain, Indonesia justru memiliki jumlah yang sangat besar kaum “muslimin statistik” atau lebih dikenal dengan sebut­ an “muslim abangan”. Walaupun demikian, kaum muslim yang taat beragama dengan nama “kaum santri” masih merupakan minoritas. Karena itu, alangkah tidak bijaksananya sikap ingin memaksakan NI atas diri mereka.

Lalu, bagaimana dengan ayat kitab suci al-Qurân yang di sebutkan di atas? Jawabnya, kalau tidak ada NI untuk menegak­ kan hukum agama maka masyarakatlah yang berkewajiban. Da­ lam hal ini, berlaku juga sebuah kenyataan sejarah yang telah berjalan 1000 tahun lamanya yaitu penafsiran ulang (re­inter­ prensi) atas hukum agama yang ada. Dahulu kita berkeberatan terhadap celana dan dasi, karena itu adalah pakaian orang­orang non­muslim. Sebuah diktum mengemukakan, “Barang siapa me­ nyerupai sesuatu kaum ia adalah sebagian dari mereka (man ta-

syâbbaha bi qaumin fahuwa min hum).”4 Tetapi sekarang, tidak

ada lagi persoalan tentang hal itu karena esensi Islam tidak ter­ letak pada pakaian yang dikenakan melainkan pada akhlak yang dilaksanakan.

Karena itu, kita lalu mengerti mengapa para wakil berbagai gerakan Islam dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia

4 Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud dari

Ibnu Umar dan juga Imam Ahmad dalam musnadnya. Sedangkan Tirmidzi dalam bab al-Isti’dzan meriwayatkan dengan redaksi “Laisa minna man ta- syabbaha bighairina wala tasyabbahu bil yahud wala bi an-nashara (Bukan termasuk golonganku orang yang menyerupai sebuah komunitas selain kami, janganlah kalian berlaku seperti Yahudi dan Nasrani).” Di akhir hadis ini Imam Tirmidzi memberikan komentar pendek tentang nilai hadis ini yang sebenar­ nya dlaif.

Islam, nEGaRa dan kEPEmImPInan umat

(PPKI) memutuskan untuk menghilangkan Piagam Jakarta dari UUD 1945. Mereka inilah yang berpandangan jauh, dapat meli­ hat bersungguhnya kaum muslim menegakkan ajaran­ajaran agama mereka tanpa bersandar kepada negara. Dengan demiki­ an, mereka menghidupi baik agama maupun negara. Sikap inilah yang secara gigih dipertahankan Nahdlatul Ulama (NU), sehing­ ga agama Islam terus berkembang dan hidup di negeri kita. h

P

ada suatu pagi selepas olahraga jalan­jalan, penulis di­ minta oleh sejumlah orang untuk memberikan apa yang mereka namakan “petuah”. Saat itu, ada Kyai Aminullah Muchtar dari Bekasi, sejumlah aktiis NU dan PKB dan sekelom­ pok pengikut aliran kepercayaan dari Samosir. Dalam kesem­ patan itu, penulis mengemukakan pentingnya memahami arti yang benar tentang Islam. Karena ditafsirkan secara tidak benar, maka Islam tampil sebagai ajakan untuk menggunakan kekeras­ an/terorisme dan tidak memperhatikan suara­suara moderat. Padahal, justru Islam­lah pembawa pesan­pesan persaudaraan abadi antara umat manusia, bila ditafsirkan secara benar.

Pada kesempatan itu, penulis mengajak terlebih dahulu memahami fungsi Islam bagi kehidupan manusia. Kata al-Qurân, Nabi Muhammad Saw diutus tidak lain untuk membawakan amanat persaudaraan dalam kehidupan (wa mâ arsalnâka illâ

rahmatan lil ‘âlamîn) (QS al­Anbiya [21]:107), dengan kata “rah­

mah” diambilkan dari pengertian “rahim” ibu, dengan demikian manusia semuanya bersaudara. Kata “’alamîn” di sini berarti manusia, bukannya berarti semua makhluk yang ada. Jadi tugas kenabian yang utama adalah membawakan persaudaraan yang diperlukan guna memelihara keutuhan manusia dan jauhnya tin­ dak kekerasan dari kehidupan. Bahkan dikemukakan penulis, kaum muslimin diperkenankan menggunakan kekerasan hanya kalau aqidah mereka terancam, atau mereka diusir dari tempat tinggalnya (idzâ ukhriju min diyârihim).

Kemudian, penulis menyebutkan disertasi doktor dari Charles Torrey yang diajukan kepada Universitas Heidelberg di Jerman tahun 1880. Dalam disertasi itu, Torrey mengemu­

Islam: Perjuangan Etis