• Tidak ada hasil yang ditemukan

nu dan negara Islam (1)

Dalam sebuah tesis Magister –yang dibuatnya beberapa tahun yang lalu, Pendeta Einar Martahan Sitompul2, yang di ke­

mudian hari menjadi Sekretaris Jenderal Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), menuliskan bahwa Muktamar NU ta­ hun 1935 di Banjarmasin (Borneo Selatan), harus menjawab se­ buah pertanyaan, yang dalam tradisi organisasi tersebut dinamai bahts al-masâ’il (pembahasan masalah)3. Salah sebuah masalah

yang diajukan kepada muktamar tersebut berbunyi: wajibkah bagi kaum muslimin untuk mempertahankan kawasan Kerajaan Hindia Belanda, demikian negara kita waktu itu disebut, padahal diperintah orang­orang non­muslim? Muktamar yang dihadiri oleh ribuan orang ulama itu, menjawab bahwa wajib hukumnya secara agama, karena adanya dua sebab. Sebab pertama, karena kaum muslimin merdeka dan bebas menjalankan ajaran Islam. Sebab kedua, karena dahulu di kawasan tersebut telah ada Kera­ jaan Islam. Jawaban kedua itu, diambilkan dari karya hukum agama di masa lampau, berjudul “Bughyah al-Mustarsyidîn”.4

Jawabaan di atas seolah memperkuat pandangan Ibn Taimiyyah, beberapa abad yang lalu. Dalam pendapat pemikir ini, hukum agama Islam (iqh) memperkenankan adanya “pimpin­ an berbilang” (ta’addud al-a’immah), yang berarti pengakuan akan kenyataan bahwa kawasan dunia Islam sangatlah lebar di muka bumi ini, hingga tidak dapat dihindarkan untuk dapat menjadi efektif (syaukah). Konsep ini, yaitu adanya pimpinan

2 Sitompul, Einar Martahan, NU dan Pancasila : Sejarah dan Peranan

NU dalam Perjuangan Umat Islam di Indonesia dalam rangka Penerimaan Pancasila sebagai Satu-satunya Asas, (Jakarta: Sinar Harapan 1989). Buku ini diberi Kata Pengantar oleh KH. Abdurrahman Wahid.

3 Forum ilmiah yang beranggotakan para ulama berkeahlian khusus

yang bertugas membahas masalah­masalah waqi’iyyah (aktual) dengan men­ dasarkan pada al-kutub al-mu’tabarah. Forum ini juga banyak dijumpai di pesantren­pesantren dengan beranggotakan santri­santri senior sebagai ajang penguasaan terhadap referensi­referensi klasik.

4 Nama lengkap kitab ini adalah “Bughyatul Mustarsyidin Fi Talhis Fa-

tawa Ba’dli al-A’immah al-Muta’akhirin” yang disusun oleh As­Sayid Abdur­ rahman bin Muhammad bin Husain bin Umar yang dikenal dengan sebutan

Ba’alawy. Kitab ini dicetak bersama dengan dua kitab yaitu Itsmidul Ainain dan

Ghayah Talkhis al-Murad. Keberadaan Kitab Bughyatul Mustarsyidin yang di pesantren cukup disebut dengan Bughyah ini sangatlah berarti dalam diskur­ sus pesantren, karena hampir dipastikan kitab ini selalu muncul dalam kajian­ kajian permasalahan aktual meski sebenarnya kitab ini merupakan kompilasi dari fatwa­fatwa para ulama Hadramaut, Yaman.

Islam, nEGaRa dan kEPEmImPInan umat

berbilang yang khusus berlaku bagi kawasan yang bersangkutan, telah diperkirakan oleh kitab suci al-Qurân dengan irman Allah; “Sesungguhnya Aku telah menciptakan kalian dari jenis laki­laki dan perempuan dan Ku­jadikan kalian berbangsa­bangsa dan bersuku­suku bangsa, agar kamu sekalian saling mengenal (innâ

khalaqnâkum min dzakarin wa untsâ wa ja’alnâkum syu’ûban

wa qabâ’ila li ta’ârafû)” (QS al­Hujurat [49]:13). Firman Allah

ini juga yang menjadi dasar adanya perbedaan pendapat di ka­ langan kaum muslimin, walaupun dilarang adanya perpecahan diantara mereka, seperti kata irman Allah juga: “Berpeganglah kalian (erat­erat) kepada tali Allah secara keseluruhan, dan ja­ nganlah terbelah­belah/saling bertentangan (wa’tashimû bi ha-

bli Allâhi jamî’an wa lâ tafarraqû)” (QS ali­Imran [3]:103).

eg

Dengan keputusan Muktamar Banjarmasin tahun 1935 itu, NU dapat menerima kenyataan tentang kedudukan negara Hindia Belanda (Indonesia) dalam pandangan Islam. Menurut pendapat organisasi tersebut tidak perlu NI didirikan. Dalam hal ini, diperlukan sebuah klariikasi yang jelas tentang perlu tidak- nya didirikan sebuah NI.

Di sini ada dua pendapat, pertama; sebuah NI harus ada, seperti pendapat kaum elit politik di Saudi Arabia, Iran, Pakistan dan Mauritania. Pendapat kedua, seperti dianut oleh NU dan banyak organisasi Islam lainnya, tidak perlu ada NI. Ini dise­ babkan oleh heterogenitas sangat tinggi di antara warga negara Indonesia, di samping kenyataan ajaran Islam menjadi tang­ gungjawab masyarakat, dan bukannya negara. Pandangan NU ini bertolak dari kenyataan bahwa Islam tidak memiliki ajaran for­ mal yang baku tentang negara, yang jelas ada adalah mengenai tanggungjawab tiap kaum muslim untuk melaksanakan Syari’ah Islam.

Memang, diajukan pada penulis argumentasi dalam ben­ tuk irman Allah; “Hari ini telah Ku-sempurnakan agama ka­ lian, Ku­sempurnakan bagi kalian (pemberian) nikmat­Ku dan Ku­relakan Islam “sebagai” agama (al-yauma akmaltu lakum

dînakum wa atmamtu ‘alaikum nikmatî wa radhîtu lakum al-

Islâma dînan)” (QS al­Maidah [5]:3). Jelaslah dengan demikian,

cara tentang kemanusiaan secara umum, yang sama sekali tidak memiliki sifat memaksa, yang jelas terdapat dalam tiap konsep tentang negara. Demikian pula, irman Allah; “Masuklah kalian ke dalam Islam (kedamaian) secara keseluruhan (udkhulû fî al- silmi kâffah)” (QS al­Baqarah (2): 208). Ini berarti kewajiban bagi kita untuk menegakkan ajaran­ajaran kehidupan yang tidak terhingga, sedangkan yang disempurnakan adalah prinsip­prin­ sip Islam. Hal itu menunjukkan, Islam sesuai dengan tempat dan waktu manapun juga, asalkan tidak melanggar prinsip­prinsip tersebut. Inilah maksud dari ungkapan Islam tepat untuk sege­ nap waktu dan tempat (al-Islâm shalihun likulli zamânin wa makânin).

Sebuah argumentasi sering dikemukakan, yaitu ungkapan Kitab Suci; “Orang yang tidak ‘mengeluarkan’ fatwa hukum (se- suai dengan) apa yang diturunkan Tuhan, maka orang itu (terma­ suk) orang yang kair –atau dalam variasi lain dinyatakan orang yang dzalim atau orang yang munaiq- (wa man lam yahkum

bimâ anzala Allâhu faulâika hum al kâirûn)” (QS al­Maidah

[5]:44).5 Namun bagi penulis, tidak ada alasan untuk melihat ke­

harusan mendirikan NI, karena hukum Islam tidak bergantung pada adanya negara, melainkan masyarakat pun dapat member­ lakukan hukum agama. Misalnya, kita bersholat Jum’at juga ti­ dak karena undang­undang negara, melainkan karena itu diperin­ tahkan oleh syari’at Islam. Sebuah masyarakat yang secara moral berpegang kepada Islam dan dengan sendirinya melaksanakan syari’at Islam, tidak lagi memerlukan kehadiran sebuah negara agama, seperti yang dibuktikan para sahabat di Madinah setelah Nabi Muhammad Saw wafat.

5 Pandangan fundamentalisme ini didasarkan pada beberapa ayat al­

Quran yang memerintahkan tentang pemberian putusan. Sebagaimana difir­ mankan Tuhan dalam Q.S. al­Maidah, (5): 44, 45 dan 47. Ayat­ayat itu dengan tegas memberikan penilain yang negatif, terutama kepada mereka yang tidak melaksanakan perintah. Tak hanya itu, golongan yang mendapat celaan Tuhan itu pun dikategorikan kafir, zalim dan fasik. Kaum fundamentalis memahami ketiga ayat itu secara atomistik. Atomisme yang mereka lakukan tidak hanya mengisolasi ayat dari konteksnya, tapi juga memahami frasa terakhir dari ayat­ ayat itu dari frasa­frasa sebelumnya. Padahal, konteks ketiga ayat itu sebenar­ nya menyebutkan bahwa subyek yang dikritik sehingga menjadi kafir, zalim dan fasik adalah kaum Yahudi dan Kristen yang tidak memutuskan perkara berdasarkan apa atau hukum yang diturunkan Tuhan. Dengan demikian, pi­ hak yang mendapat kritik sebagaimana terkandung dalam ayat­ayat itu bukan umat Islam pengikut Nabi Muhammad.

Islam, nEGaRa dan kEPEmImPInan umat

eg

Inilah yang membuat mengapa NU tidak memperjuang­ kan Indonesia menjadi NII, Negara Islam Indonesia. Kemaje­ mukan (heterogenitas) yang tinggi dalam kehidupan bangsa kita, membuat kita hanya dapat bersatu dan kemudian mendirikan negara, yang tidak berdasarkan agama tertentu. Kenyataan ini­ lah yang sering dikacaukan oleh orang yang tidak mau mengerti bahwa mendirikan sebuah NI tidak wajib bagi kaum muslimin, tapi mendirikan masyarakat yang berpegang kepada ajaran­ajar­ an Islam adalah sesuatu yang wajib. Artinya, haruskah agama secara formal ditubuhkan dalam bentuk negara, atau cukup di­ lahirkan dalam bentuk masyarakat saja? Orang “berakal sehat” tentu akan berpendapat sebaiknya kita mendirikan NI, kalau hal itu tidak memperoleh tentangan, dan tidak melanggar prinsip persamaan hak bagi semua warga negara untuk mengatur ke­ hidupan mereka.

Telah disebutkan di atas tentang fatwa Ibn Taimiyyah, ten­ tang kebolehan Imam berbilang yang berarti tidak adanya keha­ rusan mendirikan NI. Lalu mengapakah fatwa­fatwa beliau ti­ dak digunakan sebagai rujukan oleh Muktamar NU itu? Karena, pandangan beliau dirujuk oleh wangsa yang berkuasa di Saudi Arabia bersama­sama dengan ajaran­ajaran Madzhab Hambali (disebutkan juga dalam bahasa Inggris Hambalite School), yang secara de facto melarang orang bermadzhab lain. Kenyataan ini tentu saja membuat orang­orang NU bersikap reaktif ter­ hadap madzhab tersebut. Tentu saja hal itu secara resmi tidak dilakukan, karena sikap Saudi Arabia terhadap madzhab­madz­ hab non­Hambali juga tidak bersifat formal. Dengan kata lain, pertentangan pendapat antara “pandangan kaum Wahabi” yang secara de facto demikian keras terhadap madzhab­madzhab lain itu, melahirkan reaksi yang tidak kalah kerasnya. Ini adalah con­ toh dari sikap keras yang menimbulkan sikap yang sama dari “pi­ hak seberang”.

Contoh dari sikap saling menolak, dan saling tak mau me­ ngalah itu membuat gagasan membentuk NI di negara kita (men­ jadi NII), sebagai sebuah utopia yang terdengar sangat indah, namun sangat meragukan dalam kenyataan. Ini belum kalau pi­ hak non­muslim ataupun pihak kaum muslimin nominal (kaum abangan), berkeberatan atas gagasan mewujudkan negara Islam

itu. Jadi gagasan yang semula tampak indah itu, pada akhirnya akan dinaikan sendiri oleh bermacam-macam sikap para warga negara Indonesia, yang hanya sepakat dalam mendirikan negara bukan agama. Inilah yang harus dipikirkan sebagai kenyataan sejarah. Kalaupun toh dipaksakan –sekali lagi­ untuk mewujud­ kan gagasan NI itu di negara kita, maka yang akan terjadi hanya­ lah serangkaian pemberontakan bersenjata seperti yang terjadi di negara kita tahun­tahun 50­an. Apakah deretan pemberontak­ an bersenjata seperti itu, yang ingin kita saksikan kembali dalam sejarah modern bangsa kita. h

K

etika berada di Makassar pada minggu ke tiga bulan Feb­ ruari 2003, penulis di wawancarai oleh TVRI di studio televisi kawasan tersebut, yang direlay oleh studio­stu­ dio TVRI seluruh Indonesia Timur. Penulis memulai wawancara itu dengan menyatakan, menyadari sepenuhnya bahwa masih cukup kuat sekelompok orang yang menginginkan negara Islam (NI). Pengaruh almarhum Kahar Mudzakar1 yang dinyatakan

meninggal dalam paruh kedua tahun 60­an ternyata masih be­ sar. Karenanya, penulis menyatakan dalam wawancara tersebut, pembicaraan sebaiknya ditekankan pada pembahasan tentang pembentukan NI di Sulawesi Selatan itu. Penulis menyatakan, bahwa ia menganggap tidak ada kewajiban mendirikan NI, tapi ia juga tidak memusuhi orang­orang yang berpikiran seperti itu.

Dalam dialog interaktif yang terjadi setelah itu, penulis di­ hujani pertanyaan demi pertanyaan tentang hal itu. Bahkan ada yang menyatakan, penulis adalah diktator karena tidak menyetu­ jui pemikiran adanya NI. Penulis menjawab, bahwa saya meng­ anggap boleh saja menganut paham itu, dan berbicara terbuka di muka umum tentang gagasan tersebut, itu sudah berarti saya bukan diktator. Salah satu tanda kediktaktoran adalah tidak ada­ nya dialog dan orang menerima saja sebuah gagasan dan tidak boleh membicarakannya secara kritis dan terbuka. Dari dialog

1 Kahar Muzakkar (1921­1965) adalah pemimpin pemberontak DII/TII di

Sulawesi Selatan. Namanya menjadi inspirasi bagi gerakan tuntutan penerapan Syariat Islam yang diusung Komite Persiapan Penegakan Syariat Islam (KPPSI) Sulawesi Selatan yang dipimpin anaknya Aziz Kahar.