Islam, nEGaRa dan kEPEmImPInan umat
kakan bahwa kitab suci al-Qurân menggunakan istilah-istilah paling duniawi, seperti kata “rugi”, “untung” dan “panen”, untuk menyatakan halhal yang paling dalam dari keyakinan manusia. Umpamanya saja, ungkapan “ia di akhirat menjadi orangorang yang merugi (perniagaannya) (wa huwa i al-âkhirati min al-
khâsirîn)” (QS Ali Imran [3]:85). Begitu juga ayat lain, “men ghutangi Allah dengan hutang yang baik (yuqridhullâha qard- han hasanan)” (QS alBaqarah [2]:245), serta ayat “barang siapa menginginkan panen di akhirat, akan Kutambahi panenannya
(man kâna yurîdu hartsa al-âkhirati nazid lahû i hartsihi)” (QS
al-Syûra [42]:20).
eg
Dalam uraian selanjutnya, penulis mengemukakan penger tian negara dari kata “daulah”, yang tidak dikenal oleh al-Qur’an. Dalam hal ini, kata tersebut mempunyai arti lain, yaitu “berputar” atau “beredar”, yaitu dalam ayat “agar harta yang terkumpul itu tidak berputar/beredar antara orangorang kaya saja di lingkung an anda semua (kailâ yakûna dûlatan baina al-aghniyâ’i min- kum)” (QS alHasyr (59):7). Ini menunjukkan yang dianggap oleh alQuran adalah sistem ekonomi dari sebuah negara, bukan bentuk dari sebuah negara itu sendiri. Jadi, pembuktian tekstual ini menunjukkan Islam tidak memandang penting bentuk nega ra. Atau, dengan kata lain, Islam tidak mementingkan konsep negara itu sendiri.
Dapat disimpulkan dari uraian di atas, Islam lebih meng utamakan fungsi negara dari pada bentuknya. Dalam hal ini, ben tuk kepemimpinan dalam sejarah Islam senantiasa mengalami perubahan. Bermula dari sistem prasetia (bai’at)dari sukusuku kepada Sayyidina Abu Bakar, melalui pergantian pemimpin de ngan penunjukkan dari beliau kepada Sayyidina Umar, diterus kan dengan sistem para pemilih (ahl al-halli wa al-aqdi) baik langsung maupun tidak, diteruskan dengan sistem kerajaan atau keturunan di satu sisi dan kepala negara atau kepala pemerin tahan dipilih oleh lembaga perwakilan, serta memimpin melalui coup d’etat di sementara negara, semuanya menunjukkan tiada nya konsep pergantian pemimpin negara secara jelas dalam pan dangan Islam.
yang akan dibentuk. Di zaman Nabi Saw, negara meliputi satu wilayah kecil saja –yaitu kota Madinah dan sekitarnya, diterus kan dengan imperium dunia di masa para khalifah dan kemu dian Dinasti Umaiyyah dan Abbasyiah. Setelah itu, berdirilah kerajaankerajaan lokal dari Dinasti Murabbitîn1 di barat Afrika
hingga Mataram di Pulau Jawa. Kini, kita kenal dua model; mo del negarabangsa (nation state) dan negara kota (city state). Keadaan menjadi lebih sulit, karena negara kota menyebut diri nya negarabangsa, seperti Kuwait dan Qatar.
eg
Dengan tidak jelasnya konsep Islam tentang pergantian pemimpin negara dan bentuk negara seperti diterangkan di atas, boleh dikatakan bahwa Islam tidak mengenal konsep negara. Dalam hal ini, yang dipentingkan adalah masyarakat (mujtama’ atau society), dan ini diperkuat oleh penggunaan kata umat (ummah)dalam pengertian ini. Sidney Jones2 mengupas peru
1 Kerajaan Murabbitin didirikan 1056 M di Morroco oleh Dinasti Berber
dari Sahara. Pada masa Dinasti Moor, kekuasaan kerajaan ini meluas dari Mau ritania, Gibraltar, Aljazair, Senegal dan Mali, hingga ke daratan Eropa yaitu Spanyol dan Portugal.
2 Sidney Jones adalah Direktur International Crisis Group (ICG) yang
banyak melakukan riset di Indonesia terutama tentang tumbuhnya gerakan Islam radikal meski terkadang risetnya terkesan generalisasi terhadap kasus kasus gerakangerakan Islam di Indonesia. Tidak banyak yang mengetahui sepak terjang wanita yang lahir 31 Mei 1952 pada era Orde Baru. Sebab, Sidney Jones baru dikenal oleh publik Indonesia pada tahun 2002 melalui artikelnya yang berjudul “Al-Qaidah in Southeast Asia: The Case of the “Ngruki Network”
in Indonesia.” Sebelumnya, wanita ini memang pernah sangat akrab dengan Indonesia ketika menjadi aktivis LSM terkemuka seperti Ford Foundation
(19771984), Amnesty International (19841988), Direktur Divisi Asia Human
Rights Watch (19892002). Sekitar 20 tahun lebih, Sidney mengenal Indone sia. Sebagai peneliti yang banyak “asam garam” dengan Orde Baru, Sidney telah mampu merekam apa saja yang terjadi selama 20 tahun yang terkait dengan berbagai isu seputar Tapol, Pelanggaran HAM, dan isuisu lain yang meru pakan “makanan” kelompok LSM. Sedang International Crisis Group (ICG) merupakan sebuah organisasi nonprofit yang melakukan riset lapangan dan advokasi tingkat tinggi untuk mencegah dan menyelesaikan konflik berbahaya. Organisasi ini bersifat multinasional dan independen dengan mempekerjakan lebih dari 90 staff di beberapa perwakilan di hampir 30 negara dengan kantor pusat di Belgia serta kantorkantor advokasi tersebar di Washington DC, New York, Moscow dan Paris serta kantor urusan media di London.
Islam, nEGaRa dan kEPEmImPInan umat
bahan arti kata "umat Islam" dalam berbagai masa di Indonesia, yang diterbitkan di jurnal Indonesia Universitas Cornell di Itha ca, New York, beberapa tahun lalu. Semuanya menunjuk pada pengertian masyarakat itu, baik seluruh bangsa maupun hanya para pengikut gerakangerakan Islam di sini belaka.
Dengan demikian, pendapat yang menyatakan adanya pan dangan tentang negara dalam Islam, harus diartikan ada pan dangan agama tersebut tentang masyarakat. Ini semua, akan membawa konsekuensi tiadanya hubungan antara Islam sebagai ideologi politik dan negara. Dengan kata lain, Islam mengenal ideologi sebagai pegangan hidup masyarakat, minimal berlaku untuk para warga gerakangerakan Islam saja. Jadi negara dapat saja didirikan tanpa ideologi Islam, untuk menyantuni hakhak semua warga negara di hadapan UndangUndang Dasar (UUD), baik mereka muslim maupun nonmuslim.
Tanpa menyadari hal ini, kita secara emosional akan meng ajukan tuntutan akan adanya sebuah ideologi Islam dalam kehi dupan bernegara. Ini berarti, warga negara nonmuslim akan menjadi warga negara kelas dua, baik secara hukum maupun dalam kenyatan praktis. Padahal Republik Indonesia tanpa meng
ICG pada saat ini mengoperasikan tiga belas kantor cabang (Amman, Belgrade, Bogota, Cairo, Freetown, Islamabad, Jakarta, Kathmandu, Nairobi, Osh, Pristina, Sarajevo dan Tbilisi) dengan para analis yang bekerja di lebih dari 30 negara dan daerah krisis di empat benua. Di Afrika, negaranegara tersebut meliputi Burundi, Rwanda, Republik Demokratik Congo, Sierra Leo
ne-Liberia-Guinea, Ethiopia, Eritrea, Somalia, Sudan, Uganda dan Zimbabwe;
di Asia, Indonesia, Myanmar, Kyrgyzstan, Tajikistan, Turkmenistan, Uzbeki stan, Pakistan, Afghanistan dan Kashmir; di Eropa, Albania, Bosnia, Georgia, Kosovo, Macedonia, Montenegro, dan Serbia; di Timur Tengah, seluruh bagian Afrika Utara sampai ke Iran; dan di Amerika Latin, Colombia.
ICG mendapatkan dukungan dana dari pemerintah, yayasan amal, perusahaan dan donor individual. Negaranegara yang pada saat ini turut me nyediakan dana antara lain: Australia, Austria, Canada, Denmark, Finlandia, Perancis, Jerman, Irlandia, Jepang, Luxemburg, Belanda, Norwegia, Swedia, Swiss, Republik Rakyat Cina (Taiwan), Turki, Inggris dan Amerika Serikat. Sumbangan dari yayasan dan donor swasta meliputi Atlantic Philanthropies,
Carnegie Corporation of New York, Ford Foundation, Bill & Melinda Gates
Foundation, William & Flora Hewlett Foundation, Henry Luce Foundation,
John D. & Catherine T. Mac Arthur Foundation, John Merck Fund, Charles Stewart Mott Foundation, Open Society Institute, Ploughshares Fund, Sigrid Rausing Trust, Sasakawa Peace Foundation, Sarlo Foundation of the Jewish Community Endowment Fund, the United States Institute of Peace dan The Fundacao Oriente.
gunakan ideologi agama secara konstitusional dalam hidupnya, berhasil menghilangkan kesenjangan itu. Dengan demikian, ter jadilah proses alami kaum muslimin memperjuangkan 'ideologi masyarakat' yang mereka ingini melalui penegakkan etika Islam, bukannya ideologi Islam. Bukankah ini lebih rasional? h
J
udul diatas diilhami oleh jargon populer: “Sebaikbaik per soalan adalah yang berada di tengah (khairu al-umûr aus- âthuha).” Ia juga bisa mencerminkan pandangan agama Buddha tentang “jalan tengah” yang dicari dan diwujudkan oleh penganut agama tersebut. Walaupun demikian, judul itu dimak sudkan untuk mengupas sebuah buku karya tokoh Syi’ah terke- muka Dr. Musa al-Asy’ari, “Menggagas Revolusi Kebudayaan Tanpa Kekerasan” –dalam sebuah diskusi di kampus Universitas Darul Ulum Jombang, beberapa waktu lalu. Katakanlah sebagai sebuah resensi, yang juga semacam analisa terhadap kecende rungan umum mengambil “jalan tengah” yang dimiliki bangsa kita, dan mempengaruhi kehidupan di negeri ini.Dalam kenyataan hidup seharihari, sikap mencari jalan tengah ini, akhirnya berujung pada sikap mencari jalan sendiri di tengah tawaran penyelesaian berbagai persoalan yang masuk ke kawasan ini. Namun, sebelum menyimpulkan hal itu, terlebih dahulu penulis ingin melihat buku itu dari kacamata sejarah ja lan hidup banyak peradaban dunia. Kalau kita tidak pahami ma salah tersebut dari sudut ini, kita akan mudah menggangap “ja lan tengah” sebagai sesuatu yang khas dari bangsa kita, padahal dalam kenyataannya tidaklah demikian.
Bahwa bangsa kita cenderung untuk mencari sesuatu yang “independen” dari bangsabangsa lain, merupakan sebuah kenya taan yang tidak terbantahkan. Mr. Muhammad Yamin, umpama nya menggangap kerajaan Majapahit memiliki angkatan laut yang kuat dan menguasai kawasan antara Pulau Madagaskar di lautan Hindia/Samudra Indonesia di Barat dan Pulau Tahiti di tengah-tengah Lautan Pasiik, dengan benderanya yang terkenal Merah Putih. Padahal, angkatan laut kerajaan Majapahit hanya lah fatsal (pengikut) belaka dari Angkatan Laut Tiongkok yang menguasai kawasan perairan tersebut selama berabadabad.