• Tidak ada hasil yang ditemukan

Islam dan kepemimpinan Wanita

Qurân. “Sesungguhnya Ku-ciptakan kalian sebagai laki-laki dan perempuan (Innâ khalaqnâkum min dzakarin wa untsa),” (QS al­Hujurat [49]:13) mengisyaratkan persamaan seperti itu. Per­ bedaan pria dan wanita hanyalah bersifat biologis, tidak bersifat institusional/kelembagaan sebagaimana disangkakan banyak orang dalam literatur Islam klasik. Akibatnya, masyarakat pun menjadi terpengaruh, termasuk kaum wanitanya sendiri.

Sewaktu masih menjadi Ketua Umum PBNU, penulis per­ nah didatangi seorang ulama Pakistan, sewaktu Benazir Bhutto masih menjadi orang pertama dalam pemerintahan negeri terse­ but. Ia meminta agar penulis membacakan surat Al­Fatihah bagi bangsa Pakistan, agar mereka terhindar dari malapetaka. Kata­ nya: "Bukankah Rasulullah Saw bersabda Tidak akan pernah suk­ ses sebuah kaum yang menyerahkan kepemimpinannya kepada wanita?1" Bukankah dengan naiknya Benazir Bhutto menjadi

1 Jumhur ulama memahami hadis kepemimpinan politik perempuan

secara tekstual dan apa adanya. Mereka berpendapat, berdasarkan petunjuk hadis tersebut, pengangkatan perempuan menjadi kepala negara, hakim peng­ adilan dan berbagai jabatan politis lainnya, dilarang dalam agama. Mereka me­

nyatakan bahwa perempuan menurut petunjuk syara’ hanya diberi tanggung

jawab untuk menjaga harta suaminya. Oleh karenanya, al­Khattabi misalnya, mengatakan bahwa seorang perempuan tidak sah menjadi khalifah. Lihat al­ Asqalani, Fath al-Bari Syarah Sahih al-Bukhari, Juz. VIII, hal. 128. Demikian pula al­Syaukani dalam menafsirkan hadis tersebut berkata, bahwa perempuan itu tidak termasuk ahli dalam hal kepemimpinan, sehingga tidak boleh men­ jadi kepala negara. (Muhammad ibn ‘Ali ibn Muhammad al­Syaukani, Nail al- Autar, Mesir: Mustafa al­Babi al­Halabi, t.t., Juz. VII, hal. 298). Para ulama lainnya seperti Ibn Hazm, al­Ghazali, Kamal ibn Abi Syarif dan Kamal ibn Abi Hammam, meskipun dengan alasan yang berbeda juga mensyaratkan laki­laki sebagai kepala negara (Muhammad Yusuf Musa, Nizam al-Hukm fi al-Islam). Bahkan Sayyid Sabiq mensinyalir kesepakatan ulama (fuqaha) mengenai syarat laki­laki ini bagi kepala negara sebagai mana syarat bagi seorang qadi, karena didasarkan pada hadis seperti tersebut sebelumnya. (Sayyid Sabiq, Fiqh

al-Sunnah, Jilid. III, hal. 315).

Dalam memahami dan mengkaji hadis mutlak diperlukan informasi yang memadai mengenai latar belakang kejadiannya (sisi historis) yang me­ lingkupi teks tersebut. Sebenarnya jauh sebelum hadis tersebut muncul, yakni pada masa awal dakwah Islam dilakukan oleh Nabi ke beberapa daerah dan negeri. Pada saat itu Nabi Muhammad SAW pernah mengirim surat kepada pembesar negeri lain dengan maksud mengajak mereka untuk memeluk Islam. Di antara pembesar yang dikirimi surat oleh Nabi adalah Raja Kisra di Persia. Kisah pengiriman surat tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

Rasulullah Muhammad SAWtelah mengutus ‘Abdullah ibn Hudaifah untuk mengirimkan surat tersebut kepada pembesar Bahrain. Setelah tugas di­

Islam, kEadIlan dan Hak asasI manusIa

Perdana Menteri, nasib Pakistan akan seperti yang disampaikan Rasulullah itu?’’ Penulis menjawab, bahwa dalam hal ini diper­ lukan penafsiran baru sesuai dengan perubahan yang terjadi? Bukankah Nabi Muhammad Saw menunjuk kepada kepemimpin­ an Abad VII hingga IX Masehi di Jazirah Arab? Kepemimpinan suku atau kaum, waktu itu memang berbentuk perseorangan (in- dividual leadership), sedangkan sekarang kepemimpinan negara justru dilembagakan?

Benazir Bhutto harus mengambil keputusan melalui si­

lakukan sesuai dengan pesan dan diterima oleh pembesar Bahrain, kemudian pembesar Bahrain tersebut memberikan surat kepada Kisra. Setelah membaca surat dari Nabi Muhammad SAW, Kisra menolak dan bahkan merobek­robek surat Nabi Muhammad SAW. Menurut riwayat bin al­Musayyab —setelah peristiwa tersebut sampai kepada Rasulullah SAW— kemudian Rasulullah ber­ sabda: “Siapa saja yang telah merobek­robek surat saya, akan dirobek­robek (diri dan kerajaan) orang itu” (al­Asqalani. Fath al-Bari, hal. 127­128). Tidak lama kemudian, Kerajaan Persia dilanda kekacauan dan berbagai pembunuhan yang dilakukan oleh keluarga dekat raja. Hingga setelah terjadi bunuh­mem­ bunuh dalam rangka suksesi kepemimpinan, diangkatlah seorang perempuan yang bernama Buwaran binti Syairawaih bin Kisra (cucu Kisra yang pernah dikirimi surat Nabi) sebagai ratu (Kisra) di Persia. Hal tersebut karena ayah Buwaran meninggal dunia dan anak laki­lakinya (saudara Buwaran) telah mati terbunuh. Karenanya, Buwaran kemudian dinobatkan menjadi ratu. Peristiwa tersebut terekam dalam sejarah terjadi pada tahun 9 H. (lihat juga: Abu Falah

‘Abd al-Hayy bin al-’Imad al-Hanbali, Syazarat al-Zahab Fi Akhbar man Za- hab, Beirut: Dar al­Fikr, 1979, Jilid. I, hal. 13).

Selain itu, dari sisi sejarah sosial bangsa tersebut dapat diungkap bahwa menurut tradisi masyarakat yang berlangsung di Persia masa itu, jabatan ke­ pala negara (raja) biasanya dipegang oleh kaum laki­laki. Sedang yang terjadi pada tahun 9 H. tersebut menyalahi tradisi itu, sebab yang diangkat sebagai raja adalah seorang perempuan. Pada waktu itu, derajat kaum perempuan di mata masyarakat berada di bawah derajat kaum lelaki. Perempuan sama sekali tidak dipercaya untuk ikut serta mengurus kepentingan masyarakat umum, terlebih lagi dalam masalah kenegaraan. Keadaan seperti ini tidak hanya ter­ jadi di Persia saja, tetapi juga di seluruh Jazirah Arab. Dalam kondisi kerajaan Persia dan keadaan sosial seperti itulah, wajar Nabi MuhammadSAW yang memiliki kearifan tinggi, melontarkan hadis bahwa bangsa yang menyerahkan masalah­masalah (kenegaraan dan kemasyarakatan) kepada perempuan tidak akan sejahtera/sukses. Bagaimana mungkin akan sukses jika orang yang me­ mimpin itu adalah orang yang sama sekali tidak dihargai oleh masyarakat yang dipimpinnya? Salah satu syarat yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kewibawaan, sedang perempuan pada saat itu sama sekali tidak me­ miliki kewibawaan untuk menjadi pemimpin. Andaikata seorang perempuan telah memiliki kualifikasi dan sangat dihormati oleh masyarakat, sangat mung­ kin Nabi yang sangat bijaksana akan menyatakan kebolehan kepemimpinan politik perempuan.

dang kabinet, dengan para menteri yang mayoritasnya pria. Dan, kabinet tidak boleh menyimpang dari kebijakan parlemen, juga mayoritas anggotanya adalah pria. Hingga, parlemen pun tidak boleh menyimpang dari Undang­Undang Dasar, dengan penja­ gaan dan pengawalan dari Mahkamah Agung yang seluruhnya beranggotakan kaum pria. Kata tamu Pakistan tersebut: "Anda benar, namun saya minta Anda tetap membacakan surat Al­Fati­ hah untuk keselamatan bangsa Pakistan."

Apa yang digambarkan di atas menunjuk kepada suatu hal: sulitnya mengubah sebuah pandangan yang telah berabad­abad lamanya diikuti orang. Dalam hal ini, antara pandangan agama Islam di mata orang­orang itu, dalam kenyataan berlawanan de­ ngan apa yang dirumuskan oleh UUD. Seolah­olah terjadi per­ benturan antara agama dan negara. Padahal, dalam kenyataan, ribuan anak­anak perempuan ulama muslimin justru menjadi sarjana S1 hingga S3, karena UUD memungkinkan hal itu. Bukan­ kah persamaan hak antara pria dan wanita dijamin oleh UUD kita, termasuk dalam pendidikan?

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tingkat I Su­ matra Barat, mengeluarkan peraturan daerah yang melarang warga masyarakat dari jenis wanita untuk keluar rumah tanpa mahram (suami atau sanak keluarga yang tidak boleh dikawini­ nya), setelah pukul 09.00 malam. Bukankah ini jelas melanggar UUD, yang menyamakan kedudukan antara pria dan wanita di muka undang­undang? Karenanya, sidang kabinet saat penu­ lis menjadi Presiden telah memutuskan: Tidak diperkenankan adanya peraturan daerah atau produk­produk lain hasil DPRD I atau DPRD II, yang berlawanan dengan Undang­Undang Dasar. Dalam hal ini, yang memiliki wewenang untuk menyatakan, apakah sebuah produk DPRD tersebut melanggar UUD atau ti­ dak mestinya adalah Mahkamah Agung. Jika tidak sah, otomatis produk itu tidak berlaku lagi.

Jelaslah, memperjuangkan hak­hak wanita adalah peker­ jaan yang masih berat di masa kini, hingga wajiblah kita bersikap sabar dan bertindak hati­hati dalam hal ini. Tetapi, keadaan ini pun, bukanlah hanya monopoli golongan Islam saja. Di Amerika Serikat (AS) yang dianggap memelihara hak­hak wanita dan pria secara berimbang menurut Undang­Undang Dasarnya, ternyata dalam praktik tidak semudah yang diperkirakan. Belum pernah dalam sejarah AS ada presiden wanita, walaupun UUD­nya tidak

Islam, kEadIlan dan Hak asasI manusIa

pernah melarang akan hal itu. Di sini, ternyata terdapat kesenjang­ an besar antara teori dan praktik dalam sebuah masyarakat paling “maju” sekalipun. h

C

harles Torrey dalam disertasi doktor­nya di Universitas Heidelburg tahun 1880­an, mengemukakan bahwa al­ Qurân mempunyai keistimewaan, berupa penggunaan istilah­istilah profesi untuk menyatakan keyakinan agama. Dise­ butkannya ayat; “Barang siapa memberikan pinjaman yang baik pada Allah, maka akan diberi imbalan berlipat ganda (man dzal

ladzi yuqridu Allâha qardlan hasanan fa yudhâ’ifahu)” (QS al:

Baqarah (2): 245), yang berarti bukan sebuah transaksi kredit melainkan pelaksanaan amal kebajikan. Contoh lain, adalah; “Barang siapa menghendaki panenan yang baik di akhirat, akan Ku­tambahi panenannya (man kâna yurîdu hartsa al-âkhirati

nazid lahu fî-hartsihi)” (QS al Syura [42]:20) –yang lagi­lagi menggunakan kata panenan sebagai penunjuk kepada amal ke­ bajikan/amal sholeh.

Di sini, Torrey juga menggunakan sebuah ayat lain untuk menunjuk kepada perbedaan antara Islam dan agama­agama lain, tanpa menolak klaim kebenaran agama­agama tersebut. “Barang siapa mengambil selain Islam sebagai agama, maka amal kebajikannya tidak akan diterima oleh Allah, dan dia di akhirat kelak akan menjadi orang yang merugi perdagangannya

(wa man yabtaghi ghaira al-Islâm dînan falan yuqbala minhu

wa huwa i al-âkhirati min al-khâsirîn)” (QS Ali Imran [3]:85).

Dalam ayat ini jelas menunjuk kepada masalah keyakinan Islam yang berbeda dengan keyakinan lainnya, dengan tidak menolak kerjasama antar Islam dengan berbagai agama lainnya.

Perbedaan keyakinan tidak membatasi atau melarang ker­