• Tidak ada hasil yang ditemukan

PANDANGAN TEORITIS

dalam pembahasannya adalah negara demokratis, berkeadilan, memiliki

2.3. Pandangan Teoritis

2.4.1. Konstruksi Sosial ( Social Construction ) Berger

Konsep konstruksi sosial ala Berger dan Luckmann (1990) mensyaratkan penekunan pada ―realitas‖ dan ―pengetahuan‖. Dua istilah ini menjadi kunci penting. Realitas atau kenyataan adalah suatu kualitas yang terdapat dalam fenomen-fenomen yang memiliki keberadaan (being) yang tidak tergantung kepada kehendak individu manusia (yang kita tidak dapat meniadakannya dengan angan-angan), dan ―pengetahuan‖ adalah kepastian bahwa fenomen -fenomen itu nyata (real) dan memiliki karakteristik-karakteristik yang spesifik. Kenyataan sosial adalah hasil eksternalisasi, internalisasi dan objektivasi manusia terhadap pengetahuan dalam kehidupan sehari-sehari. Atau, secara sederhana, eksternalisasi dipengaruhi oleh stock of knowledge (cadangan pengetahuan) yang dimilikinya. Cadangan sosial pengetahuan adalah akumulasi dari common sense knowledge (pengetahuan akal-sehat). Common sense

adalah pengetahuan yang dimiliki individu bersama individu-individu lainnya dalam kegiatan rutin yang normal, dan sudah jelas dengan sendirinya, dalam kehidupan sehari-hari (Berger dan Luckmann, 1990).

2.4.2. Kekuasaan (Power)

Foucault, dalam menggunakan konsep kuasa (power), merujuk pada ―totalitas struktur tindakan‖ untuk mengarahkan tindakan dari individu-individu yang merdeka (Latif, 2005). Penggunaan kuasa berlangsung dan bekerja dalam ruang pilihan-pilihan bagi mereka yang berada dalam posisi untuk memilih. Kuasa bekerja bertujuan untuk mempengaruhi pilihan-pilihan atas beberapa kemungkinan pilihan. Wujud bekerjanya kuasa berupa pemunculan dan pelibatan ―permainan-permainan strategis‖ di antara pihak-pihak yang memiliki kebebasan

memilih (strategi games between libraries) (Foucault, 1980; Hindess, 1996). Permainan-permainan strategis bekerja dalam segala tempat dan waktu, hingga pada ruang bawah sadar yang selanjutnya sangat mempengaruhi kecenderungan terhadap pilihan-pilihan. Permainan-permainan strategi oleh kuasa (power) menyebar di mana-mana, dijalankan oleh siapapun dan tumbuh dalam segala level, sehingga hampir tidak ada ruang sosial yang bebas dari bekerjanya kuasa dan permainan-permainan strategis.

Foucault membedakan antara relasi kuasa sebagai permainan strategis, di antara pihak-pihak yang merdeka (strategic games between liberties) dan dua tipe kuasa lainnya, yaitu ―dominasi‖ (domination) dan ―pemerintah‖ (government) (Foucault, 1988). Konsepsi ―kuasa‖ sebagai permainan strategis antara pihak -pihak yang merdeka merupakan inti dari cara Foucault memahami ―kuasa‖ secara umum. Kuasa ―menentukan relasi antar-mitra‖ dalam suatu esemble

tindakan-tindakan (Foucault, 2000). Kuasa di sini mengandaikan adanya kebebasan untuk memilih dan dijalankan terhadap subjek-subjek bebas, yang memiliki kebebasan untuk memilih dan mempengaruhi. Artinya, di mana tidak ada kemungkinan untuk melakukan resistensi, tidak ada pula relasi kuasa di sana. Oleh karena itu relasi kuasa sering kali bersifat tak stabil, ambigu, dan timbal balik (Hindess, 1996). Ketika kuasa terkonsolidasi menjadi ―dominasi‖, dan merujuk pada relasi kuasa yang bersifat asimetris yang di dalamnya ada orang-orang yang tersubordinasi, memiliki sedikit ruang untuk bermanuver karena ―ruang kebebasan mereka untuk bertindak sangat terbatas‖ sebagai efek dari kuasa (Foucault, 1988).

Kuasa yang bekerja dalam ―pemerintahan‖ berada di antara ―dominasi‖ dan ―permainan-permainan strategis‖ antara pihak-pihak yang merdeka. Konsep ―pemerintahan‖ terutama berasosiasi dengan konsep-konsep ―memimpin‖ (conducting) dalam artian mengarahkan dan mengontrol serangkaian tindakan. Konsep ini merujuk pada pelaksanaan kuasa atas pihak-pihak lain yang kurang bersifat spontan (dengan cara yang lebih diperhitungkan dan dipertimbangkan secara cermat), terutama sekali pada penggunaan dan pembentukan cara-cara untuk mengatur perilaku. Menurut Foucault (dalam Hindess, 1996), ada berbagai bentuk pemerintahan yang terentang, mulai dari yang menjalankan dominasi secara nyata, hingga dengan menjalankan relasi-relasi kuasa yang bersifat tak stabil dan bersifat timbal-balik (riversible).

58

Foucault, melihat kekuasaan sebagai seluruh tindakan yang menekan dan mendorong tindakan-tindakan lain melalui rangsangan, persuasi atau bisa juga dengan melalui paksaan dan larangan. Lebih jauh Foucault mengatakan bahwa kekuasaan mencakup semua hal dan datang dari mana-mana. Dengan demikian kekuasaan dapat diartikan sebagai upaya seseorang ataupun kelompok untuk menguasai orang lain dalam berbagai bentuk, yang karenanya terjadi pertentangan antara keduanya, di mana salah satunya dapat menguasai yang lain sehingga terjadi dominasi pada pihak lain.

Konsepsi kuasa sebagai suatu yang bisa diperebutkan (contestable) dan timbal-balik (riversible) memungkinkan studi penelitian ini untuk melihat adanya ruang bagi kelompok-kelompok yang terpinggirkan untuk melawan kuasa negara dan kapitalisme bersifat hegemonik dan ketergantungan. Pergumulan (interplay) dan interpenetrasi kuasa ada di antara tiga kekuatan sosial (negara, Industri dan

civil society). Tidak ada kekuatan hegemonik yang sedemikian kuatnya mampu menguras habis sumber-sumber daya untuk melakukan perlawanan. Menurut Foucault setiap relasi kuasa mengimplikasikan paling tidak secara potensi, ada suatu strategi perjuangan, ketika dua atau lebih kekuatan yang berhadapan tidak saling membayangi, tidak kehilangan sifatnya yang spesifik, atau akhirnya tidak pula menjadi kabur. Setiap pihak menjadi semacam batas permanen bagi pihak lain, atau sebuah titik yang mungkin melakukan gerak balik (a poin of possible reversal) (Foucault, 2000).

Cara Foucault memahami kekuasaan sangatlah orisinil. Kuasa bukanlah definisi yang dikemukakan oleh paradigma Weberian sebagai kemampuan subjektif untuk mempengaruhi orang lain. Ia juga bukan pemaknaan yang diyakini oleh kaum Marxis sebagai artefak material yang bisa dikuasai dan digunakan oleh kelas tertentu untuk mendominasi dan menindas kelas lain dan bukan pula institusi, struktur atau kekuatan dalam masyarakat. Kuasa tidak dimiliki tetapi dipraktekkan dalam suatu ruang lingkup di mana ada banyak posisi yang secara strategis berkaitan satu sama lain dan senantiasa mengalami pergeseran.

2.4.3. Pengetahuan (Knowledge)

Kekuasaan selalu terartikulasikan lewat pengetahuan, dan pengetahuan selalu punya efek kuasa. Penyelenggara kekuasaan, menurut Foucault, selalu

memproduksi pengetahuan sebagai basis kekuasaannya. Pengetahuan bukan merupakan pengungkapan samar-samar dari relasi kuasa tetapi pengetahuan berada di dalam relasi-relasi kuasa itu sendiri. Kuasa memprodusir pengetahuan dan bukan saja karena pengetahuan berguna bagi kuasa. Tidak ada pengetahuan tanpa kuasa, dan sebaliknya tidak ada kuasa tanpa pengetahuan. Konsep Foucault ini membawa konsekuensi, untuk mengetahui kekuasaan dibutuhkan penelitian mengenai produksi pengetahuan yang melandasi kekuasaan, karena setiap kekuasaan disusun, dimapankan, dan diwujudkan lewat pengetahuan dan wacana tertentu.

Prinsip penataan ini, oleh Foucault diberi julukan teknis: episteme (Adian, 2002 22). Episteme ini tidak bisa dijamah, kerjanya sangat halus menguasai pola pikir orang pada satu zaman dan mendepak pola pikir alternatif. Mekanisme kerja episteme bersifat diskursif. Bagaimana suatu fenomena dikategorisasikan, didefinisikan, dan ditindaklanjuti tergantung pada tiga komponen diskursif yang sekaligus menjadi komponen penting dari kekuasaan/pengetahuan, yaitu: disiplin ilmu, institusi, dan tokoh. Ketiganya berdialektika dalam sebuah sistem regulasi yang mengatur dan menormalisir. Mekanisme kekuasaan berjalan melaui sistem regulasi. Agar dapat berjalan dengan baik, maka pengawasan (surveillance) harus dilakukan. Dalam suatu sistem sosial, pengawasan dilakukan oleh aparat. Foucault sebenarnya memberi penekanan (salah satunya) pada pengawasan sebagai upaya menstabilkan atau memapankan suatu konstruksi kebenaran. Konsep panoptikon adalah salah satu cermatan yang dia kemukakan. Ketiganya adalah pihak-pihak yang menguasai modal simbolik, kultural, maupun ekonomi. Modal inilah yang berguna untuk memapankan diri, meletakkan pihak-pihak tertentu di atas pihak lain. Menentukan mana yang ordinat dan sub-ordinat, menentukan mana yang mendominasi dan terdominasi.

Sebuah kelompok minoritas tidak dengan sendirinya menjadi pihak yang kalah dalam semua dimensi relasi kuasa, karena dunia politik dan masyarakat tersusun atas sebuah keseimbangan kekuatan-kekuatan yang seringkali bersifat kompleks, dan kesimbangan itu tak bisa direduksi ke dalam kerangka penggunaan kekuatan absah (legitimate force) semata. Oleh itu maka sangat memungkinkan munculnya upaya-upaya menegosiasikan kebijakan sosial, ekonomi dan politik dengan kelompok subordinat (Eickelman dan Piscatori, 1996).

60

2.4.4. Rasionalitas (Rationality)

Menurut Weber (Hindess, 1977), perilaku sosial terbagi dalam empat klasifikasi, yaitu: pertama, perilaku sosial yang berorientasi pada tujuan, yang kemudian disebutnya dengan rasionalitas tujuan. Sebuah tindakan dipilih atas pertimbangan tujuan akhir yang ingin dicapai. Kedua, perilaku sosial dipilih atas pertimbangan dan kepercayaan terhadap nilai tertentu secara sadar. Tindakah ini lebih pada orientasi nilai (etika, estetika atau agama), oleh Weber ini disebut dengan perilaku sosial berdasarkan rasionalitas nilai. Ketiga, perilaku sosial yang bersifat afektif atau emosional, yang merupakan hasil dari konfigurasi khusus dari perasaan pribadi, yang kemudian disebutnya dengan rasionalitas afective. Keempat, adalah perilaku sosial yang merupakan reaksi serta merta yang merupakan perilaku rutin dari tradisi, atau adat istiadat, yang oleh Weber disebut dengan tindakan tradisional. Meski Weber (1978) mengkalisifikasikan tindakan dalam empat kategori, namun menurutnya jarang sekali ada perilaku sosial yang berorientasi tunggal, sehingga mungkin saja ada perilaku sosial berorientasi ganda atau lebih pada saat yang sama.

Foucault (dalam Sarup, 2008) ketika membahas tentang kesadaran subjek dalam masyarakat borjuis, mengikuti Weber, karena subjek dipandang sebagai makhluk rasional, otonom dan mampu memprakarsai tindakan, sama halnya ketika Weber (dalam Hindess, 1977) menyatakan bahwa tindakan dapat bersifat rasional, baik dalam sarana maupun tujuan. Makanya birokrasi menekankan efisiensi sarana dan organisasi yang birokrasitis dan impersonal penalaran dibentuk oleh rasionalitas ilmiah. Tujuan rasionalitas ilmiah adalah mendapatkan penguasaan atas lingkungan fisik dan sosial. Mengikuti Nietzsche, Weber (dalam Sarup, 2008) mengatakan bahwa rasionalitas ilmiah memusatkan perhatian pada sarana dan bukan pada tujuan.

Foucault mengkhawatirkan produktivitas dan efisiensi instrumental-rasional yang dilihat Weber dalam birokrasi modern, karena menurutnya, kekuasaan dalam masyarakat modern tidak bergantung pada kecakapan dan wibawa individu, tetapi dilaksanakan melalui mesin administrasi impersonal dan peraturan-peraturan yang abstrak. Di sinilah letak kerja pengetahuan yang mengarahkan perilaku sosial manusia melalui sistem rasionalitas ilmiahnya. Kesadaran subjek dalam tindakan sosialnya selalu diarahkan oleh sistem

rasionalitas yang bekerja secara abstrak bersama dengan sistem pengetahuan. Di sana kemudian kekuasaan menjelma dan menguasai manusia dengan rasionalitas teknis.

2.4.5. Kepentingan (Interest)

Konsep kepentingan (interest) merupakan konsep yang tidak asing dalam literatur sosiologi. Konsep ini digunakan untuk menunjukkan motivasi individu, organisasi atau kelompok dan strukturnya dalam suatu tindakan sosial. Artinya bahwa pengalaman manusia diorganisasikan dalam term kepentingan kognitif apriori. Secara umum konsep interest dimaknai sebagai ciri yang stabil dari aktor yang memberikan aktor tersebut alasan potensial atau aktual untuk bertindak.

Konsep kepentingan (interest) banyak digunakan oleh Weber ketika membahas agama dan ekonomi atau kapitalisme terkait dengan kekuatan-kekuatan sosial. Oleh Weber, konsep kepentingan (interest) dilihat sebagai sesuatu yang menjadi pendorong tindakan manusia, dan pendorong ini akan menentukan arah tindakan yang akan diambil oleh aktor (Sumarti, 2007). Kepentingan bukanlah hanya ide (gagasan) tapi juga pada materi, yang mengatur secara langsung tindakan manusia. Gagasan memang bisa bekerja di sini, namun hanya sebagai pengarah tindakan yang kemudian menjadi pendorong dalam dinamika kepentingan. Weber membahas kepentingan ―material‖ dan ―values‖ sebagai sumber yang berbeda dari motivasi, dan ini memberikan alasan yang berbeda dan bertentangan untuk suatu tindakan. Namun persoalannya bahwa perbedaan alasan bisa jadi karena ada upaya menyembunyikan sumber tindakan yang sesungguhnya.

Swedberg (2003) mengikuti Weber, juga mencoba membahas tentang kepentingan dalam sosiologi dan melihatnya sebagai motivasi. Oleh Swedberg, kepentingan dilihat sebagai pendorong tindakan aktor, namun elemen sosial menentukan ekspresi dan arah tindakan yang akan diambil. Kepentingan dilihat Swedberg bisa berupa gagasan maupun materi (Sumarti, 2007). Kepentingan merupakan kekuatan pendorong yang mampu memberikan energi yang besar bagi seseorang untuk melakukan suatu tindakan tanpa kenal lelah dan menyerah, hingga kepentingan yang mendorong tercapai. Makanya tak jarang kepentingan berujung pada lahirnya konflik ketika dua atau lebih kepentingan berbenturan pada satu waktu atau tempat. Kepentingan memang merupakan

62

pendorong yang kuat bagi lahirnya semangat juang yang tinggi bagi aktor, namun pada saat tertentu kepentingan bisa menjadi penghalang dan melumpuhkan aktor lain, atau menguatkan satu sama lain (Sumarti, 2007).

Konsep kepentingan bekerja lintas aras dan ruang, bekerja pada aras gagasan dan sekaligus pada aras materi (bisa subjektif sekaligus objektif), bekerja pada ruang politik, ekonomi, sosial hingga agama, kepentingan terekspresi dalam relasi sosial. Kepentingan aktor dalam perilaku sosial selalu mempertimbangkan aktor lain sehingga tindakan untuk mengejar kepentingan selalu terkait dengan orang lain. Tindakan yang ditentukan oleh kepentingan merupakan tindakan instrumental dan ber-orientasi pada harapan yang identik, sehingga mensyaratkan setting sosial di mana aktor lain berfikir dengan cara yang sama (Sumarti, 2007). Dengan demikian, maka kepentingan bisa membentuk jejaring sosial sebagaimana jaringan kapitalisme yang dilihat Weber sebagai organisasi yang penuh dengan kepentingan ekonomi. Jaringan kepentingan bisa menjelma dalam berbagai organisasi sosial, politik, ekonomi bahkan agama.