METODOLOGI PENELITIAN
PROFIL TIGA LEMBAGA ZAKAT DI JAMBI DAN SUMATERA BARAT
4.1.3. Wacana Tatakelola Zakat : Masyarakat Sipil Versus Negara
Dewasa ini, zakat mulai digiring masuk dalam ruang ekonomi negara, sehingga negara tampil sebagai pengakumulasi dan pendistribusi kapital bagi masyarakat, dan menjadikan zakat sebagai salah satu mekanisme distribusi, alokasi dan stabilisator perekonomian (Setiawan, 2001). Pendistribusian zakat
dari muzakki ke mustahik, dijadikan sebagai alat distribusi untuk pemerataan kepemilikan sumber daya ekonomi. Di sini zakat menjadi mekanisme distribusi kapital yang dianggap memiliki kemampuan meningkatkan daya beli masyarakat dan dianggap mampu memperkuat pergerakan produksi dan konsumsi. Fungsi alokatif zakat, dipandang sebagai salah satu cara strategis dalam mendistribusikan sumber daya dari kaum kaya kepada kaum miskin sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi. Penghasilan zakat kemudian dalam sistem ekonomi modern dipandang bukan saja sebagai perintah agama, tetapi memiliki arti yang lebih luas yaitu sebagai modal atau mekanisme peningkatan pertumbuhan, penggerak lajunya pembangunan dan pemberdayaan ekonomi.
Wacana pembangunan dan pemberdayaan sebberbasis zakat sebagai awal zakat dijadikan bagian dari sistem ekonomi pembangunan dan pemberdayaan. Oleh karena itu dipandang perlu adanya sistem dan instrumen yang dapat mengatur pengelolaan zakat dalam konteks Negara. Namun yang menjadi penting disadari adalah pertama adalah : bahwa zakat merupakan fenomena agama yang melekat dengan konstuksi berfikir masyarakat agama, sehingga kunstruksi pengetahuan zakat negara tidak selamanya bisa disinergiskan dengan konstruksi pengetahuan zakat masyarakat. Maka keterlibatan pemerintah (negara) menjadi persoalan tersendiri dan memerlukan adanya rekonstruksi berfikir menuju titik temu antara wacana zakat negara dan wacana zakat masyarakat komunitas.
Mengamati proses konstruksi pengetahuan, rasionalitas dan kepentingan dalam tatakelola zakat, ditemukan banyak perbedaan dari tiga mekanisme tatakelola yang sekarang sedang berjalan, yaitu : 1) Sistem tatakelola zakat komunitas dengan konstruksi pengetahuan zakat berbasis pengetahuan agama yang memandang zakat sebagai ritual ibadah yang peruntukannya untuk pengembangan ajaran dan penguatan ajaran, dengan rasionalitas asceticism, dengan kepentingan pencapaian keshalehan individu dan keshalehan sosial. 2). Sistem tatakelola negara dengan konstruksi pengetahuan zakat berbasis sains modern khususnya administrasi pemerintahan dan politik yang mengkostruksi zakat sebagai mekanisme distribusi sumberdaya menuju pemberdayaan dan pembangunan. Zakat di sini dikelola dalam kerangka etika-moral
developmentalism dengan kepentingan integratif menuju stabilitas negara. 3). Sistem tatakelola zakat swasta dengan konstruksi pengetahuan zakat berbasis
88
pengetahuan ekonomi modern, memandang zakat sebagai ajaran agama yang memiliki tujuan pemberdayaan ekonomi, dengan landasan etika moral utility dan
profit maximization, dengan kepentingan akumulasi ekonomi, sumberdaya dan pengamanan investasi .
Pengelolaan zakat yang dilakukan langsung oleh Negara dalam pengelolaannya mengurangi peran masyarakat sipil. Dalam model ini zakat dikelola dengan kekuatan enforcement dan mengontrol pembayaran zakat. Dalam pembayaran atau distribusi zakat, pemerintah mengambil peran yang dominan dalam menentukan keriteria kemiskinan sesuai dengan standar negara, dengan tujuan pembayaran yang diberikan kepada para mustahik akan memenuhi standar kebutuhan yang nyata (Faridi, 1996). Namun ini memiliki kelemahan dari besarnya peran Negara sehingga bisa menimbulkan penyimpangan-penyimpangan karena lemahnya kontrol dari masyarakat, apalagi ketika gagal membangun kepercayaan masyarakat.
Kedua, pengelolaan zakat diperankan oleh komunitas dan organisasi masyarakat sipil. Lembaga Tatakelola zakat seperti ini memiliki otoritas untuk mengumpulkan zakat dari warga, dan mengelolanya sesuai dengan budaya dan kearifan lokal. Lembaga-lembaga zakat masyarakat yang tumbuh di latar belakangi budaya dan ideologi yang beragam, program yang dirancang dalam pengelolaan zaka selalu mengikuti mekanisme budaya lokal. Sebab itu, pengelolaan zakat oleh lembaga non-pemerintah ini cenderung bersifat parsial dan lokal, karena lembaga-lembaga itu berada di daerah tertentu dengan jaringan yang terbatas. Pada saat yang sama, lembaga-lembaga semacam ini mengelola zakat dengan program lembaga masing-masing, sehingga program antara satu lembaga dengan lembaga lainnya sering kali terjadi perbedaan, pengulangan atau bahkan benturan.
Pengumpulan dana zakat pada sistem tatakelola zakat komunitas, antar lembaga zakat cenderung lebih memakai pola bersaing dari pada kerjasama, karena setiap lembaga zakat punya target dan program yang berbeda-beda. Di sinilah kelemahan menonjol dari pengelolaan zakat berbasis komunitas. Dari perspektif ruang publik keterlibatan masyarakat sipil (civil society) model ini memang ideal, karena terjadi sintesa kebebasan antara negara dan masyarakat sipil secara indivudual. Namun ketika dikaitkan dengan konsep pembebasan kaum lemah, kebebasan untuk ruang publik tidak cukup untuk menjawab sebuah
tujuan pengelolaan zakat, karena lembaga zakat bukan lembaga sosial yang mengabdi pada kepentingan publik semata dengan ideologi kebebasan absolut, karena ada nilai ajaran dan ideologi yang membatasi. Pengelolaan zakat memang memilik tujuan keadilan sosial yang melayani publik, khususnya orang-orang miskin, namun di sana juga ada prasyarat agama yang mengikat. Maka akumulasi dana zakat untuk membantu kaum miskin perlu ada skala prioritas, kerjasama dan data komprehensif yang dimiliki untuk membuat program pendayagunaan dana zakat yang sesuai dengan pesan-pesan agama (Iman, 2005).
4.2. Lembaga Amil Zakat Komunitas Desa SBN Provinsi Jambi 4.2.1. Sejarah Lembaga Amil Zakat Komunitas Desa SBN
Keterangan H. AH (59 tahun) sebagai salah seorang tokoh masyarakat SBN sekaligus tokoh agama yang tahu sejarah perjalanan pengelolaan zakat— beliau telah menjadi imam masjid sejak lama mengaantikan ayahnya (Haji Saing) yang juga tokoh agama di SBN semasa hidupnya, menjelaskan bahwa sejak tahun 1970-an pengelolaan zakat di Desa SBN telah berjalan dengan pengelolaan berbasis masjid oleh imam masjid yang saat itu dipangku oleh H. Saing, ayah dari H. AH. Pola pengelolaan zakat ketika itu, terlaksana dengan mengandalkan kesadaran masyarakat untuk menjalankan perintah agama. Sang imam setiap saat dalam berbagai kesempatan, melalui mimbar masjid atau bangku madrasah, memotivasi masyarakat untuk berzakat, hingga pada suatu saat kesadaran berzakat begitu tinggi, khususnya untuk hasil pertanian padi yang dibayar zakatnya dengan konsisten oleh warga.
Pada tahun 1975, di Desa Simburnaik, puang imang (imam) adalah pemangku kuasa tatakeklola zakat. Puang imang bekerjasama dengan kepala desa yang saat itu di jabat oleh Pak Ilyas (seorang militer AD berpangkat sersan satu). Puang Imang saat itu diposisikan sebagai pendamping kepala desa dan setiap saat berkomunikasi dengan kepala desa dalam segala kebijakan pemerintahan desa. Pada suatu saat ada rencana pembangunan jalan dan penataan desa. Kepala desa lalu berkonsultasi dengan puang imang yang saat di jabat oleh H. Saing tentang cara yang baik memotivasi dan mengumpulkan dana dari masyarakat. Oleh Pak H. Saing selaku tokoh agama dan pemangku kuasa tatakelola zakat saat itu, menyarankan agar zakat pertanian dipertegas
90
dan pemungutannya dilakukan dengan dukungan perangkat desa. Menurut H. Saing, jika zakat pertanian (saat itu memang hasil pertanian padi sangat melimpah) dikelola dengan baik akan sangat membantu. Mendengar saran itu, kepala desa langsung menyetujui dan menunjuk H. Saing sebagai amil yang bertugas mengelola zakat petanian dengan bantuan perangkat desa yang bertugas menghimbau dan memerintahkan kepada masyarakat agar berzakat dengan konsisten.
Pak Ilyas sebagai kades yang juga seorang tentara, dalam menghimbau masyarakat berzakat menempuh cara militer. Ia memerintahkan dengan setengah memaksa masyarakat untuk membayar zakat sesuai dengan aturan agama. Agar berjalan dengan baik tak jarang beliau mendatangi masyarakat di tengah sawah, dengan tujuan ingin tahu persis kondisi pertanian agar masyarakat membayar kewajibannya sesuai dengan kondisi yang sebenarnya (agar tidak salah memberikan informasi hasil panen). Untuk mendukung kelancaran pengelolaan zakat kepala desa juga memerintahkan sekretaris desa untuk membantu imam mencatat pemasukan dan pengeluaran zakat pertanian yang ada.
Pada awal pemungutan zakat, kades terkejut sekaligus senang, karena zakat yang terkumpul untuk panen pertama pada tahun 1978-1982 mencapai 30.000 kaleng padi (± 20 ton). Namun hal ini tidak bertahan lama, karena kebijakan pemungutan zakat kemudian mengendor setelah Pak Ilyas digantikan oleh kepala desa yang lain (Amir Syarifuddin), yang polanya mulai melembut. Perubahan pola secara drastis ini barangkali karena Amir Syarifuddin adalah seorang sipil yang tidak terbiasa dengan cara keras dalam memimpin dan masyarakatpun tidak sepatuh seperti masa kepemimpinan Pak Ilyas. Persoalan lain yang juga menjadi sebab adalah turunnya produktifitas sawah karena adanya gangguan hama dan banyaknya petani yang beralih profesi menjadi nelayan atau berkebun tanaman keras. Profesi baru ini menurut mereka mereka tidak diatur zakatnya dalam agama seperti tanaman padi.
Penyebab lain yang dijelaskan oleh H. AH (2008) adalah:
1. Dalam pemungutan zakat sudah kurang dipaksakan, masyarakat hanya sekedar dihimbau agar berzakar.
2. Pengelolaan zakat sudah kurang serius, para petugas hanya menunggu secara pasif agar masyarakat menyerahkan zakatnya melalui gudang
pengolahan gabah. Di sana pemotongan zakat diserahkan kepada pemilik pabrik pengolahan gabah.
3. Gudang zakat yang sebelumnya dibangun oleh Pak Ilyas sudah kurang dimanfaatkan karena kondisinya yang sudah rusak, sehingga zakat di tumpuk ke gudang pengolahan, untuk kemudian diambil oleh kades dan imam untuk dimanfaatkan.
4. Pemanfaatan dana zakat yang kurang terlihat oleh masyarakat, membuat masyarakat kurang percaya lagi menyerahkan zakatnya ke pengelola zakat desa. Hal ini membuat masyarakat lebih suka menyerahkan sendiri kepada yang berhak atau menyerahkan kepada imam dan guru agama yang mereka percayai.
Keterangan H. Ab (56 tahun) salah seorang tokoh agama dan imam masjid di Desa Simburnaik, menerangkan bahwa: ‖... pengelolaan zakat yang dulu berjalan baik di bawah bantunan kades (Pak Ilyas) karena memang zakat dimanfaatkan dengan baik dan pengelolannya tegas kepada para muzakki..”. tapi setelah itu pemanfaatannya sudah kurang nampak dan hanya menjadi sumber pembiayaan pembangunan desa yang tidak memberikan manfaat kepada masyarakat. Semenjak itu perhatian dan kesadaran membayar zakat kepada amil sudah kurang baik. H.Ab menambahkan lagi bahwa rendahnya motivasi kepala desa memungut Zakat sejak adanya bantuan pembanguan desa dari pemerintah. Masuknya Tanah Kas Desa (TKD) dan dana Bantuan Desa (Bandes) Pembangunan Desa, membuat zakat tidak diperhatikan dan hanya berjalan di masjid di bawah pengelolaan puang imang.