• Tidak ada hasil yang ditemukan

1861, Kuil Mushindo

Dalam dokumen I HANTU LORD KIYORI (Halaman 120-133)

Anak-anak desa memperhatikan dari pepohonan di sekitar biara. Orangtua mereka telah memperingatkan mereka untuk menjauhi ratusan pasukan bersenjata Shogun yang menduduki Kuil Mushindo. Itu adalah nasihat bijak karena orang-orang tak berdosa di dekat samurai cenderung mati ketika mereka saling bertempur, dan sebuah pertempuran memang akan segera terjadi. Kimi, tentu saja, tidak berniat ketinggalan pertunjukan spektakuler yang akan digelar segera. Meskipun dia seorang perempuan, dan baru berusia sembilan tahun, jauh lebih muda dibandingkan yang tertua pada kelompoknya, kecerdasan dan energinya menjadikan dia pemimpin mereka. Lagi pula, dia satu-satunya orang yang biasa dipatuhi Goro. Goro, putra seorang wanita desa idiot, mempunyai tubuh raksasa. Dia tidak pernah ingin menyakiti orang lain. Akan tetapi, dia begitu besar dan begitu kuat, dia bisa melukai orang tanpa sengaja, dan terkadang itu terjadi. Anak-anak mengamati itu terjadi hanya ketika Kimi tidak ada di dekatnya. Tentunya, itu hanya kebetulan. Namun, anak-anak, yang paling percaya pada takhayul di antara semua manusia, menganggap kejinakan Goro di dekat Kimi dihasilkan oleh kemampuan khusus Kimi menenangkannya. Reputasi itulah yang akan menyertainya seumur hidup.

Goro jauh lebih besar ketimbang semua pria dewasa di desa, dan bahkan lebih besar ketimbang orang asing yang datang untuk tinggal di kuil dan menjadi murid Rahib Kepala Zengen. Sampai orang asing itu datang, Zengen Tua adalah satu-satunya orang yang tinggal di sana. Orang asing itu mempunyai nama yang tak seorang pun bisa melafalkannya sampai dia menjadi murid Zengen Tua. Kemudian, rahib asing itu mulai menyebut dirinya Jimbo. Nama itu mudah diucapkan. Bahkan Goro, yang tak pemah mengucapkan kata yang mudah dipahami sebelumnya, dapat menyebutkannya, dan dia melakukannya sepanjang waktu.

"Jimbo, Jimbo, Jimbo, Jimbo, Jimbo, Jimbo—"

"Oh, diamlah, Goro," anak-anak lain akan menukasnya. "Dia sudah tahu siapa dirinya, dan dia pasti sudah tahu kau ada di sini."

"Jimbo, Jimbo, Jimbo—"

Dia akan terus begitu, terus begitu, dan terus begitu. Hanya Jimbo yang tidak merasa terganggu. Tak ada yang membuat Jimbo terganggu. Dia orang asing, tetapi dia pengikut sejati Jalan Buddha.

"Cukup, Goro," Kimi biasanya turun tangan. "Beri yang lain kesempatan untuk berbicara juga."

BUKU KEDUA

6

"Jimbo," kata Goro lagi, untuk yang terakhir kali, kemudian membisu. Setidaknya, untuk sementara waktu.

Jimbo sedang pergi ke pegunungan ketika pasukan bersenjata datang, dan dia Mum kembali ketika Lord Genji tiba.

Belakangan, diketahui bahwa pasukan Shogun sedang menunggu Lord Genji. Rombongan kecil samurainya disergap, dikepung, dan dijebak. Mereka yang berusaha mencapai kuil untuk berlindung diledakkan berkeping-keping ketika bubuk mesiu yang disembunyikan di sana dinyalakan. Begitu banyak peluru ditembakkan ke arah mereka sehingga kuda mati mereka, yang dijadikan tameng, hancur menjadi setumpuk daging cincang. Pada akhirnya, ketika sekutu Lord Genji tiba dan menghancurkan musuh, beberapa gelintir orang yang selamat telah berkubang darah binatang dan manusia dari kepala hingga kaki.

Jimbo tidak kembali sampai beberapa hari setelah pertempuran itu, dan ketika dia akhirnya kembali, tak satu pun anak mengenalinya. Mereka melihat orang asing yang berpakaian mirip dengan orang yang datang bersama Lord Genji, seorang pria yang menyandang senjata api di sabuknya alih-alih pedang, dan mengamuk bagaikan iblis dari neraka terdalam. Pria asing itu telah membunuh banyak orang dengan senjatanya, dengan pedang yang dirampasnya dari musuh yang sudah dijadikannya mayat, dan dengan tangan kosongnya yang bersimbah darah.

Anak-anak lari menjauhinya dengan ketakutan Kecuali Goro.

"Jimbo, Jimbo, Jimbo," katanya, dan berlari menyongsong orang asing itu.

Kimi melihat bahwa Goro benar. Orang asing itu memang Jimbo. Dia telah membuang jubah rahib Zen yang dipakainya ketika dia menjadi murid Zengen Tua, dan sekarang mengenakan pakaian yang dipakainya ketika pertama kali dia datang ke desa. Di pinggangnya terselip pistol, dan dia memegang senapan parijang dengan dua laras besar.

"Mengapa kau berpakaian seperti itu?" tanya Kimi.

"Aku harus melakukan sesuatu yang tak bisa kulakukan dengan pakaian satunya," kata Jimbo, menatap puing-puing kuil. Beberapa hari kemudian, mereka semua tahu apa yang harus dilakukannya

Pria asing lainnya, si iblis yang dahulu bersama Lord Genji, juga datang kembali. Kimi memimpin anak-anak desa ke dalam reruntuhan bangsal meditasi, dan mereka bersembunyi di sana. Mereka melihat iblis itu menyelinap pelan-pelan ke dalam benteng kuil, satu pistol di setiap tangannya. Jimbo melangkah keluar dari kegelapan di belakang iblis itu, menempelkan pistolnya di

BUKU KEDUA

7

kepalanya, dan mengatakan sesuatu dalam bahasa Inggris, yang tidak dipahami anak-anak. Apa pun yang dikatakan Jimbo, tampaknya bukan mantra yang benar, karena alihalih menghilang atau pergi, iblis itu menjatuhkan diri ke satu sisi dan berbalik sambil menembakkan kedua pistolnya ke arah Jimbo. Jimbo menembak juga, tetapi hanya sekali, dan terlalu melenceng dan terlalu terlambat. Tepat saat dia menembak, peluru iblis itu mengenai-nya dan merubuhkannya ke tanah. Kemudian, si iblis berdiri di depan Jimbo dan menembakkan kedua pistolnya hingga pelurunya hahw, ke wajah Jimbo.

Ketika si iblis sudah pergi, anak-anak berlari ke arah Jimbo. Mereka semua berhenti ketika melihat apa yang tersisa dari dirinya. Hanya Goro dan Kimi yang mendekat ke sisinya. Goro rubuh di samping tubuh Jimbo, meraung dan merintih. Kimi merangkul Goro dan mencoba menenangkannya dan dirinya sendiri pula.

"Jangan menangis, Goro. Ini bukan Jimbo lagi. Dia telah pergi mendahului ke Tanah Murni Sukhavati. Kalau kita sampai di sana, dia akan menyambut kita, dan kita tidak akan merasa takut. Semuanya akan menjadi indah."

Kimi tidak yakin Goro akan pernah pulih dari kehilangan itu. Namun pelan-pelan, dia pulih juga. Dia mulai menghabiskan seluruh waktunya di reruntuhan, membersihkan puing-puing, mengumpulkan serpihan yang mungkin berasal dari sisa tubuh manusia yang terbakar, menutup lubang yang ditinggalkan oleh ledakan dahsyat yang telah menghancurkan bangsal meditasi, menyapu halaman, dan mengumpulkanratusan peluru yang telah ditembakkan dalam pertempuran sebelum duel antara Stark dan Jimbo terjadi. Tanpa ada hal lain yang lebih baik untuk dilakukan, anak-anak mengikuti perbuatan Goro, dan sebelum mereka menyadari apa yang mereka lakukan, mereka tengah membantunya membangun kembali Mushindo.

Segera dia mengucapkan lagi satu kata yang diketahuinya. "Jimbo

Akan tetapi, kini, dia menyebutnya dengan pelan, dan hanya sekali setiap saat.

Begitu kuil muncul kembali dari reruntuhan, demikian pula sebagian diri Jimbo. Goro suka mengenakan jubahnya, dan mulai mengikuti jadwal kerahiban yang diikuti Jimbo. Dia bangun jauh sebelum fajar, pergi ke pondok meditasi Rahib Kepala, dan tetap di sana sampai matahari terbit. Suatu hari, ketika Kimi mengintipnya, dia melihat Goro sedang duduk tak bergerak, kakinya disilangkan dalam posisi teratai seperti yang dilakukan rahib sejati, kelopak matanya ditutup sebagaimana yang dilakukan Jimbo ketika Jimbo sedang melakukan samadhi Buddha. Tentu saja,

BUKU KEDUA

8

seorang idiot seperti Goro tidak akan bisa mencapai kedamaian sempurna. Dia yang Tercerahkan. Dia bukan pengikut sejati Jalan Buddha seperti Jimbo. Namun, dia berpura-pura dengan baik se- kali. Dan, itu membuatnya tetap tenang, bahagia, dan tidak berbahaya. Jadi, Kimi tidak melakukan apa-apa untuk menghentikannya.

Suatu hari, beberapa musim panen kemudian, ketika Kimi sedang bekerja di sawah dengan seluruh keluarganya, seorang pedagang kaya datang, dikawal sekelompok samurai. Para samurai ini tidak mengabdi kepada bangsawan agung mana pun sebagaimana layaknya seorang samurai, tetapi merupakan jenis tanpa tuan yang dikenal sebagai "ronin". Mereka seperti ombak di permukaan laut, mereka tidak punya akar, tidak dimiliki siapa-siapa, dan tanpa tujuan. Meskipun demikian, mereka ada dan mampu membuat kerusuhan besar dan aniaya. Dalam tahun-tahun belakangan ini, ketika kekaisaran dikacaukan oleh perselisihan internal dan tekanan pihak asing, hilangnya ketertiban telah melahirkan manusia-manusia seperti itu.

Berapa lama waktu berselang antara pertemputan di kuil, duel itu, tewasnya Jimbo, dan kedatangan pedagang ini, Kimi tak bisa memastikannya. Setiap musim di desa petani tak ada bedanya. Dia hanya tahu sudah lebih dari beberapa musim berlalu karena sebagian besar Kuil Mushindo sudah dibangun kembali, dan tubuhnya sendiri sudah mulai berubah, mengembangkan tanda-tanda awal yang pada akhirnya akan mengarah pada kehamilan, kelahiran, suami yang menuntut, anak-anak yang meraung, dan lain-lain. Dia bisa melihat masa depannya membuka di hadapannya, sejelas pertanda mistis yang dilihat seorang santa. Segera, dia akan menjadi ihu} nya sendiri, yang kelelahan dan menua sebelum waktunya, dan orang lain-salah seorang anaknya yang akan lahir-akan menjadi dirinya yang lancang dan nakal. Ini adalah makna reinkarnasi yang sebenarnya bagi rakyat jelata. Barangkali, Bangsawan Agung seperti Genji dan geisha cantik seperti Lady Heiko terlahir kembali dalam perwujudan baru yang menggairahkan di negeri eksotik yang jauh. Petani hanya kembali menjadi orangtua mereka dan diri mereka sendiri, mengulang apa yang telah dilakukan terlalu sering sebelumnya, dan tidak harus menjelma dalam kehidupan lain untuk melakukannya.

"Era baru telah tiba bagi kita," pedagang itu berseru dari atas pelana kudanya, "era baru yang penuh dengan peluang besar dan tak pernah ada sebelumnya."

"Simpan saja dustamu!" salah seorang petani berteriak. "Kami tak punya uang. Kalian tidak bisa menipu kami apa yang tak kami punyai!"

BUKU KEDUA

9

Penduduk desa tertawa. Orang-orang di dekat petani yang berteriak tadi memujinya penuh semangat dan dengan keras menyerukan saran-saran mereka sendiri.

"Terus saja ke Desa Kobayashi! Mereka lebih kaya di sana!"

"Ya. Setidaknya mereka punya sesuatu untuk dicuri. Kami tak punya apa-apa!"

Pedagang itu tersenyum ketika penduduk desa itu tertawa lagi. Dia mengeluarkan sebuah tas kain besar dalam jaketnya dan mengguncangkannya. Terdengar bunyi seperti uang logam yang saling beradu. Banyak uang logam. Tawa itu dengan cepat berhenti.

Pedagang itu berkata, "Apakah seorang penipu akan memberikan uangnya kepada kalian, alih- alih mengambil uang kalian? Apakah seorang pendusta akan mempercayai janji kalian, alih-alih meminta kalian memercayainya?"

"Tembaga juga bisa membuat pundi-pundi menjadi berat seperti emas," kata seorang petani, "dan kata-kata hanyalah kata-kata. Kami tidak begitu bodoh sampai tidak mengenali seorang pencuri ketika kami melihatnya."

Salah seorang ronin yang mengawal pedagang itu, yang tampaknya menjadi pemimpin kelompok, menjalankan kudanya ke depan dan berbicara dengan gaya angkuh layaknya seorang samurai, tanpa atau dengan tuan.

"Rendahkan dirimu pada derajatmu yang semestinya, petani," katanya, tangannya memegang gagang pedang, "dan berbicaralah dengan hormat kepada mereka yang di atasmu."

"Ini Desa Yamanaka," kata petani tadi, tidak terintimidasi sedikit pun. "Kami adalah abdi Lord Hiromitsu, bukan gerombolan gelandangan."

Ronin itu menghunus pedangnya. "Lord Hiromitsu. Aku gemetar ketakutan."

"Lord Hiromitsu bersahabat dengan Genji, Bangsawan Agung Akaoka," petani itu melanjutkan, "yang menggilas tentara Shogun di sini belum lama berlalu. Barangkali, kalian pernah mendengar Kuil Mushindo?"

"Kuil Mushindo," kata ronin itu, menurunkan pedangnya, dan berpaling kepada si pedagang. "Kukira tempat itu masih jauh ke barat."

"Putar kepalamu," kata petani itu, "dan tengok ke atas bukit itu. Itu dia."

"Simpan pedangmu," kata si pedagang, "dan sebaiknya kita tidak berbicara tentang masa lalu. Aku di sini sebagai utusan masa depan. Masa depan yang sukses. Kalian mau mendengarku atau tidak? Kalau tidak, aku akan pergi."

BUKU KEDUA

10

tangannya. Tas itu tidak berisi tembaga. Telapak tangannya berkilau dengan shu, emas, uang persegi panjang dengan tanda khas pabrik uang resmi Tokugawa. Enam belas shu sama dengan satu ryo, dan satu ryo itu melebihi yang bisa diperoleh bahkan oleh petani terkaya dari panenan tahun ini. Jika tas pedagang itu penuh dengan shu emas, dia memegang harta karun di tangannya. Ajaib juga bahwa para ronin yang mengikutinya belum membunuhnya dan merampas keka- yaannya. Uang yang begitu banyak di depan mereka mencengangkan para petani hingga terdiam.

"Shogun baru-baru ini mencabut larangan perdagangan ke luar negeri," pedagang itu mengumumkan. "Melihat dunia akan menarik manfaat dari kehadiran kita, dia dengan bijak mengeluarkan perintah bahwa rakyat Jepang sekali lagi boleh tinggal di negeri asing. Untuk menyediakan akomodasi bagi pelancong kita, banyak losmen baru dibuka, di Taiwan, Filipina, Siam, Cochin Cina, Jawa, dan di tempat-tempat lain. Tentu saja, losmen-losmen ini harus dikelola orang Jepang. Kita tak dapat memercayakan pengurusan pelancong kita kepada penduduk setempat yang tak beradab. Untuk tujuan ini, aku telah diberi kuasa untuk menawarkan pekerjaan sebagai pelayan, juru masak, dan pengurus rumah tangga, kepada wanita-wanita muda desa kalian, untuk bekerja selama tiga tahun, dengan satu shu per tahun dibayarkan kepada keluarga mereka. Di muka! Jadi, tiga shu sekarang, hari ini, menit ini juga, bagi setiap keluarga yang akan memberi putrid-putri mereka kesempatan sekali seumur hidup! Tiga shu emas!"

Begitu dia mendengar kata-kata tiga shu emas, Kimi tahu, bisa dikatakan dia sudah berada di Jawa atau Filipina atau Siam, entah di mana pun tempat-tempat itu. Dia tidak percaya sepatah kata pun ucapan orang yang jelas jelas bajingan itu tentang pemyataan Shogun atau peluang baru atau apa pun lainnya, dan ragu ada orang di desa ini yang benar-benar percaya. Namun, mana mungkin para petani miskin dengan banyak mulut yang harus diberi makan ini bisa menolak tawaran seperti itu.

"Sekarang, jujurlah kepadaku," kata pedagang itu, masih memamerkan telapak tangannya yang berisi emas untuk dilihat semua orang. "Apakah kalian pernah berpikir akan bisa menyaksikan putri kalian yang tanpa mas kawin itu menjadi begitu berharga? Sungguh, kita hidup di masa yang menakjubkan, bukan?"

Tiga saudara perempuan Kimi sudah menikah semua, dengan anak-anak yang terlalu kecil untuk ditinggalkan. Kimi satu-satunya yang bisa pergi. Dan pergilah dia, hari itu juga, bersama enam gadis lain dari desanya. Dia bahkan tak sempat mendaki bukit ke Mushindo untuk berpamitan kepada Goro.

BUKU KEDUA

11

Dua minggu kemudian, dia berada di sebuah gudang di dermaga pelabuhan Yokohama, bersama seratus gadis dan wanita muda lainnya, menunggu kapal yang akan membawa mereka ke sebuah tempat yang disebut Luzon. Dongeng tentang menjadi pelayan dan pengurus rumah tangga dan juru masak sudah ditinggalkan lama sebelumnya. Banyak gadis yang lebih tua telah diperkosa oleh penjaga-penjaga mereka, sebagian berulang-ulang. Kimi dan yang lain selamat dari nasib itu hanya karena si pedagang berkali-kali mengingatkan para ronin bahwa gadis-gadis termuda akan berharga dua kali lipat jika mereka masih perawan ketika sampai di tujuan. Dalam kesetimbangan rapuh antara nafsu dan keserakahan, Kimi selamat untuk sementara. Namun, keselamatan itu tidak mengandung harapan. Karena akhirnya dia mengerti. Dia telah dijual oleh orangtuanya sendiri.

Selama beberapa hari, pemikiran untuk melarikan diri telah mempertahankan energi dan semangatnya. Akan tetapi, itu akhirnya memudar segera. Ke mana dia akan lari? Jika dia pulang ke desanya, gerombolan ronin akan datang mencarinya, dan apa yang akan dilakukan orangtuanya nanti? Mereka akan menyerahkan dirinya kembali, karena jika tidak, mereka harus mengembalikan emas itu, suatu hal yang tak dapat Kimi bayangkan. Dan, jika dia tidak pulang ke desanya, apa yang akan dilakukannya? Bagaimana dia bisa bertahan hidup di tempat seperti Yokohama, yang penuh dengan orang-orang asing, orang-orang yang sama terombang-ambingnya dengan para ronin yang menahannya?

Ketiadaan harapan membuat dirinya tumpul, dan karena tumpul, dia kehilangan jejak waktu. Jadi, akan beginilah sisa hidupnya nanti. Tidak jelas, berkabut, mati rasa. Dia akan digunakan sampai dia tidak berguna lagi, kemudian dia akan mati. Betapa merananya dilahirkan sebagai wanita. Kalau saja dia seekor anjing, betina sekalipun, setidaknya dia akan mendapatkan perlindungan dari hukum lama Shogun yang mengatur perlakuan terhadap binatang. Tak ada hukum yang mengatur perlakuan terhadap wanita.

Jeritan ketakutan gadis-gadis di dekat pintu kurungan membangunkannya. Dia beringsut sejauh miingkin ke belakang di antara kerumunan. Karena harganya sebagai perawan, barangkali belum ada yang perlu ditakutinya, tetapi lebih baik tidak terlalu memercayai keserakahan. Mereka yang sering berbuat tak senonoh cenderung tak bisa dipercaya, bahkan ketika mereka menahan nafsu. Kelemahan sesaat, hanya itu yang diperlukan untuk meruntuhkan pertahanan mereka, dan para lelaki ronin ini penuh dengan kelemahan. Kimi bersembunyi.

BUKU KEDUA

12

"Menakutkan sekali dia, bukan? Pembangkang berikutnya yang tidak melaksanakan perintah— segera, dan dengan baik-baik pula—akan kami serahkan kepadanya. Bagaimana menurutmu? Kau! Ya, kau! Siapa yang kaupilih? Dia atau aku?"

Kimi tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi, tetapi dia tidak perlu melihat untuk tahu. Dia mendengar tawa, dan bisik-bisik ketakutan, pintu kurungan dibuka, kaki-kaki bergeser. Tekanan tubuh gadis-gadis lain pada tubuhnya memberitahunya betapa ketakutannya mereka. Mereka mundur sejauh mungkin dari pintu.

"Kami akan meninggalkan dia di sini untuk mengawasi kalian," kata penjaga itu. "Jika kalian mau aman, sebaiknya jaga perilaku kalian ketika kami tidak ada, atau kalian rasakan sendiri akibatnya!"

Para penjaga pergi dengan wanita-wanita malang yang mereka pilih untuk hiburan malam mereka, tetapi tekanan tubuh-tubuh yang dirasakan Kimi tidak berkurang. Lelaki baru yang mereka tinggalkan tentunya benar-benar mengerikan jika dibandingkan dengan makhluk buas yang pernah dilihatnya. Dia bisa menduga laki-laki itu bergerak di sepanjang kurungan, mengintip mereka, karena kerumunan wanita yang ketakutan bergeser ke satu arah, kemudian berbalik ke arah lain, setiap kali dengan tanda kepanikan yang bertambah. Sebagian wanita sudah mulai terisak, menunggu horor yang akan segera mengunjungi mereka, tak pelak lagi. Mereka bergeser lagi dan dia melihat sekilas lelaki itu, kepalanya yang besar botak menjulang di atas mereka. Dia berjalan bolak-balik di luar kurungan, dengan membisu, perhatiannya sepenuhnya terpaku pada para wanita. Dia sejenis monster bisu tanpa rambut, barangkali orang asing, yang dibawa kemari oleh para ronin tak berhati untuk meneror mereka dan menjadikan mereka budak penurut.

Pintu kurungan berderik, awalnya dengan lembut, kemudian dengan kasar. Para wanita, tersentak, menekan lebih keras lagi dinding belakang. Terdengar bunyi logam patah. Kimi dapat melihat bagian atas pintu kurungan mengayun keluar. Monster itu sudah di dalam. Kerumunan wanita menjauh saat dia melangkah maju, dan Kimi mencoba menjauh bersama mereka. Namun, dia bisa melakukan itu hanya sesaat karena mereka juga menjauhi dirinya di samping monster itu.

Monster itu mengejarnya!

Dalam beberapa hari terakhir, Kimi telah memi, kirkan bunuh diri, dan selalu memutuskan untuk tidak melakukannya. Hidup lebih baik ketimbang mati. Dengan hidup, dia punya kesempatan. Mati, tak ada apa-apa sama sekali. Lagi pula, ada masalah praktis. Bagaimana caranya? Mogok makan tidak akan berhasil. Para penjaga akan melihat apa yang dilakukannya dan akan

BUKU KEDUA

13

memaksanya makan. Ini sudah terjadi pada seorang gadis. Sebelum dia melihat apa yang dilakukan penjaga, dia tidak tahu bahwa makan bisa menjadi siksaan.

Tak ada apa pun yang bisa digunakan untuk menggantung diri kecuali jeruji kerangkeng ini, dan itu cara yang terlalu lambat untuk mencekik. Salah seorang gadis juga sudah mencoba metode ini, dan hanya berhasil merusak otot-otot lehernya sebelum dia menyerah. Kini, kepalanya agak miring secara permanen, yang mengurangi harganya, dan yang pasti akan mengirimnya pada jenis perlakuan buruk yang terburuk di Luzon.

Dia tidak bisa melompat dari ketinggian atau mengiris tenggorokannya. Yang paling mungkin dilakukannya adalah membenturkan kepalanya ke Iantai dengan begitu keras sehingga tengkoraknya. Namun, dia tidak yakin dia punya kemauan atau kekuatan untuk melakukannya.

Berarti tinggal satu kemungkinan saja. Dan itu menakutkan, tetapi juga menjamin

Dalam dokumen I HANTU LORD KIYORI (Halaman 120-133)