• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mawar American Beuaty 1867, Istana Bangau yang Tenang, Edo

Dalam dokumen I HANTU LORD KIYORI (Halaman 38-48)

Kerinduan Emily Gibson akan sesuatu yang sulit digambarkan terasa begitu besar. Seasakan-akan, dia mencium aroma bunga apel yang terbawa angin setiap terbangun pada pagi hari. Itu bukan lagi kenangan akan Lembah Apel pada masa kecilnya yang menimbulkan kehampaan menyakitkan di dadanya, juga bukan angin khayalan yang merenggut keharuman dari anggrek di tepian Sungai Hudson. Dia merindukan Lembah Apel yang lain, lembah kecil yang menampung seratus pohon saja, seikit melebihi jarak tembak panah dari Kastel Awan Burung Gereja.

Dia dapat merasakan nostalgia tentang sebuah tempat di Jepang, itu menunjukkan berapa lama dia telah jauh dari Amerika. Sudah berlalu lebih dari enam tahun sejak dia meninggalkan negaranya, dan hampir sama lamanya sejak terakhir kali dia mengaggap Amerika sebagai kampung halaman. Waktu itu usianya hamper tujuh belas tahun. Sekarang, dia berusia 23 tahun, dan merasa jauh lebih tua. Pada tahun-tahun di antaranya, dia telah kehilangan tunangannya, sahabatnya, dan barangkali yang paling berarti lalah, rasa kesusilaannya. Mengetahui apa yang benar dan melakukan apa yang benar adalah dua hal yang sangat berbeda. Emosi tidak mudah dikendalikan sesuai dengan arahan logika. Dia jatuh cinta, dan tidak seharusnya dia demikian.

Emily bangkit dari tempat tidur, sebuah ranjang berkelambu dengan empat tiang. Robert Farrington, atase angkatan laut Kedutaan Amerika, telah meyakinkannya bahwa ranjang itu adalah model terbaru di Amerika. Karena sarannyalah, Emily memesannya. Keengganan Emily mendiskusikan perabot yang begitu pribadi dengan seorang pria yang bukan keluarga dikalahkan oleh kebutuhannya. Tak ada orang lain yang dapat dimintai saran mengenai masalah itu. Para istri dan putri beberapa orang Amerika di Edo telah menjauhinya. Kali ini, bukan karena kecantikannya, atau lebih tepatnya, terutama bukan

karena itu, melainkan karena pergaulannya yang begitu akrab dengan seseorang dari Timur. Menurut Letnan Farrington, hal ini merupakan skandal di kalangan kedutaan Barat.

"Apa yang disebut sebagai skandal tentang itu?" Emily pernah bertanya. "Aku misionaris Kristen yang melaksanakan tugas Kristus di bawah lindungan Lord Genji. Sama sekali tak ada yang tidak pantas tentang hubungan kami."

"Itu hanya salah satu sudut pandang terhadap hal tersebut."

"Maafkan aku, Letnan Farrington," kata Emily, bahunya menegang, "Aku tidak melihat cara lain."

"Ayolah. Bukankah kita telah bersepakat bahwa kau akan menjadi Emily dan aku akan menjadi Robert. Letnan Farrington terdengar begitu jauh dan, yah ... berbau militer."

Mereka berada di ruang tamu yang menghadap salah satu halaman dalam Istana Bangau yang Tenang. Ruangan itu sudah diubah sesuai dengan gaya Barat, awalnya untuk mengakomodasi kehadiran Emily, dan kemudian baru-baru ini untuk menerima tamu- tamu Barat.

"Apakah itu bijak? Bukankah itu berarti aku memaparkan diriku terhadap skandal lebih jauh?"

"Sedikit pun aku tidak percaya pada gunjingan itu," katanya, "tetapi, kau harus mengakui bahwa keadaan membuat prasangka semacam itu tak terelakkan."

"Keadaan apa?"

"Tidakkah kau mengerti?" wajah tampan Robert merengut kekanak-kanakan, suatu ekspresi yang tidak disadarinya untuk menunjukkan ketidaknyamanan.

Emily ingin tertawa, tetapi tentu saja ditahannya. Sekalipun merupakan perjuangan tersendiri untuk mempertahankan ekspresi seriusnya, dia berhasil melakukannya.

Dia berkata, "Tidak. Aku tidak mengerti."

Robert berdiri dan berjalan ke ambang pintu yang menghadap taman. Dia berjalan dengan agak pincang. Dengan rendah hati dia menyebutnya sebagai akibat kecelakaan dalam perang. Namun, Duta Besar telah bercerita kepada Emily bahwa Robert mendapatkan cedera itu dalam aksi angkatan laut di Sungai Mississippi, dan karenanya dia telah dianugerahi sejumlah penghargaan untuk keberaniannya. Emily bersimpati dengan kerendah-hatian Robert. Bahkan, dia menyukai banyak hal tentang Robert, termasuk

kemampuannya berbicara dengan bahasa lnggris. Barangkali, itulah yang paling dirindukan Emily selama bertahun-tahun di Jepang—suara orang Amerika.

Setelah sampai di ambang pintu, Robert berbalik menghadapnya. Agaknya, dia merasa perlu berdiri cukup jauh untuk mengatakan apa yang harus dikatakannya. Wajahnya masih merengut. "Kau adalah wanita muda lajang, tanpa perlindungan ayah, suami, atau saudara laki-laki, yang hidup di istana seorang tiran Timur."

"Aku tidak mau menyebut Lord Genji tiran, Robert. Dia seorang bangsawan, seperti seorang duke di negara-negara Eropa."

"Tolong, biarkan aku melanjutkan kata-kataku selagi aku punya keberanian melakukannya. Seperti yang kukatakan tadi, kau adalah wanita muda, dan lebih-lebih lagi, seorang wanita muda yang sangat cantik. Itu saja sudah cukup untuk menimbulkan gosip dalam keadaan apa pun. Masalahnya menjadi lebih buruk, karena sang 'duke', menurut sebutanmu, yang berbagi atap denganmu—"

Emily menyela, "Aku tidak akan menyatakan seperti itu."

"—adalah orang yang terkenal berhidung belang, bahkan di antara teman-temannya sendiri yang juga berhidung belang. Demi Tuhan, Emily—"

"Aku harus memintamu untuk tidak sembarangan tidak menyebut nama Lord Genji." "Maaf," sahut Robert. "Aku lupa diri. Tetapi tentunya kau dapat melihat masalahnya sekarang."

"Dan begitukah kau melihatnya?"

"Aku tahu kau seorang wanita dengan kebaikan tak tercela dan moralitas yang sangat teguh. Aku bukan mencemaskan perilakumu. Tetapi, aku khawatir akan keselamatanmu di tempat seperti ini. Sungguh ajaib kau tidak diganggu selama ini. Terisolasi seperti ini, di bawah lindungan seorang pria yang keinginannya adalah titah mutlak bagi para pengikut fanatiknya, apa pun bisa terjadi, apa saja, dan tak seorang pun yang dapat menolongmu."

Emily tersenyum ramah. "Aku menghargai peratianmu. Tetapi, sungguh, kecemasanmu sepenuhnya tanpa dasar. Orang-orang Jepang tidak melihat penampilanku seperti gambaranmu yang begitu berlebiham. Aku dianggap sangat jelek, tidak berbeda dengan tokoh jahat yang sering muncul dalam dongeng-dongeng mereka, yang mengembuskan napas api. Orang yang paling tidak membangkitkan gairah dalam diri orang Jepang pastilah hanya aku, yakinlah."

"Bukan orang Jepang secara umum yang mencemaskanku," kata Robert, "hanya satu orang tertentu."

"Lord Genji adalah teman sejati," kata Emily, "dan seorang pria yang baik, yang menjunjung tinggi kesusilaan. Aku lebih aman di dalam dinding ini daripada di mana pun di Edo."

"Menjunjung tinggi kesusilaan? Dia dikelilingi pelacur-pelacur secara teratur."

"Geisha itu bukan pelacur. Aku telah berkali-kali menjelaskan itu kepadamu. Kausengaja menolak untuk mengerti."

"Dia menyembah patung-patung emas."

"Tidak. Dia memberikan penghormatan kepada guru-guru dan leluhurnya dengan membungkuk di hadapan patung Buddha. Aku juga sudah menjelaskan ini."

Robert melanjutkan ucapannya seakan-akan dia tidak mendengar kata-kata Emily. "Dia telah membunuh puluhan pria, wanita, dan anak-anak tak berdosa, dan menyebabkan banyak orang lainnya terbunuh. Dia tidak hanya menghalalkan bunuh diri, itu saja sudah merupakan dosa, tetapi juga benarbenar memerintahkan orang lain untuk bunuh diri. Dia telah memenggal, atau memerintahkan pemenggalan, banyak musuh politiknya, dan menambah kekejamannya itu dengan mengirimkan kepala orang-orang malang itu kepada keluarga mereka. Kekejaman seperti itu sulit dipercaya. Ya Tuhan, apakah kau menyebut pelakunya menjunjung tinggi kesusilaan? "

"Tenangkan dirimu. Ini. Minumlah teh ini." Emily perlu jeda itu. Kalaupun tidak sepenuhnya dapat dibenarkan, seluruh permasalahan yang dikemukakan Robert dapat dengan mudah dijawab, kecuali satu. Pembantaian penduduk sebuah desa. Barangkali, jika dia mengesampingkannya dan membicarakan masalah-masalah lain, Robert tidak akan memperhatikan.

Robert duduk. Napasnya menjadi agak berat karena terlalu bersemangat menyebutkan dosa-dosa Genji.

"Maafkan aku," katanya, "Tetapi, apakah kau punya kopi?"

"Sayang sekali tak ada. Apakah kau benar-benar lebih suka kopi ketimbang teh?" Kopi tampaknya menjadi tren terbaru pasca perang di Amerika Serikat. "Bagiku kopi terlalu keras, dan cenderung membuat perutku panas."

diperoleh daripada teh Inggris, aku menemukan manfaat besar dalam kopi. Kopi membangkitkan energi besar yang sama kuli tidak diberikan oleh teh."

"Kalaupun begitu, kau tampaknya sudah mempunyai energi berlebihan, sama sekali tak lemah," kata Emily "Barangkali, justru seharusnya kau mengurangi konsumsi kopimu."

Robert mengambil teh yang disediakan dan tersenyum. "Barangkali," katanya, dan terus tersenyum kepadanya sedemikian sehingga Emily tahu dia dapat mengalihkan percakapan ke masalah lain hanya dengan sedikit usaha. Namun masalah itu, yang coba diungkit Robert dalam beberapa percakapan sebelumnya, mengandung bahaya tersendiri. Jadi, Emily mempertahan-kan topik pembicaraan semula.

"Haruskah aku menjelaskan lagi soal geisha dan Buddhisme, Robert?"

"Aku mengakui bahwa penjelasanmu, jika benar, akan sangat beralasan." Dia mengangkat tangan untuk menghentikan protes yang dia tahu akan dilancarkan. "Dan lebih jauh, aku mengakui, setidaknya demi perdebatan ini, bahwa penjelasanmu memang beralasan kuat."

"Terima kasih. Sekarang, kau sendiri sebagai orang militer, tentunya tahu bahwa salah satu tradisi perang samurai terkadang memaksa mereka untuk menghabisi hidupnya sendiri. Menurut ajaran Kristen, ini adalah dosa besar. Tak ada keraguan tentang itu. Tetapi sebelum mereka beriman, kita tidak dapat mengharapkan mereka mengikuti ajaran yang, saat ini, sama sekali bertentangan dengan tradisi mereka."

"Tampaknya itu sudut pandang yang terlalu lunak bagi seorang misionaris Kristen, Emily"

"Aku tidak membenarkan. Aku hanya memahami, dan hanya itu yang kuminta darimu."

"Baiklah. Teruskan."

"Dan tentang pengiriman kepala—" Emily menarik napas dalam-dalam dan mencoba, tanpa berhasil sepenuhnya, untuk tidak membayangkannya. Dia telah terlalu banyak menyaksikan sendiri periswtiwa semacam itu. "—itu dianggap tindakan terhormat. Jika Lord Genji tidak melakukannya, itu berarti pelanggaran terhadap semacam kode etik kesatriaan pada dunia samurai."

"Kesatriaan? Bagaimana bisa terpikirkan olehmu menggunakan kata itu untuk menggambarkan tindakan brutal pembantaian dan penjagalan?"

"Maafkan aku, Lady Emily" Hanako berlutut di ambang pintu dan membungkuk, tangan kanannya di lantai, lengan kiri kimononya yang kosong jatuh dengan anggun di sampingnya. "Anda kedatangan tamu lain. Aku sudah memberitahunya bahwa Anda sedang menerima tamu, tetapi dia memaksa—"

"Wah, wah, betapa senangnya melihat Anda bersantai, laksamana. Tetapi, apakah Anda benar-benar punya waktu luang begitu banyak untuk dibuang-buang seperti ini?" Charles Smith tersenyum dan mengangkat sebelah alisnya kepada Robert. Logat Georgianya, Emily memerhatikan, sangat dilebih-lebihkan, sebagaimana selalu dilakukannya di hadapan Robert. "Apakah tidak ada lagi rumah untuk dijarah, kota untuk dibakar, dan warga sipil tak berdaya untuk dibombardir?"

Robert serta-merta berdiri. "Itu adalah penghinaan terakhir yang akan pernah kuterima dari seorang pengkhianat seperti Anda, Sir."

"Gentlemen, tolong," kata Emily, tetapi kedua pria itu tidak menunjukkan tanda-tanda mendengarnya.

Charles membungkuk sedikit kepada lawannya. "Aku siap melayani Anda, Sir, waktunya terserah Anda. Dan pilihan senjata, juga terserah Anda."

"Robert!" seru Emily "Charles! Hentikan sekarang juga!"

"Karena aku yang pertama menantang," ujar Robert, "pilihan tentunya pada Anda, Sir."

"Aku terpaksa menolak karena itu berarti memberiku keuntungan yang sama sekali tak adil," kata Charles. "Aku biasanya akan memilih pistol atau pedang, tetapi Anda serta kalangan Anda, aku yakin, jauh lebih nyaman dengan meriam jarak jauh, lemparan obor, dan pengepungan musuh hingga kelaparan."

Jika Emily tidak melemparkan tubuhnya sendiri di antara dua pria itu, tak diragukan lagi mereka akan saling menyerang di tempat. Untunglah, mereka masih memiliki cukup akal sehat untuk berhenti sebelum bertabrakan dengannya.

"Aku malu atas sikap kalian," katanya, menatap mereka satu per satu dengan pandangan mencela. "Kalian adalah pria Kristen terhormat, dan seharusnya memberikan contoh kepada tuan rumah kita. Alih-alih kalian berperilaku barbar, sulit dibedakan dengan golongan terburuk dari bangsa mereka sendiri."

Robert, masih membelalak kepada Charles, yang tentu saja, terus menatapnya dengan garang.

"Jika kebenaran dianggap hinaan," ujar Charles, "maka barangkali kau harus mengkaji tindakan kejam yang menimbulkannya."

"Apa yang lebih kejam daripada perbudakan?" balas Robert. "Kami hanya mengakhirinya, sekaligus pemberontakan kalian juga."

Charles tertawa mengejek. "Seolah-olah kaupeduli tentang nasib orang-orang Negro. Itu penjelasan dusta, bukan alasan."

"Kecuali kalian menghentikan perdebatan ini segera," kata Emily "Aku terpaksa meminta kalian berdua untuk pergi. Dan jika aku mengetahui kalian saling melakukan kekerasan terhadap satu sama lain, kukira tak mungkin lagi aku akan menemui kalian masing-masing. Selamanya tidak."

Baik Robert Farrington maupun Charles Smith tampak siap untuk saling bunuh seperti semula, dan tak diragukan lagi akan tetap siap pada waktu lain ketika mereka bertemu lagi. Emily sama yakinnya bahwa mereka tidak akan melakukan itu. Alasan di belakang perselisihan mereka sebenarnya bukan tentang politik secara umum, atau bahkan perang akhir-akhir ini secara khusus. Keluarga Charles memang berasal dari Georgia, tetapi itu beberapa generasi lalu. Charles sendiri lahir di Honolulu, di Kerajaan Hawaii, sebagaimana kedua orangtuanya. Dia adalah ahli waris perkebunan tebu dan peternakan sapi di sana, dan tak pernah menginjakkan kaki di Georgia. Lebih jauh, Emily tahu dari percakapan sebelumnya bahwa Charles adalah seorang revolusionis gigih. Tidak, sesungguhnya, kemarahan kedua pria itu timbul dari kesamaan keinginan mereka untuk mengikat Emily dalam perkawinan.

Apa yang membuat seorang pria berpikir dia dapat merebut hati wanita dengan membunuh pria lain? Seolah-olah justru dalam dada lelaki paling, beradab, sisa-sisa kehidupan prasejarah yang tidak berperikemanusiaan siap untuk membangkitkan kembali kekuasaannya pada masa lalu. Sesungguhnyalah, tanpa pengaruh wanita yang meluruskan, bahkan pria terbaik dalam dunia Kristen, seperti Robert Farrington dan Charles Smith, pasti akan selalu berdiri di tepi jurang kemerosotan kembali ke arah barbarisme. Emily sudah menyatakan dengan sangat tegas kepada mereka bahwa kekerasan apa pun, yang tidak mematikan sekalipun, akan membuatatnya langsung mengeluarkan si pelaku dari

pertimbangannya lebih lanjut.

Memilih salah seorang dari mereka bukanlah keputusan mudah meskipun Emily bertekad akan melakukannya dalam waktu dekat. Alasan ketergesa-gesaaannya sekarang sama dengan alasannya dahulu ketika menolak untuk mempertimbangkan lamaran siapa pun. Cinta. Cinta yang terdalam dan tak tergoyahkan. Namun sayangnya, justru cinta seperti itu. Tidak dirasakannya bagi kedua pria yang mendambakan uluran tangannya itu.

Setelah lima belas menit Emily berkeras meminta mereka meninggalkannya, kedua pria itu akhirnya pergi. Emily kemudian masuk ke kamar kerjanya untuk melanjutkan menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris Suzume-no-kumo, Awan Burung Gereja, perkamen rahasia yang berisi sejarah dan ramalan klan Lord Genji, Keluarga Okumichi penguasa Wilayah Akaoka.

Di sana, di mejanya, tergeletak sekuntum mawar merah, seperti pagi-pagi sebelumnya sejak vernal equinox, pertanda datangnya musim semi. Mawar itu terdiri dari jenis yang dikenal klan Genji sebagai American Beauty, nama yang mengejutkan untuk sejenis mawar yang hanya berkembang di taman dalam Kastel Awan Burung Gereja. Dia memungut mawar itu dan dengan lembut mengusapkan kelopaknya yang halus ke bibirnya. Demi cinta, dia akan menikah dengan Robert atau Charles, yang keduanya tidak dicintainya. Dia memasukkan mawar itu ke dalam jambangan kecil yang disiapkannya khusus untuk itu dan meletakkannya di sudut mejanya.

Hari ini, dia akan memulai gulungan perkamen baru. Karena setiap perkamen tidak dinomori atau ditandai, terkadang setelah selesai menerjemahkan, dia baru mengetahui kurun waktu sejarah yang diliputnya. Adalah kebetulan belaka bahwa perkamen pertama yang diterjemahkannya enam tahun lalu adalah gulungan pertama, yang ditulis pada 1291. Perkamen kedua dari tahun 1641 dan yang ketiga dari tahun 1436. Jika ada dua perkamen yang berkesinambungan, itu bukan karena dirancang demikian. Menurut Genji, itu karena setiap Bangsawan Agung Akaoka ketika membaca sejarah, cenderung membaca ulang perkamen tertentu lebih sering ketimbang yang lainnya. Akibatnya, urutan, kalaupun ada, teracak dan teracak lagi, berulang-ulang sepanjang masa. Pada mulanya, ketiadaan urutan menyulitkan Emily. Namun segera, kejutannya mulai memikatnya. Persis seperti membuka hadiah Natal, mendapatkan kejutan yang menyenangkan setiap saat.

membuka gulungan baru, melainkan juga untuk membuka peti baru. Ketidakteraturan sejarah klan ini terjadi juga pada cara penyimpanannya. Perkamen dari decade dan abad yang berbeda disimpan dalam peti-peti yang ditumpuk dalam desain dan ukuran. Karena tidak ada aturan mana yang harus didahulukan, setia kali tiba waktunya untuk memilih peti, Emily membiarkan matanya merayau di antara peti-peti yang ditumpuk di sudut kamar kerjanya. Seperti biasanya, dia akan membiarkan imajinasinya menentukan pilihan.

Peti yang besar atau kecil? Yang menunjukkan ketuaan atau yang baru? Peti buatan Eropa yang tertutup dengan selot besi berkarat? Atau, peti oval hitam mengkilap yang anggun dari Cina? Atau, peti Korea dari kayu cendana yang harum? Akan tetapi, ketika matanya mendarat pada kotak berlapis kulit yang aneh, dia tahu bahwa rasa ingin tahu tidak akan mengizinkannya membuka yang lain. Pada permukaan atasnya, terdapat lukisan yang sudah pudar, tetapi warna aslinya masih tampak jelas. Seekor naga merah yang melingkari puncak gunung biru. Latar belakang pendidikannya pada seni Asia Timur me- mungkinkannya untuk mengenali negara asal sebagian artefak yang dilihatnya. Namun, dia tidak mengenali yang satu ini.

Tutupnya disegel dengan lilin, yang juga melapisi seluruh permukaan kotak. Retakan lilin menunjukkan bahwa kotak itu pernah dibuka baru-baru ini, yang terasa agak aneh. Genji telah mengatakan kepadanya bahwa sudah menjadi tugas setiap Bangsawan Agung Akaoka untuk membaca sejarahnya secara keseluruhan pada waktu naik takhta. Jadi tentunya, peti itu dibuka sudah lama sekali. Genji pasti sudah menyegelnya kembali dengan lilin setelah dia selesai membaca isinya. Kemudian, membukanya lagi sebelum Emily menerimanya. Dia akan menanyakan ini kepada Genji nanti.

Di dalamnya, selembar kain kasar membungkus isinya. Di dalam kain ini terdapat kain lain, dari sutra yang dibordir dengan warna-warna cemerlang. Ketika Emily membuka lipatan pertama, dia melihat pola mawar, dalam jumlah banyak, berwarna merah, merah muda, dan putih, dengan latar belakang gumpalan awan putih di langit biru cerah. Karena mawar American beauty hampir menjadi simbol tak resmi klan ini, aneh juga bahwa baru kali ini dia menemukannya di antara kain-kain yang selalu membungkus perkamen di dalam peti-peti itu.

Dia membuka gulungan perkamen pertama yang diambilnya dari dalam peti itu. Tidak seperti semua perkamen lain yang sudah dilihatnya selama ini, yang ini ditulis

hampir sepenuhnya dalam lambang bunyi Jepang sederhana, yang disebut hiragana. Yang lain kebanyakan ditulis dengan kanji, huruf Cina yang sudah disesuaikan oleh bangsa Je- pang untuk menggambarkan gagasan kompleks dalam bahasa mereka sendiri. Kanji sudah terbukti sulit bagi Emily dalam mempelajari bahasa Jepang, tetapi hiragana berbeda. Dia membaca baris pertama tanpa kesulitan berarti.

Lord Narihira mengetahui dari sang pengunjung bahwa kedatangan American Beauty—

Emily berhenti, terkejut, dan membacanya sekali. Ya, dia tidak membuat kesalahan. Ada tanda fonetik untuk "Amerika"—ah-me-li-ha-nu. Jika kata itu disebutkan, perkamen itu tentunya berasal dari masa setelah Jepang menyadari keberadaan Dunia Baru. Perkamen- perkamen sebelumnya yang sudah diterjemahkannya meliputi sebagian besar sejarah akhir abad ke-18. Barangkali, ini juga berasal dari kurun itu. Dia memulai lagi.

Lord Narihira mengetahui dari sang pengunjung bahwa kedatangan American Beauty di Kastel Awan Burung Gereja akan mengisyaratkan kemenangan akhir klan Okumichi. Betapa bodohnya Lord Narihira, dia memerintahkan agar mawar ditanam di taman dalam kastel, dan memberi mereka nama Ameican Beauty. Dia berpikir dengan melakukan itu, dia mewujudkan ramalan tersebut menjadi kenyataan. Bukankah lelaki selalu seperti itu, mencoba memaksa sungai mengalir ke arah tertentu, ketimbang memahami alirannya, dan melayarinya dengan mudah ke tujuan alaminya? Sulit membayangkan wanita sebodoh itu, bukan? Ketika kayangan memberikan kekuasaan kepada pria untuk mengatur dunia, dewa-- dewa di atas tentu sedang menunjukkan rasa humor yang nakal.

Gaya narasinya sangat berbeda dengan formalitas tulisan-tulisan di perkamen lain yang sudah diterjemahkannya selama ini. Bahasanya yang sudah: kuno memberikan tantangan tersendiri, tetapi dengan bantuan kamus dwibahasa yang telah disusunnya bersama Genji, dan karena perkamen itu tidak ditulis dengan kanji, dia mampu memahami apa yang dibacanya dengan relatif mudah. Dia melanjutkan tanpa repot-repot menuliskan terjemahan Inggrisnya. Itu bisa menyusul nanti. Dia terlalu bersemangat.

Dalam dokumen I HANTU LORD KIYORI (Halaman 38-48)