"Kemungkinan bahwa aku tidak ada di sini," kata Lord Kiyori, "hanya sebatas itu. Hanya sebuah kemungkinan. Kita bisa mengatakan apa saja—kata-kata merupakan alat yang tak bisa dipercaya—tetapi aku tahu bahwa aku ada di sini, dan kau tidak. Semua pembicaraan tentang kupu-kupu dan cermin tidak bisa menyangkal itu."
BUKU KEDUA
19Shizuka melihat Kiyori meraih sesuatu di depannya. Dari caranya mengangkat apa yang ada di tangannya, Shizuka tahu benda itu cangkir teh. Semua yang nyata bagi Kiyori tidak tampak olehnya, kecuali Kiyori sendiri, itu pun hanya berupa bayangan kabut yang tembus pandang sehingga dinding ruangan di belakangnya terlihat. Bentuk ruangan itu sama bagi mereka berdua, tetapi tidak isinya. Kiyori sering berjalan menembus tirai, rangkaian bunga, dan orang-orang yang tidak ada pada zamannya. Sihizuka tahu dia sendiri tentu melakukan hal yang sama di mata Kiyori.
Dia gembira Kiyori belum mencicipi supnya. Makanan itu mengandung racun empedu ikan buntat, racun yang dimasukkan ke sana oleh putranya, Shigeru. Shigeru sudah menjadi gila dan bertekad membunuh, tetapi tidak kejam. Racun itu dibubuhkan dengan dosis secukupnya saja untuk membuat Kiyori sedikit demi sedikit merasa kebas sebelum kelumpuhan terjadi dan kematian menyusul. Dia hanya akan merasakan sakit sedikit.
Kiyori menurunkan cangkirnya dan berkata, "Lagi pula, kalaupun aku ini hantu yang tidak sadar dengan kehantuanku, bagaimana mungkin aku menjadi hantumu? Kau sudah meninggal lima ratus tahun sebelum aku dilahirkan."
"Aku mengungkapkan kemungkinan," kata Shizuka. "Aku tak pernah menyatakan punya penjelasan untuk setiap kemungkinan itu."
"Logika sederhana mengatakan bahwa jika ada hantu di sini, itu adalah dirimu."
Kiyori berdiri dan berjalan ke jendela Barat. Ada perbedaan kontras antara cahaya dalam ruangan dan kegelapan malam di luar. Hal ini, ditambah posisi bulan yang berada di sisi lain Kiyori, membuat separuh atas tubuh Kiyori sulit dilihat. Wajahnya sama sekali tidak bisa dilihat Shizuka.
Shizuka berkata, "Lebih sederhana bagi Anda untuk berpikir demikian."
"Aspek logis layak mendapatkan penegasan," kata Kiyori, "daripada kesederhanaannya. Waktu berlalu dan tidak kembali. Masa lampau mendahului masa depan. Seperti air terjun, alirannya hanya satu."
"Betul," kata Shizuka, "bagi kebanyakan orang."
"Tak ada gunanya memperdebatkan hal ini. Kita tak akan pernah sepakat." Dia melangkah menjauhi jendela. Dengan dinding padat di belakangnya, Shizuka sekali lagi dapat melihat wajahnya. Kiyori tampak khawatir, bukan marah. "Lagi pula, sudah tidak prnting. Halusinasi
BUKU KEDUA
20atau ruh, kau sudah menjadi h,iiana bagiku untuk mengetahui hal-hal yang akan irrjadi. Berlawanan dengan reputasiku, aku tak perii;ili mengalami satu kali pun pertanda itu. Aku tahu hsmya karena kau memberi tahu aku. Jika kau tidak krmbali, aku tak bisa lagi memberikan gambaran ui,isa depan."
"Apakah itu meresahkan Anda, Tuanku?"
"Tidak. Aku telah memberitahukan banyak hal, lebih banyak ketimbang Okumichi lain sebelum aku. Perkataanku mengisi Suzume-no-kumo jauh melebihi jatahku yang semestinya."
"Lalu ...?"
"Sejauh ini, cucuku belum memperoleh pertanda," katanya. "Aku telah memberi tahu dia—aseperti yang kaukatakan kepadaku—bahwa dia akan mengalaminya tiga kali saja seumur hidupnya. Apakah pertanda itu akan datang kepadanya melalui mimpi?"
Pertanyaan Kiyori yang sebenarnya jelas bagi Shizuka. Kiyori ingin tahu apakah Shizuka akan muncul di hadapan Genji. Karena hidupnya sendiri telah dibuat begitu aneh dengan kemunculannya yang sering dan tak terduga, harapan utama Kiyori adalah bahwa Genji tidak menderita nasib yang sama. Shizuka menatap wajahnya dengan cermat. Bagai bayangan dan tembus pandang, tidak nyata dan tipis, begitulah Kiyori, tetapi kekhawatirannya sangat jelas dan menyentuh dalam-dalam simpati Shizuka. Tak ada alasan untuk membebani jam-jam terakhir hidupnya dengan masalah-masalah yang mereka berdua tak mampu mengubahnya.
Bagi Kiyori, waktu mengalir seperti yang dikatakannya, bagaikan arus air yang jatuh dari bibir tebing. Tidak demikian bagi Shizuka. Dia telah meninggal lima ratus tahun sebelum Kiyori dilahirkan—dan dia akan mati sebelum matahari terbit esok. Dan, dia ada di sini sekarang, hidup, untuk menemani Kiyori di pengujung hidupnya.
"Anda adalah satu-satunya Okumichi yang telah melihatku muncul," katanya, berdusta kepada Kiyori untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun mereka bersama, "dan satu- satunya yang akan melihatku muncul," yang merupakan dusta keduanya. Akan tetapi, dia sudah menjawab dengan jujur pertanyaan Kiyori yang tak terucap. Dia tidak akan muncul di depan Genji.
Kiyori menarik napas dalam-dalam, dan membungkuk kepadanya. "Terima kasih telah memberi tahu aku, Lady Shizuka. Aku merasa beban berat telah terangkat dari pundakku. Aku telah berhasil mempertahankan perilaku sebagai orang normal, tetupi hanya karena aku seorang
BUKU KEDUA
21samurai kuno dan ketinggalan zaman, yang mampu berpura-pura nreskipun semua bukti menunjukkan sebaliknya. Genji tidak punya kecenderungan ataupun pelatihan untuk berperilaku seperti itu. Dia mengkaji, mempertanyakan, dan berpikir sendiri, tak peduli apa kata tradisi. Itu kebisaaan buruk yang pasti ditimbulkan oleh kesukaannya mempelajari cara-cara orang asing secara berlebihan. Jika kaumuncul di hadapannya, dia akan kehilangan dirinya dalam pusaran kebingungan tanpa akhir yang pasti timbul karena kehadiranmu."
Shizuka balas membungkuk. "Kukatakan sekarang, Lord Kiyori, bahwa tak ada yang perlu Anda takutkan. Genji akan menjalani kehidupan yang luar biasa sempurna, dengan kejernihan pikiran dan tujuan tak tergoyahkan. Dia akan menjadi samurai sejati, dan dengan pedang di tangan akan memimpin klan dalam pertempuran seperti pada zaman dahulu, dan mendapatkan kemenangan-kemenangan yang akan dibicarakan oleh generasi-generasi mendatang. Dia akan dicintai oleh wanita-wanita yang memiliki kecantikan tiada tara dan keberanian besar. Anak- cucunya akan menjadi pahlawan pula. Damailah di hati Anda, Tuanku, karena garis keturunan Anda akan berlanjut hingga waktu yang tak tampak oleh pandanganku yang terjauh sekalipun."
Kiyori jatuh berlutut. Bahunya berguncang, napasnya tersengal-sengal tanpa kendali, dia terisak-isak, dan air mata berjatuhan pada tikar di depannya bagai hujan mendadak. Yang lebih penting ketimbang kehormatannya adalah kehormatan ahli warisnya. Yang lebih penting ketimbang kehidupan pengganti dirinya adalah pengetahuan akan kelangsungan klannya. Shizuka telah memberitahunya apa yang paling ingin didengarnya.
"Nyonya?"
Suara Ayame terdengar dari seberang koridor. Dengan diam-diam, Shizuka beringsut menjauhi Kiyori yang sedang menangis dan meriinggalkan ruangan.
"Ya?"
Ayame berhasil melihat sekilas ke dalam ruangan itu sebelum pintu ditutup. Dia telah mendengar Lady Shizuka berbicara dengan seseorang. Tak ada siapa pun di dalam sana.
Ayame berkata, "Musuh sudah mulai bergerak mendekati kastel dalam formasi siap tempur. Serangan malam. Itu pasti perbuatan Go. Dia selalu cenderung tak sabar. Mereka akan menyerang gerbang dan benteng luar dalam beberapa menit lagi. Kita terlalu sedikit untuk menahan mereka. Kenji dan para samurai akan mengatur jebakan dan sergapan di semua halaman dan lorong-lorong. Saya dan dayang-dayang Anda yang lain akan menyambut mereka
BUKU KEDUA
22di dasar menara ini. Kita akan membuat mereka berdarah-darah untuk setiap langkah mereka ke atas. Tetapi, jumlah kita sangat sedikit. Pada akhirniya, mereka akan mencapai ruangan ini." Tatapannya beralih dari wajah Shizuka ke perutnya, kemudian kembali ke matanya dengan pandangan memohon. "Anda bilang anak Anda akan selamat dari serangan."
"Ya, putriku akan selamat."
"Nyonya, apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkannya?"
"Beranilah, Ayame, sebagaimana biasanya engkau, dan lakukan seperti yang telah kaukatakan, dan buatlah para pengkhianat itu berdarah. Percayalah bahwa apa yang telah kukatakan kepadamu akan terjadi. Hanya itu."
"Apakah Anda sedang ada 'pengunjung', Nyonya?"
Shizuka tersenyum. "Kukira kau tidak percaya pada pengunjung."
Air mata berkilau di mata Ayame, dan berkilau pada pipi remajanya ketika butiran tangis itu bergulir.
"Aku berjanji untuk percaya pada siapa pun yang akan menyelamatkan Anda, Nyonya." "Kau adalah seorang teman yang setia dan pengasih, Ayame. Ketika aku sudah tiada, kenanglah aku, dan ketika putriku sudah cukup besar untuk tahu, ceritakanlah kepadanya segalanya. Maukah kau melakukan itu?"
"Ya," sahut Ayame, emosi mencekiknya. Dia menunduk dalam-dalam dan tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Shizuka kembali ke ruangan tempat Lord Kiyori menunggu. Dia sudah mendapatkan kembali ketenangannya dan sekarang sedang mendekatkan sesuatu ke bibirnya. Jarak antara kedua tangannya memberi tahu Shizuka, yang dipegangnya sebuah mangkuk. Sup yang telah dibubuhi racun empedu ikan buntal.
Dari jendela, ribuan suara yang meninggi dalam teriakan-teriakan perang membanjir masuk dari kegelapan malam.