• Tidak ada hasil yang ditemukan

1867, Reruntuhan Kuil Mushindo

Dalam dokumen I HANTU LORD KIYORI (Halaman 197-200)

Kimi menunjukkan

jalan ke pondok meditasi yang baru dibangun dan dengan bangga

membukakan pintunya untuk Lady Hanako dan Lady Emily. "Persis seperti sebelum ledakan, bukan?" katanya.

"Aku tidak pernah masuk ke pondok ini dulu," kata Hanako. "Yang pertama dan terakhir kalinya aku melihat Mushindo hanyalah pada saat pertempuran itu."

"Oh," kata Kimi. Sayang sekali. Sejak penyelamatan dirinya di Yokohama, dia telah mengabdikan dirinya untuk pembangunan kembali tempat ini, bersama Goro dan para wanita yang menetap dengannya. Tentu saja, melakukan pekerjaan Buddha pada hakikatnya merupakan berkah sendiri. Namun, akan menyenangkan jika seseorang mengakui usaha mereka.

Kedua wanita itu bercakap-cakap sebentar dengan bahasa asing. Kemudian, Hanako menoleh kepada Kimi dan berkata, "Apakah kau mengikuti sebuah cetak biru dalam membangun ulang?"

"Tidak, Nyonya," kata Kimi. "Kami mengikui ingatan Goro. Ingatannya sangat menakjub- kan.

Hanako mengucapkan beberapa kata asing kepada Emily, yang mengangguk dan tampak kecewa.

"Terima kasih, Kimi," kata Hanako. "Jika kau yakin ini pantas, kami akan menginap di sini."

"Oh, tentu saja, Lady Hanako. Pondok ini tidak digunakan untuk meditasi lagi. Kami membangunnya karena, yah, karena pondok ini dahulu pernah ada. Aku hanya menyesal

begitu sedikitnya bagian kuil yang bisa dibangun lagi. Kamar lama para rahib akan lebih luas dan lebih nyaman untuk Anda."

"Kami akan sangat nyaman di sini, Kimi. Terima kasih banyak." "Terima kasih kembali, Lady Hanako, Lady Emily."

Setelah Kimi pergi, Emily berkata, "Akan lebuh mudah untuk memastikan benar atau tidaknya apa yang tertulis dalam perkamen seandainya kita tahu di mana bangunan lama dahulu berdiri. Misalnya sel yang dibicarakannya. Dia menyatakan telah meninggalkan tanda bahwa dia pernah berada di sini."

"Cetak biru sekalipun tidak akan membantu," kata Hanako. "Bangunan tempat sel itu berada mungkin telah hancur berabad-abad lalu."

"Kalau begitu, dengan cetak biru, kita bisa menemukan bekas tempatnya, dan memastikan tak ada tanda seperti yang disebutkannya. Jadi, kita tahu perkamen itu tidak bisa dipercaya." Emily berhenti dan menambahkan, "Lagi pula, aku tidak memperyainya."

Emily membuka tas tangannya dan mengeluarkan salah satu perkamen. Dia dan Hanako duduk bersimpuh di lantai dan mempelajarinya bersama.

Setelah bertahun-tahun, Emily sudah bisa duduk sesuai tradisi Jepang itu dengan cukup nyaman. Dia masih tidak bisa melakukannya berjam-jam. Namun, beberapa menit setiap kalinya, masih bisa ditahannya.

"Barangkali, kita salah membaca paragraf ini," kata Emily.

"Tak ada kesalahan," kata Hanako. Dia membaca dari perkamen. "Kita akan bertemu di Biara Musindo, ketika kau memasuki selku. Kau akan berbicara dan aku tidah. Ketika kau mencariku, kau tidak menemukan aku. Bagaimana ini mungkin? Kau tidak akan tahu sampai anak itu terlahir, saat itulah kau akan tahu tanpa keraguan."

"Jadi, ini hanya ramalan," kata Emily, "yang mungkin saja salah."

"Bagi kita, kelihatannya begitu tetapi penulisnya mencatat hal itu seperti telah terjadi. Sebagai sejarah."

Emily menggelengkan kepala tak percaya. "Bagaimana bisa seseorang yang kita tahu sudah mati enam ratus tahun lalu membicarakan sesuatu di masa depan seakan-akan itu kejadian masa lalu? Aku tidak percaya ini ditulis di masa lampau. Aku yakin ini pemalsuan yang khusus ditujukan untuk mempermalukan kita."

"Yah, kukira itu tak mungkin dihindari sampai batas tertentu," kata Emily. "Sekarang ini keadaan sedang kacau, dan Lord Genji mempunyai banyak musuh. Kukira sebagian dari mereka sama sekali tidak punya akal sehat, dan akan melakukan apa pun untuk melemahkannya."

"Aku ingin sekali sepakat denganmu, tetapi aku tidak bisa," kata Hanako. "Plot yang kaugambarkan tidak akan dilakukan dengan cara ini. Pertama, perkamen itu dibawa kepadamu, orang yang dikenal setia sepenuhnya kepada Lord Genji. Kedua, karena perkamen itu ditulis dalam bahasa Jepang, bisa diduga kau akan berkonsultasi dengan orang lain, dan aku dikenal sebagai teman terdekatmu. Kesetiaanku kepada Lord Genji juga tidak diragukan. Jadi, tak bisa diharapkan isi perkamen ini akan menjadi pengetahuan umum, dan tanpa itu, apa gunanya mereka merencanakan ini?"

"Kau tidak bermaksud untuk mengatakan bahwa kaupikir perkamen ini asli, kan?" Hanako berkata, "Kupikir kita seharusnya tidak datang ke Mushindo."

"Kita harus ke sini," kata Emily, kekerasan hati membayang di mulutnya, "untuk membuktikan ketidakbenaran apa yang ditulis di sini. Tentunya kau tidak takut, kan?"

Hanako berkata lagi, "Kita seharusnya tidak ke sini."

Suara Taro terdengar dari luar pintu. "Lady Hanako, aku telah menempatkan orang-orangku di dalam dan di sekitar biara seperti yang Anda perintahkan. Aku sendiri akan berjaga-jaga di halaman dalam malam ini."

Emily berkata, "Silakan masuk, Taro."

Pintu digeser membuka. Taro tetap di luar ketika membungkuk. "Aku harus mengawasi orang- orangku, Lady Emily. Jika ada apa-apa, berteriaklah, dan seseorang akan segera datang."

"Terima kasih, Taro,"

Hanako berkata, "Terakhir kalinya kita di sini, kita semua bermandikan darah kuda." "Rasanya sudah lama sekali," kata Taro. "Banyak yang sudah berubah sejak saat itu."

"Dan akan terjadi lebih banyak perubahan lagi," kata Hanako. "Kita semua harus berpendirian teguh."

Taro membungkuk dan berkata, "Benar."

Setelah dia menutup pintu, Hanako mendengarkan langkah kakinya menjauh. "Ada apa?" tanya Emily.

"Tidak apa-apa," sahut Hanako. Tak ada gunanya membuat Emily khawatir dengan kecemasannya, yang mungkin tidak berdasar. Sepanjang perjalanan, sikap Taro tidak seperti

biasanya. Sebetulnya, tak ada hal-hal khusus yang meresahkan Hanako. Hanya ada perbedaan samar dalam pandangan matanya, sikap tubuhnya, nada suaranya. Kemungkinan besar, Taro

merasa cemas dengan keadaan bangsa yang tidak menentu, sebagaimana mereka semua. Akan tetapi, penjelasan yang lebih meresahkan juga merupakan suatu kemungkinan. Dia telah mengamati bahwa semua samurai yang dibawa Taro bersamanya adalah anak buahnya sendiri. Tak satu pun samurai suaminya, Hide, ada di antara mereka. Biasanya, hal-hal seperti itu bahkan tak akan diperhatikannya. Hanya perubahan kecil dan samar pada diri Taro cukup meresahkannya sehingga dia mencari-cari perbedaan lain yang mungkin ada.

Emily membaca petikan itu lagi.

"Kita akan bertemu di Biara Musindo, ketika kau memasuki selku. Kau akan berbicara dan aku tidah. Ketika kau mencariku, kau tidak menemukan aku. Bagaimana ini mungkin? Kau tidak akan tahu sampai anak itu terlahir, saat itulah kau akan tahu tanpa keraguan."

Hanako merasakan dingin yang menusuk tulang.

"Ini sama sekali tidak masuk akal," kata Emily "Anak apa? Dan siapa kau yang disebut-sebutnya?

Tak ada sel sama sekali di sekitar sini, dan Mushindo ini sebuah kuil, bukan biara."

Hanako berkata, "Ketika Mushindo dibangun pada 1292, tempat ini merupakan biara, bukan kuil rahib."

"Apa?" Emily dapat merasakan darahnya meiiinggalkan wajahnya.

"Sebelum menjadi puing-puing dalam pertempuran yang dihadapi Lord Genji di sini, tempat ini pernah menjadi reruntuhan dulu, dalam perang sipil antara pendiri klan kami, Lord Hironobu, dan para pengkhianat yang membunuhnya. Pada saat yang sama, mereka membumihanguskan Biara Mushindo, dengan semua orang masih berada di dalamnya. Reruntuhan biara tidak pernah disentuh selama berabad-abad. Rahib Tua Zengen, yang wafat tepat sebelum kautiba di Jepang, membangunnya kembali dengan tangannya sendiri. Dialah yang menjadikan Mushindo sebuah kuil."

Emily berusaha menentang apa yang didengariya. "Tetap saja itu tidak menjawab pertanyaan lainnya."

"Tidak," Hanako setuju, "tetapi, tidak sulit menebak jawabannya." "Aku tidak bisa. Kaubisa?"

Dalam dokumen I HANTU LORD KIYORI (Halaman 197-200)