Samudra itu masih sama, tetapi tak ada yang serupa. Garis pantai Teluk San Francisco tidak mengingatkan Heiko akan Teluk Edo. Begitu pula hawa dingin menusuk musim gugur California tidak membangkitkan kenangan akan kesejukan musim yang sama di Jepang
Namun, ombak, dalam sapuannya yang terus-menerusn, entah bagaimana membawa pikirannya kembali ke tempat itu, dan waktu itu, ketika dia menjadi geisha tercantik di ibu kota Shogun Tokugawa. Rasanya sudah lama sekali berlalu, terutama ketika dia berpikir dengan acuan kalender Jepang. Bulan kesebelas pada tahun keempat belas Kaisar Komei. Kata-kata dan angka-angka itu menunjukkan era yang jauh dan nyaris terlupakan.
Bukankah sebetulnya baru dua tahun berselang ketika pertama kali dia bertemu dengan Genji?
Dia telah sangat-sangat salah menilai Genji, demikian juga semua orang. Suatu kesalahan yang mudah dibuat. Genji sama sekali tidak menunjukkan keseriusan yang diharapkan orang dari samurai tingkat atas di tengah krisis, dan terlalu sering tampak senyum di bibirnya, bahkan ketika tak ada alasan berupa kesenangan kecil sekalipun yang dapat dilihat orang lain. Dia juga berpakaian dengan gaya seorang pesolek, dalam kimono dan jubah berwarna terlalu cerah dan aksen berlebihan dengan benang emas dan perak mengilap. Pakaian seperti itu sepenuhnya cocok untuk seorang aktor, dan tak seorang pun dapat membantah bahwa bangsawan muda itu cukup tampan untuk panggung kabuki mana pun di daratan Jepang, tetapi bagaimanapun dia bukan seorang aktor. Dia seorang bangsawan, ahli waris takhta Wilayah Akaoka, dan, jika isu-isu santer itu harus dipercaya, berarti dia dianugerahi kemampuan melihat masa depan. Orang-orang tentu mengharap- kannya berpenampilan lebih elegan, setidak-tidak.
Majikan Heiko, Lord Kawakami, Kepala Polis Shogun, telah menggambarkan Genji sebagaii pesolek manja dan dangkal, pemboros yang tertarik pada wanita dan anggur, dan sama sekali tidak pada tradisi perang kaum samurai. Pengamatan Heiko sendiri telah membenarkan gambaran itu. Namun setelah dia membiarkan dirinya jatuh ke dalam pelukan Genji, dia tahu bahwa Kawakami salah besar. Genji menunjukkan perilaku orang lemah, dan berpakaian seperti orang lemah, tetapi tubuhnya mengkhianati rahasianya. Kelembekan yang ditampilkannya, ketika berpakaian, adalah hasil pengenduran postur yang disengaja. Urat dan otot yang terlatih merajut tulang-tulangnya dalam kekuatan terpendam, bagaikan tali busur yang diikatkan pada sebatang, ranting melengkung yang semula tidak berbahaya dan menjadikannya senjata mematikan. Heiko yang telah menjalani pelatihan seni perang dan akrab benar dengan sistem otot manusia, tahu bahwa Genji telah menjalani latihan bertahun-tahun dengan kuda perang, pedang, belati, tombak, busur, da anak panah, sejak pertama kali mereka bercinta. Jika seseorang dengan pengetahuan seluas Kawakami si Mata Licik tidak mengetahui hal ini, berarti pelatihan itu begitu dirahasiakan sehingga hanya ada satu kesimpulan—Genji sengaja berperilaku demikian untuk menyesatkan pengamat pada kesimpulan keliru sebagaimana yang telah dicapai Kawakami.
Heiko tidak melaporkan ini kepada Kawakami Dia berkata pada dirinya sendiri bahwa informasi itu tidak berharga. Apakah itu berarti bahwa klan Genji, Okumichi, merencanakan pemberontakan terhadap Shogun? Tentu saja, itu suatu kelaziman Saling benci antara klan Shogun dan klan-klan musuhnya telah berlangsung hampir tiga ratus tahun Bahwa tiga abad itu merupakan tiga abad yang damai sama sekali tidak berarti apa- apa. Makar dibalas makar tidak akan berakhir sampai salah satu pihak akhirnya menang total di atas pihak lain. Karena perang antarklan nyaris tak pernah berakhir dengan kemenangan mutlak, kemungkinan besar makar dibalas makar akan terus berlanjut sampai matahari sendiri jatuh dari langit. Jadi, Heiko merasa belum mendapatkan informasi apa- apa yang layak dilaporkan. Demikian dia berkata pada dirinya sendiri. Dan ketika akhirnya dia mengetahui kebenaran, dia tidak lagi menjadi kaki tangan Kawakami, tetapi kekasih Genji.
Kini, semua itu terasa sudah lama sekali berlalu. Barangkali karena bulan-bulan di Amerika ini menjadi bulan-bulan terpanjang dalam kehidupannya. Kepastian bahwa dia akan segera dipanggil pulang oleh Genji entah mengapa justru membuat waktu berjalan semakin lambat.
"Heiko," suara lembut Matthew Stark terdengar dekat di belakangnya. Dia tidak mendengarnya mendekat. Kenangan telah menumpulkan indranya terhadap kekinian. "Kabut tampaknya akan segera datang dari laut. Kita harus pulang."
"Terima kasih, Matthew." Heiko menyambut uluran tangan Matthew dan bersandar sepenuhnya kepadanya ketika mereka berusaha mendaki jalan setapak kembali ke arah jalan raya. Bukit itu tampak jauh lebih terjal sekarang ketimbang waktu dia menuruninya.
"Kuharap kau tidak terlalu memaksakan dirimu," kata Stark. "Dokter Winslow berkata padaku, wanita dengan kondisi seperti dirimu seharusnya melewatkan minggu-minggu terakhir ini di tempat tidur,"
Ketololan dalam pernyataan itu membuat Heiko ingin tertawa, tetapi dia menahan dirinya. Meskipun orang asing mungkin tahu banyak tentang ilmu alam, pengetahuan mereka tentang fakta-fakta paling sederhana tentang alam sering menggelikan. "Empat minggu di di tempat tidur akan melemahkan, bukan menguatkan, dan aku akan membutuhkan kekuatan ketika waktunya tiba."
wanita."
Heiko tersenyum selagi pria itu membantunya naik ke kereta. "Kuanggap itu sebagai pujian, Matthew. Terima kasih."
"Aku tidak bermaksud memujimu." Namun, Stark balas tersenyum sebelum dia melecut tali kekang untuk membuat kudanya berjalan.
Heiko berusaha berhenti berpikir dan menyebut Stark dan orang-orang Amerika lain sebagai orang asing. Ini adalah negara mereka. Di sini, dialah yang menjadi orang asing. Namun, dia tidak akan lama lagi berada di sini. Pandangannya melembut. Dia mengantuk. Dia tertidur dan memimpikan Kastel Awan Burung Gereja jauh sebelum mereka mencapai San Francisco.