• Tidak ada hasil yang ditemukan

Langkah-Langkah Kebijakan dan Hasil-Hasil yang Dicapa

Dalam dokumen Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI (Halaman 127-136)

PENINGKATAN RASA PERCAYA DAN HARMONISASI ANTAR KELOMPOK MASYARAKAT

II. Langkah-Langkah Kebijakan dan Hasil-Hasil yang Dicapa

Secara umum, Pemerintah memfokuskan pelaksanaan kebijakan untuk meningkatkan rasa percaya dan harmonisasi antarkelompok masyarakat melalui: pertama, memelihara kepercayaan masyarakat terhadap langkah-langkah kebijakan Pemerintah melalui komunikasi yang terbuka dan penegakan hukum secara tegas; kedua, meningkatkan kualitas dan kapasitas lembaga pemerintah pusat; ketiga, menjamin akses masyarakat yang seluas- luasnya pada media informasi yang independen; keempat, terus mendorong pemberdayaan masyarakat sipil serta meningkatkan pendidikan nilai-nilai luhur kebangsaan dan demokrasi kepada masyarakat luas; kelima, meningkatkan koordinasi antarlembaga pemerintah, baik di pusat maupun dengan daerah.

Secara umum penerapan sejumlah kebijakan yang persuasif, tidak memihak, proaktif, dan berimbang dari Pemerintah telah mampu mengurangi dan menghilangkan dampak-dampak negatif dari konflik yang berdimensi politik di daerah-daerah yang rawan terhadap munculnya konflik vertikal dan horizontal. Pada tahun 2007 dan paruh pertama 2008 keadaan yang stabil dan damai dapat dipelihara di NAD, Papua, Maluku dan Poso, suatu situasi yang sesungguhnya sudah dimulai sejak tahun 2005.

Sepanjang tahun 2007 dan awal tahun 2008, Aceh terus mampu berkembang menjadi provinsi yang makin stabil, damai, dan

terbuka. Keadaan ini jelas merupakan konsekuensi positif dari telah diletakkannya fondasi perdamaian yang kukuh sejak penandatanganan MoU antara Pemerintah dan GAM pada tanggal 15 Agustus 2005, yang kemudian berlanjut dengan pemberlakuan UU No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintah Aceh. Penandatangan MoU di Helsinki menghasilkan kesepakatan untuk menciptakan perdamaian yang tulus, berkelanjutan, komprehensif dan bermartabat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta berdasarkan UUD Negara Republik Indonesia 1945. UU PA sangatlah akomodatif terhadap aspirasi politik masyarakat Aceh dengan antara lain menyetujui pembentukan partai lokal dan calon independen, menyetujui penerapan syariat Islam, menyetujui adanya dana alokasi khusus, serta sangat memperhatikan pembagian yang adil terhadap hasil-hasil pengelolaan kekayaan sumber daya alam di Aceh. Pemerintah juga sudah menerbitkan PP No. 20 Tahun 2007 tentang Partai Politik Lokal di Aceh.

Pada sisi penyempurnaan proses politik dan budaya demokrasi, kepercayaan masyarakat Aceh juga terbukti makin kuat terhadap Pemerintah Pusat pascaPilkada Gubernur Aceh yang dinilai jujur dan demokratis pada akhir tahun 2006. Pilkada ini ternyata kemudian menjadi contoh dan baromoter bagi pilkada-pilkada lain di tingkat kabupaten/kota di seluruh Aceh. Semua keberhasilan ini sangat penting bagi keberlanjutan pembangunan semua bidang di Aceh pada khususnya dan dapat menjadi salah satu barometer bagi upaya peningkatan harmonisasi kehidupan seluruh komponen bangsa pada umumnya. Meskipun di masa lalu Aceh pernah terpuruk cukup jauh ke dalam arus separatisme, dengan upaya yang serius dan kebijakan yang tepat, keadaan damai dan stabil dapat dipulihkan secara signifikan. Semua keberhasilan ini menunjukkan bahwa itikad baik Pemerintah dan penerapan kebijakan rekonsiliasi yang tepat dengan disertai prioritas pembangunan yang terarah ternyata dapat membawa perbaikan yang signifikan bagi pulihnya persatuan bangsa.

Pemerintah juga menerapkan prinsip kebijakan yang serupa di Papua dengan mengedepankan keseriusan mendengar aspirasi masyarakat dan berkomunikasi dengan masyarakat dan unsur-unsur pemerintah daerah dan wakil rakyat yang sudah dipilih secara demokratis. Pemerintah juga tidak menjanjikan apa pun yang kiranya

di luar kemampuan Pemerintah untuk memenuhinya. Dalam rangka penanganan masalah di Provinsi Papua dan Papua Barat, Pemerintah telah menerbitkan PP No. 24 Tahun 2007 tentang Perubahan Nama Provinsi Irian Jaya Barat menjadi Provinsi Papua Barat. Pada tahun 2008 Pemerintah menerbitkan Perpu No.1 Tahun 2008 tentang Perubahan atas UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua, yang menjadi dasar hukum keberadaan Provinsi Papua Barat. Sebelumnya, Pemerintah telah menerbitkan Inpres No. 5 Tahun 2007 tentang Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat yang sering disebut sebagai New Deal Policy for Papua. Inpres ini diterbitkan setelah Pemerintah mempertimbangkan berbagai masukan dan aspirasi masyarakat Papua. Kebijakan tersebut memprioritaskan pemantapan ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, peningkatan akses masyarakat pada pelayanan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas, pelaksanaan kebijakan perlakuan khusus (affirmative action) bagi putra-putri asli Papua, serta peningkatan infrastruktur dasar untuk pengembangan wilayah-wilayah potensial. Kebijakan ini mendapatkan respons positif dari masyarakat Papua. Pelaksanaan kebijakan ini diharapkan dapat menjadi agenda yang efektif dan didukung penuh oleh para gubernur terpilih sebagai hasil pilkada yang dilaksanakan pada tanggal 10 Maret 2006 dengan aman dan tertib.

Majelis Rakyat Papua (MRP) saat ini telah secara signifikan melaksanakan perannya dalam penyelenggaraan Pemerintahan di Papua. Lembaga ini dibentuk melalui Peraturan Pemerintah (PP) No. 54 Tahun 2004 tentang MRP pada tanggal 23 Desember 2004 dan dilantik pada Oktober 2005. Dalam rangka meningkatkan kualitas peran dan fungsinya, Pemerintah memfasilitasi pelaksanaan program pengembangan kapasitas untuk MRP agar eksistensinya memberikan manfaat bagi masyarakat daerah.

Sukses yang cukup membanggakan juga terjadi di Maluku dan Maluku Utara pada tahun 2007, yang merupakan tahun keempat atau terakhir dari pemberlakuan Inpres No. 6 Tahun 2003 tentang Percepatan Pemulihan Pembangunan Provinsi Maluku dan Maluku Utara pascakonflik. Melalui upaya peningkatan kapasitas dan kapabilitas Pemerintahan di daerah, pelaksanaan rehabilitasi serta

peningkatan secara terus-menerus upaya dialog dan komunikasi efektif serta pendampingan terhadap masyarakat, pemberlakuan Inpres No. 6 Tahun 2003 cukup mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat kepada Pemerintah, serta menjadi salah satu pilar yang sangat penting bagi pemulihan keadaan damai yang berkelanjutan di wilayah Maluku dan Maluku Utara. Setiap Pemerintah daerah diharapkan segera mempersiapkan dan melaksanakan exit strategy

sebagai kegiatan tindak lanjut dan keberlanjutan hasil yang telah dicapai melalui pelaksanaan empat tahun Inpres No. 6 tahun 2003, sehingga pada tahun 2008 ini dan tahun 2009 mendatang Maluku dan Maluku Utara sudah dapat sepenuhnya berjalan secara normal dan mandiri.

Dalam hal penyelenggaraan pilkada di Maluku Utara, meskipun terjadi perselisihan yang cukup tajam mengenai hasil Pilkada Gubernur Maluku Utara antara KPU dan KPUD pada akhir tahun 2007 dan awal tahun 2008, dengan mempertimbangkan aspek politik dan hukum, Pemerintah telah menetapkan pemenang Pilkada Gubernur Maluku Utara. Diharapkan semua pihak berbesar hati untuk menerima keputusan Pemerintah sehingga gubernur yang baru dapat segera melaksanakan tugasnya secara seksama untuk kepentingan seluruh masyarakat Maluku Utara.

Pada tahun 2007—2008, pemulihan konflik Poso ternyata juga telah mendapatkan respons yang baik dan konsisten dari Pemerintah daerah dan kelompok masyarakat lokal. Sampai dengan tahun 2008 ini, Inpres No. 14 Tahun 2005 tentang Langkah-Langkah Komprehensif Penanganan Masalah Poso telah berhasil secara konsisten dan berkelanjutan menciptakan kondisi keamanan yang relatif kondusif bagi upaya peningkatan kesejahteraan rakyat lebih lanjut, serta menjadi dasar yang mantap bagi keberhasilan pengungkapan berbagai kasus terorisme dan penangkapan para pelaku tindak kekerasan dan kriminal yang meresahkan masyarakat selama beberapa tahun sebelumnya. Program rehabilitasi sarana dan prasarana sosial juga telah berhasil dilaksanakan secara cukup memadai oleh Pemerintah. Berbagai upaya akan terus dilakukan untuk membangun sikap saling percaya melalui proses penguatan kapasitas dan kredibilitas kelembagaan politik dan hukum, lembaga Pemerintah dan masyarakat, selain untuk memelihara hal-hal positif

yang sudah tercapai, sekaligus diharapkan dapat memberikan sumbangan pada proses demokratisasi yang sedang berlangsung.

Terkait dengan kesadaran politik masyarakat, secara umum sudah dipahami, bahwa salah satu sarana penting untuk mengukur adanya kemajuan ataupun kemunduran dalam kesadaran politik masyarakat dan peningkatan rasa saling percaya antarkelompok masyarakat adalah keberhasilan penyelenggaraan pilkada, baik dari segi kredibilitas proses penyelenggaraannya maupun dari kemampuan masyarakat menerima hasil-hasil yang dicapai dalam pilkada. Pilkada merupakan proses yang melibatkan sejumlah besar masyarakat secara langsung. Tinjauan berbagai segi terhadap penyelenggaraan pilkada membuat kita cukup berbesar hati, bahwa kedewasaan masyarakat ternyata cukup tinggi dalam berpolitik. Hal ini dapat dibuktikan dari pilkada di berbagai daerah yang melibatkan masyarakat dengan heterogenitas sosial budaya yang sangat tinggi serta dari berbagai golongan dan partai politik yang ternyata umumnya berakhir dengan sukses dan aman. Dialog, kampanye, perdebatan antar calon, sampai dengan momen pemilihan calon, telah memberikan pembelajaran demokrasi yang penting bagi semua anggota masyarakat.

Sebagai negara yang tengah melakukan konsolidasi demokrasi, maka dalam upaya meningkatkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air, semua dinamika dan konflik kepentingan perlu dikelola secara damai tanpa disertai oleh guncangan dan ketidakstabilan politik nasional. Pada tahun 2007—2008 penguatan pondasi kebangsaan masih terus dilakukan, antara lain, melalui peningkatan kesadaran akan pentingnya ketaatan pada UUD 1945 dan supremasi hukum, termasuk kemampuan menghayati nilai-nilai penting bagi peningkatan dinamika kehidupan bersama yang ada di dalam ideologi Pancasila. Hal ini hanya dapat dilakukan apabila lembaga hukum yang ada mampu melakukan terobosan nyata dalam pemberantasan tindak pidana korupsi dan tindak-tindak pidana kelas tinggi lainnya sehingga kepercayaan masyarakat terhadap hukum meningkat. Selanjutnya, masyarakat diharapkan mampu meneladani nilai-nilai baik dalam kehidupan publik, kehidupan diri, dan lingkungan terdekatnya. Pada tahun 2008 ini, pelaksanaan berbagai pendidikan kebangsaan difokuskan untuk membangun kesadaran

masyarakat atas hak dan kewajiban sebagai warganegara terutama dalam menghadapi penyelenggaraan Pemilu 2009 mendatang agar pemilu itu berjalan aman dan damai.

Untuk mengatasi perselisihan tentang keberadaan Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), Pemerintah telah melakukan upaya persuasif melalui serangkaian kegiatan dan dialog, agar masalah itu tidak menimbulkan keresahan dalam kehidupan beragama serta tidak mengganggu ketenteraman dan ketertiban kehidupan bermasyarakat. Merespons persoalan JAI ini, pada tanggal 9 Juni 2008 Pemerintah menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Dalam Negeri, Menteri Agama, dan Jaksa Agung Nomor 3 Tahun 2008, KEP-033/A/JA/6/2008 dan Nomor 199 Tahun 2008 tentang Peringatan dan Perintah kepada Penganut, Anggota, dan/atau Anggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia dan Warga Masyarakat. SKB tentang Ahmadiyah ini diharapkan dapat menjadi pedoman bersama seluruh anggota masyarakat Indonesia untuk menyelesaikan persoalan Ahmadiyah secara damai, jauh dari kekerasan, dan dalam semangat persaudaraan. Pada saat-saat sedang meluasnya kontroversi tentang ajaran Ahmadiyah ini, Pemerintah tetap menjaga sikap bijaksana dengan tetap menghormati urusan keyakinan agama dan kepercayaan warganegara. Pemerintah menginginkan agar persoalan Ahmadiyah diselesaikan tanpa kekerasan. Setiap tindakan kekerasan akan berhadapan dengan hukum.

Dalam rangka mencegah kerawanan sosial, sejak tahun 2006 Pemerintah sudah mengeluarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 12 Tahun 2006 tentang Kewaspadaan Dini Masyarakat di Daerah serta Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 34 Tahun 2006 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pembauran Kebangsaan di Daerah. Upaya Lain yang dilakukan adalah memantapkan peran Pemerintah sebagai fasilitator dan mediator yang adil dalam menjaga dan memelihara kesatuan, perdamaian, dan harmoni dalam masyarakat. Sebelumnya, dalam membina kerukunan umat beragama, Pemerintah juga telah menerbitkan Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri No. 9 dan 8 Tahun 2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Tugas Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dalam Pemeliharaan Kerukunan Umat Beragama,

Pemberdayaan Forum Kerukunan Umat Beragama, dan Pendirian Rumah Ibadah.

Pemerintah juga terus melakukan pembinaan ideologi dan pengawasan pembangunan dengan melaksanakan kegiatan utama berupa Sosialisasi Wawasan Kebangsaan dan Cinta Tanah Air yang bekerja sama dengan ormas, LSM, dan lembaga nirlaba lainnya. Tujuannya adalah mengembangkan dan memperkuat wawasan kebangsaan masyarakat dengan mengoptimalkan peran serta ormas, LSM, dan lembaga nirlaba lainnya. Sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2007 telah dilaksanakan kerja sama program wawasan kebangsaan dan cinta tanah air dengan 467 ormas, 180 ormas, dan 205 ormas masing-masing untuk tahun 2005, 2006 dan 2007. Upaya kemitraan dan kerja sama dengan ormas akan terus dilaksanakan dan ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang untuk membangun pemahaman dan komitmen kebangsaan yang semakin baik. Berkenaan dengan penanganan pascakonflik di beberapa daerah seperti Papua, NAD, Poso, Maluku dan Kalimantan telah dilakukan pemfasilitasan pembentukan forum kerukunan umat beragama (FKUB) di 21 provinsi, 127 kabupaten, dan 36 kota. Pemerintah juga telah memfasilitasi pembentukan Forum kewaspadaan dini masyarakat (FKDM) di 15 provinsi dan 61 kabupaten/kota, pembentukan Komunitas intelijen daerah (Kominda) di 33 provinsi dan 425 kabupaten/kota, serta forum pembauran kebangsaan (FPK) di provinsi NAD dan Lampung. Mengenai hal lain yang terkait dengan konteks persatuan dan kesatuan bangsa, Pemerintah menerbitkan pula PP No. 77 tahun 2007 tentang lambang daerah sebagai tanda identitas dalam NKRI yang menggambarkan potensi daerah, harapan masyarakat daerah, dan semboyan yang melukiskan semangat untuk mewujudkan harapan dimaksud.

Pemerintah melihat adanya peluang provokasi politik yang tidak bertanggung jawab yang memanfaatkan masih relatif rendahnya tingkat pendidikan, kelemahan ekonomi, dan daya beli masyarakat. Oleh karena itu, Pemerintah akan tetap melanjutkan kebijakan dan program jaring pengaman sosial kepada masyarakat yang kurang mampu untuk meningkatkan ketahanan sosial politik masyarakat pada tingkat “akar rumput”. Pemerintah juga terus berusaha meningkatkan kesadaran politik warga melalui kegiatan-

kegiatan sosialisasi politik yang sudah dicanangkan bersama KPU, terutama di dalam menghadapi berbagai proses pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan Pemilu 2009.

Apabila selama beberapa tahun awal pascareformasi persatuan nasional yang mencerminkan kebersamaan bangsa terlihat sangat menurun, perselisihan antar komponen bangsa merebak di berbagai daerah, baik yang menyangkut permasalahan kesukuan, keagamaan maupun kedaerahan, maka dewasa ini perselisihan itu sudah memperlihatkan gejala mereda. Kondisi konflik beberapa tahun terakhir sebenarnya wajar sebagai gejala sosial dari besarnya perubahan sistem politik dan hubungan kelembagaan yang terjadi. Walaupun oleh sebagian pihak kondisi ini dirasa mempunyai korelasi dengan mulai pudarnya penghayatan masyarakat kepada falsafah dan dasar negara Pancasila, banyak pula pihak yang tidak sependapat dengan hal ini. Alasannya adalah bahwa pencapaian yang sudah terjadi dalam sistem politik demokrasi Indonesia justru memperlihatkan kemajuan yang jauh lebih besar dalam hal pengamalan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945.

Selain hal di atas, simbol yang ada dalam kegiatan masyarakat juga memperlihatkan adanya peningkatan persepsi pentingnya persatuan dan pemahaman yang baik terhadap perjalanan sejarah kebangsaan kita. Dalam hal itu, dapat disebutkan bahwa dalam perjalanan setengah tahun pengabdian Kabinet Indonesia Bersatu, Pemerintah jelas telah cukup berdaya dalam meningkatkan rasa saling percaya dan mengharmonisasikan hubungan antarkelompok masyarakat. Terlihat bahwa sebagian besar masyarakat mulai ingin bersatu kembali dalam berbagai perayaan nasional yang mengingatkan kita pada suka duka perjuangan bersama. Hal itu antara lain ditandai oleh makin semarak dan meningkatnya kualitas perayaan berbagai peringatan hari nasional, seperti peringatan hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2007 atau Hari Lahirnya Pancasila pada 1 Juni 2007 yang dirayakan oleh masyarakat, baik di kampung- kampung maupun di perguruan tinggi. Pada tanggal 1 Juni 2006 dalam peringatan Hari Lahirnya Pancasila, Presiden telah mengingatkan kita kembali tentang adanya empat konsensus dasar, yaitu Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI, yang umumnya disambut antusias oleh masyarakat dan media massa.

Selain terus melindungi kemerdekaan lembaga-lembaga pers dan media massa, Pemerintah terus memperbaiki diri dalam memberi pelayanan informasi kepada publik secara langsung. Seperti pada tahun-tahun lalu, Pemerintah juga tetap meyakini dan sangat menyadari peran bidang komunikasi dan informasi dalam memelihara suasana harmonis dan saling percaya di dalam masyarakat. Peningkatan kualitas layanan informasi dan adanya perluasan akses masyarakat terhadap informasi yang objektif menjadi prasyarat yang sangat penting untuk menjaga harmonisasi di dalam masyarakat. Pemerintah telah dan akan terus melaksanakan kegiatan pelayanan dan penyebarluasan informasi publik bidang polhukam, perekonomian, kesejahteraan rakyat, dan mengelola pendapat umum melalui media cetak, media elektronik, forum dialog, diskusi, seminar, sarasehan, media luar ruang, media tradisional, serta pertunjukan rakyat. Di samping itu, dalam menyebarkan informasi publik, Pemerintah mengembangkan dan memanfaatkan juga jalur kelembagaan komunikasi sosial, kelembagaan komunikasi Pemerintah, komunikasi kelembagaan Pemerintah daerah, dan jalur kemitraan media.

Dalam merajut kembali komunikasi yang berkualitas dengan provinsi dan kabupaten/kota, pada tahun 2005 Pemerintah memberikan bantuan sarana komunikasi kepada 12 kabupaten untuk daerah perbatasan dan daerah tertinggal. Pada tahun 2007 Pemerintah memberikan bantuan dana kegiatan operasional penyebarluasan informasi publik kepada seluruh dinas/badan/bagian infokom/humas di tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Demikian pula, dengan wilayah pulau-pulau terluar, diperlukan adanya peningkatan pemberdayaan masyarakatnya dalam rangka pemantapan ketahanan nasional, peningkatan kewaspadaan nasional, serta kesadaran kebangsaan masyarakat.

Dalam merajut hubungan pusat dan daerah, peran media center tetap diperkuat hingga saat ini. Tujuan penguatan media center adalah untuk menyampaikan dan menyediakan informasi yang akurat, berimbang dan benar kepada masyarakat luas yang membutuhkannya. Media center tidak ditujukan untuk tujuan alat propaganda Pemerintah yang menyajikan keadaan ataupun perkembangan yang baik saja, tetapi diharapkan dapat menjadi

sarana alternatif penyedia informasi dari isu, rumor, bahkan provokasi yang tidak bertanggung jawab dari kelompok-kelompok tertentu yang bertujuan menciptakan kekacauan, dan konflik berdimensi kekerasan yang berkepanjangan. Sampai dengan tahun 2008 telah dibangun dan dikembangkan media center di 10 provinsi dan 25 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Dalam dokumen Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI (Halaman 127-136)