PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN 35
19. Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
Usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) dan koperasi memiliki potensi yang besar dan strategis dalam meningkatkan aktivitas ekonomi nasional, dan juga dalam mendorong pemerataan pendapatan yang lebih baik. Hal itu bisa dilakukan mengingat jumlah populasi UMKM pada tahun 2007 mencapai 49,8 juta unit usaha atau 99,9 % dari jumlah unit usaha di Indonesia. Jumlah tenaga kerjanya mencapai 91,8 juta orang atau 97,3 % dari seluruh tenaga kerja Indonesia. Pada tahun yang sama jumlah koperasi sebanyak 149,3 ribu unit, dengan jumlah anggota mencapai sekitar 29,1 juta orang. Demikian pula, produktivitas per tenaga kerja UMKM pada tahun 2007 menunjukkan peningkatan sebesar 3,8 %, sedangkan pada tahun 2005 dan tahun 2006 masing-masing meningkat sebesar 3,1 % dan 2,7 % (berdasarkan harga konstan tahun 2000).
Potensi UMKM dalam mendorong ekonomi nasional dan sekaligus dalam rangka pemerataan perlu didukung oleh upaya pemberdayaan untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif, memperlancar dan memperluas akses permodalan dan pemasaran, menumbuhkan usaha dan wirausaha baru, meningkatkan pendapatan, dan meningkatkan kualitas pengelolaan usaha dan sumberdaya produktif lainnya.
Dalam memfasilitasi terselenggaranya iklim usaha yang kondusif bagi kelangsungan usaha dan peningkatan kinerja UMKM, salah satu langkah pokok yang dilakukan adalah menyempurnakan peraturan perundang-undangan untuk membangun landasan legalitas usaha yang kuat bagi UMKM serta menyederhanakan birokrasi dan perizinan. Sehubungan dengan itu, rancangan undang-undang (RUU) tentang usaha mikro, kecil, dan menengah sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil telah disahkan menjadi Undang-Undang Nomor 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. Bersamaan dengan itu, rancangan undang-undang (RUU) tentang perkoperasian telah disusun untuk pengganti Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian. Berdasarkan Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat RI (DPR-RI), Nomor 02/DPR-RI/II/2007—2008 tentang Program Legislasi Nasional Tahun 2008, RUU tentang Koperasi masuk dalam Prolegnas RUU Periode 2008. RUU tersebut akan disampaikan Pemerintah kepada DPR-RI setelah terlebih dahulu dipaparkan dalam Sidang Kabinet Terbatas.
Dalam rangka pengembangan sistem pendukung usaha bagi UMKM, langkah-langkah yang dilakukan adalah mempermudah, memperlancar, dan memperluas akses UMKM kepada sumber daya produktif sehingga mampu memanfaatkan kesempatan yang terbuka dan potensi sumber daya lokal yang ada, serta menyesuaikan skala usahanya sesuai dengan tuntutan efisiensi. Sistem pendukung yang dibangun, di antaranya melalui perluasan sumber pembiayaan bagi koperasi dan UMKM, termasuk peningkatan kualitas dan kapasitas atau jangkauan layanan koperasi simpan pinjam (KSP) dan unit simpan pinjam (USP) koperasi; dan pengembangan peningkatan pasar bagi produk koperasi dan UMKM, termasuk melalui kemitraan usaha.
Untuk meningkatkan kualitas sarana pemasaran bagi KUKM, Pemerintah telah melakukan revitalisasi pada 80 unit pasar tradisional untuk meningkatkan daya saing pedagang pasar tradisional yang pada umumnya merupakan kelompok usaha mikro dan kecil, sekaligus meningkatkan peran operasi pasar sebagai wadah ekonomi para pedagang pasar; penataan sarana usaha PKL pada 16 koperasi dan 16 lokasi sehingga dapat memberikan kepastian lokasi berusaha bagi pedagang kaki lima, sekaligus merevitalisasi koperasi PKL dalam mengelola usaha PKL; dan memodernisasi dan meningkatkan daya saing waserda atau toko koperasi sekaligus memperkuat jaringan usaha koperasi dan UKM secara terintegrasi melalui pendirian 92 unit Minimarket Koperasi (SME’sCo Mart).
Dalam rangka mendorong penumbuhan unit usaha baru melalui koperasi, sejak tahun 2007, Pemerintah melaksanakan pola pemberdayaan para sarjana untuk menjadi wirausaha yang tangguh, mandiri dan berdaya saing melalui penyelenggaraan kegiatan Program Sarjana Pencipta Kerja Mandiri (Prospek Mandiri). Kegiatan ini dilakukan melalui kerja sama Pemerintah Pusat dengan pemerintah provinsi/DI dan kabupaten/ kota dan diperluas dengan pihak lain seperti perguruan tinggi, dunia usaha dan organisasi kemasyarakatan. Kegiatan ini juga diwujudkan melalui perberdayaan sumberdaya manusia di berbagai sektor atau bidang usaha dalam rangka menumbuhkan usaha baru dengan melibatkan para sarjana dalam wadah koperasi. Pada tahun 2007 kegiatan telah dilaksanakan melalui dukungan dana perkuatan usaha kepada 32 koperasi yang tersebar di 25 kabupaten pada 6 provinsi.
Untuk meningkatkan pendapatan masyarakat yang bergerak dalam kegiatan usaha ekonomi, khususnya usaha skala mikro pada sektor informal, ditempuh langkah pemberdayaan usaha mikro sebagai berikut: pengembangan usaha mikro, termasuk yang tradisional; penyediaan skim pembiayaan dan peningkatan kualitas layanan lembaga keuangan mikro; penyediaan insentif dan pembinaan usaha mikro; serta peningkatan kualitas koperasi untuk berkembang secara sehat sesuai dengan jati dirinya dan membangun efisiensi kolektif bagi pengusaha mikro dan kecil.
Dalam meningkatkan akses permodalan bagi usaha mikro, Pemerintah telah memfasilitasi dukungan perkuatan permodalan melalui pembiayaan produktif koperasi dan usaha mikro (P3KUM), yang dilakukan dengan pola konvensional dan syariah. Perkuatan permodalan P3KUM ditujukan untuk memberdayakan usaha skala mikro melalui koperasi simpan pinjam/ unit simpan pinjam koperasi (KSP/USP-Koperasi). Kegiatan ini untuk memfasilitasi keperluan modal kerja bagi anggota yang memiliki kegiatan usaha produktif. Sejak tahun 2005 sampai dengan 2007, telah difasilitasi sebanyak 1.976 KSP/ USP dan 1.634 koperasi jasa keuangan syariah/unit jasa keuangan syariah (KJKS/ UJKS) yang tersebar di 33 ropinsi/DI yang dikelola dengan pola perguliran. Selanjutnya, dengan adanya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 99/PMK.05/2008 tentang Pedoman Pengelolaan Dana Bergulir pada Kementerian Negara/ Lembaga yang diterbitkan pada bulan Juli 2008, pelaksanaan kegiatan dana bergulir ini akan dilakukan melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB).
Untuk mempercepat peningkatan akses pembiayaan UMKM dan Koperasi, telah diluncurkan Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada November 2007. Program KUR ini adalah kredit/pembiayaan dengan pola penjaminan bagi UMKM dan koperasi yang usahanya layak, tetapi tidak mempunyai agunan yang cukup sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan perbankan. Banyak KUKM yang sesungguhnya memiliki potensi usaha yang layak, tetapi tidak memenuhi persyaratan teknis perbankan. Untuk itu, pada tahun 2007, Pemerintah telah meningkatkan kapasitas perusahaan penjaminan dengan menambahkan penyertaan modal negara sebesar Rp1,45 triliun, dengan perincian Rp850 miliar untuk PT. Askrindo dan Rp600 miliar untuk Perum Sarana Pengembangan Usaha (Perum Jamkrindo). Dengan adanya peningkatan modal tersebut, kapasitas perusahaan penjaminan dalam menjamin Program KUR minimal sebesar Rp. 14,5 triliun. Realisasi Program KUR sampai dengan akhir Juni 2008 adalah senilai Rp8.377,9 miliar untuk 916.527 debitur dengan rata-rata kredit senilai Rp9,14 juta.
Dalam meningkatkan kualitas kelembagaan koperasi, pemeringkatan koperasi menjadi suatu alat penilaian untuk
mengetahui terhadap kondisi dan kinerja koperasi secara objektif dan transparan dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang dapat menggambarkan tingkat kualitas dari suatu koperasi. Pemeringkatan koperasi bertujuan untuk mengetahui kinerja koperasi pada periode tertentu, menetapkan peringkat kualifikasi koperasi, mendorong koperasi agar menerapkan prinsip koperasi dan kaidah bisnis yang sehat. Hasil pemeringkatan 10.016 koperasi di 182 kab/kota pada 33 propinsi/DI adalah (1) 4 Koperasi atau 0,04 % masuk ke dalam penilaian ”Sangat Berkualitas;” (2) 2.592 Koperasi atau 25,3 % masuk ke dalam penilaian ”Berkualitas;” dan (3) 5.322 Koperasi atau 53,2 % masuk ke dalam penilaian ”Cukup berkualitas.” Sisanya yang sebesar 20,9 % belum dapat memenuhi kriteria tersebut.
Berlandaskan kondisi objektif dan isu strategis yang berkembang, beberapa tindak lanjut untuk memberdayakan koperasi dan UMKM perlu dilakukan, khususnya dalam hal-hal sebagai berikut: menindaklanjuti Undang-Undang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai landasan yang kuat dalam memberdayakan UMKM pada masa mendatang; memperluas akses bagi koperasi dan UMKM kepada sumbermodal; menyempurnakan pelaksanaan penyaluran KUR mikro, perluasan bank pelaksana penyaluran KUR, dan peningkatan skema linkage yang melibatkan lembaga keuangan mikro (LKM) dan KSP/USP dalam penyaluran KUR; serta memasyarakatkan kewirausahaan dan mengembangkan sistem insentif bagi wirausaha baru.