• Tidak ada hasil yang ditemukan

Langkah Tindak Lanjut yang Diperlukan

Dalam dokumen Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI (Halaman 185-190)

PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN TERORISME

B. Hasil yang Dicapa

II. Langkah Tindak Lanjut yang Diperlukan

Berdasarkan evaluasi dari kinerja pencegahan dan pembangunan terorisme pada periode 2007—2008, langkah-langkah tindak lanjut yang mendesak diperlukan adalah:

a.

melanjutkan kegiatan penanggulangan dan pencegahan terorisme, terutama secara preventif dengan didukung upaya pemantapan kerangka hukum sebagai dasar tindakan proaktif dalam menangani aktivitas pengungkapan jaringan terorisme;

b.

meningkatkan kerja sama intelijen, baik antarinstansi yang memiliki unit intelijen di dalam negeri maupun bekerja sama dengan jaringan intelijen internasional melalui tukar-menukar informasi dan bantuan lainnya;

06 - 9

c.

terus mempersempit ruang gerak pelaku kegiatan terorisme, terutama melalui peningkatan upaya penertiban dan pengawasan terhadap lalu lintas orang dan barang di bandara, pelabuhan laut, wilayah perbatasan, termasuk pula lalu lintas aliran dana domestik dan antarnegara;

d.

meningkatkan upaya penertiban dan pengawasan terhadap tata niaga dan penggunaan bahan peledak, bahan kimia, senjata api, dan amunisi di lingkungan TNI, Polri, instansi pemerintah lainnya, dan masyarakat.

e.

melanjutkan upaya pengkajian mendalam bekerja sama dengan akademisi, tokoh masyarakat, dan tokoh agama dalam rangka mengidentifikasi permasalahan yang berkembang di kalangan masyarakat dan menjadikannya target infiltrasi jaringan terorisme;

f.

melanjutkan upaya aktif menyelenggarakan gelar budaya, ceramah mengenai wawasan kebangsaan, dan penyebaran buku-buku terorisme dalam rangka mengubah persepsi negatif masyarakat terhadap langkah-langkah penggalangan memerangi terorisme;

g.

meningkatkan upaya pengidentifikasian secara akurat akar permasalahan aksi terorisme di indonesia dengan melibatkan kalangan akademisi untuk meneliti dengan metode ilmiah dan mencarikan alternatif solusi permasalahan terorisme yang kompleks;

h.

melanjutkan upaya pemberdayaan seluruh potensi masyarakat untuk mempersempit ruang gerak jaringan terorisme dalam berkonsolidasi dan berfungsi sebagai sistem peringatan dini sosial terhadap potensi terorisme;

i.

melanjutkan upaya pengamanan tempat keramaian umum, sarana ibadah, dan objek lainnya yang diperkirakan rawan terhadap aksi terorisme dengan melibatkan anggota masyarakat;

j.

melanjutkan upaya pembangunan bertahap pusat analisis sinyal komunikasi sebagai prasyarat intelijen komunikasi yang

salah satu fungsinya membantu upaya peringatan dini perkembangan jaringan dan rencana aksi jaringan terorisme;

k.

meningkatkan gelar peralatan sandi sebagai sistem proteksi komunikasi terhadap ancaman keamanan nasional termasuk terorisme, terutama pada jaringan mobile sandi VVIP, jaring komunikasi sandi di sepuluh instansi serta dua puluh lima kantor perwakilan luar negeri;

l.

meningkatkan kerja sama penanggulangan terorisme dengan unsur TNI, khususnya untuk tugas bantuan taktis penindakan sehingga kapasitas kemampuan yang ada dapat dimanfaatkan secara optimal dalam kerangak prinsip penegakan hukum yang profesional;

m.

melanjutkan upaya pemeliharaan dan peningkatan kemampuan satuan antiteror yang telah ada yaitu Detasemen Khusus 88 antiteror Markas Besar Polri, Detasemen 88 Antiteror yang terdapat di kepolisian daerah, Detasemen 81 Kopassus, Denjaka Korps-Marinir, dan Den Bravo Kopaskhas untuk meningkatkan kesiapan penindakan cepat setiap peristiwa. Kebutuhan peningkatan kinerja pemerintah dalam bidang pencegahan dan penanggulangan terorisme tersebut akan difokuskan pada pelakanaan tiga program pokok, yaitu program pengembangan penyelidikan, pengamanan, dan penggalangan keamanan negara, program pengembangan pengamanan rahasia negara, serta program pemantapan keamanan dalam negeri.

Program pengembangan penyelidikan, pengamanan, dan penggalangan keamanan negara dilaksanakan oleh Badan Intelijen Negara dengan kegiatan pokoknya, yaitu (1) operasi intelijen dan operasi intelijen strategis di dalam dan luar negeri; (2) peningkatan kualitas dan kuantitas pelaksanaan operasi kontraintelijen; (3) peningkatan operasi intelijen strategis penanggulangan kejahatan transnasional dan uang palsu/kertas berharga; (4) peningkatan kegiatan dan operasi penanggulangan keamanan dan ketertiban; (5) peningkatan pencarian, penangkapan, dan pemrosesan tokoh-tokoh kunci operasional terorisme; (6) operasi dan koordinasi dalam hal deteksi dini untuk meningkatkan keamanan dan ketertiban,

06 - 11 menanggulangi kriminalitas, mencegah dan menanggulangi terorisme; (7) peningkatan kerja sama bilateral dalam rangka pengungkapan jaringan terorisme internasional; dan kerja sama kawasan dan regional dalam penanggulangan dan pencegahan aksi terorisme; (8) pengkajian analisis intelijen perkembangan lingkungan strategis, pengolahan dan penyusunan produk intelijen; (9) peningkatan sarana dan prasarana intelijen pusat dan daerah; (10) pengadaan peralatan intelijen; dan (11) pengembangan sistem informasi intelijen (SII), pengadaan intelligence device, peralatan komunikasi, kendaraan operasional, dan pembangunan jaringan komunikasi pusat dan daerah guna menunjang kelancaran arus informasi intelijen secara cepat, tepat, dan aman.

Program pengembangan pengamanan rahasia negara dalam rangka pencegahan dan penanggulangan terorisme akan dilaksanakan oleh Lembaga Sandi Negara dengan kegiatan pokoknya, yaitu (1) peningkatan kualitas dan kuantitas pelaksanaan pendidikan ahli sandi untuk mendukung operasi kontraterorisme; (2) pembangunan tahap I jaringan analisis sinyal komunikasi; (3) Penyelenggaraan kontrapenyadapan di kantor Kedutaan Besar RI.

Program penanggulangan terorisme yang diselenggarakan secara multilembaga adalah program pemantapan keamanan dalam negeri melalui kegiatan pokoknya, yaitu (1) peningkatan kelembagaan badan koordinasi penanggulangan terorisme; (2) komunikasi dan dialog serta pemberdayaan kelompok masyarakat; (3) peningkatan kemampuan komponen kekuatan pertahanan dan keamanan bangsa dalam menangani tindak terorisme; (4) restrukturisasi operasional institusi keamanan dalam penanganan terorisme termasuk pengembangan standar operasional dan prosedur pelaksanaan latihan bersama; (5) peningkatan pengamanan terbuka terhadap simbol-simbol negara untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya aksi teror dan memberikan rasa aman bagi kehidupan bernegara dan berbangsa; (6) peningkatan pengamanan tertutup terhadap area publik untuk mengoptimalkan kemampuan deteksi dini dan pencegahan langsung di lapangan; (7) sosialisasi kepada masyarakat untuk meminimalkan efek terorisme; (8) komunikasi dan dialog serta pemberdayaan kelompok masyarakat secara intensif dalam rangka menjembatani aspirasi, mencegah berkembangnya

potensi terorisme, serta secara tidak langsung melakukan delegitimasi motif teror; (9) peningkatan kerja sama regional di antara negara-negara ASEAN dalam upaya menangkal dan menanggulangi aksi terorisme; (10) penanganan terorisme secara multilateral di bawah PBB, termasuk peredaran senjata konvensional dan senjata pemusnah massal; (11) penangkapan dan pemrosesan secara hukum tokoh-tokoh kunci operasional terorisme; (12) pengawasan lalu lintas uang dan pemblokiran aset kelompok teroris; (13) peningkatan pengawasan keimigrasian serta upaya interdiksi darat, laut, dan udara; (14) peningkatan pengawasan produksi dan peredaran serta pelucutan senjata dan bahan peledak sebagai bagian perlucutan senjata global.

BAB 7

PENINGKATAN KEMAMPUAN

Dalam dokumen Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden RI (Halaman 185-190)