• Tidak ada hasil yang ditemukan

MASALAH MATEMATIK Tuti Alawiyah

Dalam dokumen Volume 1, Tahun ISSN KATA PENGANTAR (Halaman 192-200)

Mahasiswa Pasca Sarjana Pendidikan Matematika STKIP Siliwangi Bandung

ABSTRAK

Artikel ini membahas tentang pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematik. Uraian didasarkan pada analisis terhadap: 1) pentingnya penguasaan komunikasi dan pemecahan masalah matematik dalam pembelajaran, 2) kemampuan komunikasi matematik, 3) kemampuan pemecahan masalah matematik, 4) manfaat kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematik dalam pembelajaran matematika, 5) beberapa hasil studi mengenai kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematik. Beberapa studi menemukan bahwa berbagai pembelajaran yang inovatif: a) berhasil meningkatkan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematik, b) dapat meningkatkan kemampuan penalaran logis siswa, 3) mendorong siswa untuk dapat merepresentasikan masalah sehari-hari ke dalam bahasa matematika dalam bentuk ide, gambar, symbol dan lainnya.

Kata Kunci : komunikasi lisan, komunikasi tulisan, grafik, symbol, diagram, klarifikasi,

interpretasi, konstruksi.

A. Pendahuluan

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dinyatakan bahwa mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama (Depdiknas, 2006). Adapun tujuan mata pelajaran matematika untuk semua jenjang adalah agar siswa mampu: (1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah, (2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika; (3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh; (4) Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; dan (5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah (Depdiknas, 2006).

Pelajaran matematika dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan bertujuan agar siswa memiliki seperangkat kompetensi yang harus ditunjukkan pada hasil belajarnya dalam matematika, salah satu standarnya yaitu mengkomunikasikan gagasan dengan symbol, table, diagram atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah (Depdiknas, 2006).

NCTM (2000) menetapkan lima standar kemampuan matematis yang harus dimiliki oleh siswa, yaitu kemampuan pemecahan masalah (problem solving), kemampuan komunikasi (communication), kemampuan koneksi (connection), kemampuan penalaran (reasoning), dan kemampuan representasi (representation).

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika ProgramPasca Sarjana STKIP Siliwangi Bandung 181 Salah satu cara untuk menumbuhkembangkan kemampuan komunikasi, pemahaman, dan kemandirian belajar adalah dengan melatih siswa mengerjakan soal-soal yang berhubungan dengan ketrampilan tersebut.

Dengan kondisi pembelajaran matematika tersebut perlu adanya standar soal-soal yang dapat mengukur ketrampilan komunkasi dan pemahaman tingkat tinggi sehingga siswa dapat berpikir kritis dan kreatif. Sumarmo (2005: 3) menyarankan bahwa pembelajaran matematika untuk mendorong berpikir kreatif dan berpikir tingkat tinggi dapat dilakukan melalui belajar dalam kelompok kecil, menyajikan soal-soal non-rutin dan tugas yang menuntut strategi kognitif dan

metakognitif peserta didik serta menerapkan pendekatan scaffolding.

Kemudian ditegaskan pula oleh Kurikulum 2004 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) serta Badan Standar Nasional Pendidikan (2006: 1) bahwa peserta didik dari mulai sekolah dasar perlu dibekali dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif dan kemampuan bekerja sama melalui soal-soal aspek komunikasi.

Komunikasi matematis adalah kemampuan untuk berkomunikasi yang meliputi kegiatan penggunaan keahlian menulis, menyimak, menelaah, menginterpretasikan, dan mengevaluasi ide, simbol, istilah, serta informasi matematika yang diamati melalui proses mendengar, mempresentasi, dan diskusi. Sudrajat (2001) mengatakan bahwa ketika seorang siswa memperoleh informasi berupa konsep matematika yang diberikan guru maupun yang diperolehnya dari bacaan, maka saat itu terjadi transformasi informasi matematika dari sumber kepada siswa tersebut. Siswa memberikan respon berdasarkan interpretasinya terhadap informasi itu, sehingga terjadi proses komunikasi matematis.

Indikator kemampuan siswa yang dapat dikembangkan dalam melakukan komunikasi matematis menurut Utari (2006) adalah: (1) mampu menghubungkan benda nyata, gambar, dan diagram ke dalam ide matematika; (2) mampu menjelaskan ide, situasi dan relasi matematis secara lisan, tulisan, dengan benda nyata, gambar, grafik dan aljabar; (3) mampu menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematika; (4) mampu mendengarkan, berdiskusi, dan menulis tentang matematika; (5) mampu membaca presentasi matematika tertulis dan menyusun pertanyaan yang relevan; serta (6) mampu membuat konjektur, menyusun argumen, merumuskan definisi dan generalisasi.

Kemampuan komunikasi matematis yang dikembangkan menggunakan indikator-indikator: (1) merepresentasikan objek-objek nyata dalam gambar, diagram, atau model matematika; (2) menjelaskan ide, situasi, dan relasi matematika secara tulisan dalam bentuk gambar, tabel, diagram, atau grafik; (3) menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematika; dan (4) mengubah suatu bentuk representasi lainnya.

Pemecahan masalah merupakan suatu proses untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi untuk mencapai suatu tujuan yang hendak dicapai. Memecahkan suatu masalah matematika itu bisa merupakan kegiatan menyelesaikan soal cerita, menyelesaikan soal yang tidak rutin, mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari atau keadaan lain, dan membuktikan atau menciptakan atau menguji konjektur. Dalam pembelajaran matematika, pemecahan masalah merupakan suatu tujuan yang hendak dicapai. Sejalan dengan hal tersebut, BNSP (Nurjanah, 2007: 11) mengungkapkan bahwa tujuan pembelajaran matematika dalam KTSP adalah agar peserta didik memahami pelajaran matematika, menggunakan penalaran, memecahkan masalah, mengkomunikasikan gagasan, serta memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan.

Menurut Polya (Dardiri, 2007: 28) menjelaskan bahwa: Pemecahan masalah merupakan suatu aktivitas intelektual yang sangat tinggi sebab dalam pemecahan masalah siswa harus dapat menyelesaikan dan menggunakan aturan-aturan yang telah dipelajari untuk membuat rumusan

182 Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika ProgramPasca Sarjana STKIP Siliwangi Bandung masalah. Aktivitas mental yang dapat dijangkau dalam pemecahan masalah antara lain adalah mengingat, mengenal, menjelaskan, membedakan, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi. Selain itu, Dahar (Furqon, 2006: 40) mengungkapkan bahwa pemecahan masalah merupakan suatu kegiatan manusia yang mengaplikasikan konsep-konsep dan aturan-aturan yang diperoleh sebelumnya. Lebih lanjut Dahar mengungkapkan bahwa bila seorang siswa memecahkan masalah secara tidak langsung terlibat dalam perilaku berpikir. Proses belajar melalui pemecahan masalah memungkinkan siswa membangun atau mengkonstruksi pengetahuannya sendiri didasarkan pengetahuan yang telah dimilikinya sehingga proses belajar yang dilakukan akan berjalan aktif dan dinamis.

Berdasarkan uraian tersebut, pemecahan masalah dalam matematika dipandang sebagai proses dimana siswa menemukan kombinasi aturan-aturan atau prinsip-prinsip matematika yang telah dipelajari sebelumnya yang digunakan untuk memecakan masalah. Dalam sebuah permasalahan siswa harus bisa mengidentifikasi apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, dan unsur apa yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah tersebut sehingga mudah untuk diselesaikan.

B. Kemampuan Komunikasi Matematik

Komunikasi matematis dapat diartikan sebagai suatu kemampuan siswa dalam menyampaikan sesuatu yang diketahuinya melalui peristiwa dialog atau saling hubungan yang terjadi di lingkungan kelas, dimana terjadi pengalihan pesan. Pesan yang dialihkan berisi tentang materi matematika yang dipelajari siswa, misalnya berupa konsep, rumus, atau strategi penyelesaian suatu masalah. Pihak yang terlibat dalam peristiwa komunikasi di dalam kelas adalah guru dan siswa. Cara pengalihan pesannya dapat secara lisan maupun tertulis.

Pendapat tentang pentingnya komunikasi dalam pembelajaran matematika juga diusulkan NCTM (2000: 63) yang menyatakan bahwa program pembelajaran matematika sekolah harus memberi kesempatan kepada siswa untuk:

a.

Menyusun dan mengaitkan mathematical thinking mereka melalui komunikasi.

b.

Mengkomunikasikan mathematical thinking mereka secara logis dan jelas kepada teman-temannya, guru, dan orang lain.

c.

Menganalisis dan menilai mathematical thinking dan strategi yang dipakai orang lain.

d.

Menggunakan bahasa matematika untuk mengekspresikan ide-ide matematika secara benar.

National Council of Teachers of Mathematics (NCTM) (1989) telah menyatakan pengertian

komunikasi menurut matematika yang ditunjukkan dengan menuliskan secara spesifik dalam bentuk kemampuan komunikasi. Kemampuan yang dimaksud adalah kemampuan dalam hal: (1) membaca dan menulis matematika dan menafsirkan makna dan ide dari tulisan itu, (2) mengungkapkan dan menjelaskan pemikiran tentang ide matematika dan hubungannya, (3) merumuskan definisi matematika dan membuat generalisasi yang ditemui melalui investigasi, (4) menuliskan sajian matematika dengan pengertian, (5) menggunakan kosakata/bahasa, notasi struktur secara matematis untuk menyajikan ide, menggambarkan hubungan, dan pembuatan model, (6) memahami, menafsirkan dan menilai ide yang disajikan secara lisan, tulisan, atau visual, (7) mengamati dan membuat dugaan, merumuskan pertanyaan, mengumpulkan dan menilai informasi, dan (8) menghasilkan dan menyajikan argumen yang meyakinkan.

Menurut Utari Sumarmo (Gusni Satriawati, 2003: 110), kemampuan komunikasi matematika merupakan kemampuan yang dapat menyertakan dan memuat berbagai kesempatan untuk berkomunikasi dalam bentuk:

a.

Merefleksikan benda-benda nyata, gambar, dan diagram ke dalam ide matematika.

b.

Membuat model situasi atau persoalan menggunakan metode lisan, tertulis, konkrit, grafik, dan aljabar.

c.

Menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematika.

d.

Mendengarkan, berdiskusi, dan menulis tentang matematika.

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika ProgramPasca Sarjana STKIP Siliwangi Bandung 183

e.

Membaca dengan pemahaman suatu presentasi matematika tertulis.

f.

Membuat konektor, menyusun argumen, merumuskan definisi, dan generalisasi.

g.

Menjelaskan dan membuat pertanyaan tentang matematika yang telah dipelajari.

Bansu Irianto Ansari (2003) menelaah kemampuan Komunikasi matematika dari dua aspek yaitu komunikasi lisan (talking) dan komunikasi tulisan (writing). Komunikasi lisan diungkap melalui intensitas keterlibatan siswa dalam kelompok kecil selama berlangsungnya proses pembelajaran. Sementara yang dimaksud dengan komunikasi matematika tulisan (writing) adalah kemampuan dan keterampilan siswa menggunakan kosa kata (vocabulary), notasi dan struktur matematika untuk menyatakan hubungan dan gagasan serta memahaminya dalam memecahkan masalah. Kemampuan ini diungkap melalui representasi matematika. Representasi matematika siswa diklasifikasikan dalam tiga kategori:

1.

Pemunculan model konseptual, seperti gambar, diagram, tabel dan grafik (aspek drawing)

2.

Membentuk model matematika (aspek mathematical expression)

3.

Argumentasi verbal yang didasari pada analisis terhadap gambar dan konsep-konsep formal (aspek written texts).

C. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematik

Pemecahan masalah merupakan salah satu hasil yang ingin dicapai dalam pembelajaran matematika dan merupakan hal yang sangat penting. Bahkan menurut Gagne (dalam Ruseffendi, 1988 : 169) sering dikatakan bahwa pemecahan masalah merupakan tahap belajar yang paling tinggi dan lebih kompleks. Polya (1985) mengartikan pemecahan masalah sebagai suatu usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan guna mencapai suatu tujuan yang tidak begitu segera dapat dicapai. Sementara Sujono (1988) melukiskan masalah matematika sebagai tantangan bila pemecahannya memerlukan kreativitas, pengertian dan pemikiran yang asli atau imajinasi.

Ruseffendi (1991b) mengemukakan bahwa suatu soal merupakan soal pemecahan masalah bagi seseorang bila ia memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menyelesaikannya, tetapi pada saat ia memperoleh soal itu ia belum tahu cara menyelesaikannya. Dalam kesempatan lain Ruseffendi (1991a) juga mengemukakan bahwa suatu persoalan itu merupakan masalah bagi seseorang jika: pertama, persoalan itu tidak dikenalnya. Kedua, siswa harus mampu menyelesaikannya, baik kesiapan mentalnya maupun pengetahuan siapnya; terlepas daripada apakah akhirnya ia sampai atau tidak kepada jawabannya. Ketiga, sesuatu itu merupakan pemecahan masalah baginya, bila ia ada niat untuk menyelesaikannya.

Lebih spesifik Sumarmo (1994) mengartikan pemecahan masalah sebagai kegiatan menyelesaikan soal cerita, menyelesaikan soal yang tidak rutin, mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari atau keadaan lain, dan membuktikan atau menciptakan atau menguji konjektur.

Pemecahan masalah merupakan salah satu tipe keterampilan intelektual yang menurut Gagné, dkk (1992) lebih tinggi derajatnya dan lebih kompleks dari tipe keterampilan intelektual lainnya. Gagné, dkk (1992) berpendapat bahwa dalam menyelesaikan pemecahan masalah diperlukan aturan kompleks atau aturan tingkat tinggi dan aturan tingkat tinggi dapat dicapai setelah menguasai aturan dan konsep terdefinisi. Demikian pula aturan dan konsep terdefinisi dapat dikuasai jika ditunjang oleh pemahaman konsep konkrit. Setelah itu untuk memahami konsep konkrit diperlukan keterampilan dalam memperbedakan.

Keterampilan-keterampilan intelektual tersebut digolongkan Gagné berdasarkan tingkat kompleksitasnya dan disusun dari operasi mental yang paling sederhana sampai pada tingkat yang paling kompleks. Keterampilan-keterampilan intelektual tersebut digambarkan oleh Gagné, dkk (1992) secara hierarki seperti pada Diagram 1.

184 Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika ProgramPasca Sarjana STKIP Siliwangi Bandung PEMECAHAN MASALAH

|

melibatkan pembentukan |

ATURAN-ATURAN TINGKAT TINGGI |

membutuhkan prasyarat |

ATURAN dan KONSEP-KONSEP TERDEFINISI | membutuhkan prasyarat | KONSEP-KONSEP KONKRIT | membutuhkan prasyarat | MEMPERBEDAKAN Diagram 1.

Tingkat-tingkat Kompleksitas dalam Keterampilan Intelektual

Oleh karena itu dengan mengacu pada pendapat-pendapat di atas, maka pemecahan masalah dapat dilihat dari berbagai pengertian. Yaitu, sebagai upaya mencari jalan keluar yang dilakukan dalam mencapai tujuan. Juga memerlukan kesiapan, kreativitas, pengetahuan dan kemampuan serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu pemecahan masalah merupakan persoalan-persoalan yang belum dikenal; serta mengandung pengertian sebagai proses berfikir tingkat tinggi dan penting dalam pembelajaran matematika. Pentingnya kemampuan penyelesaian masalah oleh siswa dalam matematika ditegaskan juga oleh Branca (1980),

1. Kemampuan menyelesaikan masalah merupakan tujuan umum pengajaran matematika. 2. Penyelesaian masalah yang meliputi metode, prosedur dan strategi merupakan proses inti dan

utama dalam kurikulum matematika .

3. Penyelesaian masalah merupakan kemampuan dasar dalam belajar matematika. Beberapa ciri spesifik pembelajaran berbasis pemecahan masalah (Taplin, 2003) yaitu

1. Interaksi siswa - siswa dan antara guru - siswa yang memungkinkan terjadi dialog dan konsensus.

2. Fase guru menjelaskan latar belakang masalah dan pernyataan masalah, kemudian siswa mengklarifikasi, menginterpretasi dan mengkonstruksi proses pemecahannya.

3. Guru menerima jawaban siswa dan meresponnya

4. Guru membimbing, melatih, bertanya dan bersama-sama siswa membahas masalah.

5. Guru harus tahu kapan intervensi, dan kapan memberi kesempatan kepada siswa untuk memecahkan masalah

6. Menggugah siswa membuat kesimpulan tentang aturan dan konsep dalam penyelesaian masalah

D. Manfaat Komunikasi dan Pemecahan Masalah dalam Pembelajaran Matematika

Pentingnya komunikasi matematik dikembangkan dalam pembelajaran tidak seiring dengan hasil yang dicapai. Rendahnya mutu pendidikan matematika, khususnya dalam komunikasi matematik tentu ada penyebabnya. Menurut Ruseffendi (2006) dalam pembelajaran matematika terdapat sepuluh faktor yang mempengaruhi keberhasilan anak, kesiapan anak, bakat anak, kemauan belajar, minat anak, model penyajian materi, pribadi dan sikap guru, suasana belajar, kompetensi guru serta kondisi luar. Jika dilihat proses pembelajarannya, menurut Sanjaya (2007 : 1) disebabakan proses pembelajaran yang kurang mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Anak

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika ProgramPasca Sarjana STKIP Siliwangi Bandung 185 lebih diarahkan kepada kemampuan menghapal informasi, sehingga pembelajaran menjadi tidak bermakna.

Diberlakukannya KTSP yang memberi keleluasaan bagi guru dan sekolah mengembangkan SK dan KD menjadi pertimbangan guru untuk merubah pandangan mengenai pendekatan pembelajaran yang diarahkan untuk mengembangkan potensi siswa. Siswa perlu didorong untuk mengkonstruksi pengetahuan baru berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya karena mengalami proses pembelajaran yang inovatif. Salah satu kemampuan yang harus ditingkatkan adalah kemampuan pemecahan masalah selain kemampuan pemahaman, penalaran, komunikasi dan koneksi matematik.

Beberapa ciri spesifik pembelajaran berbasis pemecahan masalah (Taplin, 2003) yaitu

1. Interaksi siswa - siswa dan antara guru - siswa yang memungkinkan terjadi dialog dan konsensus.

2. Fase guru menjelaskan latar belakang masalah dan pernyataan masalah, kemudian siswa mengklarifikasi, menginterpretasi dan mengkonstruksi proses pemecahannya.

3. Guru menerima jawaban siswa dan meresponnya

4. Guru membimbing, melatih, bertanya dan bersama-sama siswa membahas masalah.

5. Guru harus tahu kapan intervensi, dan kapan memberi kesempatan kepada siswa untuk memecahkan masalah

6. Menggugah siswa membuat kesimpulan tentang aturan dan konsep dalam penyelesaian masalah Selain itu Sobel dan Maletsky (2002) dan Taplin (2003) menjelaskan bahwa :

1. Melalui pengajuan masalah yang menantang, guru mendorong siswa untuk bertanya supaya memahami konsep matematika yang dipelajari.

2. Pemecahan masalah merupakan keterampilan yang dapat meningkatkan penalaran logis.

3. Berbekal penalaran logis yang terus berkembang itulah seseorang dapat membuat keputusan melalui proses deduksi logis.

Empat langkah pemecahan masalah menurut Polya (dalam NTCM, 1980) yaitu 1) menghubungkan masalah dengan masalah serupa sebelumnya dan mengidentifikasi fakta yang diperoleh; 2) memilih langkah-langkah pemecahan masalah; 3) memecahkan masalah melalui strategi yang dianggap cocok; 4) meneliti ulang melalui memeriksa kembali langkah-langkah penyelesaian yang sudah dilakukan.

Kemampuan pemecahan masalah dapat meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar logis. Pada dasarnya kemampuan dan disposisi berpikir logis, kritis dan kreatif adalah kemampuan dan disposisi esensial yang perlu dimiliki dan dikembangkan pada siswa yang belajar matematika, karena sesuai dengan visi matematika, tujuan pendidikan nasional, dan tujuan pembelajaran matematika sekolah dan diperlukan untuk menghadapi suasana bersaing yang semakin ketat. Menurut WW Sawyer dalam bukunya “ Mathematician‟s Delight” yang dikutip oleh Jacobs (1982 :12) “ Pengetahuan yang diberikan atau diinformasikan langsung kepada siswa kurang dapat meningkatkan kemampuan bernalar siswa”. Jadi hanya bisa melatih kemampuan mengingat. Kemampuan berfikir yang didapat ketika siswa memecahkan masalah akan mampu ditransfer atau digunakan ketika menghadapai masalah dalam kehidupan sehari-hari. Para siswa berkesempatan untuk bereksplorasi atau menyelidiki teorema, rumus, dalil dan konsep diperoleh sendiri, tidak disuguhi yang sudah jadi. Membiasakan siswa mengerjakan soal yang penyelesaiannya tidak lagi melalui prosedur rutin semata, tetapi menggunakan kemampuan berfikir kritis, logis, rasional dan menantang. Proses pembelajaran di kelas yang mengkondisikan siswa untuk belajar memecahkan dan menemukan seperti ini, akan membuat para siswa melakukan penyelidikan dan menemukan sesuatu.

186 Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika ProgramPasca Sarjana STKIP Siliwangi Bandung

E. Hasil Penelitian yang Relevan

Berikut ini hasil penelitian mengenai kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah antara lain Karlimah (2010) meneliti tentang kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah. Penelitian ini adalah untuk melihat peningkatan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah dengan pembelajaran berbasis masalah dibanding dengan pembelajaran konvensional. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Kemampuan komunikasi matematis mahasiswa kelompok Pembelajaran Berbasis Masalah lebih baik dibanding kelompok pembelajaran Konvensional, baik secara keseluruhan maupun dari kemampuan awal matematis sedang dan rendah; (2) Secara keseluruhan kemampuan pemecahan masalah matematis mahasiswa kelompok Pembelajaran Berbasis Masalah lebih baik dibanding dengan kelompok Pembelajaran Konvensional. Dilihat dari kemampuan awal matematis rendah, kemampuan pemecahan masalah matematis mahasiswa kelompok Pembelajaran Berbasis Masalah lebih baik dibanding kelompok pembelajaran Konvensional, namun tidak lebih baik untuk kelompok awal matematis sedang; (3) Disposisi matematis mahasiswa kelompok Pembelajaran Berbasis Masalah lebih baik dibanding kelompok pembelajaran Konvensional baik secara keseluruhan maupun dari kemampuan awal matematis sedang dan rendah; (4) Terdapat asosiasi antara kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah matematis mahasiswa; (5) Tidak terdapat interaksi antara pembelajaran Berbasis Masalah dengan tingkat kemampuan awal matematis (sedang, rendah) mahasiswa dalam meningkatkan kemampuan komunikasi dan pemecahan masalah, serta disposisi matematis mahasiswa.

Tapilouw (2011) meneliti tentang pemecahan masalah dengan pendekatan REACT. Penelitian ini menggambarkan dan menganalisa peningkatan kemampuan pemecahan masalah dengan pendekatan REACT. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan kemampuan pemecahan masalah pada siswa dengan pendekatan REACT pada sekolah peringkat tinggi, sedang dan rendah serta kemampuan awal siswa dengan peringkat sekolah tinggi, sedang dan rendah lebih tinggi daripada siswa dengan pembelajaran konvensional.

Tandiling (2012) meneliti untuk menemukan instrumen untuk mengukur kemampuan komunikasi matematik, pemahaman matematik, dan Self Regulated Learning. Hasil penelitian ini diperoleh hasil berupa seperangkat instrumen untuk mengukur kemampuan komunikasi matematis, pemahaman matematis, dan self regulated learning siswa dalam pembelajaran matematika di Sekolah Menengah Atas.

Ramdhani (2012) melakukan penelitian untuk menyusun bahan ajar dan instrumen untuk mengukur kemampuan komunikasi, penalaran, dan koneksi matematis mahasiswa yang sesuai, tervalidasi, mempunyai reliabilitas, daya pembeda (DP), dan indeks kesukaran (IK) yang memadai. Instrumen dan bahan ajar yang dikembangkan digunakan untuk meningkatkan kemampuan komunikasi, penalaran, dan koneksi matematis mahasiswa. Untuk mencapai tujuan tersebut, kegiatan yang dilakukan adalah: (1) menganalisis secar teoritis instrumen, rubrik, dan bahan ajar; (2) menganalisis secara teoritis tentang komunikasi, penalaran, dan koneksi matematis; (3) menganalisis secara empiris identifikasi permasalahan lapangan berkenaan dengan bahan ajar, pembelajaran, dan instrument dalam mengevaluasi; (4) mengembangkan prototipe instrumen, rubrik, dan bahan ajar; (5) analisis teoritik istrumen, rubrik dan bahan ajar; (6) model konseptual yang telah disusun kemudian divalidasi oleh pakar sesuai dengan keahliannya agar model konseptual tersebut mempunyai dasar teori yang ajeg dan sesuai dengan kaidah ilmiah, (7) penyempurnaan model instrumen; (8) ujicoba terbatas instrumen dan rubrik ; (9) penyempurnaan instrumen dan rubrik.

F. Rangkuman

Berdasarkan uraian hasil penelitian dan diskusi hasil penelitian dapat diambil rangkuman : ada 2 hal pentingnya menumbuhkembangkan kemampuan komunikasi matematis : (1) matematika selain sebagai alat bantu berpikir, alat untuk menemukan pola, menyelesaikan masalah juga sebagai alat yang dapat mengkomunikasikan berbagai ide dengan ringkas dan jelas (clearly and succinctly), (2)

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika ProgramPasca Sarjana STKIP Siliwangi Bandung 187 matematika selain sebagai aktivitas sosial juga sebagai wahana interaksi antar siswa, juga sebagai sarana komunikasi guru dan siswa.

Pemecahan masalah dapat dilihat dari berbagai pengertian yaitu, sebagai upaya mencari jalan keluar yang dilakukan dalam mencapai tujuan. Juga memerlukan kesiapan, kreativitas, pengetahuan dan kemampuan serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Di samping itu pemecahan masalah merupakan persoalan-persoalan yang belum dikenal; serta mengandung pengertian sebagai proses berfikir tingkat tinggi dan penting dalam pembelajaran matematika.

DAFTAR PUSTAKA

Ansari, B.I. (2003). Menumbuhkembangkan kemampuan pemahaman dan komunikasi matematik

siswa SMU melalui Strategi Thing-Talk-Write, studi eksperimen pada siswa kelas I SMUN di Kota Bandung. Disertasi. Program Pascasarjana. Universitas Pendidikan Indonesia.

Departemen Pendidikan Nasional. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan.

Departemen Pendidikan Tinggi. (2006). Rambu-rambu Penyelenggaraan Pendidikan Profesional Guru Sekolah Dasar.

National Council of Teachers of Mathematics, (2000) Curriculum and Evaluation Standards for

School Mathematics. Reston, Va.: National Council of Teachers of Mathematics.

Dalam dokumen Volume 1, Tahun ISSN KATA PENGANTAR (Halaman 192-200)