STKIP Siliwangi Bandung [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menelaah peningkatan kemampuan kompetensi strategis matematis antara siswa, yang memperoleh pembelajaran dengan pembelajaran berbasis masalah dan yang memperoleh pembelajaran biasa. Metode dalam penelitian ini yaitu metode eksperimen. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa pada salah satu SMA di Kota Cimahi, sedangkan sampelnya dipilih sebanyak dua kelas secara acak dari kelas X yang ada. Proses penentuan kelas dengan cara purposive sampling. Kelas eksperimen memperoleh pembelajaran berbasis masalah dan kelas kontrol memperoleh pembelajaran biasa. Instrumen penelitian meliputi tes kemampuan kompetensi strategis matematis. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh kesimpulan bahwa Peningkatan kemampuan kompetensi strategis matematis siswa, yang memperoleh pembelajaran berbasis masalah lebih baik daripada yang memperoleh pembelajaran dengan cara biasa berdasarkan Kemampuan Awal Matematik Siswa Baik, Sedang, dan Kurang (KAM).
Kata Kunci: kompetensi strategis matematis, pembelajaran berbasis masalah.
1. PENDAHULUAN
Generasi pelajar adalah generasi yang mempunyai persaingan yang sengit. Mereka perlu disediakan agar mampu bertahan dalam dunia akan datang. Salah satu caranya adalah membina siswa untuk dapat berfikir dengan cerdas secara kreatif dan kritis. Diawali oleh rasa prihatin terhadap cara siswa dalam mengerjakan soal-soal matematika yang cenderung sama persis seperti contoh soal yang ada dibuku atau sama persis seperti contoh soal yang pernah diberikan guru. Padahal siswa tidak cukup hanya dengan paham saja namun perlu suatu kemampuan berpikir matematik dengan tingkat yang lebih tinggi guna menghasilkan modal insan yang cerdas, kreatif dan inovatif.
Dengan belajar matematika siswa dapat berlatih menggunakan pikirannya secara logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta memiliki kemampuan bekerjasama dalam menghadapi berbagai masalah. Pembentukan pola pikir siswa dapat dilihat dari kemampuan berupa kecakapan yang dimiliki oleh siswa dalam penguasaan matematika.
Perumusan tentang kemampuan dan kecakapan matematis yang harus dimiliki siswa diperkenalkan oleh Mathematics Learning Study Committee, National Research Council (NRC) yang ditulis oleh Kilpatrick, Swafford, dan Findell tahun 2001, sebagai berikut: 1) Pemahaman konsep; 2) Kelancaran berprosedur; 3) Kompetensi strategis; 4) Penalaran adaptif; 5) Berkarakter Produktif. Di dalam panduan KTSP untuk pelajaran matematika tahun 2006 juga disebutkan bahwa pembelajaran matematika pada SMPmemiliki tujuan agar siswa memiliki kemampuan: 1) Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah; 2) Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika; 3) Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh; 4) Mengomunikasikan
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika ProgramPasca Sarjana STKIP Siliwangi Bandung 17 gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah; 5) Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Menurut Kilpatrick, Swafford, dan Findell (2001:116) kemampuan dan kecakapan atau kompetensi matematis yang penting yang harus dimiliki siswa yaitu kemampuan kompetensi strategis (strategic competence), yang meliputi kemampuan untuk merumuskan, menyajikan, serta memecahkan masalah-masalah matematis. Selain itu menurut Sumarmo (2002), kemampuan dasar yang harus dimiliki siswa setelah mempelajari matematika adalah: kemampuan pemahaman matematis, pemecahan masalah matematis, penalaran matematis, koneksi matematis dan komunikasi matematis.
Namun kenyataan menunjukkan bahwa kemampuan kompetensi strategis matematis siswa saat ini masih rendah.Terbukti dari masih sulitnya siswa untuk menyajikan masalah dalam kehidupan sehari-hari ke dalam model matematis dan menentukan strategi yang tepat untuk menyelesaikannya. Kondisi ini ditunjukkan dari hasil Programme for International Student
Assessment (PISA). Indonesia sudah mengikuti PISA tahun 2000, 2003, 2006 dan 2009. Pada PISA
2000, dalam bidang matematika, Indonesia berada di peringkat 39 dari 41 negara, dengan skor rata 367. Pada tahun 2003, 38 dari 40 negara, dengan skor rata 360. Pada tahun 2006 skor rata-rata naik menjadi 391, yaitu peringkat 50 dari 57 negara, sedangkan tahun 2009 skor rata-rata-rata-rata turun menjadi 371 dengan peringkat 61 dari 65 negara (Balitbang, 2011).
Oleh karena itu, diperlukan strategi, pendekatan, metode pembelajaran untuk menunjang keberhasilan siswa dalam belajar matematik. Salah satu alternative untuk menunjang keberhasilan hal tersebut adalah Pembelajaran Matematika dengan menggunakan Pembelajaran Berbasis Masalah. Pembelajaran berbasis masalah mengawali kegiatan dengan penyajian masalah yang dirancang dalam konteks yang relevan dengan materi yang akan dipelajari untuk mendorong siswa: memperoleh pengetahuan dan pemahaman konsep, mencapai berfikir kritis, memiliki kemandirian belajar, keterampilan berpartisipasi dalam kerja kelompok, dan kemampuan pemecahan masalah. Sears dan Hersh (Dasari, 2009), mengemukakan beberapa karakteristik PBM yaitu: a) Masalah harus kontekstual dan berkaitan dengan materi dalam kurikulum, b) Masalah hendaknya tak terstruktur, solusi tidak tunggal, dan prosesnya bertahap, c) Siswa memecahkan masalah dan guru sebagai fasilitator, d) Siswa hanya diberi panduan untuk mengenali masalah, dan tidak diberi formula untuk memecahkan masalah, dan e) Penilaian berbasis performa autentik. Selanjutnya, Ibrahim dan Nur (Ratnaningsih, 2004) mengemukakan lima langkah dalam PBM sebagai berikut: mengorientasikan siswa pada masalah, mengorganisasikan siswa untuk belajar, membimbing siswa mengeksplor baik secara individual atau kelompok, membantu siswa mengembangkan dan menyajikan hasil karyanya, membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah utama dalam penelitian ini adalah apakah peningkatan kemampuan kompetensi strategis matematis siswa dan retensinya, yang memperoleh pembelajaran berbasis masalah lebih baik daripada yang memperoleh pembelajaran biasa berdasarkan Kemampuan Awal Matematika siswa (baik, sedang, kurang)?
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menelaah secara mendalam peranan pembelajaran berbasis masalah dan tingkat kemampuan awal matematika siswa terhadap pencapaian peningkatan kemampuan kompetensi strategis matematis siswa ditinjau berdasarkan tingkat kemampuan awal matematika siswa (baik, Sedang, kurang). Selain itu berdasarkan hasil-hasil temuan akan dicari upaya mengatasi kesulitan tersebut dan upaya meningkatkan kemampuan kompetensi strategis matematis selanjutnya. Demikian pula berdasarkan hasil analisis tentang eksistensi interaksi antara pembelajaran berbasis masalah dan tingkat kemampuan awal matematika siswa terhadap pencapaian peningkatan kemampuan kompetensi strategis matematik siswa yang akan dimanfaatkan dalam pengembangan pembelajaran matematika selanjutnya.
18 Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika ProgramPasca Sarjana STKIP Siliwangi Bandung
2. STUDI LITERATUR
2.1. Kemampuan Kompetensi Strategis Matematis
Kompetensi strategis (strategic competence) merupakan suatu kemampuan untuk merumuskan, menyajikan, dan menyelesaikan masalah matematika (Kilpatrick, Swafford, dan Findell, 2001:116).
Indikator untuk kemampuan kelancaran berprosedur menurut Kilpatrick, Swafford, dan Findell (2001:124) adalah sebagai berikut:
(1) Memilih informasi yang relevan dengan masalah;
(2) Menyajikan suatu masalah dalam berbagai bentuk representasi matematis; (3) Memilih strategi untuk memecahkan masalah;
(4) Menyelesaikan masalah.
2.2. Pembelajaran Berbasis Masalah
Beberapa pakar antara lain Barrows (Karlimah, 2010), Ibrahim and Nur (Ratnaningsih, 2004), Pierce dan Jones (Dasari, 2009), Sears dan Hersh (Dasari, 2009), Stepien dan Galager, (Karlimah, 2010) menawarkan satu jenis pembelajaran yang dinamakan pembelajaran berbasis masalah (PBM). Para pakar di atas, mengemukakan pembelajaran berbasis masalah sebagai suatu pendekatan pembelajaran yang diawali dengan penyajian masalah kontekstual untuk mendorong siswa: memperoleh pengetahuan dan pemahaman konsep, mencapai berfikir kritis, memiliki kemandirian belajar, keterampilan berpartisipasi dalam kerja kelompok, dan kemampuan pemecahan masalah.
Sears dan Hersh (Dasari, 2009), mengemukakan beberapa karakteristik PBM yaitu: a) Masalah harus berkaitan dengan kurikulum, b) Masalah bersifat tak terstruktur, solusi tidak tunggal, dan prosesnya bertahap, c) Siswa memecahkan masalah dan guru sebagai fasilitator, d) Siswa diberi panduan untuk mengenali masalah, dan bukan formula untuk memecahkan masalah, dan e) Penilaian berbasis performa autentik. Perbedaan penting antara PBM dan pembelajaran konvensional terletak pada tahap penyajian masalah. Dalam pembelajaran konvensional, penyajian masalah diletakkan pada akhir pembelajaran sebagai latihan dan penerapan konsep yang dipelajari. Pada PBM, masalah disajikan pada awal pembelajaran, berfungsi untuk mendorong pencapaian konsep melalui investigasi, inkuiri, pemecahan masalah, dan mendorong kemandirian belajar.
3. METODE
Studi ini dirancang dalam bentuk eksperimen dengan disain kelompok kontrol pretes-postes yang bertujuan menelaah peranan pembelajaran berbasis masalah terhadap peningkatan kemampuan kompetensi strategis matematis siswa siswa SMA. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA kelas X pada salah satu SMA di Kota Cimahi, sedangkan sampelnya dipilih sebanyak dua kelas secara acak dari kelas X yang ada. Kemudian dari sampel tersebut ditetapkan secara acak yang menjadi kelas eksperimen dan kelas kontrol. Tes kompetensi strategis matematis siswa masing-masing disusun mengacu pada karakteristik kompetensi stretegis matematis serta pedoman penyususunan tes yang baik. Data akan dianalisis dengan menggunakan uji ANOVA.
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi peningkatan kompetensi stretegis matematis siswa merupakan gambaran kualitas peningkatan kompetensi stretegis matematis berdasarkan jenis pendekatan pembelajaran (pembelajaran berbasis masalah dan pembelajaran biasa) dan Kemampuan Awal Matematika Siswa (KAM) kelompok baik, sedang atau kurang. Deskripsi yang dimaksud adalah rata-rata dan standar deviasi berdasarkan pendekatan pembelajaran dan klasifikasi Kemampuan Awal Matematika Siswa (KAM) dalam Tabel 1.
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika ProgramPasca Sarjana STKIP Siliwangi Bandung 19 Tabel 1
Deskripsi Data Gain Ternormalisasi
Peningkatan Kemampuan Kompetensi Strategis Matematis Berdasarkan Pendekatan Pembelajaran dan KAM
Pend Pemb KAM Skor Rerata Simp. Baku Min. Maks. PBM BAIK 0,67 0,84 0,73 0,09 SEDANG 0,37 0,72 0,57 0,11 KURANG 0,41 0,59 0,51 0,08 TOTAL 0,37 0,84 0,63 0,12 PB BAIK 0,52 0,81 0,62 0,10 SEDANG 0,36 0,71 0,54 0,12 KURANG 0,24 0,60 0,43 0,09 TOTAL 0,24 0,81 0,53 0,13 Catatan: Skor Ideal 1,00
Berdasarkan Tabel 1, dapat dikemukakan deskripsi peningkatan daya matematik siswa sebagai berikut:
1) Perbandingan kemampuan kompetensi strategis matematis siswa secara keseluruhan berdasarkan jenis pendekatan pembelajaran (PBM dan PB) mendapatkan rerata 0,63 > 0,53; standar deviasi 0,12 < 0,13. Ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan kompetensi strategis matematis siswa yang pembelajarannya menggunakan PBM lebih baik daripada siswa yang pembelajarannya menggunakan cara biasa.
2) Perbandingan kemampuan kompetensi strategis matematis siswa yang berasal dari KAM baik berdasarkan jenis pendekatan pembelajaran (PBM dan PB) mendapatkan rerata 0,73 > 0,62; standar deviasi 0,09 < 0,10; Ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan kompetensi strategis matematis siswa pada KAM baik yang pembelajarannya menggunakan PBM lebih baik daripada siswa yang pembelajarannya menggunakan cara biasa.
3) Perbandingan kemampuan kompetensi strategis matematis siswa yang berasal dari KAM sedang berdasarkan jenis pendekatan pembelajaran (PBM dan PB) mendapatkan rerata 0,57 > 0,54; standar deviasi 0,11 < 0,12; Ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan kompetensi strategis matematis siswa pada KAM sedang yang pembelajarannya menggunakan PBM lebih baik daripada siswa yang pembelajarannya menggunakan cara biasa.
4) Perbandingan kemampuan kompetensi strategis matematis siswa yang berasal dari KAM kurang berdasarkan jenis pendekatan pembelajaran (PBM dan PB) mendapatkan rerata 0,51 > 0,43; standar deviasi 0,08 < 0,09; Ini menunjukkan bahwa peningkatan kemampuan kompetensi strategis matematis siswa pada KAM kurang yang pembelajarannya menggunakan PBM lebih baik daripada siswa yang pembelajarannya menggunakan cara biasa.
5. KESIMPULAN
Berdasarkan analisis data, maka kesimpulan dalam penelitian ini adalah peningkatan kemampuan kompetensi strategis matematis siswa, yang pembelajarannya menggunakan pembelajaran berbasis masalah lebih baik daripada yang pembelajaran biasa.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang). (2011). Laporan Hasil TIMSS 2007. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
20 Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika ProgramPasca Sarjana STKIP Siliwangi Bandung Dasari, D. (2009) Meningkatkan Kemampuan Penalaran Statistik Mahasiswa melalui Pendekatan
PaceModel. Disertasi pada Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia . Tidak dipublikasi.
Karlimah, (2010). Mengembangkan Kemampuan Komunikasi dan Pemecahan Masalah Matematis
Mahasiswa PGSD melalui Pembelajaran Berbasis Masalah. Disertasi pada Sekolah
Pascasarjana UPI. Tidak diterbitkan.
Kilpatrick, J., Swafford, J., & Findell, B. (Eds.). (2001). Adding it Up: Helping Children Learn
Mathematics. Washington, DC: National Academy Press.
Ratnaningsih, N. (2004). Pengembangan Kemampuan Berpikir Matematik Tingkat Tinggi Siswa
SMU melalui Pembelajaran Berbasis Masalah. Tesis pada SPs UPI, tidak dipublikasikan.
Sumarmo, U. (2002). Alternatif Pembelajaran Matematika dalam Menerapkan Kurikulum Berbasis
Kompetensi. Makalah disajikan pada Seminar Nasional FPMIPA UPI: Tidak diterbitkan.
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika ProgramPasca Sarjana STKIP Siliwangi Bandung 21