SMA N 1 Telukjambe Karawang [email protected]
ABSTRAK
Kemampuan Koneksi matematik siswa adalah salah satu tujuan pembelajaran matematika sekolah menengah (KTSP, 2006, NCTM, 1989). Kemampuan koneksi menjadi sangat penting untuk penguasaan pemahaman konsep yang bermakna dan membantu menyelesaikan tugas pemecahan masalah matematik.Untuk mengembangkan kemampuan koneksi matematika tersebut diperlukan pendekatan pembelajaran yang mengutamakan proses belajar, dimana tugas guru harus memfokuskan diri untuk membantu siswa mencapai ketrampilan mengarahkan diri. Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan adalah pembelajaran berbasis masalah , pembelajaran ini mempunyai karakteristik penggunaan masalah kehidupan nyata sebagai sesuatu yang harus dipelajari siswa untuk melatih dan meningkatkan ketrampilan berpikir kritis dan memecahkan masalah, serta mendapatkan pengetahuan dan konsep penting.
Kata kunci : Kemampuan Koneksi Matematik, Pembelajaran Berbasis Masalah
1. PENDAHULUAN
Menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang semakin maju dengan pesatnya diperlukan sumber daya manusia yang memiliki intelektual tinggi, berakhlak tinggi, cakap, kritis dan kreatif yang mampu menhkomunikasikan dan mengkoneksikan gagasan dalam memecahkan setiap masalah yang timbul.Kemampuan tersebut bisa dikembangkan melalui pendidikan, salah satunya adalah pendidikan matematika. Kemampuan koneksi matematika adalah salah satu tujuan pembelajaran matematika sekolah menengah (KTSP,2006, NCTM,1989) yaitu: 1) memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau logaritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat dalam pemecahan masalah, 2) menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika, 3) memecahakan masalah,4) mengkomunikasikan gagasan dengan symbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah, dan 5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, sikap rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika, serta ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. Dalam rumusan tujuan tersebut, kemampuan koneksi matematik menjadi sangat penting karena akan membantu penguasaan pemahaman konsep yang bermakna dan membantu menyelesaikan tugas pemecahan masalah melalui keterkaitan antara konsep matematika dengan konsep dalam disiplin ilmu yang lain. Kemampuan koneksi matematika membantu siswa dalam menyusun model matematika yang menggambarkan antar konsep dan data suatu masalah ata situasi yang diberikan.Menginggat pentingnya kemampuan koneksi matematika tersebut maka perlunya dirancang suatu pembelajaran di kelas yang dapat menumbuhkembangkannya. Yaitu suatu pendekatan pembelajran yang mengutamakan proses belajar, dimana tugas guru harus memfokuskan diri untuk membantu siswa mencapai ketrampilan berpikir. Pembelajaran berbasis masalah adalah salah satu alternatif yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan aktivitas belajar siswa baik secara individual maupun secara kelompok. Guru berperan sebagai pemberi rangsangan, pembimbing kegiatan siswa dan penentu arah belajar siswa. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran adalah memberikan siswa
162 Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika ProgramPasca Sarjana STKIP Siliwangi Bandung masalah yang berfungsi sebagai batu loncatan untuk proses inkuiri dan penemuan, guru mengajukan masalah, membimbing dan memberikan petunjuk minimal kepada siswa dalam memecahkan masalah.
2. KAJIAN TEORI
Kemampuan matematika berdasarkan jenisnya dapat diklasifikasikan dalam lima kompetensi utama , yaitu, kemampuan : pemahaman matematik, pemecahan masalah matematik, komunikasi matematik, koneksi matematik, dan penalaran matematik.
2.1. Kemampuan Koneksi Matematis.
Pentingnya pemilikan koneksi matematik terkandung dalam tujuan pembelajaran matematika sekolah menengah (KTSP, 2006, NCTM, 1989) yaitu konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah. Dalam rumusan tersebut kemampuan koneksi matematik sangat penting karena akan membantu penguasaan pemahaman konsep yang bermakna dan membantu menyelesaikan tugas pemecahan masalah melalui keterkaitan antara konsep matematika satu dengan yang lain atau dengan konsep disiplin ilmu yang lain. Menurut Sumarmo (Gordah, 2009:27) memaparkan antara konsep beberapa indicator koneksi matematik yang dapat digunakan, yaitu : 1) mencari hubungan berbagai representasi konsep dan prosedur, 2) memahami hubungan antar topic matematika, 3) menerapkan matematika dalam bidang lain atau dalam kehidupan sehari-hari, 4) memahami representasi ekuivalen suatu konsep, 5) mencari hubungan satu prosedur dengan prosedur lain dalam reprwsentasi yang ekuivalen, 6) menerapkan hubungan antar topic matematika dan antara topik matematika dengan topic di luar matematika.
Faktor-faktor yang menghambat kemampuan koneksi matematika yaitu: (1) Sulitnya siswa mencari hubungan yang refresentasi konsep dan prosedurnya. (2) Siswa kurang memahami hubungan antar topic matematika. (3) Siswa kesulitan menghubungkan bidang studi matematika dengan bidang studi lain. (4) Sulitnya siswa menghubungkan antar matematika dengan kehidupan sehari-hari.
2.2. Pembelajaran Matematika Berbasis Masalah
Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) memusatkan pada masalah kehidupan yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.Pembelajaran berbasis masalah dalam pembelajaran matematika merupakan suatu bentuk pendekatan yang menekankan pada perumusan soal danmenyelesaikannya, yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir matematik atau menggunakan pola pikir matematik.Karakteristik Pembelajaran berbasis masalah yaitu:
a. Masalah harus berkaitan dengan kurikulum.
b. Masalah harus bersifat tak terstruktur, solusi tidak tunggal dan prosesnya bertahap c. Siswa memecahkan masalah dan guru sebagai fasilitator
d. Siswa hanya diberi panduan untuk mengenal masalah dan tidak diberi formula untuk memecahkan masalah
e. Penilaian berbasis performa autentik
Model pengajaran berdasarkan masalah ini telah dikenal sejak zaman John Dewey.Menurut Dewey (dalam Trianto, 2009:91) belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus dan respon, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan.Lingkungan memberikan masukan kepada siswa berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis, serta dicari pemecahannya dengan baik.
Pengajaran berdasarkan masalah merupakan pendekatan yang efektif untuk pengejaran proses berfikir tingkat tinggi. Pembelajarn ini membantu siswa untuk memproses informasi yang sudah
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika ProgramPasca Sarjana STKIP Siliwangi Bandung 163 jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri tentang dunia sosial dan sekitarnya.Pembelajarn ini cocok untuk pengetahuan dasar maupun kompleks.
Pembelajaran berbasis masalah dilandasi teori konstruktivis.Pada pembelajaran ini dimulai dengan menyajikan masalah nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama antar siswa, guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan, guru memberi contoh mengenai penggunaan ketrampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dibutuhkan supaya tugas-tugas-tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan oleh siswa.
Karakteristik Pembelajaran Berbasis Masalah, menurut Arends dalam Trianto, karakteristik pembelajarn berbasis masalah adalah:
1. Pengujian pertanyaan atau masalah
Pembelajaran berdasarkan masalah mengorganisasikan pengajaran disekitan pertanyaan dan masalah yang keduanya secara sosial penting dan secara pribadi bermakna pada siswa.
2. Berfokus kepada keterkaitan antar disiplin.
Masalah yang akan diselidiki telah dipilih benar-benar nyata agar dalam pemecahannya siswa meninjau masalah itu dari banyak mata pelajaran.
3. Penyelidikan Autentik.
Siswa dituntut untuk menganalisis dan mendefinisikan maslah, mengembangkan hipotesis, membuat ramalan, mengumpulkan dan menganalisa informasi, melakukan eksperimen (jika diperlukan), membuat inferensi, dan merumuskan kesimpulan.
4. Menghasilkan produk dan memamerkannya.
Produk itu dapat berupa laporan, model fisik, video maupun program komputer. 5. Kolaborasi.
Berdasarkan masalah dicirikan oleh siswa yang berkerjasama satu dengan yang lainnya, secara berpasangan atau dalam kelompok kecil.
Adapun karakteristik PBM menurut Sovie dan Hughes(dalam Santyasa 2008:3)yaitu: 1. Belajar dimulai dengan suatu masalah.
2. Memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyatasiswa. 3. Mengorganisasikan pelajaran diseputar masalah, bukan seputar disiplin ilmu.
4. Memberikan tanggung jawab yang besar kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri.
5. Menggunakan kelompok kecil.
6. Menuntut siswa untuk mendemonstrasikan apa yang telah mereka pelajar dalam bentuk suatu produk atau kinerja.
Sesuai dengan karakteristik tersebut, pembelajaran berbasis masalah memilki tujuan:
a. Membantu siswa mengembangkan ketrampilan berfikir dan ketrampilan pemecahan masalah. b. Belajar peranan orang dewasa yang autentik.
c. Menjadi pembelajar yang mandiri.
Setelah mengetahui uraian tentang karakteristik dan tujuan dari pembelajaran berbasis masalah maka sudah tampak sangat jelas bahwa dengan adanya masalah yang dapat dimunculkan oleh siswa dan guru, kemudian siswa dapat memperdalam pengetahuannya tentang apa yang mereka telah ketahui dan apa yang perlu diketahui untuk memecahkan masalah tersebut. Fokus masalah dalam pembelajaran berbasis masalah ini adalah masalah yang dapat diselesaikan siswa dan mampu mengembangkan kemampuan penalaran matematis siswa.
164 Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika ProgramPasca Sarjana STKIP Siliwangi Bandung Dalam setiap pendekatan pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, begitupun dengan pembelajaran berbasis masalah, menurut Trianto, yaitu:Kelebihannya adalah: (1) Sesuai dengan kehidupan siswa. (2) Konsep sesuai dengan kebutuhan siswa. (3) Memupuk sifat inquiri siswa. (4) Retensi konsep menjadi kuat. (5) Memupuk kemampuan problem solving
Selain memilki kelebihan, pembelajaran berbasis masalah juga memiliki kelemahan, yaitu: (1) Persiapan pembelajaran (alat, problem, konsep) yang kompleks. (2) Sulitnya mencari problem yang relevan. (3) Sering terjadi miss-konsepsi. (4) Memerlukan waktu yang cukup panjang.
2.3. Penelitian yang relevan.
Kurniawan (2006) melakukan penelitian dengan CTL pada siswa SMKN menyatakan menunjukkan bahwa siswa yang pembelajarannya secara CTL memiliki peningkatan koneksi matematika yang lebih baik dibandingkan siswa yang pembelajarannya secara tradisional. Rauf (2004) melakukan studi eksperimen pada siswa SMP mengungkapkan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan pemahaman konsep dan kemampuan koneksi matematik siswa. Peningktan kemampuaan pemahaman dan koneksi matematika siswa yang menggunakan pembelajaran berbasis masalah lebih tinggi daripada yang memperoleh pembelajaran tradisional. Azizah,L; Mariani,S, dkk ( 2012) terhadap siswa SMP menyatakan bahwa siswa yang pembelajarannya menggunakan pendekatan berbasis masalah peningkatan kemampuan koneksi matematikanya lebih baik daripada siswa yang pembelajarannya secara biasa.
3. KESIMPULAN
Kemampuan koneksi matematika adalah kemampuan memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah.Meningkatkan kemampuan koneksi mateematik dalam pembelajaran matematika merupakan salah satu kompetensi yang dituntut dalam pembelajaran Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Salah satu faktor yang mempengaruhi peningkatan kemampuan koneksi matematika adalah pendekatan pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran di kelas. Pembelajaran berbasis masalah adalah salah satu alternatif yang bisa dipilih, karena dapat membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan ketrampilan intelektual, belajar berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi dan menjadi pebelajar yang otonomi dan mandiri.
DAFTAR PUSTAKA
BSNP, (2006).Panduan Pengembangan Silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: CV. Laksana Mandiri.
Lestari, P.(2009). Peningkatan Kemampuan Pemahaman dan Koneksi Matematis Siswa SMK
Melalui Pendekatan Pembelajaran Kontekstual.Tesis Pascasarjana UPI Bandung: tidak
diterbitkan.
Permana, Y. (2009).Mengembangkan kemampuan Penalaran dan Koneksi Matematika Siswa SMA
Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah.Disertai Pascasarjana UPI Bandung: TIdak
diterbitkan.
Ruspiani.(2000).Kemampuan Siswa dalam Melakukan Koneksi Matematik.Tidak diterbitkan. Sumarmo,U. (2002).Pengukuran dan Evaluasi dalam Pendidikan. Makalah Bandung: UPI. Sumarmo,U.(2010).Evaluasi Dalam Pengembangan Matematika. Bandung: STKIP SILIWANGI.
Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika ProgramPasca Sarjana STKIP Siliwangi Bandung 165