Berkaca dari banyaknya fenomena yang menunjukkan kesulitan pemerintah kabinet terdahulu dalam mengelola pendidikan seperti tampak pada pendanaan pendidikan dasar menengah dan privatisasi perguruan tinggi dalam kesenjangan antara tanggung jawab dan kekuasaan negara, kekuatan pasar makin mengakar dan dalam 20 tahun ke depan akan makin mengubah wajah pendidikan nasional.
Terjepit di antara tiga poros kekuatan era globalisasi (negara-pasar-masyarakat), lembaga-lembaga pendidikan menghadapi tantangan terberat yakni memfasilitasi suatu proses pertumbuhan bagi setiap insan yang terlibat di dalamnya (baik peserta didik, guru, pimpinan dan pengelola). Jika sekolah-sekolah ingin membenahi diri dan meningkatkan mutu dalam pusaran ketiga poros kekuatan ini, pengelola dan pimpinan sekolah perlu membidik dengan tepat dan bijak porsi dan peran masing-masing poros kekuatan.
Kekuatan negara yang dijalankan oleh pemerintah baik pusat maupun daerah melalui Dinas Pendidikan di daerah dan juga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah menyentuh pengelolaan dan penyelenggaraan sekolah melalui regulasi, kebijakan pendidikan dan anggaran. Regulasi dan kebijakan pendidikan dituangkan dalam bentuk undang-undang, peraturan pemerintah, peraturan menteri, dan peraturan daerah. Regulasi dan kebijakan pendidikan mengatur mulai dari standarisasi pendidikan, pembiayaan, pendidikan dan sertifikasi guru, kurikulum sampai dengan sarana dan prasarana pendidikan. Selanjutnya, negara juga mengatur pendidikan melalui kekuasaannya dalam merancang dan melaksanakan anggaran (baik di tingkat nasional maupun daerah). Secara positif, kekuatan negara dibutuhkan karena beberapa alasan. Pertama, pendidikan merupakan bagian dari hak asasi manusia. Maka dari itu, negara perlu memberi kepastian dan pertanggung-jawaban atas pemberian layanan dasar pendidikan bagi semua warganya. Melalui anggaran, negara dapat memastikan standar layanan publik pendidikan bisa dipenuhi secara merata di seluruh
Indonesia. Kedua, koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah seharusnya bisa memenuhi standarisasi layanan dasar pendidikan dan mengatasi kesenjangan dalam pendidikan di Indonesia. Akhirnya, persekolahan masih menjadi salah satu perangkat untuk membangun kebersamaan sebagai suatu bangsa. Kekuatan negara dalam bentuk kebijakan kurikulum, pendidikan guru, dan evaluasi pendidikan menjadi perangkat untuk membentuk nasionalisme secara sistematis dari satu generasi ke generasi selanjutnya, dari satu pulau ke pulau lainnya. Sebaliknya, secara negatif, kekuatan negara yang berlebihan akan bersifat hegemonik dan mereduksi esensi pendidikan. Ruang-ruang kreatif yang seharusnya dipelihara dalam bidang pendidikan bisa menyempit dan menghilang.
Kekuatan pasar yang mulai merambah dunia pendidikan muncul dalam bentuk sumber-sumber daya yang dimiliki termasuk di antaranya modal dan jejaring ekonomis. Lembaga-lembaga pendidikan juga masuk dalam pusaran kompetisi pasar. Secara positif, kompetisi pasar antar lembaga pendidikan akan membawa kesadaran mengenai kebutuhan untuk meningkatkan mutu layanan pendidikan. Para pengelola dan pengurus harus mengubah paradigma pengelolaan sekolah sebagai suatu layanan pendidikan. Namun di balik kekuatan pasar yang mendorong kompetisi dalam pendidikan demi perbaikan mutu, prinsip-prinsip ekonomi pasar bebas tidak sesuai untuk sistem pendidikan karena secara prinsip, pendidikan bermutu adalah salah satu hak dasar anak yang harus dipenuhi dan negara berkewajiban menjamin pemenuhan hak ini bagi semua anak tanpa terkecuali.
Sejajar dengan kekuatan negara dan pasar, seharusnya kekuatan masyarakat menjadi salah satu penopang proses demokratisasi suatu bangsa melalui pendidikan. Kekuatan masyarakat bisa menjadi penyeimbang dalam interaksi antar warga dalam ruang publik yang salah satunya adalah pendidikan. Pendidikan terlalu penting untuk diserahkan kepada pemerintah saja atau dibiarkan bergulir dalam arus pasar. Secara historis, pendidikan dimulai oleh masyarakat untuk kebaikan masyarakat itu sendiri. Maka dari itu, peran masyarakat dalam kemajuan pendidikan sangat penting dan perlu terus ditingkatkan agar
menjadi sejajar dengan peran negara dan pasar. Masyarakat bisa memberikan kontribusi berupa sumber-sumber daya berupa dana, jejaring, keterkaitan budaya, dan kearifan lokal masyarakat setempat. Namun sayangnya, masyarakat yang diharapkan bisa menjadi kekuatan penyeimbang bagi kecenderungan hegemonik negara dan kecenderungan eksploitatif pasar masih sangat lemah dan terjebak dalam kemiskinan struktural.
Peran korporasi dalam pembiayaan pendidikan baik berupa sumbangan langsung kepada institusi pendidikan maupun program-program seperti beasiswa (beswan), penelitian, pelatihan dan pengembangan tenaga pendidik dan kependidikan merupakan salah satu bentuk tanggung jawab sosial korporasi (Corporate Social Responsibility – CSR). Peran korporasi ini memberikan beberapa kontribusi terhadap dunia pendidikan. Pertama, sumbangan dana dari korporasi memang dibutuhkan karena anggaran dari pemerintah belum mencukupi kebutuhan sementara masyarakat masih terjebak dalam kemiskinan. Misalnya, program beasiswa sangat membantu mahasiswa yang berasal dari keluarga tidak mampu dan memungkinkan mereka untuk mengubah kelas sosial dan ekonomi melalui akses pendidikan. Kedua, program-program yang disponsori korporasi juga memberikan peluang bagi insan-insan pendidikan untuk keluar dari menara gading dan mengenal dunia kerja dan industri karena beberapa korporasi memberikan pelatihan oleh para praktisi kepada para peserta program selain pengenalan berupa kunjungan ke perusahaan atau presentasi korporasi. Pelatihan ini membekali peserta program dengan soft skills yang tidak banyak dikelola di perguruan tinggi. Ketiga, peran korporasi bisa menjadi penyeimbang kekuatan negara dalam penyelenggaraan pendidikan dan pendukung masyarakat yang secara umum masih belum berdaya dan terpinggirkan dari akses pendidikan.
Sebaliknya, peran korporasi hendaknya tidak menjadikan lembaga-lembaga pendidikan atau peserta program kehilangan otonomi dan sikap kritisnya. Program-program tanggung jawab sosial seharusnya dilaksanakan bukan demi kepentingan perusahaan semata melainkan demi kemaslahatan publik. Program-program
pengembangan masyarakat seharusnya tidak dilakukan hanya untuk mendapatkan simpati dan membangun citra positif terhadap korporasi melainkan menjadi bagian dari visi dan tujuan bisnis yang lebih manusiawi. Program tanggung jawab sosial merupakan upaya untuk memberikan kembali kepada masyarakat apa yang sudah didapatkan dan menjadi keuntungan bisnis untuk membangun masyarakat tersebut. Pada akhirnya, masyarakat yang sudah makin cerdas dan berdaya (melalui pendidikan) akan menjadi mitra yang lebih seimbang dan menguntungkan korporasi itu sendiri.