Selama dekade terakhir, perlombaan teknologi di dunia pendidikan telah mencapai puncaknya dan berubah menjadi suatu wabah yang menyebarluas. Banyak sekolah telah mengikuti tren populer ini dengan menempatkan seperangkat komputer dan proyektor LCD (Liquid Crystal Display) di setiap ruang kelas. Bukan buku-buku pegangan mata pelajaran, spidol, dan sebuah map tebal yang berisi kertas transparan untuk presentasi dengan OHP (Overhead Projector), para guru sekarang membawa USB stickuntuk mengajar. Pelajaran sekarang disampaikan dengan menggunakan tampilan-tampilan presentasi PowerPoint. Seperti yang diindikasikan oleh namanya, proses-proses pembelajaran dituangkan dalam frasa-frasa yang ditampilkan dalam poin-poin atau bullets.
Kotak Pandora sekarang telah terbuka dengan semua keajaiban dan perangkapnya. Teknologi internet telah mempermudah para guru dalam menyiapkan materi-materi dengan kecanggihan visual dan efek-efek suara. Teks, gambar, dan film dapat diunduh dalam hitungan detik dan siap untuk digunakan di dalam kelas. Dalam hiruk-pikuk teknologi ini, sebuah pertanyaan muncul, “Bagaimana cara teknologi meningkatkan pembelajaran peserta didik?” Sebelum wabah ini menyebarluas tak terkendali di Indonesia, pertanyaan ini harus dijawab terlebih dulu.
“Akar permasalahan dari PowerPoint presentation adalah bukan pada kata ‘power’ atau ‘point’, namun pada ‘presentation ’-nya” kata Marc Isseks dalam artikelnya yang berjudul “How PowerPoint is Killing Education” (Bagaimana PowerPoint Membunuh Pendidikan). Ketika para guru mereduksi isi kurikulum menjadi poin-poin dalam bullets, pembelajaran peserta didik dikorbankan. Terdapat tiga masalah yang muncul dalam perlombaan teknologi di antara para pendidik ini.
Pertama, euforia dalam menggunakan teknologi di praktik-praktik pengajaran telah direduksi menjadi presentasi-presentasi
PowerPoint dalam menyampaikan pelajaran-pelajaran. Para guru terperangkap dalam khayalan-pencitraan-diri menjadi seorang yang
19Artikel ini pernah dimuat di The Jakarta Post pada 9 April 2011 dengan judul asli “Bulletization of Education”
melek teknologi di depan murid-murid mereka. Beberapa guru bahkan lebih disibukkan dengan menghiasi PowerPoint mereka dengan efek-efek multimedia yang sebenarnya bersifat mengganggu ketimbang menyibukkan diri dengan menjamin bahan ajar sesuai dengan kualitas yang diharapkan dalam isi kurikulum
Kedua, melalui presentasi-presentasi PowerPoint, para guru menjadikan diri mereka sebagai model-model dari pembelajaran yang buruk. Pemikiran-pemikiran direduksi menjadi fragmen-fragmen – frasa dan klausa – sehingga para peserta didik jarang mempunyai kesempatan untuk membaca model-model kalimat utuh yang ditampilkan pada tiap slide. Lebih buruk lagi, ketika (dan jika) para peserta didik sendiri berkesempatan membuka internet, mereka cepat atau lambat akan menemukan bahwa banyak dari para guru mereka hanya salin-tempel (copy-paste) materi-materi mereka dari internet. Para peserta didik, juga, pada akhirnya akan mencontoh kebasaan-kebiasaan para guru ini. Plagiarisme kemudian menjadi dasar penggunaan teknologi di sekolah-sekolah. Berdasarkan pengalaman pribadi saya sebagai seorang guru, para peserta didik sangat bagus dalam memoles keterampilan-keterampilan presentasi mereka untuk mendapatkan poin yang baik untuk karya mereka. Jika para guru tidak memiliki sebuah fokus yang jelas, mereka akan dengan mudah dibelokkan oleh format presentasi itu beserta dengan segala variasi multimedia-nya sendiri ketimbang substansi-nya.
Ketiga, presentasi sejatinya adalah bersifat satu arah. Ketika para guru melakukan presentasi, para peserta didik duduk dengan tenang dan disuguhi materi-materi secara pasif. Interaksi guru-murid dan murid-murid dikacaukan ketika para guru menggunakan teknologi dengan tidak bijaksana. Layar-layar LCD tidak jauh berbeda dengan papan tulis konvensional. Terlepas dari keprihatinan-keprihatinan yang muncul, adalah tidak bijak untuk ikut membuang sesuatu hal yang baik ketika ingin membuang hal yang buruk. Teknologi tentu saja memiliki hal-hal baik yang seharusnya dikombinasikan dalam proses belajar mengajar. Untuk mengatasi penyalahgunaan teknologi dalam praktik-praktik pendidikan, saya menyarankan solusi-solusi berikut ini.
Program pengembangan profesionalisme seharusnya menjadwalkan sesi-sesi tentang penggunaan teknologi. Para guru seharusnya belajar tidak hanya masalah teknis dalam menggunakan teknologi informasi dan keterampilan-keterampilan dalam menggunakannya tetapi yang lebih penting adalah alasan di balik penggunaan teknologi tersebut. Sebelum sekolah-sekolah memutuskan untuk menghiasi kelas-kelas mereka dengan komputer dan LCD, mereka seharusnya terlebih dulu menilai kapasitas guru mereka dan turut berpartisipasi aktif dalam pengembangan profesionalisme yang berkelanjutan. Sebagian dari penghargaan atas kinerja guru kemudian dapat diperhitungkan dengan penguasaan teknologi informasi sebagai faktor tambahan. Seorang guru yang sangat terampil, kompeten dan efektif dalam menggunakan komputer dan internet sebagai sebuah alat untuk meningkatkan pembelajaran dan membuat dampak yang baik bagi kehidupan para peserta didik ketimbang sebagai tameng untuk menutup-nutupi ketidak-mampuannya untuk menarik hati dan pikiran peserta didik dalam proses belajar mengajar.
Akibatnya, sesi-sesi dalam penggunaan teknologi dan alasan di baliknya seharusnya juga diberikan kepada para pengawas sekolah. Sebuah langkah awal untuk perkembangan guru yang efektif adalah dengan menetapkan ekspektasi-ekspektasi yang jelas. Beberapa yang termasuk di dalamnya adalah penggunaan teknologi yang sesuai untuk meningkatkan pembelajaran di sekolah-sekolah. Ketika melakukan observasi sekolah, para pengawas sekolah dan pejabat sekolah seyogyanya tidak dengan mudah terkesan dengan
PowerPoint slides yang berwarna-warni dengan efek-efek suara dan visual yang mutakhir tetapi seharusnya lebih fokus kepada esensi-esensi pembelajaran seperti tugas-tugas sekolah yang diberikan, interaksi, komunikasi, pemikiran kritis, dan keterampilan-keterampilan memecahkan masalah dan kreativitas. Lebih jauh, monitoring kinerja guru dapat juga secara sebagian dilaksanakan oleh para peserta didik di tingkat SMA. Mengikutsertakan para murid dalam mengevaluasi para guru mereka dapat menjadi sebuah proses pembelajaran tentang kemandirian dan menempatkan para murid sebagai subjek-subjek pembelajaran.
pelayan yang baik tetapi seorang tuan yang kurang baik”. Oleh sebab itu, tetap berfokus dengan tepat pada orang dan bukan pada teknologi – akan membantu sekolah-sekolah mengintegrasikan teknologi informasi dengan lancar dan menggunakan kemajuan-kemajuan teknologi untuk meningkatkan pembelajaran peserta didik. Seperti halnya dengan alat lain, PowerPoint akan menjadi usang suatu hari nanti dan dapat digantikan dengan beberapa produk lain. Tidaklah begitu penting seberapa mutakhir dan rumitnya sebuah alat. Marilah kita tidak dibingungkan mengenai penggunaan sebuah alat karena hal yang lebih penting adalah tujuan dan isi yang disampaikan melalui penggunaan alat tersebut.