Pascaruntuhnya rezim Soeharto pada 1998, kehidupan politik, ekonomi, dan hukum di Indonesia mengalami perubahan, dari model diktator menjadi model yang lebih demokratis. Salah satu hal yang menjadi indikator adalah munculnya kekuatan nyata check and balances dalam politik kekuasaan negara (Wiratraman, 2007, 22). Perkembangan prinsip check and balances di Indonesia tidak terlepas dari amandemen yang dilakukan terhadap UUD 1945.
Ada perubahan struktur ketatanegaraan yang terjadi, yaitu penyetaraan semua lembaga negara tanpa ada lembaga tertinggi negara serta pembagian kekuasaan antarlembaga negara yang lebih tegas. Perubahan struktur itu menjadi simbol perwujudan prinsip check and balances dalam pelaksanaan sistem ketatanegaraan di Indonesia (Fadjar, 2006, 49). Prinsip itu tercermin dari perubahan Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 yang semula menjadikan MPR sebagai lembaga tertinggi dalam menjalankan kedaulatan rakyat, kemudian diubah menjadi kedaulatan rakyat dilaksanakan berdasar pada UUD 1945. Dengan demikian, UUD 1945 menjadi pedoman pelaksanaan sistem ketatanegaraan di Indonesia, terutama terkait pengaturan fungsi dan wewenang lembaga negara dalam wilayah kekuasaan masing-masing.
Lebih dari sepuluh tahun berjalan, prinsip check and balances masih menjadi prinsip yang penting dalam pelaksanaan sistem ketatanegaraan di Indonesia. Dalam praktiknya, pelaksanaan prinsip check and balances menyebabkan adanya hubungan atau relasi, baik langsung maupun tidak langsung, antara dua lembaga negara atau lebih pada saat menjalankan fungsi dan kewenangan masing-masing. Salah satu bentuk relasi yang tercipta adalah antara MK dan DPR. Bentuk nyata dari adanya relasi antara MK dan DPR adalah pelaksanaan wewenang uji materi suatu UU (judicial review) di MK dan pembentukan UU di DPR.
Judicial Review Bukan Hanya Alat Gertak
Pasal 24 C ayat (1) UUD 1945 memberikan wewenang kepada MK untuk mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji UU terhadap UUD 1945. Dengan wewenang itu, MK berfungsi sebagai lembaga negara yang menjaga seluruh kegiatan ketatanegaraan di Indonesia agar memiliki napas dan semangat yang sejalan dengan konstitusi.
Melihat dari dampak yang dihasilkan, putusan MK dari proses judicial review terbagi menjadi dua jenis, yaitu putusan yang bersifat declaratoir dan constitutif.
Putusan declaratoir adalah putusan yang menyatakan atau menegaskan apa yang menjadi hukum. Putusan itu terjadi apabila MK menyatakan permohonan judicial review tidak dapat diterima atau permohonan ditolak. Sementara itu, putusan constitutif adalah putusan yang meniadakan atau menghasilkan suatu keadaan hukum baru. Putusan itu terjadi apabila MK mengabulkan permohonan judicial review23 (Sholikin dkk, 2007, 24). Dari dua jenis putusan itu tergambar bahwa MK memiliki fungsi untuk melakukan koreksi terhadap UU yang dihasilkan dari proses legislasi oleh DPR. Di situlah letak check and balances antara MK dan DPR terjadi.
Sejak awal berdirinya sampai Januari 2011, MK sudah mengeluarkan 61 putusan terkait pengujian UU terhadap UUD 1945. Dari jumlah itu, hanya 17 perkara yang permohonanya dikabulkan, 23 lainnya ditolak, 16 tidak diterima, dan 5 ditarik kembali.
Diagram 8 Putusan MK per 20 Januari 2011
Dari 61 putusan pada 2010, ada dua putusan MK yang berpengaruh langsung terhadap mekanisme interal di DPR, yaitu Putusan Perkara No. 152/PUU-VII/2009 dan Putusan Perkara No. 23-26/PUU-VIII/2010. Kedua putusan itu sama-sama merupakan hasil judicial review terhadap UU No. 27 Tahun 2009 (UU MD3). Selain itu, kedua Putusan Perkara itu juga sama-sama dimohonkan oleh Anggota DPR.
Namun, dari segi substansi, putusan keduanya berbeda; satu putusan dinyatakan ditolak dan satu putusan lainnya dikabulkan.
1. Pemberhentian Sementara bagi Wakil Rakyat
Perkara No. 152/PUU-VII/2009 diajukan oleh Achmad Dimyati Natakusumah, yang merupakan Anggota DPR periode 2009—2014. Proses judicial review, yang dipimpin oleh Hakim Arsyad Sanusi, memakan waktu hampir 11 bulan, yaitu mulai dimohonkan pada 14 Desember 2009 dan diputus pada 15 Oktober 2010.
Pengajuan permohonan perkara dilatarbelakangi oleh status Achmad Dimyati Natakusumah yang ditetapkan sebagai terdakwa di Pengadilan Negeri Pandeglang. Ia diduga terlibat kasus korupsi penggunaan dana pinjaman daerah sebesar Rp200 miliar dari Bank Jabar pada 2006. Dengan statusnya sebagai
23 Dalam konteks Putusan judicial review menyatakan materi muatan dari undang-undang, baik ayat, pasal, maupun keseluruhan UU, bertentangan dengan UUD, materi muatan itu tidak memiliki kekuatan hukum mengikat (Pasal 57 ayat (1) dan (2) UU MK).
dikabulkan 28%
ditolak 38%
8dak diterima 26%
ditarik kembali 8%
terdakwa, pemohon terancam diberhentikan sementara dari jabatannya sebagai Anggota DPR sesuai dengan ketentuan Pasal 219 ayat (1) UU MD3.
Dari segi substansi, Perkara No. 152/PUU-VII/2009 menguji Pasal 219 Ayat (1) UU MD3 terhadap UUD 1945. Pasal 219 ayat (1) UU MD3 mengatur perihal
“pemberhentian sementara” bagi Anggota DPR. Pemohon beranggapan bahwa pasal itu bertentangan dengan Pasal 22 B dan 22 D UUD 1945 yang hanya mengenal istilah “pemberhentian” bagi Anggota DPR dan DPD dan tidak mengenal istilah
“pemberhentian sementara”. Selain itu, pemohon juga beranggapan bahwa status
“pemberhentian sementara” berpotensi merugikan hak konsitusional Anggota DPR dalam menjalankan tugasnya, mengingat proses peradilan yang berjalan sangat panjang dan memakan waktu lama. Dengan kondisi itu, pemohon menambahkan, pengaturan “pemberhentian sementara” juga bertentangan dengan Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 28 D ayat (1) UUD 1945 yang mengatur kesamaan kedudukan warga negara di hadapan hukum.
MK menyebutkan pengaturan terkait “pemberhentian sementara” diperlukan untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap jabatan-jabatan publik, termasuk Anggota DPR. Selain itu, pemberlakuan “pemberhentian sementara”
dilakukan untuk memberikan persyaratan agar pejabat publik benar-benar bersih, berwibawa, jujur, dan mempunyai integritas moral yang tinggi. Perihal potensi ketidakadilan terhadap warga negara yang ditimbulkan oleh pengaturan
“pemberhentian sementara”, MK berpendapat ketidakadilan justru muncul ketika Anggota DPR yang berstatus sebagai terdakwa dan harus menjalankan proses hukum tetap melaksanakan kewajiban maupun hak konstitusionalnya. Selain itu, pemberlakuan pemberhentian sementara akan memperlancar proses hukum yang sedang berjalan.
Dari argumen tersebut, MK memutuskan dalam amar putusannya bahwa permohonan ditolak untuk keseluruhan. Dengan ditolaknya permohonan itu, tidak ada materi muatan dari UU MD3 yang dinyatakan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat.
Walaupun Putusan MK tersebut tidak mengubah UU MD3, tetap ada dampak terhadap mekanisme internal di DPR. Adanya Putusan MK itu menjadi penegasan bahwa mekanisme “pemberhentian sementara” bagi Anggota DPR adalah sah menurut konstitusi dan perihal “pemberhentian sementara” dalam UU MD3 tidak bisa dimohonkan untuk di judicial review kembali (Pasal 60 UU MK). Hal itu penting mengingat jabatan sebagai Anggota DPR termasuk sebagai jabatan publik, rentan tersangkut masalah hukum, terutama terkait kasus korupsi. Dengan begitu, pelaksanaan amanat sebagai wakil rakyat tidak akan terganggu dengan kepentingan pribadi sang wakil rakyat ketika sedang menjalankan proses hukum.
Selain internal DPR, Putusan mengenai “pemberhentian sementara” bagi Anggota DPR pun berdampak secara tidak langsung terhadap lembaga negara lain.
Alasannya adalah pengaturan mengenai “pemberhentian sementara” tidak hanya diatur dalam UU MD3, yang menjadikan DPR, MPR, DPD, dan DPRD sebagai objek pengaturannya. Lembaga negara lain, seperti KY dan bahkan MK sendiri, memiliki pengaturan mengenai “pemberhentian sementara” bagi Anggota dalam UU yang
mengaturnya secara kelembagaan24. Setidaknya, Putusan MK itu dapat menjadi patokan dalam pengaturan hal yang sama dalam UU lain.
2. Salah Tafsir Hak Menyatakan Pendapat
Putusan Perkara No. 23-26/PUU-VIII/2010 merupakan gabungan putusan dari dua permohonan perkara, yaitu perkara No. 23/PUU-VIII/2010 dan perkara No. 26/PUU-VIII/2010. Kedua permohonan itu menguji pasal yang sama, yaitu Pasal 184 ayat (4) UU MD3 yang mengatur tentang hak menyatakan pendapat di DPR. Pemohon dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu pemohon yang berasal dari Anggota DPR dan pemohon dari kalangan masyarakat yang merupakan para konstituen Anggota DPR.
Dalam putusannya, MK menyatakan bahwa ketentuan dalam Pasal 184 ayat (4) UU MD3 bertentangan dengan UUD 1945. Pada argumentasi putusannya, MK mengatakan bahwa sebenarnya hak menyatakan pendapat dalam UUD 1945 terbagi menjadi dua macam. Pertama, Pasal 7 B ayat (3) jo. Pasal 7 B ayat (2) berkaitan dengan hak menyatakan pendapat mengenai dugaan presiden dan/atau wakil presiden melakukan pelanggaran hukum, baik pengkhianatan terhadap negara, korupsi, penyuapan, tindak pidana berat lain, maupun perbuatan tercela, dan/atau presiden dan/atau wakil presiden tidak lagi memenuhi syarat sebagai presiden dan/atau wakil presiden. Kedua, Pasal 20 A ayat (2) berkaitan dengan hal lain selain yang telah diatur dalam Pasal 7 B ayat (2).
Hak menyatakan pendapat yang diatur dalam Pasal 20 A ayat (2) diberikan kewenangan delegasi untuk diatur lebih lanjut dalam suatu UU (Pasal 20 A ayat (4)).
Namun, hal itu tidak terjadi dalam hak menyatakan pendapat yang diatur dalam Pasal 7 A ayat (3). Dengan kata lain, pengaturan dalam Pasal 7 A ayat (3) bersifat limitatif pada ketentuan dalam UUD 1945.
Argumentasi MK di atas tidak tercermin dalam pengaturan Pasal 184 ayat (4) UU MD3. Dalam pasal itu, pengaturan terkait hak menyatakan pendapat tidak dibedakan. Dengan demikian, mekanisme untuk mengajukannya pun disamakan.
Selain itu, ketentuan pengajuan hak menyatakan pendapat dalam UU MD3 lebih berat dibandingkan ketentuan dalam Pasal 7 A ayat (3) UUD 1945. Hal itulah yang menjadi dasar bagi MK untuk mengeluarkan putusan mengabulkan permohonan judicial review terhadap Pasal 184 ayat (4) UU MD3.
Putusan MK yang mengabulkan permohonan perkara menimbulkan akibat hukum, yaitu Pasal 184 ayat (4) UU MD3 menjadi tidak memiliki kekuatan hukum mengikat. Dampak terbesar dari adanya pasal yang “dihilangkan” oleh Putusan MK adalah terjadinya kekosongan hukum sehingga perlu segera dibentuk produk hukum baru untuk menggantikannya. Namun, dalam Putusan perkara No. No. 23-26/PUU-VIII/2010, MK sudah mengantisipasinya. MK sadar betul bahwa apabila terjadi kekosongan hukum yang diakibatkan karena Putusannya akan menciptakan permasalahan baru. Oleh karena itu, MK menegaskan dalam Putusannya bahwa ketentuan persyaratan pengambilan keputusan mengenai “usul” penggunaan hak menyatakan pendapat berlaku ketentuan mayoritas sederhana. Walaupun demikian, selanjutnya DPR bersama presiden tetap harus melakukan revisi terhadap UU MD3
24Untuk KY diatur dalam Pasal 34, 35, dan 36 UU No. 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial (UU KY), sedangkan MK diatur dalam Pasal 24 dan 25 UU MK.
untuk mengakomodir Putusan MK itu, mengingat wewenang legislasi berada di tangan DPR bersama presiden.
Dampak lain yang muncul dari Putusan MK tersebut adalah adanya kondisi hukum baru yang tercipta, yaitu menjadi lebih mudahnya Anggota DPR yang ingin mengajukan hak menyatakan pendapat. Dalam hal itu, banyak Anggota DPR yang mengaitkannya dengan proses pemakzulan presiden dan/atau wakil presiden (kompas.com, 14 Januari 2011). Namun, apabila ditinjau lebih dalam, kemudahan yang didapat dari Putusan MK hanya sebagian kecil dari keseluruhan proses pemakzulan yang diatur dalam UUD 1945. Setelah pengajuan hak menyatakan pendapat dari DPR, proses pemakzulan masih harus melalui dua proses selanjutnya, yaitu proses hukum di MK (Pasal 7 Bayat (4) UUD 1945) dan proses politik di MPR (Pasal 7 B ayat (6) UUD 1945).
Selain itu, hak mengajukan pendapat harus didasari bukti-bukti yang kuat dan tidak hanya menjadi alat ‘gertak” terhadap lawan politik atau terlebih hanya untuk pencitraan kepada masyarakat. Jadi, sebaiknya, Anggota DPR fokus memanfaatkan peluang yang dibuka melalui Putusan MK untuk mengadvokasikan hal-hal yang berkaitan langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat.
Penerjemah Tunggal Konstitusi
Selain judicial review, proses lain yang mencerminkan adanya relasi antara MK dan DPR sekaligus bentuk dari perwujudan prinsip check and balances adalah pelaksanaan fungsi legislasi oleh DPR. Pada dasarnya, proses legislasi adalah proses pembentukan UU oleh DPR bersama presiden. Selain membentuk UU baru, proses legislasi juga dapat merevisi UU yang sudah ada.
Pembentukan suatu UU harus berdasarkan perencanaan yang telah dilakukan sebelumnya dalam Prolegnas (Pasal 15 ayat (1) UU No. 10 Tahun 2004).
Namun, dalam keadaan tertentu, pembentukan suatu UU juga dimungkinkan berasal dari luar Prolegnas (Pasal 3 ayat (1) Peraturan Presiden No. 68 Tahun 2005 tentang Tata Cara Mempersiapkan Rancangan Undang-undang, Rancangan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang, Rancangan Peraturan Pemerintah, dan Rancangan Peraturan Presiden). “Keadaan tertentu” yang dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) di atas, salah satunya, adalah dalam rangka melaksanakan Putusan MK (Pasal 3 ayat (2) Perpres No. 68 Tahun. 2005). Secara teknis, RUU yang tidak berasal dari Prolegnas biasa dikenal dengan RUU Kumulatif Terbuka.
Pada 2010, ada satu UU dan dua RUU yang menarik untuk diperhatikan sebagai bentuk dari adanya relasi antara MK dan DPR. Prinsip check and balances juga tercermin di dalamnya. UU yang dimaksud adalah UU No. 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan. Dua RUU itu adalah RUU tentang Tata Kelola Perguruan Tinggi dan RUU Revisi UU MK.
1. Interpretasi MK dalam UU No. 9 Tahun 2010 tentang Keprotokolan
UU No. 9 Tahun 2010 merupakan revisi dari UU No. 8 Tahun 1987 tentang Protokol. Secara garis besar, UU No. 9 Tahun 2010 mengatur tentang pemenuhan hak protokoler yang dimiliki oleh pejabat negara. Dalam Pasal 1 angka 7, Pejabat Negara didefinisikan sebagai “pimpinan dan anggota lembaga negara sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan Pejabat Negara yang secara tegas ditentukan dalam Undang-Undang”.
Salah satu pejabat negara yang masuk dalam pengaturan UU No. 9 Tahun 2010 adalah Ketua Badan Penyelenggara Pemilihan Umum yang diatur dalam Pasal 9 huruf m. Dalam bagian penjelasan ketentuan itu, disebutkan bahwa “yang dimaksud dengan Badan Penyelenggara Pemilihan Umum adalah Komisi Pemilihan Umum dan Badan Pengawasa Pemilihan Umum”. Ketentuan itulah yang dipengaruhi oleh Putusan MK dari proses judicial review, yaitu Putusan Perkara No.
11/PUU-VIII/2010.
Putusan MK tersebut berasal dari proses judicial review yang dilakukan terhadap beberapa pasal dalam UU No. 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum terhadap UUD 1945. Dalam salah satu argumentasinya, pada bagian “Pendapat Mahkamah”, disebutkan bahwa pemaknaan kalimat “satu komisi pemilihan nasional” pada Pasal 22 E ayat (5) UUD 1945 tidak merujuk kepada sebuah nama institusi. Akan tetapi, pemaknaan itu menunjuk pada fungsi penyelenggaraan pemilihan umum yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri. Jadi, menurut MK, fungsi penyelenggaraan pemilihan umum tidak hanya dilaksanakan oleh KPU, tetapi juga Bawaslu sebagai satu kesatuan fungsi penyelenggaraan pemilihan umum yang bersifat nasional, tetap, dan mandiri.
Penerapan intepretasi MK terhadap salah satu pasal dalam UUD 1945 dalam UU mencerminkan satu mekanisme check and balances yang baik. Setiap lembaga negara (dalam hal ini MK dan DPR) menjalankan fungsi dan wewenangnya masing-masing, tetapi tidak terpisah satu sama lain. Dengan demikian, produk hukum yang dibentuk pun tidak menimbulkan pemahaman yang berbeda.
Apabila diperhatikan lebih lanjut, Putusan Perkara No. 11/PUU-VIII/2010 bukanlah berasal dari proses judicial review terhadap UU yang mengatur mengenai keprotokolan. Pemakaian intrepretasi dari Putusan MK diapakai karena ada persamaan konteks materi muatan yang diatur, walaupun dalam UU yang berbeda.
Praktik itu merupakan satu preseden yang positif dalam proses legislasi, mengingat MK adalah “penerjemah” tunggal konstitusi dalam struktur ketatanegaraan Indonesia. Jadi, Putusannya harus dijadikan dasar bagi setiap UU yang dibentuk agar selaras dengan UUD 1945.
2. Kekosongan Payung Hukum Tata Kelola Pendidikan Tinggi Pasca-Putusan MK Rabu, 31 Maret 2010 menjadi babak baru dalam tata kelola Perguruan Tinggi.
Pada hari itu, MK membacakan Putusan Perkara No. 11-14-21-126 dan 136/PUU-VII/2009 terkait dengan judicial review UU No. 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan. Selain itu, Putusan itu juga menguji Pasal 53 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal itu menjadi dasar hukum dari pembentukan UU No. 9 Tahun 2009.
MK memutuskan Pasal 53 UU No. 20 Tahun 2003 bertentangan dengan UUD 1945 yang kemudian berdampak pada tidak adanya dasar hukum pembentukan UU No. 9 Tahun 2009. MK pun menyatakan bahwa UU No. 9 Tahun 2009 secara keseluruhan bertentangan dengan UUD 1945 dan menyatakan tidak memiliki kekuatan hukum mengikat.
Salah satu materi muatan dari UU No. 9 Tahun 2009 adalah tata kelola perguruan tinggi. Putusan MK yang menyatakan UU itu tidak memiliki kekuatan hukum mengikat menyebabkan terjadi kekosongan hukum dalam pengelolaan
perguruan tinggi dan penentuan bentuk badan hukum yang harus digunakan bagi lembaga pendidikan swasta dan masyarakat.
Respons terhadap Putusan MK didahului oleh pemerintah dengan dibentuknya Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2010 (PP No. 66 Tahun 2010) tentang Perubahan terhadap PP No. 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan. Hal itu terlihat dari konsiderans menimbang pada PP No. 66 Tahun 2010 yang mencantumkan Putusan MK No. 11-14-21-126 dan 136/PUU-VII/2009 sebagai landasan yuridis pembentukan PP. Respons itu dilakukan untuk menunggu pembentukan UU yang memakan waktu tidak sebentar. Padahal, kegiatan pengelolaan pendidikan, terutama pendidikan tinggi, harus terus berjalan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa PP No. 66 Tahun 2010 dibentuk untuk menyelamatkan pengelolaan perguruan tinggi yang sedang berjalan.
Setelah diberlakukannya PP No. 66 Tahun 2010, DPR mulai berencana membentuk payung hukum berupa UU tentang Tata Kelola Pendidikan Tinggi.
Upaya itu terlihat dalam Prolegnas Tahun Sidang 2010/2011 yang mencantumkan RUU tentang Tata Kelola Perguruan Tinggi, yang masuk dalam RUU Kumulatif terbuka karena dibentuk untuk menindaklanjuti Putusan MK. RUU itu disusun untuk menjadi payung hukum pengelolaan perguruan tinggi.
Rencana untuk membentuk UU tentang Tata Kelola Pendidikan sebenarnya sudah terlihat sesaat setelah Putusan MK dikeluarkan. Pada awal April 2010, perwakilan Komisi X DPR, Rully Chairul Azwar, mengunjungi MK untuk meminta penjelasan mengenai Putusan MK tersebut kepada para Hakim Konstitusi.
Kunjungan Anggota DPR itu langsung diterima oleh Ketua MK, Mahfud MD (hukumonline.com, diakses pada 8 Januari 2011). Kunjungan itu dimaksudkan untuk meminta penjelasan langsung dari para Hakim MK terkait Putusannya. Pertemuan antara Anggota DPR dan Hakim Konstitusi itu memiliki nilai posisti karena menjadikan Anggota DPR—sebagai pembentuk UU—lebih mengerti substansi persoalan undang-undang yang akan dibentuknya.
Namun, pertemuan tersebut juga berpotensi menimbulkan dampak negatif, yaitu terciptanya perang kepentingan (conflict of interest) dari para Hakim MK.
Perang kepentingan itu akan muncul ketika Hakim MK memberikan saran terkait dengan substansi pengaturan yang menjadi domain DPR karena bukan tidak mungkin UU yang akan dibentuk oleh DPR itu diajukan JR kepada MK pada kemudian hari. Kondisi tersebut jelas merugikan pelaksanaan check and balances dalam sistem ketatanegaraan di Indonesia.
3. Masa Depan Check and Balances MKDPR dalam Revisi UU MK
Rencana untuk melakukan revisi terhadap UU MK sudah dimulai dari tahun 2005. RUU itu masuk dalam Prolegnas lima tahunan, yaitu 2005—2009. Namun, sampai masa sidang III 2010—2011, RUU MK belum rampung dan masih dalam tahap pembahasan.
Secara substansi, ada beberapa isu yang masuk dalam agenda perubahan di UU MK. Salah satunya terkait mekanisme pengisian jabatan hakim konstitusi (hukumonline.com, diakses pada 8 Januari 2011). Pengangkatan hakim konstitusi diatur dalam Bab IV Bagian Pertama UU MK. Dalam Pasal 19 diatur bahwa pencalonan Hakim Konstitusi dilakukan secara transparan dan partisipatif. Selain
itu, dalam Pasal 20 ayat (2) diatur pula bahwa pemilihan Hakim Konstitusi dilakukan secara objektif dan akuntabel. Namun, pelaksanaan dari prinsip-prinsip itu sangat lemah di lapangan. Salah satu penyebabnya adalah tidak ada pengaturan minimal mengenai tata cara pelaksanaan dari pencalonan maupun pemilihan calon Hakim Konstitusi. Pada pasal 20 ayat (1), pengaturan mengenai tata cara seleksi, pemilihan, dan pengajuan Hakim Konstitusi diserahkan untuk diatur oleh lembaga yang berwenang masing-masing (dalam hal ini, DPR, presiden, dan MA). Dengan demikian, hal itu menyebabkan standar dari pelaksananaan di setiap lembaga berbeda-beda.
Dalam hal tersebut, aspirasi yang berkembang adalah menyediakan ruang kepada publik untuk ikut dalam proses pemilihan calon, terutama dalam memberikan masukan terkait dengan rekam jejak para calon yang kemudian akan menjadi usulan, baik oleh DPR, presiden, ataupun MA. Mekanisme uji kelayakan dan kepatutan yang dilakukan oleh DPR dalam memilih Hakim Konstitusi pada 2008 dapat dijadikan contoh yang baik dalam mewujudkan prinsip transparan, partisipatif, objektif, dan akuntabel. Namun, ada catatan bahwa mekanisme itu harus membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memberikan masukan dalam waktu yang tidak singkat. Oleh karena itu, perlu adanya penambahan pengaturan terkait dengan kewajiban pelaksanaan mekanisme uji kelayakan dan kepatutan dalam memilih calon Hakim Konstitusi yang akan diusulkan, baik di DPR, presiden, maupun MA.
Selain isu tersebut, hal penting lain dalam proses pembentukan revisi UU MK adalah memperhatikan proses yang berjalan. Bukan suatu rahasia apabila dikatakan bahwa proses legislasi penuh dengan kepentingan, bahkan kepentingan-kepentingan yang saling bertarung itulah sebenarnya yang menjadi inti dari proses legislasi. Bukan hal yang keliru apabila ada pertentangan kepentingan dalam pembahasan suatu UU, sepanjang pertentangan itu berada dalam jalur yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Kepentingan DPR sebagai suatu lembaga negara sangat besar dalam pembahasan revisi UU MK, terlebih kedua lembaga negara itu memiliki keterkaitan dalam menjalankan fungsi dan wewenang masing-masing. Proses judicial review yang kerap membatalkan suatu ketentuan dalam UU yang dibentuk oleh DPR menjadi perhatian serius. Timbul kekhawatiran DPR akan “memangkas” taring dari MK selama ini, terutama dalam mekanisme judicial review. Di situlah, peran partisipasi masyarakat menjadi penting, terutama dalam menjaga agar pembahasan dan substansi dari RUU revisi UU MK tetap sesuai dengan peraturan perundang-undangan, terutama UUD 1945. Oleh karena itu, dalam pembahasan RUU, DPR wajib menjalankan prinsip partisipatif di dalamnya. Dengan cara seperti itulah, prinsip check and balances dapat terlaksana dengan baik.
MENYELAMI DPR
Tidak terasa, perjalanan UU No. 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan
Tidak terasa, perjalanan UU No. 27 Tahun 2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan