LAPORAN AKTUALISASI
NILAI-NILAI DASAR, PERAN DAN KEDUDUKAN PNS
PENINGKATAN PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG STUNTING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BATUKARA
KECAMATAN BATUKARA KABUPATEN MUNA
Oleh :
FISKA APRIANA, A.Md.Gz NDH : 15
PELATIHAN DASAR CPNS GOLONGAN II ANGKATAN XI TAHUN 2020
PEMERINTAH KABUPATEN MUNA BEKERJASAMA DENGAN
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PROVINSI SULAWESI TENGGARA
KENDARI
2020
LEMBAR PERSETUJUAN LAPORAN HASIL AKTUALISASI
NAMA : FISKA APRIANA, A.Md.Gz NDH/NIP : 15 / 19950128 201903 2 021 JABATAN : NUTRISIONIS TERAMPIL
UNIT KERJA : PUSKESMAS BATUKARA KABUPATEN MUNA
GAGASAN PEMECAH ISU : PENINGKATAN PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG STUNTING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BATUKARA KECAMATAN BATUKARA KABUPATEN MUNA
Telah disetujui oleh Coach dan Mentor untuk diseminarkan pada Evaluasi Pelaksanaan Aktualisasi Pelatihan Dasar CPNS Golongan II Angkatan XI Kelompok V (5) Tahun 2020, pada :
Hari/tanggal : Senin, 22 Juni 2020
Waktu : Pukul 08.00 WITA sampai selesai Tempat : Hotel Srikandi Kendari
COACH,
KAFARUDDIN, SE., MM NIP. 19690801 199403 1 014
MENTOR,
SALAM, SKM NIP. 19760925 199703 1 005
Mengetahui :
KEPALA BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PROVINSI SULAWESI TENGGARA,
Dr. Hj. NUR ENDANG ABBAS, SE., M.Si NIP. 19620407 198103 2 002
LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN HASIL AKTUALISASI
NAMA : FISKA APRIANA, A.Md.Gz NDH/NIP : 15 / 19950128 201903 2 021 JABATAN : NUTRISIONIS TERAMPIL
UNIT KERJA : PUSKESMAS BATUKARA KABUPATEN MUNA
GAGASAN PEMECAH ISU : PENINGKATAN PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG STUNTING DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BATUKARA KECAMATAN BATUKARA KABUPATEN MUNA
Telah diperbaiki dan dilengkapi sesuai saran : Penguji, Coach dan Mentor pada Evaluasi Pelaksanaan Aktualisasi Pelatihan Dasar CPNS Golongan II Angkatan XI Kelompok V (5) Tahun 2020
Kendari, 22 Juni 2020
COACH,
KAFARUDDIN, SE., MM NIP. 19690801 199403 1 014
MENTOR,
SALAM, SKM NIP. 19760925 199703 1 005
PENGUJI,
Dr. Ir. I KETUT PUSPA ADNYANA, MTP NIP. 19590127 198803 1 004
Mengetahui :
KEPALA BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PROVINSI SULAWESI TENGGARA,
Dr. Hj. NUR ENDANG ABBAS, SE., M.Si NIP. 19620407 198103 2 002
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas laporan aktualisasi nilai- nilai dasar ASN dengan judul Peningkatan Pengetahuan Ibu Balita Tentang Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Batukara Kecamatan Batukara Kabupaten Muna.
Penulisan laporan aktualisasi nilai-nilai dasar ASN ini disusun sebagai salah satu persyaratan kelulusan Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan II Angkatan XI Tahun 2020 yang diselenggarakan di Hotel Srikandi sebagai bentuk pemahaman konseptual dan internalisasi nilai-nilai dasar ASN yang diterapkan di Puskesmas Batukara.
Dalam menyelesaian laporan aktualisasi nilai-nilai ASN ini, penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Dr. Hj. Nur Endang Abbas, SE., M.Si Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Provinsi Sulawesi Tenggara yang telah memfasilitasi kegiatan Latsar ini sehingga berjalan dengan lancar;
2. Drs. Sukarman L, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten Muna beserta jajarannya yang telah memfasilitasi penyelenggaraan Latihan Dasar CPNS Golongan II;
3. Dr. Ir. I Ketut Puspa Adnyana, MTP selaku penguji yang telah memberikan kritik dan saran kepada penulis sehingga laporan aktualisasi ini dapat selesai dengan baik;
4. Kafaruddin, SE., MM selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis sehingga laporan aktualisasi ini dapat selesai dengan baik;
5. Salam, SKM selaku mentor yang telah memberikan masukan dan arahan sehingga laporan aktualisasi ini dapat diselesaikan dengan baik;
6. Keluarga yang telah mendukung, mendoakan serta memberi bantuan sehingga semua kegiatan Pelatihan Dasar CPNS dapat terselesaikan dengan baik;
7. Seluruh Widyaiswara, dan Panitia yang telah memberikan ilmu, bimbingannya, dukungan dan fasilitas selama kegiatan Pelatihan Dasar CPNS Golongan II Angkatan XI;
8. Seluruh Panitia dan Binsuh yang telah membantu dan memfasilitasi kegiatan latsar; dan
9. Seluruh peserta Pelatihan Dasar CPNS Golongan II Angkatan XI atas inspirasi, kekompakan, bantuan, dan dukungannya.
Penulis berharap semoga laporan aktualisasi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak dan dapat memberikan contoh tentang implementasi nilai-nilai
“ANEKA” dengan prinsip Manajemen Aparatur Sipil Negara (ASN), Pelayanan Publik dan Whole of Government dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kerja dan masyarakat.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada laporan aktualisasi ini, oleh karena itu penulis berharap kepada semua pihak untuk memberikan saran dan masukan serta kritik yang membangun untuk penyempurnaan laporan aktualisasi ini.
Kendari, 22 Juni 2020
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PERSETUJUAN ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GAMBAR ... ix
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Tujuan ... 3
C. Manfaat ... 3
D. Ruang Lingkup Kegiatan Aktualisasi ... 4
E. Jadwal Kegiatan ... 4
BAB II. GAMBARAN UMUM ORGANISASI DAN KONSEP NILAI-NILAI DASAR ASN DAN PERAN DAN KEDUDUKAN ASN A. Gambaran Umum Organisasi ... 5
B. Dasar Hukum ... 10
C. Visi dan Misi Organisasi ... 10
D. Tugas dan Fungsi ... 11
E. Struktur Organisasi ... 13
F. Konsepsi Nilai-Nilai Dasar ASN ... 14
G. Konsepsi Kedudukan dan Peran ASN ... 19
H. Penetapan Isu dan Dampaknya ... 23
BAB III. RANCANGAN AKTUALISASI A. Identifikasi Isu ... 25
B. Penetapan Isu ... 25
C. Isu Prioritas ... 26
D. Analisis Dampak Isu ... 26
E. Gagasan Pemecahan Isu ... 26
F. Kegiatan dan Tahapan Untuk Memecahkan Isu ... 27
G. Analisis Keterkaitan Nilai Dasar dengan Kegiatan ... 28
H. Perkiraan Hambatan dalam Pelaksanaan dan Solusinya ... 43
I. Rencana Jadwal Pelaksanaan Kegiatan ... 44
BAB IV. HASIL AKTUALISASI A. Deskripsi hasil pelaksanaan kegiatan ... 47
B. Keterkaitan nilai dasar ASN dengan kegiatan ... 56
C. Nilai yang diterapkan ... 74
D. Analisis capaian aktualisasi ... 75
E. Hal yang membuktikan tujuan RA dan indikator keberhasilan ... 76
F. Faktor kunci keberhasilan ... 76
G. Hambatan dan solusi ... 77
BAB V. PENUTUP A. Kesimpulan ... 79
B. Saran ... 79
C. Rencana tindak lanjut ... 79
DAFTAR PUSTAKA ... 80
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Sarana penunjang di wilayah kerja Puskesmas Batukara ... 6
Tabel 2.2. Distribusi Penduduk Wilayah Kerja Puskesmas Batukara ... 7
Tabel 2.3. Distribusi penduduk Berdasarkan kelompok umur ... 7
Tabel 2.4. Fasilitas Pendidikan di Kecamatan Batukara ... 8
Tebel 2.5. Distribusi Ketenagaan dan Kualifikasi Pendidikan ... 9
Tabel 2.6. Keadaan sekarang dan keadaan yang diharapkan ... 23
Tabel 3.1. Analisis APKL ... 25
Tabel 3.2. Kegiatan dan Tahapan yang dilakukan ... 27
Tabel 3.3. Kegiatan dan Tahapan Untuk Memecahkan Isu ... 28
Tabel 3.4. Alternatif solusi dalam menghadapi perkiraan masalah ... 43
Tabel 3.5. Rencana jadwal pelaksanaan kegiatan ... 44
Tabel 4.1. Deskripsi hasil pelaksanaan kegiatan ... 47
Tabel 4.2. Matriks Kedudukan dan Peran ASN ... 55
Tabel 4.3. Keterkaitan nilai dasar ASN dengan kegiatan ... 56
Tabel 4.4. Matriks Habituasi ... 73
Tabel 4.5 Hambatan dan solusi kegiatan ... 77
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Peta Wilayah Kerja Puskesmas Batukara ... 5
Gambar 2.2 Struktur Organisasi Puskesmas Batukara ... 13
Gambar 4.1 Konsultasi pimpinanan ... 56
Gambar 4.2 Mencatat arahan ... 57
Gambar 4.3 Arahan Mentor ... 57
Gambar 4.4 Meminta persetujuan ... 57
Gambar 4.5 Surat persetujuan ... 58
Gambar 4.6 Menyiapkan materi ... 59
Gambar 4.7 Materi Konseling ... 59
Gambar 4.8 Melakukan desain ... 59
Gambar 4.9 Hasil desain leaflet ... 60
Gambar 4.10 Konsultasi leaflet ... 60
Gambar 4.11 Mencetak leaflet ... 61
Gambar 4.12 Membuat kuesioner ... 61
Gambar 4.13 Kuesioner konseling ... 61
Gambar 4.14 Pembukaan konseling ... 62
Gambar 4.15 Pembagian kuesioner pre test ... 63
Gambar 4.16 Pengisian kuesioner pre test ... 63
Gambar 4.17 Hasil kuesioner ... 63
Gambar 4.18 Pembagian leaflet ... 63
Gambar 4.19 melakukan konseling ... 64
Gambar 4.20 Tanya jawab ... 65
Gambar 4.21 Pembagian kuesioner post test ... 65
Gambar 4.22 Hasil post test ... 66
Gambar 4.23 Mengumpulkan kuesioner ... 66
Gambar 4.24 semua kuesioner pre dan post tes ... 67
Gambar 4.25 memilah pre dan post test ... 67
Gambar 4.26 Menghitung jumlah hasil kuesioner ... 68
Gambar 4.27 Mencatat hasil evaluasi ... 68
Gambar 4.28 konsultasi laporan aktualisasi ... 69
Gambar 4.29 Mencatat arahan mentor ... 70
Gambar 4.30 Arahan mentor ... 70
Gambar 4.31 Menyusun laporan hasil ... 70 Gambar 4.32 Menyampaikan hasil laporan ... 71 Gambar 4.33 Laporan aktualisasi ... 71
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil atau disingkat Latsar CPNS adalah syarat bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sebelum tahun 2015 dikenal sebagai Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan atau disingkat Diklat Prajabatan. Perubahan tersebut tidak hanya sebatas pada pergeseran nomenklatur saja, tetapi ada perubahan secara menyeluruh, terkait pelaksanaannya.
Ada beberapa perubahan yang terjadi setelah istilah Prajabatan tidak dipakai lagi. Yang berubah yaitu durasi pelaksanaan, metodologi, dan kurikulumnya. Hal ini merujuk pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil, serta Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara (Perka-LAN) Nomor 12 Tahun 2018, tentang Pelatihan Dasar CPNS.
Penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan bersih (Good And Clean Governance) sangat ditentukan oleh peran Aparatur Negara. Aparatur Sipil Negara (ASN) yang merupakan bagian dari aparatur Negara harus memiliki komitmen dalam melayani masyarakat. Ditegaskan dalam UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN), pegawai ASN memiliki peran penting dalam penyelenggaraan pemerintah yang berfungsi sebagai : (1) Pelaksana Kebijakan Publik; (2) Pelayan Publik; (3) Perekat dan Pemersatu Bangsa. Oleh karena itu penting agar PNS memiliki profesionalisme dan kompetensi yang memadai untuk bisa menjalankan tugas tersebut dengan baik dan penuh tanggung jawab.
Sesuai Peraturan Kepala LAN-RI Nomor 38 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Diklat Prajabatan Pola Baru. Sistem ini menuntut setiap peserta diklat untuk dapat mengaktualisasikan nilai-nilai dasar profesi PNS, yaitu Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi yang disingkat menjadi ANEKA.
Dengan adanya pelatihan dan pendidikan pembentukan PNS profesional, maka penyelenggaraan negara dapat berjalan dengan baik khususnya dibidang pembangunan kesehatan baik diseluruh sektor fasilitas kesehatan, dalam hal ini fasilitas kesehatan pertama yaitu Puskesmas yang diatur dalam Menteri Kesehatan
Nomor 75 Tahun 2014 tentang fungsi dan wewenang puskesmas dalam penyelenggaraan pembangunan puskesmas.
Puskesmas merupakan unit teknis yang bertanggung jawab untuk menyelenggarakan pembangunan kesehatan disatu atau sebagian wilayah kecamatan yang mempunyai fungsi sebagai pusat pembangunan kesehatan masyarakat, pusat pemberdayaan masyarakat dan pusat pelayanan kesehatan tingkat pertama dalam rangka pencapaian keberhasilan fungsi puskesmas sebagai ujung tombak pembangunan bidang kesehatan.
Peran ASN di bidang kesehatan melalui kegiatan mewujudkan pelayanan kesehatan yang berkualitas prima di Puskesmas meliputi pelayanan preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitative.Salah satu upaya kesehatan masyarakat di Puskesmas yaitu melalui program gizi masyarakat.Masalah Kesehatan di Indonesia saat ini adalah Stunting Keseriusan dalam pencegahan stunting harus melibatkan semua pihak terutama para ASN yang diberikan amanah untuk menjalankan tugas dalam pencegahan stunting .
Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal seperti kita ketahui, genetika merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya), dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah.
Stunting bermula dari kekurangan nutrisi, sehingga dampaknya sangat luas bagi tumbuh kembang seorang anak. Tidak hanya fisik tapi juga bisa mental dan tidak menutup kemungkinan akan mempengaruhi karakternya kelak serta besarnya masalah stunting pada anak hari ini akan berdampak pada kualitas bangsa masa depan.
Dari data Riset Kesehatan Nasional (Riskesdas) 2018 menunjukkan 30,8 persen balita di Indonesia mengalami stunting. Angka ini turun jika dibandingkan data Riskesdas 2013, yakni 37,2 persen.Dan berdasarkan data di Puskesmas
Batukara periode januari-februari terdapat balita stunting sebanyak 38 anak balita dari total 217 sasaran balita atau 17,5 %.
Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan aktualisasi dengan judul “Peningkatan Pengetahuan Ibu Balita Tentang Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Batukara Kabupaten Muna.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengaktualisasikan nilai-nilai dasar Aparatur Sipil Negara dan kedudukan serta peran ASN dalam pelaksanaan tugas pokok penulis sebagai Nutrisionis Terampil di wilayah kerja Puskesmas Batukara Kecamatan Batukara Kabupaten Muna.
2. Tujuan Khusus
Meningkatkan pengetahuan ibu balita tentang stunting di wilayah kerja Puskesmas Batukara Kecamatan Batukara Kabupaten Muna.
C. Manfaat
1. Bagi Penulis
a. Penulis lebih bisa menjalankan dan mengimplementasikan perannya dalam lingkup kegiatan sehari-hari menggunakan nilai-nilai dasar ASN yang telah di dapakan selama mengkuti inclass Diklat Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil.
b. Penulis dapat mengaktualisaikan nilai-nilai dasar PNS dalam tugas dan fungsi jabatannya di Puskesmas Batukara
2. Bagi Organisasi
Terwujudnya Visi Misi Puskesmas yaitu masyarakat Batukara Sehat dan Maju. Dalam rangka menyonsong masyarakat sehat, salah satunya dengan peningkatan pengetahuan ibu balita tentang stunting.
3. Bagi Masyarakat
Tercapainya Masyarakat sehat secara optimal dan meningkatkan derajat kesehatan secara umum dan khususnya upaya kesehatan gizi berbasis masyarakat.
D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Aktualisasi nilai-nilai Dasar Profesi ASN ini dibatasi pada pembahasan bagaimana Peningkatan Pengetahuan Ibu balita tentang Stunting yang dilakukan dengan cara melakukan konsultasi terpusat di desa atau kunjungan rumah bagi masyarakat yang mempunyai atau berpotensi masalah Gizi, yang dilihat dari data antropometri di Posyandu.
Kegiatan ini dilaksanakan dengan pengambilan data antropometri sasaran yang terbaru melalui pengukuran berat badan dan tinggi badan, melakukan edukasi gizi isi piringku dan pembagian leaflet serta kunjungan terjadwal di masyarakat.
Edukasi gizi yang dimaksudkan di sini adalah melakukan konseling gizi dengan menerapkan “Isi Piringku”, karena penyebab balita stunting salah satunya adalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.
Isi piringku adalah satu piring makan yang terdiri dari karbihodrat 2/3 dari ½ piring nasi, protein 1/3 dari ½ piring, sayuran 2/3 dari ½ piring, dan buah 1/3 dari ½ piring. Indikator stunting di lihat berdasarkan TB/U sesuai usia.
E. Jadwal Kegiatan 1. Waktu
Pelaksanaan kegiatan aktualisasi lapangan (off class) ini dilaksanakan mulai tanggal 30 Maret sampai 6 Mei 2020.
2. Tempat
Lokasi tempat pelaksanaan kegiatan yaitu di Wilayah Kerja Puskesmas Batukara Kecamatan Batukara Kabupaten Muna.
BAB II
GAMBARAN UMUM ORGANISASI DAN KONSEP NILAI-NILAI DASAR ASN DAN PERAN DAN KEDUDUKAN ASN
A. Gambaran Umum Organisasi 1) Keadaan Geografis
Wilayah Kerja Puskesmas
Wilayah kerja Puskesmas Batukara terletak di Kecamatan Batukara, sekitar 30 ml dari Ibukota Kabupaten. Secara atronomis Kecamatan Batukara adalah wilayah administrasi Kabupaten Muna yang terletak di bagian barat pulau Buton dan secara geografis Kecamatan Batukara terletak di bagian selatan garis khatulistiwa memanjang dari utara ke selatan diantara 4045’ sampai 4053’ lintang Selatan dan membentang dari barat ke timur diantara 122048’ sampai 122056’ Bujur Timur.
Luas daratan Kecamatan Batukara sekitar 69,39 KM2 terdiri dari 4 desa defenitif, yaitu Desa Bone-Bone luas 13,58 KM2, Desa Lanobake luas 19,81 KM2, Moolo luas 26,41 KM2, dan Baluara luas 9,86 KM2 dengan 8 RW/RK dengan jumlah penduduk 2.529 jiwa
Batas Wilayah
Batas wilayah administrasi Kecamatan Batukara mempunyai batas- batas wilayah sebagai berikut :
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Maligano;
2. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Buton Utara;
3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Wakorumba Selatan;
4. Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Buton
Gambar 1.Peta wilayah Kerja Puskesmas Batukara
Sarana Penunjang di wilayah kerja Tabel 2.1
Sarana penunjang di wilayah kerja Puskesmas Batukara Tahun 2019 a. Sarana Pendidikan
· Taman Kanak-Kanak/RA : 6
· SekolahDasar( SD/MIN ) : 5
· Sekolah Menengah Pertama(SMP) / sederajat : 3
· Sekolah Menengah Atas /sederajat : 2
· Perguruan Tinggi : 0
· Pondok Pesantren : 0
b. Tempat – tempat umum
· Pasar : 1
· Supermarket/Mini : 0
· Warung/RM : 19
· Tempat pengelolaan makanan : 0
c. Sarana Institusi
· Sarana Kesehatan : 6
· Sarana Pendidikan : 16
· Sarana Ibadah : 4
· Perkantoran : 7
2) Keadaan Demografis
Kependudukan
Penduduk adalah orang atau sejumlah orang yang menempati suatu wilayah tertentu dalam jangka waktu tertentu. Data tentang kependudukan sangat penting dalam menghitung sebaran jumlah penduduk, usia penduduk, pekerjaan, pendapatan, dan pendidikan. Data ini bisa diperoleh dari laporan penduduk, sensus penduduk, dan survei penduduk. Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Batukara pada Tahun 2019 sebanyak 2.508 jiwa yang tersebar di 4 wilayah Desa, dengan jumlah KK 558.
Tabel 2.2
Distribusi Penduduk Wilayah Kerja Puskesmas Batukara
No Desa Pria Wanita Total
1 Bone-bone 284 205 489
2 Lanobake 256 225 481
3 Moolo 496 439 935
4 Baluara 327 276 603
Jumlah 2.508
Sumber: Data Primer Tahun 2019
Adapun distribusi penduduk menurut jenis kelamindan kelompok umur dapat dilihat pada Tabel 2.3 di bawah ini :
Tabel 2.3
Distribusi penduduk wilayah kerja Puskesmas Batukara Berdasarkan kelompok umur
No
Kelompok Umur (Tahun)
Jumlah Penduduk
Laki-laki Perempuan Total
1 0 – 4 171 88 259
2 5 – 9 166 123 289
3 10 – 14 168 129 297
4 15 – 19 192 144 336
5 20 – 24 122 77 199
6 25 – 29 83 92 175
7 30 – 34 69 86 155
8 35 – 39 77 62 139
9 40 – 44 56 76 132
10 45 – 49 91 82 173
11 50 – 54 61 58 119
12 55 – 59 39 34 73
13 60 – 64 27 33 60
14 65 – 69 20 24 44
15 70 – 74 8 15 23
16 75+ 13 22 35
PUSKESMAS 1.363 1.145 2.508
Sumber: Data Primer Tahun 2019
Sarana pendidikan
Adapun distribusi fasilitas pendidikan di Kecamatan Batukara dapat dilihat pada Tabel 2.4 di bawah ini :
Tabel 2.4
Fasilitas Pendidikan di Kecamatan Batukara Tahun 2019
Desa Sekolah Jumlah
TK/PAUD SD/MI SMP/MTS SMA/MA SMK Bone-
bone
1 1 2
Lanobake 2 1 1 4
Moolo 2 2 1 1 6
Baluara 2 1 1 1 5
Total 7 5 3 1 1 17
Sumber : Data Primer 2019
Pada tabel diatas dapat dilihat bahwa sarana pendidikan yang ada di wilayah Batukara terdapat 17 sarana pendidikan.
Ketenagaan
Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Sumber daya manusia Puskesmas terdiri atas Tenaga Kesehatan dan tenaga non kesehatan. Jenis dan jumlah tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan dihitung berdasarkan analisis beban kerja, dengan mempertimbangkan jumlah pelayanan yang diselenggarakan, jumlah penduduk dan persebarannya, karakteristik wilayah kerja, luas wilayah kerja, ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama lainnya di wilayah (Permenkes RI No 75 Tahun 2014).
Adapun distribusi Ketenagaan Berdasarkan Jumlah dan Kualifikasi Pendidikan di Kecamatan Batukara dapat dilihat pada Tabel 2.5 di bawah ini:
Tabel 2.5
Distribusi Ketenagaan Berdasarkan Jumlah dan Kualifikasi Pendidikan di Kecamatan BatukaraTahun 2019
No Jenis Tenaga Kesehatan
Status Kepegawaian
Jumlah PNS PTT Daerah NS Sukarela
1 Dokter Umum 0 0 0 0 0 0
2 Dokter Gigi 0 0 0 0 0 0
3 S1 Kesmas 1 0 0 1 4 6
4 S1 Ekonomi 0 0 0 0 0 0
5 Apoteker 0 0 0 1 0 1
6 S1 Farmasi 0 0 0 0 1 1
7 S1/D4 Gizi 0 0 0 0 1 1
8 S1 Keperawatan 0 0 0 0 1 1
9 S1 Ners 0 0 0 0 1 1
10 D4 Kebidanan 1 0 0 0 2 3
11 D3 Kebidanan 2 0 0 0 9 11
12 D3 Kesling 2 0 0 0 0 2
13 D3 Analis 0 0 0 1 1 2
14 D3 Gizi 1 0 0 0 0 1
15 D3 Perawat 4 0 0 2 8 14
16 D3 Perawat Gigi 0 0 0 0 1 1
17 D1 Perawat 0 0 0 0 0 0
18 D1 Kebidanan 0 0 0 0 0 0
19 D3 Tehnik gigi 0 0 0 0 0 0
20 Sopir 0 0 0 0 1 0
Total 11 0 0 5 30 46
Sumber : Data Primer 2019
B. Dasar Hukum
Berdasarkan PERMENKES No. 75 Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat menyatakan bahwa kedudukan Puskesmas, yaitu :
a. Sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama dalam sistem kesehatan nasional, khususnya subsistem upaya kesehatan;
b. Unit Pelaksana Teknis Dinas kesehatan yang bertanggung jawab menyelenggarakan sebagian tugas pembangunan kesehatan kabupaten/kota, dan;
c. Dalam sistem pemerintah daerah memiliki jalur koordinasi horizontal dengan pelayanan kesehatan primer lainnya.
C. Visi dan Misi Organisasi
Puskesmas Batukara memiliki visi ”Masyarakat Batukara Sehat & Maju”.
Untuk mewujudkan visi tersebut Puskesmas Batukara menetapkan 3 (Tiga) misi, sebagai berikut :
1. Mendorong kemandirian masyarakat untuk membudayakan prilaku hidup bersih dan sehat;
2. Memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau;
3. Meningkatkan promosi kesehatan kepada masyarakat; dan 4. Meningkatkan kemitraan dan pemberdayaan masyarakat
Nilai Organisasi (BATUKARA)
B : Berinovatif (menciptakan sesuatu yang belum pernah ada menjadi ada atau menciptakan sesuatu yang sama sekali berbeda)
A : Adil (Suatu sikap yang tidak memihak atau sama rata, tidak ada yang lebih dan tidak ada yang kurang)
T : Terjaga (pelayanan kesehatan selalu terjaga)
U : Unggul (selalu terdepan dalam melakukan pelayanan)
K : Kreatif (kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun karya nyata yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada)
A : Aman (memberikan keamanan baik dalam hal keamanan pengobatan/
pelayanan (patient safety), keamanan lingkungan, maupun keamanan dari bahaya lainnya)
R : Rajin (sungguh-sungguh bekerja dan selalu berusaha giat) A : Amanah (menjadi puskesmas jujur atau dapat dipercaya)
D. Tugas dan Fungsi Organisasi
Puskesmas Batukara mempunyai tugas melaksanakan kebijakan kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung terwujudnya Kecamatan sehat berdasarkan rencana strategis dinas kesehatan.
Dalam menyelenggarakan tugasnya, Puskesmas mempunyai fungsi : a. Pusat pembangunan kesehatan masyarakat di Wilayah kerjanya;
b. Penyusunan rencana dan program kegiatan upaya kesehatan masyarakat (UKM) tingkat pertama dan upaya kesehatan perorangan (UKP) tingkat pertama;
c. Penyelenggaraan UKM esensial meliputi pelayanan promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, kesehatan ibu, anak dan keluarga berencana, pelayanan gizi dan pelayanan pencegahan dan pengendalian penyakit untuk mendukung pencapaian standar pelayanan minimal;
d. Penyelenggaraan UKM pengembangan meliputi upaya kesehatan sekolah, upaya kesehatan olahraga, upaya perawatan kesehatan masyarakat, upaya kesehatan masyarakat, upaya kesehatan gigi dan mulut, upaya kesehatan jiwa, upaya kesehatan mata, upaya kesehatan usia lanjut, upaya pembinaan pengobatan tradisional, upaya laboratorium medis dan laboratorium kesehatan masyakat;
e. Penyelenggaraan UKP tingkat pertama yaitu pelayanan rawat jalan, pelayanan gawat darurat, pelayanan satu hari (one day care), home care berdasarkan pertimbangan kebutuhan pelayanan sesuai dengan standar prosedur operasional dan standar pelayanan;
f. Pengoordinasian kegiatan pelayanan kesehatan pada Puskesmas pembatu di wilayah kerjanya;
g. Pembinaan kepala Puskesmas pembantu di wilayah kerjanya;
h. Pengedalian, monitoring, evaluasi dan pelaporan kegiatan pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya; dan
i. Pelaksanaan tugas lain yang diserahkan oleh Kepala Dinas Kesehatan sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Tupoksi atau uraian tugas Nutrisionis Terampil
Tupoksi atau uraian tugas Nutrisionis Terampil yang dimuat dalam KEPMENPAN NOMOR 23/KEP/M.PAN/4/2001, antara lain sebagai berikut :
1. Mengumpulkan data gizi dalam rangka menyusun rencana tahunan;
2. Mengumpulkan data gizi dalam rangka menyusun rencana 3 bulanan;
3. Mengumpulkan data gizi dalam rangka menyusun rencana bulanan;
4. Mengumpulkan data anak balita, ibu hamil dan buteki untuk pemberian makanan tambahan, penyuluhan dan pemulihan pada anak balita dengan status gizi kurang;
5. Mengumpulkan data makanan kelompok sasaran setempat untuk penilaian mutu gizi, makanan dan dietetik;
6. Melakukan pengukuran Tinggi Badan (TB), Berat Badan (BB), umur di unit atau wilayah kerja secara bulanan bagi anak balita;
7. Melakukan pengukuran TB, BB, umur di unit atau wilayah kerja sesuai kebutuhan;
8. Melakukan pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA) di unit atau wilayah kerja;
9. Mencatat dan melaporkan hasil pengukuran BB, TB, dan Umur;
10. Mencatat dan melaporkan hasil pengukuran LILA;
11. Menyediakan makanan tambahan untuk balita atau penyuluhan gizi;
12. Menyediakan kapsul Vitamin A;
13. Memantau kegiatan pengukuran BB, TB, Umur di tingkat desa meliputi sasaran, status gizi, dan SKDN, secara bulanan pada posyandu;
14. Memantau kegiatan PMT balita; dan 15. Melakukan konseling gizi.
E. Struktur Organisasi
Gambar 2. Struktur organisasi puskesmas batukara
F. Konsepsi Nilai- Nilai Dasar ASN
Aparatur Sipil Negara yang kemudian dapat disingkat ASN harus memiliki pemahaman (internalisasi) dan mampu mengaktualisasikan nilai-nilai dasar ASN.
Nilai dasar yang harus dimiliki oleh setiap ASN adalah Akuntabilitas ASN, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu,dan Anti korupsi yang dikenal dengan akronim menjadi ANEKA. Setiap ASN yang profesional harus memiliki integritas untuk menginternalisasi dan mengaktualisasi nilai-nilai ANEKA dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sehari-hari. Berdasarakan dari kelima nilai dasar ANEKA tersebut, yang harus ditanamkan kepada setiap pegawai ASN, maka perlu dijelaskan indikator-indikator dari ANEKA, sebagai landasan teori yaitu:
1. Akuntabilitas PNS
Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok atau institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanahnya.Amanah seorang PNS adalah menjamin terwujudnya nilai-nilai public.
Nilai-nilai public tersebut antara lain adalah
a) Mampu mengambil pilihan yang tepat dan benar ketika terjadi konflik kepentingan, antara kepentingan public dengan kepentingan sector, kelompok, dan pribadi;
b) Memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menghindari dan mencegah keterlibatan PNS dalam politik praktis;
c) Memperlakukan warga Negara secara sama dan adil dalam penyelenggaraan pemerintah dan pelayanan public;
d) Menunjukan sikap dan perilaku yang konsisten dan dapat diandalkan sebagai penyelenggara pemerintah.
Ada banyak aspek yang harus diperhatikan dalam menciptakan lingkungan organisasi yang akuntabel. Aspek-aspek tersebut yaitu : kepemimpinan; transparansi; integritas; tanggung jawab (responsibilitas);
keadilan; kepercayaan; keseimbangan; kejelasan; konsistensi.
Dalam banyak hal, kata akuntabilitas sering disamakan dengan responsibiltas atau tanggung jawab.Namun, pada dasarnya kedua konsep tersebut memiliki arti yang berbeda.Responsibilitas adalah kewajiban untuk bertanggung jawab, sedangkan akuntabilitas adalah kewajiban pertanggungjawaban yang harus dicapai (Lembaga Administrasi Negara, 2015).
PNS yang akuntabel adalah PNS yang mampu mengambil pilihan yang tepat ketika terjadi konflik kepentingan, tidak terlibat dalam politik praktis, melayani masyarakat secara adil dan konsisten dalam menjalankan tugas dan fungsinya. Terdapat beberapa nilai dasar yang merujuk kepada akuntabilitas, yaitu :
a) Jujur
Terkait dengan kepatuhan tehadap hukum dan pera turan yang diterapkan.
b) Integritas
Kewajiban mematuhi semua peraturan, dan dapat memberikan kepercayaan publik.
c) Adil
Memperlakukan Masyarakat secara sama dan adil dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik.
d) Tanggung Jawab
Konsekuensi dari setiap tindakan yang telah dilakukan.
e) Mendahulukan kepentingan public
Mampu mengambil pilihan yang tepat dan benar ketika terjadi konflik kepentingan, antara kepentingan publik dengan kepentingan sektor, kelompok dan pribadi.
f) Transparan
Mendorong komunikasi dan kerjasama serta memberikan perlindungan dari pengaruh yang tidak seharusnya dan korupsi dalam pengambilan keputusan sehingga dapat meningkatkan kepercayaan dan keyakinan masyarakat.
g) Kejelasan Wewenang
Gambaran yang jelas tentang apa yang menjadi keeenangan, tujuan dan hasil yang diharapkan.
h) Konsisten
Menunjukan sikap dan perilaku yang konsisten dan dapat diandalkan sebagai penyelenggara pemerintahan.
i) Netral
Memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menghindari dan mencegah keterlibatan PNS dalam politik praktis.
Agar nilai akuntabilitas dapat diterapkan secara profesional terdapat beberapa indikator keberhasilan akuntabilitas, yaitu :
Menginternalisasi nilai-nilai dasar akuntabilitas dan kepentingan publik.
a. Mengambil pilihan yang tepat dan benar ketika terjadi konflik kepentingan, antara kepentingan publik dengan kepentingan pribadi, kelompok dan sektor.
b. Memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menghindari dan mencegah keterlibatan PNS dalam politik praktis memperlakukan masyarakat secara sama dan adil dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik.
c. Menunjukan sikap dan perilaku yang konsisten dan dapat diandalkan sebagai penyelenggara pemerintahan.
2. Nasionalisme
Nasionalisme sangat penting dimiliki oleh setiap pegawai ASN.Bukan sekedar wawasan saja tetapi kemampuan mengaktualisasikan nasionalisme dalam menjalankan fungsi dan tugasnya merupakan hal yang lebih penting.ASN yang memiliki nasionalisme yang kuat memiliki orientasi berpikir mementingkan kepentingan publik, bangsa dan negara serta mampu menerapkan nilai-nilai pancasila dan semangat nasionalisme serta wawasan kebangsaan dalam setiap pelaksanaan fungsi dan tugasnya sesuai bidangnya masing-masing (Lembaga Administrasi Negara, 2015).
Nilai-nilai yang terkandung dalam nasionalisme pancasila diantaranya religious, jujur, cintah tanah air, adil dan tidak diskriminasi, profesional dan berintegritas, menjunjung tinggi keadilan dan kedisiplinan. Untuk mewujudkan ASN dengan semangat nasionalisme tinggi, beberapa indikator yang dilakukan untuk mencapai keberhasilan adalah sebagai berikut:
a) Memiliki pemahaman tentang keragaman bangsa dilihat aspek sejarah, budaya, dan tingkat kemajuan sosial ekonomi dan implikasinya terhadap manajemen kebijakan dan pelayanan publik.
b) Mengenali nilai-nilai perjuangan kemerdekaan, keteladanan dari para pendiri bangsa, dan menjadikannya sebagai sumber motivasi dan inspirasi dalam penyelenggaraan pemerintahan.
c) Menjaga dan mengimplementasikan nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan sebagai modal sosial dan kultural penyelenggaraan kegiatan pemerintahan.
3. Etika Publik
Etika publik merupakan refleksi tentang standar atau norma yang menentukan baik/buruk, benar/salah prilaku, tindakan dan keputusan untuk mengarahkan kebijakan publik dalam rangka menjalankan tanggung jawab pelayanan publik. Integritas publik menuntut para pemimpin dan pejabat publik untuk memiliki komitmen moral dengan mempertimbangkan keseimbangan antara penilaian kelembagaan, dimensi-dimensi pribadi dan kebijaksanaan didalam pelayanan publik (Haryatmoko, 2001).Sementara itu, nilai-nilai dasar etika public, yaitu:
a) Memegang teguh nilai-nilai dalam ideologi Negara Pancasila;
b) Setia dan mempertahankan Undang-Undang Dasar 1945 Negara Kesatuan Republik Indonesia;
c) Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak;
d) Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian;
e) Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif;
f) Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika luhur;
g) Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada public;
h) Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program pemerintah;
i) Memberikan layanan kepada publik secara jujur tanggap, cepat, tepat, akurat, berdaya guna, berhasil guna dan santun;
j) Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi;
k) Menghargai komunikasi, konsultasi dan kerjasama;
l) Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai;
m) Mendorong kesetaraan dalam pekerjaan; dan
n) Meningkatkan efektifitas sistem pemerintahan yang demokratis sebagai perangkat sistem karir.
4. Komitmen mutu
Mutu mencerminkan nilai keunggulan produk/jasa yang diberikan kepada pelanggan (customer) sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya dan bahkan melampaui harapan.Mutu merupakan salah satu standar yang menjadi dasar untuk mencapai hasil kerja. Mutu juga dapat digunakan sebagai alat pembeda atau pembanding dengan produk/jasa sejenis lainnya, yang dihasilkan oleh lembaga lain sebagai pesaing. Dalam meningkatkan mutu terdapat 4 komponen yang harus dipenuhi yaitu, efektifitas, efisiensi, kreatifitas dan inovasi.
a) Efektifitas organisasi berarti sejauh mana organisasi dapat mencapai tujuan yang ditetapkan, atau berhasil mencapai apapun yang dikerjakannya.
Efektifitas organisasi tidak hanya diukur dari performance untuk mencapai target sesuai rencana baik dari aspek mutu, kuantitas, ketepatan waktu dan alokasi sumber daya, melainkan juga diukur dari kepuasan dan terpenuhinya kebutuhan pelanggan (customer).
b) Efisiensi organisasi adalah jumlah sumber daya yang digunakan untuk mencapai tujuan organisasional. Efisiensi dapat diukur dari ketepatan realisasi penggunaan sumber daya dan bagaimana pekerjaan dilaksanakan sehingga dapat diketahui ada tidaknya pemborosan sumber daya, penyalahgunaan alokasi, penyimpangan prosedur, dan mekanisme yang keluar alur (penghematan biaya, waktu, tenaga dan pikiran dalam menyelesaikan kegiatan).
c) Berpikir kreatif adalah suatu cara berpikir dimana seseorang mencoba menemukan hubungan-hubungan baru untuk memperoleh jawaban baru terhadap suatu masalah. Kreatifitas pada umumnya berkaitan dengan kemampuan dan keuletan untuk berupaya menemukan ide-ide ataupun hal- hal baru. Tuntutan globalisasi yang tengah melanda dunia di berbagai sektor pelayanan publik menjadikan masyarakat semakin kritis untuk mendapatkan pelayanan terbaik dari pemerintah. Oleh karena itu setiap pelayanan harus diupayakan selalu dapat dicari pemecahan permasalahan yang ada untuk dapat dicarikan solusi yang dapat segera dikerjakan secara kreatif.
d) Inovasi adalah kegiatan yang meliputi seluruh proses menciptakan dan menanarkan jasa atau barang baik yang sifatnya baru, lebih baik atau lebih murah dibandingkan dengan yang tersedia sebelumnya. Sebuah inovasi
dapat berupa produk atau jasa yang baru, teknologi proses produksi yang baru, sistem struktur dan administrasi baru atau rencana baru bagi anggota administrasi (Richad L Daft,2010).Nilai-nilai dasar dalam menjalankan komitmen mutu yaitu:
1) Adanya komitmen bagi kepuasan masyarakat;
2) Pemberian layanan yang cepat, tepat dan senyum;
3) Pemberian layanan yang dapat memberikan perlindungan kepada public;
4) Pendekatan ilmiah dan inovatif dalam pemecahan masalah; dan 5) Upaya perbaikan secara berkelanjutan.
5. Anti korupsi
Kata korupsi berasal dari bahasa latin yaitu Corruptio yang artinya kerusakan, kebobrokan, dan kebusukan. Korupsi sering dikatakan sebagai kejahatan luar biasa karena dampaknya yang luar biasa menyebabkan kerusakan baik dalam ruang lingkup pribadi, keluarga, masyarakat, dan kehidupan yang lebih luas yang tidak hanya berdampak buruk dalam kurun waktu yang pendek, namun juga secara jangka panjang (Lembaga Administrasi Negara, 2015).
Adapun nilai-nilai anti korupsi yang di identifikasi oleh KPK yaitu jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras sederhana, berani dan adil.
Agar prilaku anti korupsi dapat diwujudkan, maka terdapat beberapa indikator keberhasilan, yaitu:
a. Mampu mengidentifikasi sikap dan perilaku yang mengarah dan atau termasuk prilaku korupsi;
b. Mampu menjelaskan cara-cara menghindari prilaku korupsi; dan
c. Mampu menjelaskan resiko dari tindakan korupsi bagi dirinya, keluarga, dan masyarakat secara keseluruhan.
G. Konsepsi Kedudukan dan Peran ASN 1. Manajemen ASN
Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk menghasilkan pegawai ASN yang professional, memiliki nilai dasar, etika profesi, bebas dari intervensi Politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme.
Manajemen ASN kebih menekankan kepada pengaturan profesi pegawai
sehingga diharapkan agar selalu tersedia sumber daya aparatur sipil Negara yang unggul selaras dengan perkembangan jaman. Berdasarkan jenisnya ASN terdiri atas:
a) Pegawai Negeri Sipil (PNS); dan
b) Pegawai pemerintah dengan perjanjian Kerja (PPPK).
Berdasarkan pasal 10 Undang-undang No. 5 tahun 2014 Pegawai ASN berkedudukan sebagai aparatur Negara yang menjalankan kebijakan yang ditetapkan oleh pimpinan instansi pemerintah serta harus bebas dari pengaruh dan intervensi semua golongan dan partai politik. Pasal 11 mengatakan bahwa untuk menjalankan kedudukannya tersebut, maka pegawai ASN berfungsi sebagai berikut :
a) Melaksanakan kebijakan public yang dibuat oleh pejabat Pembina kepegawaian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan;
b) Memberikan pelayanan public yang profesional dan berkualitas; dan c) Memperekat persatuan dan kesatuan bangsa.
Dalam pasal 12 peran ASN yaitu sebagai perencana, pelaksana dan pengawas penyelenggara tugas umum pemerintah dan pembangunan nasional melalui pelaksanaan kebijakan dan pelayanan public yang professional, bebas dari intervensi politik, serta bersih dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Asas penyelenggaraan kebijakan dan manajemen ASN, yaitu : Asas kepastian hukum, profesionalitas, proporsionalitas, keterpaduan, delegasi, netralitas, akuntabilitas, efektif dan efisien, keterbukaan, non diskriminatif, persatuan dan kesatuan, keadilan, kesetaraan, dan kesejahteraan.
2. Whole Of Government (WOG) a) Pengertian WoG
Sebuah pendekatan penyelenggaraan pemerintahan yang menyatukan upaya upaya kolaboratif pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam ruang lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai tujuan-tujuan pembangunan kebijakan, Manajemen program dan pelayanan publik.
Menurut United States Institute Of Peace (USIP) adalah sebuah pendekatan yang mengintegrasikan upaya kolaboratif dari instansi pemerintah untuk
menjadi kesatuan menuju tujuan bersama, juga dikenal dengan kolaborasi,kerjasama antar instansi, actor pelayanan dalam menyelesaikan suatu masalah pelayanan. Dengan kata lain, WoG menekankan pelayanan yang berintegrasi sehingga prinsip kolaborasi, kebersamaan, kesatuan dalam melayani permintaan masyarakat dapat selesai dengan waktu yang singkat.
Kemunculan WoG didorong oleh sejumlah factor-faktor pendorong internal maupun eksternal abad 21. Guncangan globalisasi yang menghadirkan berbagai kontradiksi (paradoks) di berbagai sector kehidupan seperti korupsi, kemiskinan, dominasi pasar bebas di sector ekonomi dan lain-lain yang sulit diatasi dengan cara dan pendekatan biasa (in the box) membuat WoG menjadi keniscayaan yang tidak terhindarkan.
Salah satu bentuk penerapan WoG di sector pelayanan public adalah e-government.E-government adalah salah satu factor pendorong strategi (strategic enablerI) yang memungkinkan WoG dapat dilaksanakan, karena peran dan fungsi e-government adalah menciptakan jejaring kerja (network) kolaboratif sehingga fungsi integrasi intra dan inter agensi/instansi dapat dilaksanakan. Keberadaan jejaring kerja yang ditopang oleh e-government berpotensi menjadi tuas pengungkit (leverage) bagi pertumbuhan dan perkembangan ekonomi, social dan lingkungan, termasuk di dalamnya pelayanan public.Berdasarkan hal itu, maka e-government harus dilaksanakan di berbagai level pelayanan public (Suwarno & Sejati, 2017).
b) Cara WoG 1) Koordinasi;
2) Integrasi; dan
3) Kedekatan dan pelibatan.
c) Praktek WoG
Terdapat beberapa cara pendekatan WoG yang dapat dilakukan yaitu : 1) Penguatan koordinasi antar lembaga;
2) Membentuk lembaga koordinasi khusus;
3) Membentuk gugus tugas; dan 4) Koalisi social.
d) Tantangan dalam Praktek WoG 1) Kapasitas SDM dan Institusi;
2) Nilai dan budaya organisasi; dan 3) Kepemimpinan.
e) Praktek WoG dalam pelayanan Publik
Pola Pelayanan WoG terdiri dari 5, yaitu sebagai berikut : 1) Pola Pelayanan Teknis Fungsional;
2) Pola Pelayanan satu atap;
3) Pola pelayanan satu pintu;
4) Pola pelayanan terpusat; dan 5) Pola pelayanan elektronik.
3. Pelayanan Publik
Pelayanan public adalah semua jenis pelayanan untuk menyediakan barang/jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat yang memenuhi kriteria yaitu merupakan jenis barang atau jasa yang memiliki eksternalitas tinggi dan sangat diperlukan masyarakat serta penyediaannya terkait dengan upaya mewujudkan tujuan bersama yang tercantum dalam konstitusi maupun dokumen perencanaan pemerintah, baik dalam rangka memenuhi hak dan kebutuhan dasar warga, mencapai tujuan strategis pemerintah dan memenuhi komitmen dunia internasional. Menurut Dwiyanto (2010 : 21) dalam Modul Pelayanan Publik (Purwanto, Tyastiani, Taufiq & Novianto, 2017).
Undang Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang pelayanan publik menyatakan bahwa pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai dengan peraturan perundang undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dan atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.
Paradigma administrasi public sebagai bagian dari teori manajemen pelayanan public :
a) Old Publik Administration (OPA) (Wilson, 1887-1937) melihat pelayanan public merupakan segala kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah saja, Negara sebagai satu-satunya lembaga yang dianggap mampu menyelesaikan masalah dalam masyarakat.
b) New Publik Management (NPM) (Osbom, 1992-2000) melihat kekurangan dari OPA yang hana dikuasai pemerintah, maka NPM memunculkan peran swasta dalam pemberian pelayanan public, sayangnya NPM terlalu berorientasi pada keuntungan.
c) New Publik Service (Denhardt, 2003) melihat kekurangan dari OPA dan NPM, maka NPS melibatkan partisipasi masyarakat sebagai pemberi mandat pada pemerintah, maka masyarakat memiliki peran aktif dalam pengambilan keputusan dan kebijakan.
Terdapat 3 unsur penting dalam pelayanan public, yaitu unsur pertama adalah organisasi penyelenggara pelayanan public, unsur kedua adalah penerima layanan (pelanggan) yaitu orang, masyarakat atau organisasi yang berkepentingan, dan unsur ketiga adalah kepuasan yang diberikan dan atau diterima oleh penerima layanan/pelanggan.
Sembilan prinsip pelayanan publik yang baik untuk mewujudkan pelayanan prima adalah partisipatif, transparan, responsif, non diskriminatif, mudah dan murah, efektif dan efisien, aksesibel, akuntabel, dan berkeadilan.
H. Penetapan Isu dan Dampaknya
Dalam penulisan rancangan aktualisasi ini, dari hasil observasi ditemukan beberapa isu di Wilayah Kerja Puskesmas Batukara. Dari hasil identifikasi isu tersebut akan menghasilkan isu yang layak diangkat dan dijadikan rancangan aktualisasi. Berikut disajikan identifikasi isu dari isu-isu yang ada :
Tabel 2.6
Keadaan sekarang dan keadaan yang diharapkan No Uraian bermasalah Kondisi Saat
Ini
Kondisi yang diharapkan
Rumusan Isu
1. Masih Rendahnya pengetahuan kader tentang pengisian KMS di wilayah kerja Puskesmas Batukara
Masih banyak kader yang belum dapat melakukan pengisian KMS dengan benar
Kader Posyandu dapat mengisi KMS dengan benar
Kurangnya pengetahuan kader posyandu tentang pengisian KMS di Wilayah Kerja Puskesmas Batukara
2. Masih Kurangnya Pengetahuan Ibu balita tentang Stunting di Puskesmas Batukara
Ibu balita tidak paham tentang stunting pada anak balita
Ibu balita di wilayah kerja Puskesmas Batukara paham tentang stunting
Rendahnya pengetahuan ibu balita tentang gizi stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Batukara
3. Masih Kurangnya partisipasi orang tua menimbang bayi dan balita ke
posyandu di wilayah kerja Puskesmas Batukara
Masih banyak orang tua yang tidak membawa bayi dan balita ke posyandu
Semua orang tua dapat membawa bayi dan
balitanya datang ke posyandu
Kurangnya partisipasi orang tua bayi dan balita untuk pergi ke posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Batukara
BAB III
RANCANGAN AKTUALISASI
A. Identifikasi Isu
Dalam penulisan rancangan aktualisasi ini, dari hasil observasi ditemukan beberapa isu di Wilayah Kerja Puskesmas Batukara. Dari hasil identifikasi isu tersebut akan menghasilkan isu yang layak diangkat dan dijadikan rancangan aktualisasi. Berikut disajikan identifikasi isu dari isu-isu yang ada :
1) Masih rendahnya pengetahuan kader tentang pengisian KMS di wilayah kerja Puskesmas Batukara
2) Masih Kurangnya Pengetahuan Ibu balita tentang Stunting di Puskesmas Batukara 3) Masih kurangnya partisipasi orang tua membawa bayi dan balita timbang ke
posyandu di wilayah kerja Puskesmas Batukara B. Penetapan Isu
Berdasarkan hasil observasi di Puskesmas Batukara Kabupaten Muna saat orientasi didapatkan 3 buah isu yang telah diidentifikasi dan terkategori, maka dilakukan analisis penilaian untuk mengetahui tingkat permasalahan isu melalui analisis APKL dengan skala skoring 1-5 untuk mengidentifikasi isu sebagai berikut :
Tabel 3.1 Analisis APKL
No Isu A P K L Total Nilai Ranking
1 Masih kurangnya pengetahuan kader posyandu tentang pengisian KMS di Wilayah Kerja Puskesmas Batukara
5 4 3 4 16 III
2 Masih Kurangnya Pengetahuan Ibu balita tentang Stunting di Puskesmas Batukara
5 5 4 4 18 I
3 Masih kurangnya partisipasi orang tua membawa bayi dan balita timbang ke posyandu di wilayah kerja Puskesmas Batukara
5 4 4 4 17 II
Keterangan:
Skor : 1 – 5
5 : Sangat tinggi 4 : Tinggi
3 : Cukup 2 : Rendah
1 : Sangat rendah
A : Aktual P : Problematik K : Kekhalayakan L : Layak
C. Isu Prioritas
Dari tabel 3.1 menunjukkan bahwa isu prioritas adalah Masih Kurangnya Pengetahuan Ibu balita tentang Stunting di Puskesmas Batukara.
D. Analisis Dampak Isu
Dampak yang mungkin terjadi apabila isu “Masih Kurangnya Pengetahuan Ibu balita tentang Stunting di Puskesmas Batukara” ini tidak dituntaskan melalui solusi pemecahan isu, antara lain:
a) Isu Stunting yang menjadi masalah kesehatan di Indonesia saat ini tidak akan teratasi kalau kita sebagai tenaga kesehatan yang berada di fasilitas tingkat primer/puskesmas tidak mempunyai upaya untuk melakukan pencegahan stunting.
b) Jika Stunting tidak mendapat perhatian akan berdampak pada kesehatan anak karena mempengaruhi tingkat perkembangan otak, metabolisme tubuh, dan pertumbuhan fisik secara otomatis akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia yang ada di Indonesia.
E. Gagasan Pemecahan Isu
Gagasan pemecahan isu dari yang di angkat yaitu Peningkatan Pengetahun Ibu Balita tentang Stunting di wilayah kerja Puskesmas Batukara.
F. Kegiatan dan Tahapan Untuk Memecahkan Isu
Untuk memecahkan isu kegiatan dan tahapan kegiatan yang di rencanakan adalan sebagai berikut :
Tabel 3.2
Kegiatan dan Tahapan yang dilakukan
No Kegiatan Tahapan kegiatan
1 Perencanaan Pelaksanaan Kegiatan
1) Konsultasi kepada kepala puskesmas kegiatan yang akan dilaksanakan.
2) Mencatat arahan atau petunjuk hasil konsultasi
3) Meminta persetujuan atasan tentang rencana kegiatan yang di aktualisasikan 2 Menyiapkan alat dan bahan 1) Menyiapkan materi konseling
2) Melakukan desain editing leaflet
3) Konsultasi hasil desain dengan atasan 4) Mencetak leaflet
5) Membuat kuesioner atau lembar evaluasi untuk pre dan post test
3 Pelaksanaan kegiatan 1) Pembukaan dan memperkenalkan diri 2) Pembagian kuesioner pre test
3) Pembagian leaflet 4) Melakukan konseling 5) Tanya jawab
6) Melakukan post test
4 Melakukan evaluasi 1) Mengumpulkan semua kuesioner
2) Memilih pre dan post test hasil jawab kuesioner
3) Menghitung jumlah hasil kuesioner 4) Mencatat hasil kuesioner
5 Membuat laporan hasil pelaksanaan kegiatan aktualisasi
1) Konsultasi dengan atasan terkait penyusunan laporan kegiatan
2) Menyusun laporan hasil pelaksanaan kegiatan
3) Menyampaikan hasil laporan pelaksanaan aktualisasi kepada atasan
G. Analisis Keterkaitan Nilai Dasar dengan Kegiatan
Berikut ini adalah analisis keterkaitan nilai dasar dengan kegiatan sekaligus keterkaitan dengan visi dan misi organisasi :
Tabel 3.3
Kegiatan dan Tahapan Untuk Memecahkan Isu kegiatan 1 : Perencanaan Pelaksanaan Kegiatan
Tahapan Kegiatan Output / hasil Kaitannya Dengan Nilai Dasar ANEKA 1. Berkonsultasi
dengan pimpinan untuk
menyampaikan rancangan kegiatan aktualisasi
Terlaksananya konsultasi dengan pimpinan
Akuntabilitas :
Saya akan bertanggungjawab dan transparasi pada saat konsultasikan dengan pimpinan tentang rancangan kegiatan aktualisasi
Nasionalisme :
Saya akan menggunakan bahasa yang baik kepada atasan pada saat berkonsultasi mengenai rancangan aktualisasi.
Etika Publik :
Saya akan berbicara dengan sopan dan santun saat berkonsultasi dengan pimpinan
Komitmen Mutu :
Saya akan menggunakan waktu yang efektifitas dan efisien serta inovatif pada saat berkonsultasi dengan pimpinan.
Anti Korupsi :
Saya akan bersikap jujur pada saat berkonsultasi dengan pimpinan.
2. Mencatat arahan atau petunjuk hasil konsultasi
Adanya
masukan dan saran yang diberikan oleh kepala
puskesmas selaku mentor
Akuntabilitas:
Saya akan bertanggunjawabkan serta mencatat hasil konsultasi
Nasionalisme:
Saya akan menggunakan bahasa yang baik dan benar pada saat mencatat arahan.
Etika Publik :
Saya akan cermat dalam mencatat arahan atau petunjuk hasil konsultasi Komitmen Mutu :
Saya akan efektif pada saat mencatat arahan dan petunjuk hasil konsultasi.
Antikorupsi :
Saya akan jujur dan tanggung jawab pada saat mencatat hasil konsultasi.
3. Meminta persetujuan atasan tentang rencana kegiatan
yang di
aktualisasikan
Tersedianya surat
persetujuan dari pimpinan yang telah
ditandatangani
Akuntabilitas:
Saya akan bertanggungjawab dalam meminta persetujuan
Nasionalisme :
Saya akn jujur dalam meminta persetujuan
Etika Publik :
Saya akan bersikap sopan dan santun saat meminta persetujuan
Komitmen Mutu :
Saya akan menggunakan waktu yang efektif dalam meminta surat persetujuan Anti Korupsi :
Saya akan jujur dan bertanggungjawab pada saat meminta surat persetujuan
Kaitannya dengan Visi dan Misi Organisasi: Dengan adanya koordinasi dengan pimpinan yang berdasarkan nilai – nilai ANEKA maka akan berkesinambungan dengan visi Organisasi yaitu: “Masyarakat Batukara Sehat & Maju”.
Penguatan Nilai Organisasi :koordinasi terhadap pimpinan termaksud nilai etika dalam pelayanan.
Dampak yang terjadi : Dampak yang mungkin terjadi bila tidak ada koordinasi yaitu, kemungkinan besarnya pelayanan tidak akan komunikatif sehingga pelayanan yang diberikan tidak efektif dan efisien.
Solusi : Memastikan terlebih dahulu adanya koordinasi, sebelum melakukan persiapan sosialisasi.
Kegiatan 2. Menyiapkan Alat dan Bahan Tahapan
Kegiatan
Output / hasil Kaitannya dengan nilai dasar ANEKA
1. Menyiapkan materi konseling
Tersedianya materi sosialisasi Satuan Acara Konseling (SAK)
Akuntabilitas :
Saya akan bertanggungjawab dalam menyiapkan materi konseling.
Nasionalisme :
Saya akan menggunakan bahasa yang baik dan sopan dalam menyiapkan materi Etika public:
Saya akan jujur dalam menyiapkan materi konseling
Komitmen mutu :
Saya akan menyiapkan materi yang bermutu
Anti Korupsi:
Saya akan menyiapkan materi konseling dengan mandiri dan penuh rasa tanggung jawab
2. Melakukan desain editing leafleat
Tersedianya leaflet
Akuntabilitas:
Saya akan melakukan desain editing dengan jelas.
Nasionalisme:
Saya akan menggunakan kata – kata yang mudah dipahami pada saat melakukan desain editing
Etika Publik :
Saya akan menggunakan gambar – gambar yang sopan dan terbuka tidak menyalahi aturan pada saat melakukan desain editing
Komitmen mutu :
Saya akan melakukan desain leaflet dengan gambar – gambar yang menarik Anti Korupsi:
Saya akan bekerja keras melakukan desain editing dan menyusun leaflet
3. Konsultasi hasil desain dengan atasan
Terlaksannya hasil konsultasi desain
Akuntabilitas :
Saya akan bertanggungjawab dan transparasi pada saat konsultasi dengan pimpinan
Nasionalisme :
Saya akan selalu bersikap hormat kepada atasan pada saat berkonsultasi
Etika Publik :
Saya akan berbicara dengan sopan dan santun saat berkonsultasi dengan pimpinan
Komitmen Mutu :
Saya akan efektifitas dan efisien serta inovatif pada saat berkonsultasi dengan pimpinan.
Anti Korupsi :
Saya akan bersikap jujur pada saat berkonsultasi dengan pimpinan.
4. Mencetak leaflet
Leaflet telah di cetak
Akuntabilitas:
Saya akan transparan dalam mencetak leaflet
Nasionalisme:
Saya akan jujur mencetak leaflet sesuai ketentuan kebutuhan yang diperlukan.
Etika Publik:
Saya akan cermat terhadap jumlah dan kualitas leaflet
Komitmen mutu :
Saya akan menggunakan waktu yang efektif dan efisien dalam mencetak leaflet Anti Korupsi:
Saya akan bertanggungjawab pada saat mencetak leaflet
5. Membuat
kuesioner atau lembar evaluasi pre dan post test
Tersedianya kuesioner atau lembar evaluasi
Akuntabilitas :
Saya akan bertanggungjawab dalam proses pembuatan kuesioner sebagai dokumen evaluasi
Nasionalisme:
Saya akan bersikap jujur dalam pembuatan kuesioner
Etika Publik :
Saya akan tekun saat menyiapkan kuesioner sebagai alat penilaian hasil Komitmen Mutu:
Saya akan berinovasi dalam pembuatan
kuesioner berorientasi pada mutu Anti korupsi:
Saya akan membuat kuesioner dengan jujur dan mandiri.
Kaitannya dengan visi dan misi organisasi : Dengan membuat media penyuluhan berupa leafleat yang berdasarkan pada nilai – nilai ANEKA sehingga terwujud visi “Masyarakat Batukara Sehat & Maju”.
Penguatan Nilai Organisasi : Pelayanan kesehatan yang dilakukan berdasarkan nilai – nilai ANEKA, maka berkaitan dengan nilai dari organisasi yaitu Berinovatif, Adil, Terjaga, Unggul, Kreatif, Aman, Rajin, dan Amanah (BATUKATA)
Dampak yang terjadi : Bila kegiatan tersebut tidak dilaksanakan maka akan terjadi kesenjangan atau kejenuhan pada masyarakat saat pelaksanaan sosialisasi.
Solusi : Solusi yang dapat dilakukan yaitu, mencari alternative lain berupa poster atau buku – buku yang berkaitan dengan stunting.
Kegiatan 3 : Pelaksanaan Kegiatan
Tahapan kegiatan Output/hasil Kaitannya dengan nilai ANEKA 1. Pembukaan dan
Memperkenalkan diri
mengucapkan salam dengan lengkap dan terbalasnya salam dari ibu balita
Akuntabilitas:
Saya akan transparansi dan jelas pada saat membuka dan memperkenalkan diri Nasionalisme:
Saya akan jujur pada saat memperkenalkan diri
Etika Publik:
Saya akan membuka dan memperkenalkan diri menggunakan bahasa yang sopan, santun dan terbuka.
Komitmen mutu:
Saya akan menggunakan waktu yang tepat pada saat pembukaan dan perkenalkan diri Anti Korupsi:
Saya akan mandiri dan berani pada saat pembukaan dan perkenalkan diri
2. Pembagian kuisioner pre tes
Kuisioner telah dibagikan
Akuntabilitas:
Saya akan bertanggungjawab dalam membagikan kuesioner pre test kepada seluruh ibu balita
Nasionalisme:
Saya akan membagikan kuesioner pre test dengan jujur dan adil
Etika Publik:
Saya akan membagikan kuesioner pre test dengan sopan dan santun
Komitmen mutu:
Saya akan membagikan kuesioner tepat waktu
Anti korupsi:
Saya akan membagikan kuisioner kepada seluruh ibu balita secara adil
3. Pembagian leaflet
Leaflet telah dibagikan
Akuntabilitas:
Saya akan bertanggungjawab dalam membagikan leaflet kepada seluruh ibu balita
Nasionalisme:
Saya akan membagikan leaflet dengan jujur dan adil
Etika Publik:
Saya akan ramah dan sopan pada saat membagikan leaflet
Komitmen mutu:
Saya akan membagikan leaflet tepat waktu Anti korupsi:
Saya akan membagikan leaflet kepada seluruh ibu balita secara adil
4. Melakukan Konseling
Terlaksananya Konseling
Akuntabilitas:
Saya akan bertanggungjawab dalam melakukan konseling
Nasionalisme:
Dalam melakukan konseling penggalian informasi tentang data personal ibu balita harus menghargai privacy pasien dan tidak membeda-bedakan satu dengan yang lainnya
Etika Publik:
Saya akan melakukan konseling dengan sopan dan ramah
Komitmen Mutu:
Saya akan inovatitif, efektif dan efisien dalam melakukan konseling
Anti Korupsi:
Saya akan memberikan informasi yang benar dan dapat di pertanggungjawabkan kepada ibu balita pada saat dilakukan konseling
5. Tanya jawab Membuka diskusi
terhadap ibu balita
Akuntabilitas:
Saya akan bertanggungjawab dan transparasi pada saat menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh ibu balita Nasionalisme:
Saya akan menghormati pertanyaan yang diberikan oleh ibu balita
Etika Publik:
Saya akan menjawab pertanyaan ibu dengan sopan dan mudah dimengerti
Komitmen Mutu:
Saya akan memberikan jawaban atas pertanyaan ibu dengan baik dan tepat
Anti Korupsi:
Saya akan berkata jujur pada saat menjawab.
6. Pembagian kuesioner ke 2 post test
Kuesioner telah dibagikan
Akuntabilitas:
Saya akan bertanggungjawab dalam membagikan kuesioner post test kepada seluruh ibu balita
Nasionalisme:
Saya akan membagikan kuesioner post test dengan jujur dan adil
Etika Publik:
Saya akan membagikan kuesioner post test dengan sopan dan santun
Komitmen mutu:
Saya akan membagikan kuesioner tepat waktu
Anti korupsi:
Saya akan membagikan kuesioner kepada seluruh ibu balita secara adil
Kaitannya dengan visi dan misi organisasi : Dengan di adakannya konseling gizi pada ibu balita yang berdasarkan pada nilai – nilai ANEKA sehingga terwujud visi
“Masyarakat Batukara Sehat & Maju”.
Penguatan Nilai Organisasi : Pelayanan kesehatan yang dilakukan berdasarkan nilai – nilai ANEKA, maka berkaitan dengan nilai dari organisasi yaitu Berinovatif, Adil, Terjaga, Unggul, Kreatif, Aman, Rajin, dan Amanah (BATUKATA)
Dampak yang terjadi :Bila kegiatan tersebut tidak dilaksanakan maka akan terjadi tingkat pengetahun ibu balita yang makin rendah tentang stunting.
Solusi :Solusi yang dapat dilakukan yaitu, mencari alternative selain konseling yaitu dengan pertemuan lintas sector.
kegiatan 4 : Melakukan Evaluasi
Tahapan Kegiatan Output / hasil Kaitannya Dengan Nilai ANEKA 1. Mengumpulkan
semua kuisioner pre dan post test
Semua kuisioner telah terkumpul
Akuntabilitas :
Saya akan bertanggungjawab untuk semua pengumpulan kuesioner pre dan post test
Nasionalisme :
Saya akan amanah pada saat mengumpulkan semua koesioner pre dan post test
Etika Publik :
Saya akan bersikap sopan pada saat mengumpulkan semua kuesioner pre dan post tes