Amelia Indriani, Ayu Riana Sari, Nita Pujianti, Sherly Rahmayani, Muhammad Adrianadi Ramadhan
Progrsm Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Lambung Mangkurat
Email korespondensi: [email protected]
ABSTRAK
Menurut United Nations Children's Fund (UNICEF) diantara 2.400 anak di Indonesia meninggal setiap hari meninggal akibat dari penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Imunisasi dasar adalah imunisasi awal yang diberikan untuk mencapai kekebalan di atas ambang perlindungan (imunisasi pada bayi) yang meliputi BCG (Bacillus Calmette Guerin), DPT/HB-Hib (Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis dan Haemophilus Influenza Tipe B) 3 kali, polio 4 kali dan campak 1 kali.
Capaian imunisasi di Desa Hilir Muara selama 3 tahun terakhir mengalami penurunan capaian, salah satu nya dari 100%, 97% menjadi hanya 85,3% yang mana ini tidak mencapai target capaian sebesar 95%. Untuk menganalisispeningkatan pengetahuan dan sikap kader posyandu terhadap imunisasi dasar. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain fish Born. Populasi seluruh kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Kotabaru. Sampel yang diteliti berjumlah 5 kader posyandu dengan metode yang digunakan untuk menganalisis pengetahuan dan sikap kader posyandu saat sebelum dan sesudah pemberdayaan, yaitu dengan menggunakan metode perhitungan Skala Gutmann untuk menilai pengetahuan dan Skala Likert untuk menilai hasil sikap. Tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah berkategori tinggi. Adapun tingkat pada pre-test sebesar 68% dan post-test sebesar 98%, yang artinya mengalami peningkatan pengetahuan. Setelah mendapat pemberdayaan berupa penyuluhan dan pelatihan kader didapatkan peningkatan pengetahuan dan sikap kader terkait imunisasi dasar .
Kata kunci: pemberdayaan, imunisasi dasar, kader , posyandu
ABSTRACT
Preliminary: According to the United Nations Children's Fund (UNICEF) in Indonesia among 2,400 children die every day die from communicable diseases which can be prevented by immunization (PD3I). Basic immunization is an early immunization given to achieve immunity above the threshold of protection (immunization in infants) which include BCG (Bacillus Calmette Guerin), DPT / HB-Hib (Diphtheria, Pertussis, Tetanus, Hepatitis and Haemophilus Influenza Type B) 3 times, 4 times polio and measles 1 times.
The achievement of immunization in the village of Lower Estuary during the last 3 years decreased performance, one of the 100%, 97% to only 85.3% which did not reach the target achievement of 95%.Research purposes:to analyze the increase in knowledge and attitudes towards immunization Posyandu cadre base. This research is a quantitative research using fish design Born. Materials and methods: The population of the entire cadre of neighborhood health center in Puskesmas Kotabaru. The samples studied
totaled 5 Posyandu cadres with the methods used to analyze the knowledge and attitude of Posyandu cadre before and after empowerment, namely by using a calculation method Gutmann Scale to assess knowledge and Likert Scale to assess the results of an attitude., Research result: level of knowledge before and after the high category. As for the pre-test level of 68% and post-test by 98%, which means an increase of knowledge.Conclusion: after receiving the empowerment in the form of counseling and training of cadres obtained improved knowledge and attitudes related cadre of primary immunization.
Keywords: empowerment, basic immunization, cadres, posyandu
PENDAHULUAN
Menurut United Nations Children's Fund (UNICEF) diantara 2.400 anak di Indonesia meninggal setiap hari adalah termasuk yang meninggal akibat dari penyakit menular yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Imunisasi merupakan salah satu investasi kesehatan yang paling cost-effective (rnurah), karena terbukti dapat mencegah dan mengurangi kejadian sakit, cacat, dan kematian akibat PD31 yang diperkirakan 2 hingga 3 juta kematian tiap tahunnya Imunisasi dasar pada anak sangat diperlukan untuk melakukan pengendalian Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Program imunisasi sangat penting agar tercapai kekebalan masyarakat (1,2).
Imunisasi dasar adalah imunisasi awal yang diberikan untuk mencapai pada kekebalan di atas ambang perlindungan (imunisasi pada bayi) yang meliputi BCG (Bacillus CalmetteGuerin), DPT/HB-Hib (Difteri, Pertusis, Tetanus, Hepatitis dan Haemophilus Influenza Tipe B) 3 kali, polio 4 kali dan campak 1 kali. Setelah mendapatkan imunisasi dasar, anak akan mendapatkan imunisasi lanjutan atau ulang, imunisasi ulangan diberikan untuk mempertahankan tingkat kekebalan di atas ambang perlindungan atau untuk memperpanjang masa perlindungan. Imunisasi dasar diberikan pada bayi sebelum berusia satu tahun, sedangkan imunisasi lanjutan diberikan pada anak usia bawah dua tahun (Baduta), anak usia sekolah dasar dan wanita usia subur (WUS) (3,4).
Imunisasi tambahan merupakan jenis Imunisasi tertentu yang diberikan pada kelompok umur tertentu yang paling berisiko terkena penyakit sesuai dengan kajian epidemiologis pada periode waktu tertentu. Imunisasi khusus dilaksanakan untuk melindungi seseorang dan masyarakat terhadap penyakit tertentu pada situasi tertentu seperti persiapan keberangkatan calon jemaah haji/umroh, persiapan perjalanan menuju atau dari negara endemis penyakit tertentu, dan kondisi kejadian luar biasa/wabah penyakit tertentu (5).
Anak yang tidak diimunisasi akan menyebarkan kuman-kuman ke lingkungan disekitarnya sehingga dapat menimbulkan wabah yang menyebar, menyebabkan cacat atau kematian lebih banyak. Oleh sebab itu, jika orang tua tidak mau anaknya diberikan imunisasi maka dapat membahayakan kesehatan anak-anak lain di sekitarnya, karena mudah tertular penyakit berbahaya yang dapat menimbulkan sakit berat, cacat, atau kematian (2).
Dalam Laporan Tahunan Puskesmas Kotabaru dengan indikator kinerja persentase cakupan imunisasi dasar ditargetkan sebanyak 95% dan terealisasikan sebanyak 100% pada tahun 2016. Pada tahun 2017 capaian imunisasi dari 8 desa yaitu Baharu Utara (130%), Hilir Muara (97%), Tirawan (108%), Sarang Tiung (88%), Gedambaan (104%), Kotabaru Hilir (102%), Batuah (88%), dan Sigam (103%).
Sedangkan capaian imunisasi tahun 2018 yaitu Baharu Utara (106,5%), Hilir Muara (85,3%), Tirawan (136,4%), Sarang Tiung (107,4%), Gedambaan (96,4%), Kotabaru Hilir (96,5%), Batuah (88,1%), dan Sigam (114,3%).
Dari hasil tersebut dapat diketahui capaian imunisasi di wilayah kerja Puskesmas Kotabaru selama 3 tahun terakhir untuk beberapa desa ada yang mengalami penurunan
capaian, salah satu nya Desa Hilir Muara dari 100%, 97% menjadi hanya 85,3% yang mana ini tidak mencapai target capaian puskesmas yaitu sebesar 95%.(6,7,8).
Imunisasi dasar merupakan salah satu pelayanan promotif dan preventif yang termasuk dalam jaminan kesehatan nasional. Dengan tersedianya sarana dan prasarana dari pemerintah untuk masyarakat melalui puskesmas, capaian cakupan imunisasi dasar di Puskesmas Kotabaru seharusnya dapat meningkat setiap tahunnya untuk semua desa di wilayah kerja Puskesmas Kotabaru. Melihat kenyataan ini, diperlukan evaluasi program imunisasi yang menyeluruh oleh semua pihak terkait. Sejalan dengan hal tersebut, masyarakat pun perlu diberi edukasi secara terus-menerus tentang pentingnya imunisasi bagi anak.
Kader posyandu adalah anggota masyarakat yang bersedia, mampu, dan memiliki waktu untuk menyelenggarakan kegiatan posyandu secara sukarela. Kader bertanggung jawab kepada bidan desa dan setiap kader telah dibekali buku saku yang berisi tugas dan fungsi sebagai kader posyandu. Posyandu sangat berperan penting untuk menunjang dalam pencapaian kesehatan ibu dan anak, sala satunya yaitu imunisasi dasar (9) .
Pemberdayaan kader sebagai salah satu bentuk pelatihan dan pendidikan informal yang tepat guna dan berkesinambungan yang menjadi salah satu alternatif dalam pengelolaan posyandu. Berdasarkan penelitian Sari dkk, tahun 2018 tentang pelatihan kader disebutkan bahwa pemberdayaan dengan adanya pelatihan kader dapat menambah wawasan, dan pengalaman serta dapat mempraktekan ilmu dan keterampilan yang telah diberikan (10).
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu dilakukan identifikasi terhadap permasalahan dan menentukan alternatif terkait peningkatan pengetahuan dan sikap kader posyandu mengenai imunisasi dasar.
METODE
Penelitian ini dilakukan di Desa Hilir Muara Kabupaten Kotabaru, penelitian berlangsung selama 1 bulan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Kotabaru. Sampel pada penelitian ini sebanyak 5 sampel kader posyandu, teknik pengambilan sampel pada penelitian ini berupa simple random sampling. Data diperoleh dari data perimer yaitu wawancara dengan pemegang program imunisasi, dan data sekunder yang didapatkan dari Puskesmas Kotabaru yaitu profil puskesmas dan data laporan bulanan program imunisasi. Penyajian data pada penelitian ini adalah berupa tabel. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini adalah kuesioner pretest dan posttest. Dan media yang digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap kader posyandu adalah media power point, buku imunisasi, dan buku kader posyandu.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kegiatan pemberdayaan terdiri dari beberapa tahapan kegiatan, yaitu:
1. Penyuluhan terkait Imunisasi Dasar
Kegiatan intervensi dilaksanakan di Posyandu Tembang Desa Hilir Muara. Desa Hilir Muara merupakan salah satu Desa di wilayah kerja Puskesmas Kotabaru yang capaian Imunisasi Dasar masih cukup rendah dibandingkan desa lainnya. Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan pemberian materi oleh bidan desa terkait pandangan masyarakat yang kurang tepat mengenai imunisasi dasar. Pemberdayaan kader posyandu dengan materi pengetahuan dan sikap kader terkait imunisasi dasar ini telah dilakukan di rumah salah satu kader dan mendapatkan respon yang baik dari kader.
Tujuannya sendiri adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap kader akan informasi terkait imunisasi dasar.
Adapun materi yang diberikan pada saat kegiatan intervensi berisi tentang jenis- jenis imunisasi dasar, manfaat imunisasi dasar, penyakit yang dapat dicegah setelah
masyarakat terutama keluarga bayi dan balita dalam menangani kejadian yang berhubungan dengan imunisasi dasar. Diharapkan nantinya setelah pengetahuan serta sikap kader meningkat, maka kader dapat menyebarluaskan informasi tersebut kepada masyarakat terutama ibu balita sehingga tergerak untuk membawa anak mereka ke Posyandu untuk melakukan imunisasi khususnya Posyandu Tembang Desa Hilir Muara 2. Pendampingan Kader di Posyandu
Seorang kader adalah sukarelawan dari komunitas lokal yang dianggap memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat setempat dan dianggap mampu memberikan layanan kesehatan. Kader posyandu merupakan seorang tenaga sukarela yang dipilih dari masyarakat dan untuk membantu mengembangkan kesehatan masyarakat dengan menjalankan kegiatan di posyandu yang diantaranya meningkatkan cakupan imunisasi (11).Setiap kader posyandu merupakan tanggung jawab bidan desa. Kader posyandu sebelumnya telah dibekali oleh buku panduan kader dari Puskesmas, yang seharusnya setiap kader pahami keseluruhan isi buku panduan tersebut. Selain buku panduan, kader juga harus memahami isi dari buku KIA yang di bawa setiap bulan ke posyandu, agar kader dapat memberikan informasi dan menjelaskan pada ibu bayi & balita mengenai hal- hal yang kurang mereka pahami ataupun pandangan dan pendapat mereka yang kurang tepat mengenai kesehatan bayi&balita salah satunya imunisasi dasar.
Peranan kader sangat penting karena kader bertanggung jawab dalam pelaksanaan program posyandu. Kader ikut berperan dalam kesehatan ibu dan anak, sebab melalui kader para ibu mendapatkan informasi kesehatan lebih dulu. Peran kader dalam meningkatkan cakupan imunisasi diantaranya memberikan penyuluhan dan memberikan informasi yang bertujuan agar ibu-ibu balita dapat mengetahui tentang imunisasi dan sadar akan pentingnya imunisasi tersebut. Hal ini akan menambah kemauan ibu-ibu membawa anaknya untuk di imunisasi sehingga bayi dan anak-anak dapat tercegah dari penyakit berbahaya dan mematikan. Pencegahan tersebut akan berdampak positif pada penurunan jumlah angka kematian bayi dan anak-anak, dan bisa meningkatkan jumlah cakupan imunisasi sesuai target yang telah ditetapkan (11,12).
Dengan adanya pendampingan kader di posyandu Diharapkan kader dapat menjalankan tugas dan fungsinya sesuai dengan buku panduan kader serta kader dapat melakukan pelayanan posyandu yang terbaik di selingi dengan pemberian informasi kepada ibu bayi&balita agar menambah pengetahuan terkait imunisasi dasar. Diharapkan setelah pulang dari posyandu, para ibu bayi&balita dapat menyebarkan informasi yang sudah didapatkan ke para ibu yang mungkin masih ragu dan takut anak mereka melakukan imunisasi dasar.
Kurangnya peran kader dalam mendapatkan imunisasi dasar lengkap karena masih adanya kader yang belum aktif dan kurangnya pemahaman kader dengan peran dia sebagai kader itu sendiri. Untuk itu petugas kesehatan memberikan pelatihan kepada kader, agar kader memahami perannya sebagai kader. Seharusnya kader lebih aktif lagi, kader harus lebih sering untuk mengajak dan melakukan motivasi kepada ibu bayi agar ibu mau membawa anaknya ke posyandu untuk mendapatkan imunisasi dasar lengkap (13).
Dengan menyampaian yang benar terkait manfaat dan cara penanganan yang tepat untuk pasca imunisasi dasar, maka para ibu tidak akan merasa cemas dan khawatir terhadap kandungan dan efek dari imunisasi dasar tersebut. Semakin banyak anak yang diimunisasi, semakin banyak anak yang dapat terhindar dari berbagai penyakit, dengan ini Diharapkan dapat meningkatkan cakupan pelayanan imunisasi dasar di Desa Hilir Muara.
Hasil analisis dari pengukuran pengetahuan masyarakat peserta kegiatan sosialisasi dapat menjadi masukan dan sebagai evaluasi dari kegiatan pemberdayaan kader oleh bidan desa di wilayah kerja Puskesmas Kotabaru. Sehingga pre dan post test ini dapat digunakan nantinya untuk mengetahui ada atau tidak peningkatan pengetahuan dan sikap kader posyandu pada kegiatan pemberdayaan lainnya terkait imunisasi dasar.
Tabel 1. Persentase Tingkat Pengetahuan Kader Sebelum diberi Materi tentang Imunisasi Dasar
Rentang Kategori Pre-test Post-test
Berdasarkan tabel 1. diatas, dapat diketahui bahwa tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah berkategori tinggi. Adapun tingkat pada pre-test sebesar 68% dan post-test sebesar 98%, yang artinya mengalami peningkatan pengetahuan. Adapun hasil peningkatan pengetahuan kader, yaitu Kader B sebesar 20%, kader E sebesar 30%, kader R sebesar 10%, kader H sebesar 30%, dan kader N meningkat sebesar 30%.
Tabel 2. Persentase Sikap Kader Sebelum diberi Materi tentang Imunisasi Dasar
Rentang Kategori Pre-test Post-test
Berdasarkan tabel 2. diatas, dapat diketahui bahwa sikap reponden sebelum dan sesudah pemberdayaan bernilai positif. Hal ini signifikan dengan peningkatan pengetahuan, adapun sikap kader posyandu sebelum dan sesudah kegiatan intervensi mengalami peningkatan. Adanya pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki kader posyandu, juga Diharapkan mereka dapat menjawab semua keraguan para orang tua terkait manfaat dan penanganan imunisasi dasar. Selain untuk menambah cakupan capaian pelayanan imunisasi dasar di Desa Hilir Muara serta Puskesmas Kotabaru, hal ini juga menambah cakupan anak yang dapat terhindar dari berbagai penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dasar.
PENUTUP
Berdasarkan penelitian yang dilakukan terdapat perbedaan yaitu mengalami peningkatan pengetahuan dan sikap kader setelah dilakukan pemberdayaan kader yang terdiri dari penyuluhan dan pelatihan kader posyandu terkait imunisasi dasar, dengan bertambahnya pengetahuan dan sikap maka dapat membentuk suatu tindakan seseorang.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat dan kepada pihak Puskesmas Kotabaru yang telah memberikan izin dan kesempatan untuk melakukan penelitian di Kabupaten Kotabaru.
DAFTAR PUSTAKA
1. Indiyani D, Susi WA. Persepsi ibu muda dan keluarga tentang pemberian imunisasi (pendekatan maternal sensitivity models berbabis keluarga). Jurnal Kesehatan 2017 5(1): 60-68.
2. Nainggolan O, Dwi HT, Lely I. Karakteristik kegagalan imunisasi lengkap di Indonesia (analisa data Riskesdas tahun 2013). Media Litbangkes 2018 29-1: 13-24.
3. Aritonang J. Peningkatan pengetahuan ibu tentang imunisasi Pentabio Lanjutan setelah pemberian pendidikan kesehatan di Puskesmas Lampaseh Aceh. Jurnal Riset Kesehatan Nasional 2018 2(2): 1-7.
4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2017 tentang Peyelenggaraan Imunisasi. 2017.
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
X < 80 Rendah 2 40% 0 0%
X > 99 Tinggi 3 60% 5 100%
Frekuensi Persentase Frekuensi Persentase
X < 80 Rendah 1 20% 0 0%
X > 99 Tinggi 4 80% 5 100%
5. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia tahun 2018, 2018.
6. Profil Puskesmas Kotabaru, Puskesmas Kotabaru 2016.
7. Profil Puskesmas Kotabaru, Puskesmas Kotabaru 2017.
8. Profil Puskesmas Kotabaru, Puskesmas Kotabaru 2018.
9. Lalolorang M, Ardiabsa ATT, Frankie RRM. Hubungan antara motivasi dan dukungan keluarga dengan keaktifan kader posyandu di Kecamatan Likupang Timur Kabupaten Minahasa Utara. Jurnal Kesmas 2019 7(4): 1-8.
10. Sari P, Sefita AN, Didah. Evaluasi pelaksaaan revatalisasi posyandu dan pelatihan kader sebagai bentuk pengabdian masyarakat. (studi kasus di rw 06 Desa Cileles Kecamatan Jatinangor tahun 2017). Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat 2018 2(2) : 1-5.
11. Andriani M, Puadi. 2015. Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja kader posyandu dalam kegiatan imunisasi dasar lengkap di wilayah kerja Puskesmas Perkotaan Rasimah Ahmad tahun 2015. Jurnal Ilmu Kesehatan Afiyah, 2(2): 1-13.
12. Sengkey SW, Kandou GD, Pangemabab JM. 2015. Analisis kinerja kader posyandu di Puskesmas Paniki Kota Manado. JIKMU, 5(2): 409-501.
13. Oktarina S. 2018. Hubungan peran kader dan dukungan keluarga dengan kelengkapan imunisasi dasar pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Tarusan. Menara Ilmu, 12(80): 111-118