• Tidak ada hasil yang ditemukan

KECAMATAN CEMPAKA KOTA BANJARBARU

Ratna Setyaningrum1, Noor Ahda Fadillah1, Ihya Hazairin Noor1, Mufatihatul Aziza Nisa1, Riadhatul Jannah2, Siti Nur Asiah2

1Program Studi Kesehata Masyarakat, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru

2Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru

Email korespondensi: [email protected] ABSTRAK

Pertambangan intan di Kecamatan Cempaka merupakan usaha tradisional di Kota Banjarbaru. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya diketahui bahwa analisis postur kerja menggunakan metode Ovako Working Analysis System (OWAS) menunjukkan terdapat 43,3% pendulang (26 orang dari total 60 pendulang) yang bekerja dengan postur tubuh yang berisiko. Selain itu penilaian risiko manual handling dengan metode indikator kunci-LMM (LeitmerkMalMethode) diketahui bahwa 25%

pendulang beraktivitas manual handling yang tidak aman. Pelaksanaan intervensi ini bertujuan memberikan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pada pendulang intan terkait dengan cara kerja dan cara angkat yang aman yang diistilahkan sebagai safe working activity (SWAT) sebagai upaya pengendalian teknis dalam mengurangi risiko bahaya ergonomi di tempat kerja. Berdasarkan hasil kegiatan diketahui bahwa terjadi peningkatan pengetahuan pada 23 orang responden atau 74,2% dengan persentase peningkatan pengetahuan secara rata-rata adalah 169,6%, dan jika dihitung dari rerata nilai pre test dan rerata selisih antara pre-post test maka didapatkan rata-rata peningkatan pengetahuan sebesar 92,3%. Hasil uji statistic dengan menggunakan Uji Wilcoxon juga diketahui bahwa nilai sig. 0,000 < 0,05 yang berarti keputusannya adalah Ho ditolak, artinya ada perbedaan pengetahuan antara sebelum dan sesudah dilakukannya kegiatan intervensi.

Kata kunci: ergonomi, safe working activity, pendulang intan ABSTRACT

Diamond mining in Cempaka district is a traditional bussiness in Banjarbaru City.

Based on previous study it is known that work posture analysis using Ovako Working Analysis System (OWAS) method shows that there is 43.3% of panners work in risky body postures. In addition, the manual handling risk assessment using LMM (LeitmerkMalMethod) key indicator method is known that 25% of panners have unsafe manual handling activities. The implementation of this intervention aims to provide training in improving knowledge and skills of diamond panners related to work menthods and safe lifting methods termed safe working activities (SWAT) as an effort of technical control in reducing the risk of ergonomics hazards in the workplace. Based on the intervention program it is found that there is an increase in knowledge among 23 (74.2%) respondents with the percentage increase in knowledge on average is 169.6% and the average value of the pre-post test is 92.3%. statistical test result using wilcoxon test

27 shows the significance value 0,000 < 0,05 (Ho rejected). It means there is differences in knowledge before and after intervention.

Keywords: ergonomics, safe working activity, diamond panner PENDAHULUAN

Terbatasnya sektor formal dalam penyerapan tenaga kerja telah menyebabkan munculnya jalur alter natif sebagai sektor pengaman yang mampu menampung tenaga kerja yang tidaks sebanding jumlahnya dengan lapangan kerja formal yakni sektor informal. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tercatat bahwa di Indonesia pada Februari 2017 jumlah pekerja informal sebesar 58,35% (72,67 juta) sedangkan di sektor formal hanya 41,65% (51,87 juta) (1). Di Kalimantan Selatan sendiri, jumlah pekerja informal di bulan Februari 2017 lebih tinggi dari angka nasional, yaitu sekitar 63,26% dan sisanya yaitu sekitar 36,74% bekerja di sektor formal (2).

Pertambangan intan di Kecamatan Cempaka merupakan salah satu sektor usaha yang tergolong dalam sektor informal dan tergolong sebagai industri penggalian tradisional yang sudah terkenal menjadi trademark dan destinasi wisata di Kota Banjarbaru. Kegiatan ini telah sejak lama diusahakan oleh masyarakat Kecamatan Cempaka secara turun-temurun sehingga sebagian besar masyarakat di daerah tersebut berprofesi sebagai penambang.

Pertambangan intan di wilayah Cempaka masih menggunakan cara tradisional dalam prosesnya dimana pekerja harus masuk ke lubang penggalian dan secara manual memilah intan dari material lainnya secara berulang. Hal ini sangat berpotensi menyebabkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan pada salah satu lokasi penambangan, yaitu Tambang Intan Peen Cempaka diketahui bahwa sebagian besar pekerja penambang intan berada di lokasi tambang selama 8 – 10 jam per hari. Sebagian besar dari waktu tersebut dihabiskan unutk berendam di dalam air untuk proses pendulangan. Aktivitas ini biasa disebut melenggang. Dalam aktivitas ini pekerja menyortir antara pasir dan bebatuan yang kemungkinan kecil terselip intan.

Hasil penelitian sebelumnya juga diketahui bahwa berdasarkan analisis postur kerja dengan menggunakan metode Ovako Working Analysis System (OWAS) diketahui bahwa terdapat 43,3% pendulang (26 orang dari total 60 pendulang) yang bekerja dengan postur tubuh yang berisiko, dan penilaian risiko manual handling dengan metode indikator kunci-LMM (LeitmerkMalMethode) diketahui bahwa 25% pendulang (15 orang dari total 60) yang beraktivitas manual handling tidak aman.

Keseluruhan proses dalam penambangan intan dilakukan secara manual dengan keterampilan dan pengerahan tenaga manusia, ditambah dengan proses tersebut dilakukan dengan postur yang berisiko. Hal ini tentu akan meningkatkan risiko terjadinya keluhan pada sistem otot-skeletal.Haryanti dan Ramdan (2015) menyatakan bahwa postur kerja yang berisiko dan tidak alamiah merupakan salah satu faktor yang dapat meningkatkan timbulnya keluhan musculoskeletal. Hasil studi menunjukkan bahwa bagian otot yang sering dikeluhkan adalah otot rangka yang meliputi otot leher, bahu, lengan, tangan, jari, punggung, pinggang, dan otot bagian bawah (3)

Pekerjaan yang memaksa tenaga kerja untuk berada pada postur kerja yang tidak ergonomis menyebabkan tenaga kerja lebih cepat mengalami kelelahan dan secara tidak langsung memberikan tambahan beban kerja. Penerapan posisi kerja yang ergonomis akan mengurangi beban kerja dan secara signifikan mampu mengurangi kelelahan atau masalah kesehatan yang berkaitan dengan postur kerja serta memberikan rasa nyaman kepada tenaga kerja terutama dalam pekerja yang monoton dan berlangsung lama, jika penerapan ergonomi tidak dapat terpenuhi akan menimbulkan ketidaknyamanan atau munculnya rasa sakit pada bagian tubuh tertentu (3). HSE (2018) juga menyatakan proses manual handling dengan postur yang berisiko menjadi penyebab ketiga dari

28 seluruh cidera di tempat kerja, termasuk cidera pada bagian otot-rangka, seperti rasa nyeri dan sakit pada bagian lengan, pinggang, kaki, dan sendi serta bagian tubuh lainnya (4).

Salah satu strategi utama untuk mengatasi masalah tersebut diatas adalah dengan melakukan aktivias kerja yang aman. Studi yang dilakukan oleh Institute for Work and Health di Toronto menunjukkan bahwa penerapan aspek ergonomi dalam aktivitas pekerjaan, dimana salah satunya adalah cara bekerja yang aman cara angkut yang aman akan meningkatkan kesehatan dan produktivitas kerja. Output dari penerapan aspek ergonomi tersebut adalah dapat memberi keuntungan ekonomis kepada tempat kerja.Cara bekerja yang aman dapat mencegah terjadinya keluhan muskuloskeletal.

Ontario (2011) menyebutkan bahwa cara bekerja yang aman, seperti pengaturan cara kerja, pengaturan stasiun kerja dan cara angkat yang aman untuk mencegah terjadinya keluhan muskuloskeletal.

Pelaksanaan intervensi ini bertujuan memberikan pelatihan untuk menambah pengetahuan dan keterampilan pada pendulang intan terkait dengan cara kerja dan cara angkat yang aman yang diistilahkan sebagai safe working activity (SWAT) sebagai upaya pengendalian teknis dalam mengurangi risiko bahaya ergonomi di tempat kerja. Adapun pemaparan safe working activity mengacu dari HSE (2018) dimana terdapat 11 prinsip dalam, yaitu: think before lifting/handling, adopt a stable position, get a good hold, start in a good posture, don’t flex the back any further while lifting, keep the load close to the waist, avoid twisting the back or leaning sideways, keep the head up when handling, move smoothly, dont lift or handle more than can be easily managed, put down then adjust (4).

METODE

Penelitian ini merupakan quasi eksperimental untuk melihat efektivitas dari intervensi yang diberikan, yaitu transfer keilmuan dan transfer keterampilan berupa teknik peregangan dengan metode SWAT dengan cara melihat perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah dilakukannya intervensi. Populasi dalam kegiatan ini adalah seluruh pendulang intan di Kecamatan Cempaka Kota Banjarbaru sedangkan sampel yang diambil dalam penelitian ini menggunakan teknik insidentil sampling hingga memenuhi jumlah minimal 30 orang sebagai syarat minimum sampel penelitian kuantitatif.

Intervensi dilakukan pada satu waktu dengan cara melakukan penyuluhan serta membagikan leaflet. Penilaian pengetahuan akan diukur dengan menggunakan kuesioner. Hasil penilaian pengetahuan akan disajikan secara deskriptif dengan melihat disribusi dan frekuensi peningkatan pengetahuan ketika pre test dan post test. Hasil tersebut juga akan diuji dengan menggunakan uji Wilcoxon untuk melihat perbedaan sebelum dan sesudah dilakukan kegiatan pengabdian.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kegiatan intervensi dilaksanakan Hari Kamis Tanggal 10 Oktober 2019. Kegiatan intevensi dilaksanakan bertepatan dengan jam istirahat siang hingga menjelang akhir waktu kerja para pendulang. Adapun lokasi pelaksanaan intervensi bertempat di halaman salah satu rumah warga di dekat area pendulangan intan, Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru. Kegiatan diawali dengan perkenalan dan penyampaian tujuan kegiatan oleh tim peneliti yang dilanjutkan dengan pemberian pre- test yang terdiri dari 10 (sepuluh) pertanyaan bagi responden kegiatan. Selanjutnya dilaksanakan penyampaian materi pelatihan yang disertai dengan kegiatan demonstrasi mengenai SWAT. Responden yang hadir dalam kegiatan intervensi berjumlah 34 orang.

Namun dari hasil pengumpulan kuesioner pre dan post test terdapat 3 data missing

29 sehingga rekapitulasi data hanya dilakukan pada 31 responden. Adapun karakteristik responden kegiatan disajikan dalam tabel berikut.

Tabel 1. Karakteristik Responden

No Variabel Jumlah Presentase

Jenis Kelamin

1 Laki-Laki 31 100

Perempuan 0 0

Total 31 100%

Usia

2 ≤35 tahun 13 41,9

>35 tahun 18 58,1

Total 30 100%

Status Merokok

3 Tidak merokok 23 74,2

Merokok 8 25,8

Total 31 100%

Kebiasaan Olahraga

4 Rutin 14 45,2

Tidak Rutin 17 54,8

Total 31 100%

Lama Bekerja

5 ≤15 tahun 12 38,7

>15 tahun 19 61,3

Total 31 100%

Seluruh responden kegiatan berprofesi sebagai penambang intan di Kelurahan Sungai Tiung, Kecamatan Cempaka, Kota Banjar Baru. Seluruh responden yang mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat berjenis kelamin laki-laki (31 orang atau 100%), berusia >35 tahun (18 orang atau 58,1%), merokok (23 orang atau 74,2%), tidak memiliki kebiasaan rutin dalam berolahraga (17 orang atau 54,8%) dan lama bekerja lebih dari 15 tahun (19 orang atau 61,3%).

Hasil nilai pre-tes dan post-test penilaian pengetahuan pada responden disajikan dalam tabel berikut

Tabel 2. Hasil Nilai pre-test dan post-test pada responden

No. Nilai Pre-test Nilai Post- Persentase

Responden test Selisih Peningkatan (%)

1. 20 45 25 125

2. 50 50 0 0

3. 40 40 0 0

4. 40 80 40 100

5. 60 60 0 0

6. 30 60 30 100

7. 40 70 30 75

8. 10 60 50 500

9. 50 50 0 0

10. 30 60 30 100

11. 10 70 60 600

12. 40 70 30 75

13. 30 30 0 0

14. 60 60 0 0

15. 10 60 50 500

30 No. Nilai Pre-test Nilai Post-

Responden test Selisih

Persentase Peningkatan (%)

16. 10 50 40 400

17. 40 80 40 100

18. 40 80 40 100

19. 30 70 40 133,3

20. 10 60 50 500

21. 20 70 50 250

22. 20 70 50 250

23. 60 60 0 0

24. 20 70 50 250

25. 40 70 30 75

26. 20 60 40 200

27. 10 70 60 600

28. 30 70 40 133,3

29. 40 40 0 0

30. 40 50 10 25

31. 30 50 20 66,7

Nilai rata-rata 31,6 60,8 29,2 169,6

Rata-Rata Peningkatan Pengetahuan 92,3%

Sumber: Data primer

Berdasarkan Tabel diketahui bahwa dari 31 (tiga puluh) responden. terdapat 23 responden (74,2%) mengalami peningkatan pengetahuan. Adapun tingkat pengetahuan awal berdasarkan nilai rata-rata pre-test adalah sebesar 31,6 poin dan peningkatan pengetahuan setelah diberikan penyuluhan berdasarkan nilai rata-rata post-test adalah sebesar 60,8 poin. Terjadi peningkatan nilai pre-test dan post-test dengan rata-rata sebesar 29,2 poin, dan jika dinyatakan dalam persen maka terjadi peningkatan pengetahuan pada responden dengan rerata 169,6%. Jika dihitung dari rerata nilai pre test dan rerata selisih antara pre-post test maka didapatkan rata-rata peningkatan pengetahuan sebesar 92,3%. Peningkatan nilai tertinggi adalah melebihi 100% yaitu pada responden 11 dan 27 dengan nilai pre-test sama-sama sebesar 10 poin meningkat menjadi 70 poin setelah mengikuti kegiatan penyuluhan.

Meskipun selisih rerata nilai post test masih berada di ambang nilai yang belum memuaskan yaitu 60,8 poin namun hal ini dapat dimaklumi, karena pada dasarnya tingkat responden manual handling dan cara bekerja yang aman masih minim. Setelah mendapatkan penyuluhan dan praktik, responden mulai sedikit memahami teori dan teknik tersebut. Namun jika dilihat dari angka rerata peningkatan pengetahuan, hasil kegiatan pengabdian ini dapat dikategorikan berhasil karena mampu meningkatkan pengetahuan responden hampir mencapai 100%.

Adapun jika dilakukan uji analisis dengan menggunakan uji Wilcoxon (disebabkan data tidak berdistribusi normal) maka didapatkan hasil uji sebagai berikut.

Tabel 3 Uji Wilcoxon Pengetahuan Pengetahuan Pekerja Pendulang Intan sebelum dan sesudah diberi penyuluhan

Variabel Rata-Rata nilai P-value

Pre Post

Pengetahuan 31,6 60,8 0,000

Pada Tabel dapat diketahui bahwa nilai sig. 0,000 < 0,05 yang berarti

keputusannya adalah Ho ditolak, artinya ada perbedaan pengetahuan antara sebelum

31 dan sesudah. terdapatnya perbedaan terjadi karena kebanyakan responden penyuluhan mengalami skor yang meningkat ketika post-test.

Edukasi merupakan penambahan pengetahuan dan kemampuan seseorang melalui teknik praktik belajar atau instruksi dengan tujuan untuk mengingat fakta atau kondisi nyata, dengan cara memberikan informasi-informasi atau ide yang baru (5).

Pemberian edukasi dalam kegiatan pengabdian ini melalui metode penyuluhan dan pelatihan dengan bantuan media leaflet bertujuan untuk menambah pengetahuan mengenai cara bekerja yang aman dan teknik dalam manual handling yang jika dilihat dari tabel 6.3 dapat dikategorikan berhasil.

Hasil dari tabel tersebut juga menunjukan bahwa telah terjadi peningkatan pengetahuan pada responden. Wulandari (2013) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa pengetahuan dapat diperoleh dari proses ingatan tentang sesuatu yang diketahuinya, baik melalui pengalaman, belajar, ataupun informasi dari orang lain.

Pernyataan serupa juga diutarakan Sukardjo (2007) yang dalam penelitiannya menyebutkan bahwa pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap aman dalam bekerja pada pekerja dengan pendekatan pendidikan dan pelatihan.

Upaya peningkatan pengetahuan dan sikap dalam bekerja diperlukan usaha yang terencana dan terprogram. Usaha tersebut dapat dilakukan dengan berbagai kegiatan melalui pendekatan pendidikan dan pelatihan tentang keselamatan dan kesehatan kerja (6).

Pengetahuan merupakan domain yang paling penting untuk terbentuknya tindakan seseorang, maka dari itu perilaku yang didasari dengan pengetahuan dan kesadaran akan bertahan lama dibandingkan perilaku yang tidak didasari ilmu pengetahuan dan kesadaran. Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan diantaranya adalah pendidikan, informasi/media massa, lingkungan, pengalaman, usia dan sikap (7).

Pengetahuan merupakan dasar timbulnya sikap dan dipengaruhi oleh aspek umur, tingkat pendidikan, pengamalan dan lain-lain. Notoatmodjo (2007) menyebutkan mayoritas pengetahuan manusia diperoleh melalui pendidikan, pengalaman diri sendiri, orang lain, media massa dan lingkungan. Pengetahuan individu dapat ditingkatkan secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung dilakukan dengan metode penyuluhan, pelatihan, konseling dan lain-lain. Sedangkan metode tidak langsung yaitu dengan pemberian media seperti leaflet, poster, sticker, dan lain- lain. Sedangkan Azwar (2010) menyebutkan pengetahuan mempunyai peran penting dalam membentuk sikap dan perilaku seseorang yang menentukan kualitas kesehatan masyarakat (6).

Pengetahuan dan sikap merupakan covert behavior dimana itu adalah faktor internal yang ada di dalam diri seseorang dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain sedangkan tindakan merupakan overt behavior yang sudah dapat dilihat jelas oleh orang lain karena dilakukan dengan tindakan nyata bukan hanya sekedar ada di dalam diri seseorang (8).

Peningkatan pengetahuan merupakan langkah awal perubahan perilaku.

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Peningkatan pengetahuan terbukti melalui pelatihan yang diberikan kepada responden dimana pelatihan ini melibatkan partisipasi responden secara aktif dalam belajar dan melakukan praktik secara langsung. Semakin aktif keterlibatan responden pelatihan dalam proses pelatihan, maka akan semakin tinggi motivasi yang akan timbul dari dalam diri responden, karena motivasi adalah salah satu aspek dinamis yang penting dalam proses pembelajaran (9).

32 Sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yaitu awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek).

Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus, subjek sudah mulai timbul. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus bagi dirinya. Trial (mencoba), yaitu subjek mulai mencoba melakukan sesuatu yang sesuai dengan yang dikehendaki oleh stimulus. Adoption, yaitu subjek telah berprilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya terhadap stimulus (9).

PENUTUP

Hasil dari penelitian diketahui bahwa terjadi peningkatan pengetahuan pada responden pendulang intan. Hal ini membuktikan bahwa kegiatan IbM berhasil meningkatkan pengetahuan siswa/i. Peningkatan pengetahuan meru pakan langkah awal perubahan perilaku, diharapkan setelah kegiatan ini responden dapat menerapkan pengetahuan yang didapatkan terkait dengan aktivitas kerja yang aman pada setiap pekerjaan yang berkenaan dengan manual handling untuk mencegah terjadinya kasus keluhan muskuloskeletal

UCAPAN TERIMA KASIH

Tim pelaksana mengucapkan terima kasih kepada pihak Kecamatan Cempaka dan pengelola pendulangan intan di Kelurahan Sungai Tiung. Tim pelaksana juga mengucapkan terima kasih kepada Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat sebagai sponsor dalam kegiatan penelitian ini, serta berbagai pihak lainnya yang terkait dan membantu dalam keberhasilan kegiatan ini.

DAFTAR PUSTAKA

1. CNN Indonesia. Geliat Sektor Informal Dongkrak Angkatan Kerja. Online

<accessed>https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20170505134241-92- 212545/geliat-sektor-informal-dongkrak-angkatan-kerja. 2017.

2. Statistik Daerah Provinsi Kalimantan Selatan 2017. Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Sletan. CV Karya.

3. Jalajuwati, R.N., Paskarini, I. 2015. Hubungan Posisi Kerja dengan Keluhan Muskuloskeletal pada Unit Pengelasan PT.X Bekasi. The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health. Vol.4, No.1., pp.33-42.

4. HSE. 2018. Sumber: Good Handling Technique for Lifting. Online

<accessed>http://www.hse.gov.uk/toolbox/manual.htm

5. Wulandari R. Perbedaan tingkat nyeri punggung bawah pada pekerja pembuat teralis sebelum dan sesudah pemberian edukasi peregangan di Kecamatan Cilacap Tengah Kabupaten Cilacap. Junral Kesehatan Masyarakat, 2013: 2(1): 1-8.

33 6. Suryanto, Heryanto, Candra Andodo. 2015. Pengaruh Pelatihan Safety Behaviour Terhadap Pengetahuan dan Sikap Kelompok Usaha Menengah (UKM) di Sekitar Unsoed Purwokerto. Jurnal Kesmas Indonesia. 7 (2): 132-144

7. Retnaningsih R. 2016. Hubungan Pengetahuan dan Sikap Tentang Alat Pelindung Telinga dengan Penggunaannya pada Pekerja di PT.X. Journal of

Industrial and Occupational Health. 1(1): 67-82

8. Sahli Z, Raisa Lia Pratiwi. 2013. Hubungan Perilaku Penggunaan Masker dengan Gangguan Fungsi Paru pada Pekerja Mebel di Kelurahan Harapan Jaya, Bandar Lampung. Jurnal Kesehatan. 4(1): 284-289

9. Notoatmodjo, S. 2005. Promosi Kesehatan: Teori dan Aplikasinya. Jakarta:Rineka Cipta

HUBUNGAN FAKTOR INDIVIDU PEDAGANG MAKANAN